Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 115 : Apa kau menantiku sebagai milikmu sekarang?


__ADS_3

Pagi harinya..


Evelyne dan William terbangun di ranjang yang super berantakan akibat kejadian semalam yang membuat Evelyne terus menggertakkan giginya karna merasakan sakit di bagian punggilnya. William bertingkah seperti hewan buat yang tengah memakan kelinci kecil sepertinya di malam hari, mereka terus melakukannya sampai pagi tiba.


“Liam, kubunuh kau setelah ini!!” geramnya dengan mengayunkan tangannya ke dada William yang berotot.


William tertawa “Jika kau ingin membunuhku, kenapa tidak sekarang saja kau melakukannya? Bukankah aku ada di dekatmu?”


“Eughh..Sialan kau!!” Evelyne bangun dari tidurnya, lalu menaiki tubuh gagah William yang kini tidak ditutupi oleh kain sehelai pun.


William terkejut dengan tindakan Evelyne yang cukup berani menaiki tubuhnya disaat ia tidak memakai apapun, hanya selimut putih yang menutupi sebagian tubuh milik Evelyne. “Kau ini benar-benar hewan buas yang kejam, liam!!” ucap Evelyne dengan mengangkat tangannya untuk memukul wajah William.


Namun saat tangan itu sudah berada di atas, tiba-tiba tubuh Evelyne ambruk di atas tubuh William karna ia sudah tidak memiliki tenaga yang tersisa. “Yoona, tubuhmu masih lelah. Jangan terlalu banyak bergerak atau kau hanya akan membuatnya terasa sakit” William menepuk pelan punggung Evelyne agar bisa merilekskan tubuhnya diatas tubuh William.


“Shit!! Kaulah yang membuatku seperti ini, jadi untuk apa kau bersikap baik padaku?! Kau benar-benar lelaki yang kejam!” umpat Evelyne yang hanya di respon dengan tawaan lembut dari William. Tetapi hal itu lah yang membuat Evelyne merasa kesal dengan lelaki itu, dan mengangkat kepalanya serta membuka mulutnya dengan lebar.


Srakk..


Evelyne menggigit leher William dengan begitu kuat, hingga ia meninggalkan bekas yang terlihat begitu jelas. William tidak marah saat mendapatkan gigitan itu, justru ia malah mengukirkan senyuman nakalnya saat Evelyne memandangannya dengan kesal. “Yoona, apa arti dari sebuah gigitan ini? Apa kau menandai bahwa aku adalah milikmu sekarang?”


“Tidak! Liam, berhentilah dengan omong kosongmu itu. Aku terlalu malas untuk mendengarkannya.” Ucap Evelyne dengan mencoba untuk turun daru tubuh atas tubuh william.


Sementara William langsung menahan tubuh Evelyne agar tidak bergerak kemanapun. “Tetaplah seperti ini dulu, sayang. Tubuhmu masih terasa sakit bukan?”


“Sayang? Siapa yang menyuruhmu untuk memanggilku seperti?!” kata Evelyne dengan ketus.


William menggeleng “Tidak ada yang menyuruhku, ini keinginanku sendiri. Lagipula kenapa kau terlihat tidak suka? Apa kau ingin aku memanggilmu dengan panggilan sayang yang lain?”


“Tidak semua, aku ingin kau memanggilku seperti itu! Panggil saja aku seperti biasanya, kenapa harus menggantinya sih?” protes Evelyne seraya menidurkan kepalanya dibahu bagian bahu bawah William.


William tersenyum, lalu dengan pelahan ia mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Evelyne dengan lembut hingga membuat wanita itu tertidur diatas tubuhnya. William bisa merasakannya dari nafas hangat yang kini menjadi tenang saat Evelyne menutup matanya, untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Selamat Tidur, Evelyne. Maaf sudah membuatmu kelelahan seperti ini..” ucap William dengan mengecupkan kening Evelyne.


Evelyne membuka matanya kembali “Liaamm...Apa yang baru saja kau katakan? Maaf..aku tertidur hingga tidak mendengarnya dengan baik”


“Aahhh...Kau terbangun? Maafkan aku...Apa aku bicara terlalu keras tadi?” tanya William dengan memeluk tubuh Evelyne yang sedikit terangkat.


Evelyne menggeleng “Tidak, suaramu terlalu kecil hingga itu membuatku bangun karna penasaran.”

__ADS_1


“Hahaha...mana ada orang terbangun dari tidurnya hanya karna sebuah perkataan yang tidak jelas hingga membuatnya penasaran. Kau ini ada-ada saja!” elek William dengan menempelkan sekilas jari telunjuknya kepada ujung hidung mancung yang kecil milik Evelyne.


Mendengar lelaki mengejaknya, tentu saja membuat Evelyne sedikit merasa kenal namun ia hanya memendamnya karna rasa penasaran itu lebih kuat. “Liam, bisakah kau ulang perkataanmu yang tadi? Aku ingin tahu apa yang kau katakan”


“Jika aku menjawabnya, apa kau akan kembali tertidur di atasku seperti tadi?” William menatap Evelyne dengan mengangkat kedua alisnya secara sekilas, lalu dengan senyuman tipis di wajahnya yang tampan.


Evelyne melipat kedua tangannya di atas dada William, lalu diatas kedua tangannya Evelyne meletakkan dagunya disana. “Tidak, aku sudah tidak mengantuk.”


“Tidak mengantuk? Bagaimana bisa? Kau baru saja tidur tidak ada 1 menit, kenapa sekarang tidak mengantuk?” William mengerutkan keningnya.


Sementara Evelyne mengangkat sedikit dagunya agar salah satu tangannya yang terlipat bisa terangkat dengan bebas, lalu ia menjentikkan jarinya tepat di kening William. “Aduuh..”


“Kau membuatku pingsan beberapa kali saat kita melakukan itu tadi malam, jadi sekarang aku memang tidak mengantuk. Dan tadi...aku hanya memejamkan mataku untuk menghilangkan rasa sakit di pinggulku ini.” jelas Evelyne dengan akhiran yang mengerutkan bibirnya.


William terkekeh lembut “Aku tidak menghitungnya, karna aku terlalu menikmatinya..”


“Shit!! Dasar lelaki gila...” Evelyne mengumpat kembali saat ia terbangun dari atas tubuh William, dan mencoba merangkat menuruni ranjang dengan perlahan.


Evelyne berjalan ke kamar mandi dengan selimut yang menutup tubuhnya, sementara William dibiarkan terbuka begitu saja diatas ranjang. “Sayang, kenapa kau membawa selimut itu ke kamar mandi? Itu akan basah nantinya.” Ucap William yang terus menggoda Evelyne.


“Berisik!! Lagipula, seprei dan selimutnya juga sudah kotor dan bau karnamu.” Balas Evelyne dengan kesal.


“Liam cukup ya!! Apa kau akan terus membicarakan hal memalukan seperti itu?!!” bentak Evelyne dengan menatap tajam kearah William.


William tersenyum menyeringai “Itu sama sekali tidak memalukan, sayang. Kita ini suami istri, jadi untuk apa kau merasa malu akan hal itu?”


Evelyne berdecak kesal, lalu dengan tidak peduli ia berjalan masuk kedalam kamar mandi bersama dengan selimut yang ia bawa itu. Sementara William pergi ke ruang ganti untuk mengambil stelan baju kantornya serta memakai baju handuk untuk pergi ke ruang samping.


30 menit kemudian.


Evelyne keluar dari kamar mandi dengan pakaian handuknya seperti biasanya, handuk yang ukuran sedikit kecil di tubuh Evelyne yang cukup membentuk. Bahkan rambut banyak yang kini tergerai bebas dengan keadaan basah membuat Evelyne selalu terlihat menggoda setelah selesai mandi. Hal itu tentu saja membuat seorang lelaki dengan pakaian rapihnya yang tengah duduk di sofa, seketika melirikkan matanya tajam tajam saat Evelyne tengah mengibaskan rambutnya.


“Kau mandi terlalu lama, apa itu tidak membuat tubuhmu kedinginan?” tanya William dengan nada dinginnya.


Evelyne menoleh, melihat tampang William yang kini duduk berkuasa di atas sofa membuatnya sedikit bergidik aneh dengan lelaki itu. “Aku mandi selama apapun, memangnya itu urusanmu?”


“....” William terdiam.


Sementara Evelyne hanya membuang wajahnya kearah lain sebelum ia melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang ganti. “Pakailah baju yang sedikit rapih! Aku akan membawamu keluar hari ini.” William beranjak bangun dari sofa seraya memasukkan salah satu tangannya di saku celana.

__ADS_1


“Membawaku keluar kemana? Aku tidak bisa, Aku harus pergi ke kantor hari ini.” Tolak Evelyne dengan mengayunkan tangannya setinggi dada.


William memalingkan wajahnya kearah lain, lalu ia berjalan menuju pintu. Namun seketika ia berhenti saat tangannya tengah menyentuh gagang pintu itu “Kau sudah ku absenkan selama seminggu, jadi sekarang ikutlah denganku tanpa banyak bertanya!!”


“A-apa kau bilang?!! Seming...” Evelyne terkejut. Sedangkan William yang telah membuka pintu pun menolehken kepalanya serta manik mata yang tajam kini tertuju kearah Evelyne. “Tidak perlu khawatir akan hal itu, aku sudah menyuruh orang untuk menggantikanmu sementara. Jadi tugasmu tidak akan menumpuk.”


Setelah mengatakan hal itu, William langsung berjalan pergi serta menutup pintu kamar dengan rapat. Membuat Evelyne yang melihat sikap William yang terlihat aneh sedikit terdiam “Apa yang terjadi dengannya? Bukankah tadi pagi semuanya baik-baik saja?” gumamnya sedang penasaran.


Ting!


Suara hp yang berbunyi membuat Evelyne kembali menghentikan langkahnya saat ia ingin pergi ke dalam ruang ganti. Notifikasi itu terus berbunyi hingga membuat Evelyne sedikit penasaran karna notifikasi yang kini terus berdering bukan datang dari hp miliknya. “Hp siapa itu?”


Evelyne yang penasaran pun langsung mencari sumber suara itu dengan teliti, bahkan ia juga mencarinya disetiap sela-sela bantal, kasur dan sofa. Setelah ia mencari dan tidak menemukannya, Evelyne pun sedikit menghela rasa lelahnya saat ia menghabiskan sedikit banyak waktu untuk mencari sumber suara itu.


Karna tidak ketemu dan Evelyne juga sudah malas untuk mencarinya, ia pun berbalik badan untuk pergi keruang ganti. Namun saat ia baru melangkahkan kakinya, manik mata Evelyne seketika tertuju kearah sebuah benda hitam yangg ada di bawah lemari. Evelyne sempat mengerutkan keningnya saat ia melihatnya dan Evelyne juga langsung mengambilnya, karna itu terlihat seperti Hp milik William.


“Inikan hp William, kenapa ada disini?” ucapnya saat mengambil hp tersebut.


Ting!


Notifikasi itu kembali berbunyi dan menyalakan layar hp William yang kini sudah hampir retak seperti terbanting dengan keras. Evelyne terdiam saat melihat pesan yang masuk ke dalam hp itu, ia juga langsung meletakkan hp William di atas lemari seraya mengusapkan wajahnya dengan kuat.


“Sial!! Seharusnya aku tidak perlu melihat ini..”


...--🥀🕊— ...


Di Aula Kediaman Maxime.


William yang tengah menunggu Evelyne seraya memandang taman kediaman dalam diam, membuat seseorang datang dari belakangnya harus menyenggol lengan William untuk membuatnya bisa menyadari kedatangannya. “Apa kau menungguku terlalu lama? Maafkan aku ya...” ucap wanita itu dengan senyuman tipis di wajahnya yang terlihat habis menangis.


“Ada apa dengan matamu? Kenapa begitu memerah?” tanya william dengan menundukkan sedikit tubuhnya untuk melihat mata wanita itu yang sedikit sembab.


Wanita itu menggeleng “Aku tidak apa-apa, tadi hanya melihat video yang menyedihkan saja. Jadi..itu bukan masalah besar. Oh ya, ini..aku menemukan hp mu di bawah lemari. Sepertinya terjatuh dan membuat layar hpnya menjadi pecah. Lain kali taruhlah barang-barangmu dengan benar, liam!” Wanita itu memberikan hp tersebut kepada William.


“Jika sudah pecah seperti ini, untuk apa kau memberikannya padaku? Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, jadi lebih baik dibuang saja.” Ucapnya dengan nada dinginnya.


Evelyne menggeleng “Jangan, ini masih dapat di betulkan! Apa kau tidak sayang dengan data-data yang ada di hp mu ini?”


“Tidak! Itu sama sekali tidak penting..” William mengambil hp itu dari tangan Evelyne, lalu melemparkannya ke tanah hingga mambuat hp itu menjadi mati total. “Aku bisa membelinya yang baru, dan tidak mengkaitkannya dengan lain. Jadi lupakan hp itu dan temani aku beli yang baru.”

__ADS_1


__ADS_2