
William yang tengah sibuk memeriksa dan menandatangani beberapa kontrak penting pun seketika menghela nafasnya dengan berat, menatap Nathan yang posisinya Sebagai sekretaris utamanya tengah berdiri sigap di depan meja kerjanya. Lelaki itu tampak sedikit ragu dengan informasi yang harus ia kabarkan pada William.
“Jadi, apa kau sudah menemukan kabar dari tuan Hihon?” Tanya William dengan suara dinginnya membuat suasan kantor menjadi sangat canggung. Nathan mengangguk pelan, lalu mulutnya mulai terbuka “Ya sudah tuan, Dan sepertinya untuk meeting penting kali ini akan dibatalkan secara paksa” Nathan mulai menjelaskan kabar tersebut dengan ekspresi yang serius.
William yang mendengar hal itu langsung mengerutkan keningnya, menatap Nathan dari tempat kerjanya membuat Nathan sendiri harus menekan ludahnya berkali-kali karna merasa dirinya selalu terancam pada bos besarnya ini. “Apa maksudmu?”
“Eum...Begini tuan, Tadi saya menerima telpon dari sekertaris utama tuan Hihon. Dan ia mengabarkan kepada saya, jika meeting dan kerja sama ini harus dibatalkan secara paksa karna terjadi sebuah musibah yang ditimpa oleh tuan Hihon” jelas Nathan yang membuat suasana kantor menjadi sangat canggung.
William terdiam sejenak, lalu berkata “Musibah apa yang dimaksud olehnya?”
“Musibah atau sesuatu yang dilakukan secara sengaja, saya tidak tahu. Yang pasti, tuan Hihon telah meninggal saat siang hari, tuan.” Nathan menjawab sembari memberikan sebuah map ditangannya kepada William. “Ini ada beberapa laporan dan bukti bahwa kematian tuan Hihon sangatlah aneh”
William yang melihat Mao tersebut pun langsung membukanya, dan membacanya sedang cepat. Mata yang dingin kini terbelalak saat melihat beberapa kata di laporan tersebut. “Tewas dalam kondisi kepala yang hancur sebelah? Bukankah jelas-jelas ini tindakan yang disengaja?” William menatap Nathan dengan tajam.
“Iya tuan, memang jika melihat laporan tersebut akan mengatakan bahwa kematian tuan Hihon adalah sesuatu yang disengaja. Namun saya tidak bisa membantah karna yang menemukan mayat dari tuan Hihon adalah sekretarisnya sendiri dan ia juga mengatakan bahwa itu semua adalah musibah” ucap Nathan yang sedikit merasa aneh dengan kematian serta laporan tersebut.
William menyipitkan matanya, “Dimana lokasinya?”
__ADS_1
“Di gang sempit dekat taman kota, tuan. Biasanya gang itu selalu dijadikan tempat kumpul orang-orang yang suka memalak, tapi sekarang setelah kejadian itu tidak lagi yang berani kesana. Bahkan sekarang tempatnya sudah diamankan oleh beberapa petugas polisi”
Degh!!
William tertegun saat mendengar lokasi tempat kematian tuan Hihon, ia baru menyadari bahwa tadi pagi ia bertemu dengan Evelyne dan melihatnya sedang berjalan-jalan didaerah dekat sana. William yang memikirkan itu pun seketika jantungnya berdegup begitu kencang, sesuatu yang negatif mulai menghantui pikirannya hingga membuat William harus mengusap kepala dengan kasar.
“Ahhh...!”
Nathan terkejut saat mendengar William menghela nafas dengan suara yang serak, namun ia lebih terkejut lagi saat melihat William dengan cepat berdiri dari kursinya lalu berjalan melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuknya.
Nathan hanya terdiam kebingungan saat melihat William sudah berjalan keluar dari ruangan hingga membuat suasana diruangan kantor tersebut terasa menjadi lebih santai. “Ada apa dengannya?”
Setelah terdiam disana cukup lama, William segara pergi menuju mobilnya lalu menjalankannya pergi dari perusahaannya. William mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh, karna kondisi dijalan yang sudah begitu sepi. Beberapa kali Wiliam melihat jam yang melingkar ditangan kanannya sudah menunjukan pukul 22.56
Ini sudah terlalu malam, dan ia juga sempat berpikir bahwa kondisi kediaman tuanya akan sangat sepi. Namun tak disangka, saat William sudah sampai di kediaman tua. Ia dapat melihat bahwa beberapa lampu disana masih ada yang menyalah. William yang melihat itu pun mengerutkan keningnya, ditambah lagi ia dapat melihat sebuah mobil sport merah tengah terparkir di halaman kediamannya.
Tanpa mempedulikan hal itu, William pun berjalan masuk kedalam kediaman tersebut. Baru saja beberapa langkah ia masuk kedalam kediaman tersebut, William langsung disambut oleh 2 wanita yang hanya sekali lihat, ia dapat mengenali dengan cepat.
__ADS_1
2 wanita itu tak lain adalah Jessica dan Clara.
Siapa Clara? Dia adalah sahabat kecilnya sejak dulu, dan bahkan mereka tumbuh dewasa bersama-sama. Banyak orang yang mengira bahwa mereka akan dijodohkan setelah dewasa nanti, namun siapa yang mengira bahwa William harus menikahi wanita seperti Yoona karena pilihan dari kakeknya.
William memang tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menikah di umur 30 an sementara wanita yang ia nikahi berumur 25 tahunan. Perbedaan jarak umur yang sangat besar serta perasaan yang tidak saling berhubungan membuat pernikahan mereka bagaikan sesuatu yang tidak bisa dimengerti.
Mereka sudah menikah selama 2 tahun dan William sama sekali belum pernah menyentuh ataupun mencintai Yoona sedikitpun, hal itu membuat Yoona sendiri selalu membuat segala hal untuk mendapatkan perhatian serta cinta darinya.
Clara dan Jessica yang melihat William tengah terdiam membuat keduanya saling menatap kebingungan. Bahkan clara sampai ingin melangkahkan kakinya untuk menghampiri William, namun saat hendak melangkah William sendiri yang langsung menghentikan Clara. “Kalian? Sedang apa disini?” tanya William dengan dingin
Mendengar hal itu, Clara langsung menunjukan senyuman diwajah cantiknya. Menampilkan sedikit ekspresi cemas yang membuat William menyadari hal itu. “Kak William, apa kau sudah mendengar beberapa kabar bahwa terjadi Pembunuhan di taman dekat kota?” Tanya Clara dengan suara lembutnya.
William melirikkan matanya yang tajam kearah Clara, “Aku sudah mendengarnya”
“Kedatanganku disini karna aku mengingat bahwa jarak taman kota dengan perusahaanmu itu lumayan cukup dekat, jadi aku berbuat untuk melihatmu. Aku takut terjadi sesuatu pada kak William” clara berkata dengan cemas hingga membuat Jessica yang berada disampingnya ikut mencemaskan keadaan Clara.
Namun William yang mendengar itu, hanya terdiam sambil menatap dingin kearah 2 wanita itu yang saling menenangkan satu sama lain. “Tidak perlu mencemaskanku, seharusnya kau cemaskan dirimu sendiri yang harus pulang malam ini” kata William sembari melangkah beberapa langkah melewati kedua wanita itu.
__ADS_1
Jessica yang mendengar kata-kata kejam dari William pun berkata, “Pulang malam ini? Apakah kakak tidak bercanda dengan itu? Ini sudah malam lho kak? Bagaimana bisa kak Clara pulang seorang diri dengan malam yang sudah terlalu larut ini?”
William memiringkan kepalanya kesamping, menatap Jessica dan Clara dari ujung matanya yang tajam. “Jika sudah tau larut malam, kenapa tidak pulang untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan?”