
William terdiam, lalu dengan ragu ia bertanya “Alasannya?”
“Alasannya?” Evelyne berpikir sejenak “ Tidak ada sih...Cuma kimchi itu enak sedangkan kamu tidak” jawab Evelyne sembari memakan kimchi itu lagi.
Mendengar hal itu, William pun terdiam dan tidak melanjutkan kembali pertanyaannya. Bahkan itu membuat suasana di kamar Evelyne terasa sangat canggung. Evelyne juga beberapa kali melirikkan matanya kearah William yang tengah memainkan hpnya setelah menghabiskan sup bening itu. Sementara Evelyne yang merasa sudah kenyang pun menatap beberapa buah kimbab yang belum ia makan karna sudah tidak kuat lagi.
Sekilas ide jahil Evelyne pun muncul di otaknya. ‘Sesekali jahil dengan orang misterius seperti dia, tidak apa-apa kali!’
“Tuan?” panggil Evelyne.
Mendengar panggilan itu, William melirikkan matanya. “Ada apa?”
“Rasa kimbab ini kok agak sedikit aneh ya, bisakah kau mencobanya sedikit?” Evelyne menyodorkan satu kimbab pada William menggunakan sumpit yang habis ia gunakan untuk makan.
William mengerutkan keningnya, “Apa yang salah? Bukankah kau sudah memakannya sejak tadi? Kenapa baru merasakan anehnya sekarang?”
“Apa salahnya sih mencoba? Aku kan tidak tahu rasa aneh ini dari lidahku atau dari kimbab ini” Evelyne cemburut, menurunkan tangannya hingga membuat William dengan cepat mengangkat kembali tangan itu lalu memakan kimbab yang diberikan oleh evelyne tadi.
William terdiam sejenak saat makanan sudah masuk kedalam mulutnya lidahnya yang sebagai alat pengecap mulai merasakan rasa dari kimbab ini. “Tidak ada salah, mungkin itu kau sedang sakit saja. Sudah jangan dilanjutkan makannya, biarkan aku yang habiskan ini” kata William yang hendak mengambil piring itu dari pangkuan evelyne.
“Tidak!!” Cegah Evelyne yang menahan piring itu agar William tidak dapat mengambilnya.
“Apa yang kau lakukan?” William menatap Evelyne dengan kebingungan.
Evelyne menggeleng, “Gantian! Biarkan aku yang menyuapimu sekarang”
Tidak merasa curiga ataupun heran, William pun hanya mengangguk seraya memakan apa yang di sodorkan oleh evelyne kepadanya. Satu demi satu Evelyne memasukkan kimbab itu ke dalam mulut William, hingga ia tidak sadar bahwa William telah menghabiskan semua kimbab yang ada di piring. “Tuan, ternyata kau cukup lapar ya. Memakan kimbab ini habis tidak tersisa” ledek Evelyne dengan kekehan kecil.
“Kan kamu yang menyuapiku, bagaimana bisa aku menolaknya?” balas William dengan nada dinginnya.
Evelyne memutarkan bola matanya dengan malas, “Ohh jadi tidak suka kalau aku yang menyuapi?...baiklah kalau begitu, kau pergi dan makan sendiri saja!”
“Hah?” William tertegun saat melihat evelyne menyingkirkan piring dari pangkuannya, lalu dengan santai ia menidurkan tubuhnya diatas kasur dalam posisi membelakangi William.
Bagian punggung yang tidak di tutupi oleh sehelai kain pun membuat luka mengerikan itu terpampang di hadapan William. “Kau bergerak seperti ini, apa tidak membuat lukamu terasa sakit?” tanya William dengan menatap punggung Evelyne cukup lama.
“Tidak, luka ini sudah sembuh. Jadi tidak perlu memikirkannya lagi” jawab evelyne tanya membalikkan tubuhnya sedikitpun.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar milik evelyne terketuk dan terbuka dari luar hingga menampilkan seorang lelaki dengan jas putih dan beberapa wanita di belakangnya tengah berjalan masuk ke dalam. Evelyne dan William yang melihat itu hanya terdiam karna yang masuk ke dalam kamar mereka adalah surya dan suster pribadi yang selalu membantu pengobatan evelyne.
“Untuk pasien Yoona, ini sudah waktunya minum obat ya!”
Surya berdiri di samping ranjang dengan mengisyaratkan kepada William agar keluar dari kamar sejenak karna evelyne akan melaksanakan pemeriksaan serta meminum obat yang ia bawa bersama susternya ini. Baru saja William ingin mengangguki isyarat itu, Evelyne sudah lebih dulu beranjak dari tidur nya menjadi posisi duduk.
Hal itu membuat suster dan surya yang baru saja datang terkejut saat melihatnya. “Nona, tolong berhati-hatilah, nanti luka yang ada di punggungmu akan terbuka” kata suster itu dengan cemas. “Yoona tolong berhenti melakukan hal seperti itu lagi, karna itu akan membuat jahitan di lukamu terbuka. Apa kau tidak takut rasa sakit itu kau rasakan lagi?” tambah surya dengan nada kesalnya.
Sementara Evelyne hanya menatap kearah surya dan suster itu dengan tatapan jengkelnya. ‘lebay! Luka begitu juga tidak akan membuatku mati!!’ Batin evelyne dengan rasa tidak suka menyelimuti hatinya.
William yang melihat ekspresi tidak terima dari evelyne pun membuatnya mengetuk punggung tangan evelyne dengan jari telunjuknya. Membuat suatu perhatian evelyne beralih kepadanya, laki saat pandangan mereka bertemu, barulah William mengisyaratkan suatu pergerakan yang langsung di mengerti oleh evelyne.
Terjemahan : Diam dan ikuti saja, apa kata mereka. Jangan membuat masalah!
Evelyne mengerutkan keningnya, ia sedikit tidak setuju akan hal itu tetapi William menjanjikan sesuatu yang membuatnya terpaksa menyetujui apa yang dikatakan oleh lelaki itu.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan dan minum obat selesai di lakukan, suster itu pun keluar dari kamar evelyne seorang diri. Sedangkan surya masih tetap ada didalam karna harus membicarakan beberapa hal kepada William. Keduanya berbicara di sofa tamu yang berada di bagian samping ruangan kamar, mereka berbicara begitu serius hingga evelyne sendiri merasa bosan saat mendengarkannya.
“Luka ini masih belum kering, dan nanah yang berada di antara luka-luka itu juga harus sering di bersihkan. Jadi akan memakan waktu banyak untuk menunggu sampai luka itu benar-benar mengering dengan sempurna.”
“Kira-kira berapa lama?”
“Sekitar 5 sampai 6 bulan. Tapi itu baru proses keringnya jahitan dan kita juga memerlukan waktu sekitar 1-2 bulan untuk mencoba menghilangkan bekas di punggungnya itu”
“Jadi akan seperti ini terus selama hari kedepan?” William menatap evelyne yang tengah duduk bosan di atas kasur.
Surya mengangguk, “Ya begitulah. Aku harap dia juga bisa diajak kerja sama dalam proses pengobatan itu”
Mendengar hal itu, William kembali menatap evelyne yang sedang memainkan jarinya diatas Selimutnya, lalu memutarkannya hingga membuat selimut itu agak sedikit kusut karnanya. “Tuan liaamm....aku bosan, ayo kita pulang!!!” eluh evelyne dengan suara yang keras.
“Liam?” gumam kecil William.
Ia tertegun saat mendengar sebutan itu dari panggilan evelyne. “Yoona, jangan membuat masalah! Kau belum sembuh dan aku juga tidak akan mengizinkanmu pulang!” sahut surya dengan menatap tajam evelyne yang berada di atas kasur.
Evelyne berdecih, “Kau pikir, kau siapa? Aku ini sedang berbicara dengan tuan dan bukan dirimu!!”
“Tapi aku disini yang mengobatimu!!” Surya beranjak dari duduknya, ia merasa kesal dengan sikap evelyne yang sekarang. “Jika kau memang ingin sembuh, maka jalankan saja apa yang aku perintahkan”
Evelyne tertawa sangat keras, “Turuti perintahmu? Perintah dari orang yang paling berkuasa disini saja, aku tidak jalankan. Apalagi denganmu”
Plak!
Keduanya terkejut saat melihat evelyne dengan spontan menampar keras wajahnya sendiri hingga membuat bekas kemerahan di pipinya yang mulus. William yang melihat itu dengan sontak ikut berdiri dan menatap heran kearah evelyne.
“Hehehe... Maafkan aku tuan, aku salah berucap. Lain kali akan jaga bicara, tolong jangan di bawa ke hati” kata evelyne dengan tersenyum bodoh.
“Lain waktu, jagalah ucapanmu! Karna yang disini butuh bantuan adalah dirimu. Bukan aku ataupun dia” William menjawab perkataan evelyne dengan nada dinginnya.
Evelyne mengangguk, “Baik tuan, maafkan aku tuan Surya! Aku salah” evelyne sedikit menundukkan kepalanya ke arah Surya sebagai tanda permintaan maaf.
Surya yang melihat itu pun langsung berjalan keluar dari kamar evelyne tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Kau tunggulah disini, aku akan keluar sebentar!” kata William sembari mengikuti Surya dari belakang.
Melihat kedua lelaki itu pergi, evelyne dengan cepat menepuk keras kearah keningnya hingga membuat seseorang didalam protes akan apa yang ia lakukan.
-Hey apa yang kau lakukan?!-
“Memukul 2 orang bodoh didalam satu tubuh yang sama! Kenapa?!”
-Ckk... Berhenti melakukan itu! Apa kau pikir itu tidak sakit?!-
“Sakit! Tapi rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa bodohmu itu!!”
-Apa maksudmu? Kau menghinaku?!!-
“Tentu saja. Lagipula apa maksudmu bicara begitu pada tuan Surya?!”
-Tidak ada, hanya merasa lelaki itu sangat menjengkelkan-
“Tapi tidak seperti itu! Kau bisa saja membuat mereka curiga dengan kita!”
-Curiga atau tidak, itu bukan urusanku! Karna Aku sangat benci orang-orang yang suka mengaturmu itu!-
__ADS_1
“Aku yang diatur, kenapa kamu yang marah?”
-Aku marah, karna aku benci dengan seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi!-
Evelyne tertawa, “Kekuasaan di dunia itu hanya sementara. Hanya orang-orang serakah saja yang menggunakan kekuasaan itu sebagai senjata untuk mereka menjatuhkan orang lain. Tetapi tuan Surya, tidak. Dia hanya seorang dokter yang berjasa pada setiap pasien yang memerlukan bantuan darinya”
-Lalu, kenapa dia berkata seperti itu padamu tadi?-
“Itu karna dia tidak ingin aku membuat masalah, jadi dia menekankan padaku untuk bekerja sama padanya”
-Kau ini...terlalu baik dengan orang. Pantas saja selalu...-
“Sstt... Tidak perlu dibahas lagi, aku sudah mencoba melupakannya. Jangan membuatku mengingatnya kembali”
...--🥀🕊—...
“Hey, tenangkan dirimu! Kau terlalu berlebihan dalam berekspresi” kata William yang menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Surya terhentak, menatap William yang tampak begitu tenang saat melihat itu. “Bagaimana bisa kau begitu tenang saat melihat mata tajam yang menyala seperti itu? Bahkan auranya saja seketika berubah seperti monster”
“Itu karna kau baru melihatnya. Aku yang sudah sering melihatnya, jadi terbiasa.” Jawab William dengan santainya.
Surya tertegun, lalu dengan cepat ekspresinya berubah saat menatap William disana. “Apa kau bilang? Sudah sering melihatnya? Sejak kapan ia begitu?”
“3 minggu yang lalu, dan gak lama kepulangan dia dari rumah saat waktu itu” William mengangkat kedua alisnya saat berbicara.
“Dia sangat aneh! Melihatnya saja seperti wanita asing dan bukan yoona yang ku kenal”
William tertawa, “Itulah yang aku sudah katakan padamu. Jadi sekarang, bersikaplah biasa dan ikuti apa yang dijalankan olehnya”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William berjalan melewati surya yang masih terdiam di tempat tanpa melakukan apapun. Ia juga tidak memberikan surya sedikit penjelasan tentang evelyne, karna dirinya sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita itu.
Evelyne yang tengah duduk di kasur melihat pintu kamarnya terbuka dan melihat seorang lelaki dengan ekspresi dinginnya, ia memasuki kamar kamar. Lelaki itu terdiam sampai ia duduk di sofa yang sebelumnya ia duduki. Bahkan Evelyne sendiri hanya terdiam saat melihat itu, karna ia tahu bahwa situasi kacau ini karna dirinyalah yang berbuat.
-Apa dia marah denganmu?-
‘Entahlah. Kalau dilihat dari raut wajahnya, kemungkinan sih iya'
-Terus, kau tidak meminta maaf untukku padanya?-
‘Tidak, biarkan saja. Suasana hati aku dan tuan lagi jelek, jadi biarkan dulu!. Karna jika aku bicara, malah akan membuat masalah nantinya'
-Ckk...Memangnya bisa seperti itu?-
‘Bisa! Kau saja tidak tahu, kalau aku bisa mati di pertarungan itu. Karna tertusuk dari belakang oleh Evan.’
-Hah? Tidak mungkin. Aku tidak melihat dia dibelakang dan selama pertarungan, jadi tidak mungkin kau akan mati disana!-
Evelyne tersenyum, ‘Bagaimana bisa kau memperhatikan lawan jika yang kau pikirkan saja hanya membunuh dan membunuh....Mungkin kalau aku tidak bisa mengimbangi kamu disini, pasti kau bisa saja dengan mudah merubah pemilik tubuh ini menjadi monster yang ke2 setelah aku’
-Tidak akan, semua yang ku lakukan itu pasti atas izinmu dulu. Karna Aku sendiri tahu, bahwa kau seperti ini karna aku-
‘Eve, bisakah kau beri aku sedikit penjelasan tentang dirimu ini? Aku cukup tidak paham, bagaimana bisa kau ada di dalam diriku dan membuatku seperti ini? Rasanya seperti di dunia fiksi saja'
__ADS_1