
Evelyne terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari menerangi kamarnya melalui jendela besar yang kini sudah terbuka lebar, entah ulah siapa. Evelyne terbangun dengan pandangan yang linglung, karna suasana yang ada di dalam kamar tampak lebih sejak daripada sebelumnya dan luka yang ada di tangannya yang tidak pernah ia obati, kini sudah terbalut rapih dengan perban berwarna putih.
“Eeehh...sejak kapan tanganku terbalut oleh perban seperti ini? Siapa yang melakukannya?”
Evelyne mengusap wajahnya yang kusam karna baru ia saja ia bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan Evelyne sempat tersadar bahwa semalam ia merasakan sebuah kehangatan yang datang dari sebuah guling yang besar. Apa itu William? Biasanya kehangatan yang membuatnya nyaman adalah kehangatan yang di miliki oleh william hingga membuatnya selalu merasa nyaman di pelukannya.
“Liam, apa dia adalah guling yang aku peluk semalam? Tapi kenapa dia tidak membangunkanku saat itu? Bahkan ia juga pergi sebelum aku terbangun, apa dia sedang mencoba menghindariku?”
Evelyne yang karna terlalu memikirkan itu pun membuat kepalanya sedikit merasa sakit, serta terkadang itu membuat pandangannya selalu memudar dalam waktu yang tidak menentu. Hingga itu membuatnya selalu kesulitan jika melakukan yang terlalu berat untuk staminanya yang rendah. “E-eugh...pusing sekali” gumamnya saat beranjak dari atas ranjang.
Baru saja melangkah untuk beberapa langkah Evelyne sudah merasakan pusing di bagian kepalanya, dan tak lama dari itu...Evelyne terjatuh dari keseimbangan kakinya tepat di depan kamar mandi dan saat itu juga pintu kamar Evelyne terbuka untuk menampilkan seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu seraya membawa sebuah nampan berisi makanan untuk Evelyne.
Wanita itu terkejut saat melihat Evelyne tidak ada di atas kasurnya, dan ia dengan sontak langsung meletakkan nampan tersebut di atas meja rias untuk meninggalkannya sebentar. “N-Nyonya...Nyonya..” teriak wanita itu dengan panik.
Sementara Evelyna yang mendengar panggilan itu langsung menyahuti perkataan wanita itu yang terdengar ketakutkan. “Bibi, aku disini.” Ucapnya dengan mengangkat salah satu tangannya untuk memberikan petunjuk kepada wanita itu.
Melihat tangan yang pucat terangkat di udara, membuat wanita itu langsung menghampirinya saat melihat Evelyne tengah tergeletak di lantai dalam posisi kepala yang menunduk. “Nyonya, nyonya...apa anda baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya wanita itu dengan cemas, saat melihat tubuh Evelyne di penuhi oleh keringat dingin serta suhu tubuh yang sangat panas.
“Bi, tolong bantu aku pergi ke kamar mandi. Aku harus segera bersiap ke kantor hari ini.” Evelyne memegang tangan wanita itu dengan tangannya yang gemetar.
Wanita itu menggeleng, “Tidak, nyonya. Anda sedang sakit sekarang, tubuh anda juga sangat panas. Anda tidak bisa pergi ke kantor hari ini, atau tuan besar akan marah jika mengetahui anda memaksakan diri ke kantor dalam kondisi tubuh yang lemah.”
“Aku akan lebih dimarahi olehnya, jika aku tidak pergi ke kantor hari ini. Aku memiliki tanggung jawab disana, tolong bantu aku dan berhentilah membantah!!” Evelyne sedikit meneriaki wanita itu dengan kesal karna rasa pusing yang terus menyelimuti pikirannya saat ini.
__ADS_1
Wanita itu mengangguk, lalu dengan perlahan ia mencoba bangun untuk membantu Evelyne. Ia juga membantu Evelyne untuk memasuki kamar mandi agar menghindari ia terjatuh di dalamnya. “Nyonya, panggil aku jika anda membutuhkan sesuatu. Aku ada di depan menunggu anda sarapan.” Kata wanita itu dengan suara pelan setelah ia selesai membantu Evelyne.
“Baik..sekarang kamu pergilah keluar dari kamarku! Aku tidak ingin kau ada disini.” Ucap Evelyne dengan mengayunkan tangannya.
Wanita itu menjawab sekilas lalu pergi, sementara Evelyne yang kini sedang berdiri sandar di kamar mandi dengan nafasnya sedikit terengah-tengah akibat suhu badannya semakin meningkat. Evelyne menghabiskan 10 menit untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu Evelyne berjalan bertumpu dinding untuk masuk ke dalam ruang ganti.
Evelyne memakai bajunya, menyiapkan barang-barang yang perlu di bawa ke kantor serta sebuah pisau lipat yang selalu ia bawa kemanapun untuk berjaga-jaga. Saat keluar dari ruang ganti, Evelyne sempat melihat nampan yang berisi makanan ada di atas meja. Namun karna pagi ini ia tidak memilki nafsu makan, Evelyne hanya mengabaikannya dan terus berjalan keluar dari kamar tanpa memakan sedikitpun makanan itu.
Ia keluar dari kediaman tanpa sepengetahuan siapapun, ia juga menghubungi jane yang kini statusnya menjadi atasannya di kantor untuk meminta izin memberikannya beberapa waktu untuk datang kesana. Jane yang mendengar suara Evelyne tampak aneh pun membuat ia merasa aneh, namun tetap menyetujui apa yang diinginkan oleh wanita itu kepadanya.
“Yoona, apa kau baik-baik saja? Kenapa suaramu tampak aneh seperti itu?” tanyanya dengan curiga.
Evelyne menggeleng “Tidak apa-apa, aku hanya merasa kecapean saja. Tidak perlu khawatirkan aku! Aku juga sudah hampir sampai, jadi tolong tunggu aku sebentar.”
“Baiklah aku akan menunggu, tapi kau sekarang ada dimana? Aku akan datang menjemputmu, aku takut kau kenapa-kenapa.” Jane mengambil kunci mobilnya untuk bersiap-siap menjemput Evelyne, namun saat ia mendengar jawaban itu. Jane mendengar suara aneh datang dari telpon Evelyne serta bunyi hp yang terjatuh sebelum panggilan itu berakhir.
Semua orang yang melihat jane keluar dari ruangannya dengan terburu-buru, membuat ia menjadi pusat perhatian banyak orang yang kini tengah bekerja di sekitar ruangannya. “Nona jane, anda ingin kemana? Sebentar lagi tuan besar maxime akan datang menemui anda, anda harus tetap berada di kantor untuk beberapa saat!” ucap seorang wanita yang kini menjadi sekretaris Jane.
“A-ahh...tolong wakili aku untuk pertemuan ini! Aku harus pergi karna memiliki urusan mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan sekarang, maafkan aku..”
Jane berlalu begitu saja di hadapan sekretarisnya kini merasa bingung untuk menghadap kepada tuan besar maxime yang di kenal kejam akan keputusannya, dan ia juga merasa pasrah jika akhirnya ia yang akan kena teguran dari atasan akibat kecerobohan jane.
...--🥀🕊—...
__ADS_1
Di Perusahaan Utama Maxime.
William yang tengah membicarakan hal serius oleh seseorang di dalam ruangannya pun membuat suasana disana terasa begitu canggung, karna dari pihak keduanya sama-sama memasang wajah yang serius. “Penyelidikkan yang anda minta sudah telah terkumpul semua, anda bisa membacanya terlebih dahulu. Karna menurut penyelidikkan ini, saya menganggap bahwa master tengah mencari informasi tentang seseorang yang seharusnya tidak di ketahui oleh siapapun.”
“Maksudmu, tentang informasi ini sangat private hingga tidak ada orang yang pernah berpikir bahwa dia pernah ada di dunia ini?” William melihat foto yang tercantum di laporan itu, sekilas mengingatkannya pada Yoona. “Ini bukannya...”
Lelaki itu mengangguk “Ya tuan, sekilas untuk melihat wajahnya dia terlihat seperti nona Yoona. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang berbeda dengan sikap yang sangat jauh untuk di bandingkan dengan nona Yoona saat ini.”
“Apa penjelasan yang lebih lanjut mengenai wanita ini?” tanya William dengan menatap serius lelaki itu.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, membuka beberapa lembaran kertas laporan itu untuk menunjukkan sesuatu kepada william. “Ini adalah kota jeju, kota dimana pernah di sebut sebagai kota mati saat beberapa bulan yang lalu. Kota ini sudah melakukan perbaikkan serta renovasi pada gedung serta bangunan yang sudah hancur disana. Tapi master...kota ini sempat terjadi insiden dimana kota itu mejadi kota yang penuh dengan mayat semua orang yang di kumpulkan di tengah-tengah kota. Saat melakukan penyelidikkan itu, kami semua hampir terkejut dengan beberapa mayat yang masih tersisa di beberapa bangunan yang sudah membusuk dalam waktu yang lama. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di kota itu, tapi kami berhasil menemukan jawabannya dari beberapa orang yang selamat akan insiden mengerikan itu”
“Ada berapa mayat yang terdapat di kota itu?” William bertanya dengan penasaran.
Lelaki itu terdiam sejenak seraya memikirkan jumlahnya sebentar. “Maaf master, saya tidak pasti dengan jawaban saya. Karna disana banyak sekali mayat-mayat yang sudah hangus akibat terbakar oleh api dan ada juga mayat yang sudah tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Jika diperkirakan mungkin mayat-mayat itu berjumlah 100/1000 orang yang mati di dalam kota itu.”
“Lalu, apa yang kau dapatkan dari orang yang masih hidup dari insiden itu?” tanya William.
Lelaki itu membuka lembaran kertas laporan itu lagi, dan mengarahkan William kepada identitas yang di dapat oleh lelaki itu dari orang yang selamat akan insiden mengerikan itu. “Aku mendapatkan identitas seseorang yang kau minta, dan aku juga mendapatkan latar belakang yang menurutku cukup menjijikan untuk di bicarakan.”
“Menjijikan? Apa maksudmu?” William mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan yang di lontarkan oleh lelaki itu kepadanya.
Lelaki itu mengangguk “Dia bukan seseorang yang berbahaya hingga membuatnya bisa melakukan hal gila seperti ini di kota Jeju, tapi dia hanyalah seorang wanita penghibur yang merasa sakit hati akibat yang dilakukan oleh ayah kepadanya, ibu dan saudari perempuannya. Ayahnya bernama gilang dan istrinya bernama Alexa. Mereka dikarunia 2 orang anak perempuan yang bernama Adriella dan Evelyne.”
__ADS_1
“....” William terdiam. Sementara lelaki itu kembali membuka suaranya untuk menjelaskannya lebih detailnya lagi. “Dalam laporan, gilang mengalami hyperseksual yang secara berlebihan hingga membuat alexa selalu di paksa untuk melakukan keinginannya dimana pun dan kapanpun. Gilang tergila-gila dengan **** hingga ia selalu memesan seorang wanita untuk dijadikannya bahkan hiburan saat nafsunya tengah melanda dirinya. Hal itu membuat gilang semakin diluar kontrol pikirannya, jadi..dia mulai menculik beberapa pengemis, orang pinggiran serta orang gila untuk di jadikannya pelacur dalam kediamannya. Bukan hanya itu, karna rasa ketidakpuasan yang terus membuat ingin lebih. Gilang jadi menyeret keluarganya sendiri untuk dijadikannya bahan hiburan.”
William terkejut, namun ia berusaha untuk tetap tenang karna disini ia harus mengumpulkan banyak informasi mengenai seseorang yang ia targetkan. ‘Orang tua mana yang memiliki pemikiran kejam seperti itu’