
Sesampainya dirumah sakit, kedatangan William dengan Nathan yang membawa Evelyne serta Liliana dalam kondisi yang seperti itu membuat semua pihak rumah sakit terkejut saat melihatnya. Bahkan Surya yang baru saja keluar dari ruangan juga Terlonjat kaget saat melihat William menggendong seorang wanita yang berumuran darah serta luka yang mengerikan di punggungnya.
“Apa yang terjadi?!” Tanya surya yang kebingungan.
William yang tidak suka ditanya saat itu pun hanya menatap tajam kearah surya yang dengan sontak menutup mulutnya dengan rapat. “Bantu obati dia, dan aku akan jelaskan semuanya padamu!”
Surya mengangguk, lalu menyuruh beberapa suster untuk membawakan brankar dorong untuk Evelyne dan Liliana. Setelah itu mereka langsung membawa ke ruangan UDG, sementara William dan Nathan disuruh untuk menunggunya diluar.
Nathan yang melihat kondisi pakaian William begitu kotor, membuatnya menawarkan diri untuk menggantikan posisinya. “Tuan, apakah anda ingin berganti pakaian sebentar? Baju anda sangat kotor” Nathan menundukan kepalanya saat berbicara dengan William yang tengah duduk di kursi rumah sakit dengan kepala yang menunduk kebawah.
Mendengar hal itu William mengangkat kepalanya, menatap Nathan yang tengah berdiri di depannya dengan kepala yang menunduk. “Tidak perlu, kau kembali lah ke kantor. Dan urus sisa meeting hari ini!!” kata William dengan mengayunkan tangannya seperti menyuruh Nathan untuk pergi meninggalkannya seorang diri.
“Baik tuan”
Nathan yang tidak bisa membantah pun hanya bisa berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan William sendiri, dan disisi yang sama lelaki itu masih terdiam dengan raut wajah yang dingin menatap kearah pintu ruang UDG dengan pertanyaan yang terus menyelimuti nya. Hingga ia sedikit terkejut saat pintu ruang UDG itu terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki dengan jas putihnya tengah berjalan menghampirinya.
“Aahhh... Melelahkan sekali!!”
William melirikkan matanya, melihat lelaki itu tengah duduk di sampingnya seraya mengusap keningnya yang dipenuhi oleh keringat dingin. “Bagaimana? Sudah?” Tanya William yang langsung mengajukan pertanyaan dan tidak memberikan sedikit waktu untuk surya beristirahat. “Huh... Kau ini, tidak sabar sekali! Biarkan aku mengambil nafas tenangku dulu donk!” eluh surya yang menyenggol pelan lengan panjang milik William.
“Hnn” angguk William
Sementara surya kembali menenangkan dirinya selama 5 menit. Setelah itu, barulah ia menjelaskan semuanya pada William. “Luka di tubuh kakak ipar cukup parah, bahkan beberapa luka itu ada yang begitu dalam hingga memperlihatkan lapisan gading yang terdalam. Entah bagaimana lapisan gading yang terdalam itu terbuka? Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Dan kau tahu, ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang wanita akan mendapatkan luka sebegitu serius ini”
William mengerutkan keningnya, ia tidak dengan semua perkataan surya Dan ia hanya mengambil inti dari pembicaraannya saja. “lalu bagaimana kau mengatasinya?”
“Aahh... Kau tenang saja, Aku sudah menjahit nya beberapa kali dan tidak lupa untuk memberikannya obat.... Hey kakak tertua, jika boleh aku mengakui, hari ini kakak ipar benar-benar seperti wanita yang kuat. Selama proses operasi penjahitan di bagian lukanya, kakak ipar sama sekali tidak berteriak ataupun menjerit kesakitan. Padahal jika dilihat dari lukanya saja, itu sudah pasti sangat menyakitkan. Tapi diaa...” kata surya yang menghentikan perkataannya.
William mengangguk, “Aku juga tidak percaya akan hal ini. Tetapi saat diperjalanan, aku juga melihatnya tertawa disaat ia menahan rasa sakit itu. Padahal dulu, ia akan selalu berisik dan selalu menangis jika mendapatkan luka... Tapi sekarang?? Rasanya sangat aneh jika melihatnya seperti ini.”
Surya tertawa saat mendengar hal itu terlontar dari mulut William sendiri, bahkan dari raut wajahnya saja Surya saat melihat bahwa William benar-benar kalah di permainan ini. “Aduh kakak tertua, sepertinya kau mulai miliki perasaan ya kepada kakak ipar”
“Ckk...kau terlalu banyak bicara!!”
Karna terlalu malas untuk berbicara dengan surya, William pun beranjak dari duduknya. Lalu memiringkan kepalanya seraya berkata “Dimana dia?”
“Ruangan khusus, no 345 di lantai 15” jawab surya seraya menyerahkan sebuah kartu kepada William. “Ini kartu yang kau titipkan beberapa hari yang lalu pada Edgar! Dia mengembalikannya padaku karna hari ini ia akan melakukan penerbangan ke luar negeri untuk beberapa bulan.”
William yang melihat itu langsung mengambilnya dari tangan surya, “Oke thanks!”
...--🥀🕊—
...
Disisi lain, William yang baru saja sampai di depan kamar nginap milik evelyne membuat hatinya terasa canggung bahkan ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia membuka pintu itu.
Kreek!
Suara pintu kamar nginap terbuka dari luar yang membuat Evelyne didalam ruangan tersebut dengan spontan menolehkan kepalanya kearah pintu. Melihat seorang lelaki dengan pakaian yang sedikit berantakan membuatnya sedikit tidak mengenali lelaki itu. “S-siapa?”
“Huh...sudah membuat masalah, sekarang pura-pura lupa ingatan?”
Lelaki itu berjalan mendekati Evelyne yang tengah duduk di atas kasur pasien dengan menggunakan pakaian pasien yang dibalik agar luka di punggungnya tidak terkena baju itu. Evelyne yang melihat wajah dari lelaki itu sudah mulai jelas membuatnya langsung mengenali nya dengan rasa terheran. “T-tuan, apakah ini kau?”
Tidak! Ini bukanlah William yang ia kenal. Karna jika ini adalah William, maka lelaki ini pasti akan memakai pakaian yang bersih serta rapih. Tapi sekarang, lelaki yang berada didepannya memakai baju yang masih terkena noda darah, rambut dari lelaki itu juga sudah mulai berantakan serta raut wajah yang lelah kini tengah memandangnya dengan dingin.
__ADS_1
“Bagaimana? Apa masih terasa sakit?” tanya William seraya duduk di kursi samping kasur pasien.
Evelyne menggeleng, “Sudah tidak sakit kok, lagipula ini luka yang tidak cukup besar”
Mendengar hal itu, William terdiam seraya menatap bibir kecil evelyne yang begitu pucat serta warna yang sedikit gelap karna terdapat bekas kemerahan di setiap sisinya. Tidak hanya itu, saat William menurunkan pandangannya, manik matanya seketika mengecil saat melihat tangan evelyne yang begitu banyak bekas luka serta gigitan yang terlihat begitu dalam.
“kau bilang tidak sakit, lalu kenapa kau menggigit tanganmu sampai seperti ini?” tanya William seraya memegang tangan Evelyne dengan perlahan.
“Tidak apa-apa, lagipula kenapa kau terlalu mikirkan tanganku? Apakah ini terlalu menjijikan untuk dilihat?” kata Evelyne yang ikut menundukkan kepalanya, melihat tangan besar William tengah menggengamnya begitu lembut dan memberikan suatu kehangatan yang membuatnya merasa luka di tangannya itu tidak terasa begitu sakit. “Apa yang kau lakukan?”
William menggeleng, “Tolong biarkan seperti ini dulu lebih lama lagi!”
Evelyne terdiam mendengar hal itu, sementara William dengan perlahan meletakan kepalanya diatas kasur tepat disamping tangan evelyne yang tengah di gengamnya. “T-tuan?” panggil evelyne dengan mengusap kepala William dengan salah satu tangannya yang masih terbebas.
“Aku sangat lelah, biarkan aku beristirahat sebentar!”
William perlahan menutup matanya, sedangkan Evelyne hanya mengangguk paham dengan tangan yang masih memgelus kepala lelaki itu dengan lembut. “Baik! Kau beristirahat lah! Terimakasih untuk hari ini” kata evelyne dengan senyuman di wajahnya.
-Huh...dasar lelaki tidak tahu diri! Lihatlah, dia datang hanya untuk menumpang tidur saja disini!!-
Evelyne tertawa, “Sudahlah biarkan saja! Lagipula aku juga berhutang budi dengannya”
-Berhutang budi dengannya? Ckk...orang seperti dia, untuk apa kau berhutang budi? Lagipula dia hanya membawamu ke rumah sakit saja, dan bukan membantumu menyelesaikan masalah-
“Ya aku tahu, tapi setidaknya jika bukan karna dia...mungkin aku sudah mati untuk kedua kalinya”
-Mati atau tidak pun, jika duniamu seperti ini maka tidak ada gunanya untuk hidup kembali? Kau memang punya keinginan tapi dunia punya kenyataan!? Kau tidak bisa hidup bergantung dengan orang lain seperti ini Eline!!-
“Yaa.. Aku tahu Eve, aku paham. Hidup seorang diri tanpa memiliki keinginan untuk bersama orang lain sudah kau tanamkan pada diriku. Jadi kau tidak perlu takut akan hal itu, aku bisa menjamin setelah semuanya selesai, aku akan pergi dari tempat ini.”
“Ya, aku yakin. Seingatku, tuan Liam hanya mencintai Clara dalam hatinya. Tidak ada namaku sedikitpun yang tertulis disana, jadi aku disini tidak ada gunanya?.... Dan lagi, bukankah berpisah dengannya adalah salah satu kebahagiaannya?”
“......” Eve terdiam.
“Aku berjanji padamu, kita akan hidup bersama setelah semuanya selesai. Tapi tolong temani aku untuk bisa mengendalikan diriku di depan tuan. Aku tidak ingin, membunuh orang yang tidak ada hubungannya denganku hanya karna memiliki wajah yang sama.”
-Wajah lelaki itu? Memang dia mirip dengan siapa?-
“Dion bruce , apakah kau melupakannya?”
-Ya sedikit, karna sudah lama juga aku tidak melihatnya. Terakhir kali saat ia...-
“Cukup!!?? Tidak perlu di lanjutkan. Aku ingin istirahat, dan kau diam!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne dengan perlahan menidurkan tubuhnya ke atas kasur dalam posisi tubuh yang miring. Memang terasa sakit saat itu, tapi Evelyne sudah terbiasa saat menghadapinya. Setelah itu, Evelyne mulai menutup matanya hingga ia tertidur meringkuk dengan wajahnya yang berpasangan dengan wajah William.
...--🥀🕊—
...
13 tahun yang lalu.
Eline yang tengah duduk di kursi sekolah dengan raut wajah yang murung membuat beberapa teman sekelasnya memandangnya dengan ekspresi wajah yang mengejek. Tidak ada satupun dari mereka yang mendekati gadis itu, hanya karna sesuuatu yang spesial ada di dalam dirinya.
“Hey lihatlah, baru masuk saja dia sudah mengecat rambutnya seperti ini. Bagaimana mana nanti kedepannya?”
__ADS_1
“Iya tahu tuh, caper banget!”
“Hahahah... Maklumlah, anak orang kayaa...”
Semua tertawa mengejek Eline yang tengah memalingkan wajahnya ke arah jendela serta di telinga ia memakai sebuah earphone yang membuatmu tidak bisa mendengar semua perkataan yang menyakitkan. Walaupun ia tahu semuanya. “Berisik sekali!!”
...--❦--
...
Kriing!!!
Bell istirahat berbunyi di seluruh ruangan sekolah, membuat semua siswa keluar dari kelasnya dengan semangat untuk pergi ke kantin, membeli beberapa makan siang untuk mereka. Tetapi berbeda dengan seorang gadis yang tengah duduk seorang diri di kursinya seraya menatap kotak bekalnya di atas meja.
Menu bekalnya hari ini memang sangat enak, tetapi raut wajah dari gadis itu hanya terdiam tanpa memiliki niatan untuk memakannya. “Bosan sekali! Kenapa menunya itu-itu mulu?!” Kata gadis itu seraya mendorong kotak bekalnya hingga terjatuh ke lantai.
Bruukk!!
Suara itu berdegup di ruangan kelas yang sepi, dan Eline yang melihat kotak bekalnya terjatuh sama sekali tidak beeniat untuk mengambilnya. Bahkan menggerakkan sedikitpun tangannya, ia merasa enggan.
“Hey!! Kotak bekalmu jatuh kenapa tidak di ambil?”
Seorang wanita datang menghampirinya sembari mengambil kotak bekal Eline yang terjatuh di tanah. Melihat hal itu, Eline dengan sontak mengangkat tubuhnya sedikit untuk melihat seorang wanita memakai seragam yang sama dengannya tengah berjongkok di depan mejanya seraya memunguti cemilan ringan milik Eline yang berserakan.
Setelah selesai, wanita itu langsung bangun dan meletakkan kotak bekal Eline kembali ke atas meja. “Makananmu masih bersih, jadi aku kembali meletakkannya disana. Lain kali, jangan sampai terjatuh lagi, karna sayang banget kalau sampe kotor” katanya sembari tersenyum.
Eline terdiam menatap wajah wanita itu begitu kotor dan di bagian pipinya juga terdapat sebuah bekas kemerahan seperti ia telah ditampar oleh seseorang begitu keras. “Wajahmu begitu kotor, kenapa tidak dibersihkan dulu?” tanya Eline seraya memalingkan wajahnya kesamping. Sementara wanita itu hanya tersenyum tanpa menggerakkan tangannya sedikitpun untuk membersihkan wajahnya. “Tidak apa, hanya kotor saja”
Eline yang merasa risih pun, langsung mengeluarkan sebungkus tissue bersih dari saku roknya. “Ambil ini dan bersihkan wajahmu dulu sebelum bicara denganku!!” kata eline seraya menyerahkan sebungkus tissue kecil itu kepada wanita yang ada di depannya.
Wanita itu tersenyum, lalu mengambil beberapa tissue milik eline untuk membersihkan wajahnya yang kotor. “Terimakasih”
“Hnn...” angguk Eline seraya menatap kotak bekalnya cukup lama.
Wanita yang tengah duduk di depan meja Eline sembari membersihkan wajahnya dengan tissue seketika berkata yang membuat Eline sedikit tertegun saat mendengar hal itu. “Kau terlihat tidak tertarik dengan bekalmu, ada apa?” tanya wanita itu dengan penasaran.
“Aku bosan dengan makanan yang seperti itu!”
“Kenapa bosan? Bukankah makanan itu enak?”
“Memang enak, tapi jika setiap hari aku harus membawa bekal seperti ini. Maka itu juga akan membuatku bosan!!”
“Bosan?” wanita itu berpikir sejenak. “Apa kau mau mencoba bekalku? Ini sih tidak terlalu mewah sepertimu, tapi ini buatan mamahku dan rasanya sangat enak!”
Wanita itu meletakan kotak bekal miliknya diatas meja, lalu membukanya agar eline dapat melihat isi dari kotak bekal tersebut. Memang awalnya sangat aneh jika untuk eline yang baru pertama kali melihatnya, tetapi wanita itu sama sekali tidak tersinggung akan tatapan eline saat ini menatap kearah kotak bekalnya.
“Apa kau baru melihatnya?”
“hn..” angguk Eline
“Kalau begitu, cobalah untuk merasakannya! Ini menang terlihat aneh, tapi jika kau sudah memakannya, kau pasti akan menyukainya!”
Eline dengan ragu pun mengambil beberapa makanan di kotak bekal milik wanita itu dengan sumpit miliknya. Awalnya ia merasa tidak yakin, tetapi karna penasaran eline pun memakai makanan itu dengan raut wajah yang masam. Hal itu tentu saja membuat wanita itu tertawa saat melihatnya.
“Tidak seperti itu cara memakannya! Sini biar aku perlihatkan padamu!”
__ADS_1
Wanita itu mulai mengajari Eline cara memakan makanannya, sementara eline sendiri membagi sedikit makanan miliknya kepada wanita itu.