Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 41 : Ancaman William pada Evelyne


__ADS_3

Mendengar hal itu, Evelyne terdiam tak menjawab pertanyaan sedikitpun pada kakek besar hingga tiba seorang lelaki dengan jas hitam serta ekspresi dingin di wajahnya membuat kakek dengan sontak menatap lelaki itu dengan tatapan dinginnya.


“Aku ingin bicara!” Tekan William yang membuat kakek besar itu paham dengan apa yang di maksud oleh William ini.


“Kamu pergilah ke dalam sebentar! Aku akan memanggilmu nanti setelah bicara” pandangan kakek beralih ke evelyne yang tengah berdiri di sampingnya dengn raut wajah yang datar.


Mendengar perkataan itu Evelyne mengangguk, lalu menunduk sekilas pada William sebelum ia berjalan pergi meninggalkan mereka. William yang melihat sikap evelyne menghormatinya, membuat ia ikut mengangguk untuk merespon kembali tundukan itu.


Setelah kepergian evelyne sudah menghilang dari pandangan mereka, kakek besar pun langsung duduk di kursi taman dengan mengayunkan tangannya setinggi dada. “Kau bisa pergi! Tinggalkan aku berdua dengannya!”


Pelayan itu mengangguk lalu berbalik badan untuk pergi meninggalkan mereka berdua di taman. Merasa taman sudah menyisakan mereka berdua, kakek pun membuka suaranya seraya menatap William dengan tatapannya yang tajam. “Kenapa? Apa kau datang untuk meminta perhitungan denganku?”


“Sepertinya Aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu” angguk William seraya melipat kedua tangannya di dada.


Kakek menggelengkan kepalanya, merasa bahwa William sudah benar-benar keterlaluan. “Jadi...kau ingin kau ingin aku bagaimana? Apa kau ingin aku meminta maaf pada Clara disaat kau sudah memiliki istri?”


“Kakek!! Aku kan sudah bilang...”


“Apa?!!” bentak kakek yang membuat perkataan William terhenti “Apa Kau membencinya hanya karna dia memiliki wajah yang sama seperti ibumu?!!”


Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Kakek besar, William pun langsung berbalik badan dan berjalan meninggalkannya dengan perasaan yang kesal. Sementara Evelyne yang berada di samping kediaman tengah menyandarkan tubuhnya di dinding dengan pandangannya yang kearas.


“Eve, apa kau disana?” tanya evelyne


“Eum... Aku disini Eline, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?”


Evelyne mengangguk “Apa kau mendengar permintaan kakek padaku?”


“Ya, Aku mendengarnya. Apa kau ingin meminta pendapatku tentang itu?”

__ADS_1


“Iyaa, Aku butuh pendapatmu sekarang! Jadi menurutmu bagaimana?”


“Menurutku sih mudah, kamu tinggal tanyakan saja pada hatimu. Ia masih kuat untuk menerimanya, atau tidak”


“Aku sih sebenarnya masih kuat, tapi Aku tidak yakin bisa melakukannya.”


“Kenapa?”


“Aku tidak mencintainya. Jadi...bagaimana Aku bisa membuatnya mencintaiku?”


“Kau tidak perlu buat dia mencintaimu! Tapi buatlah ia membuka matanya dan sadar akan cinta gelapnya itu.”


“....” Evelyne terdiam


“Memang sulit untuk melepaskan hati seseorang yang masih terperangkap dalam masa lalunya. Karna apapun kesempurnaan yang kita punya, pasti masa lalu lah menjadi pemenangnya! Tapi ini bukan soal pemenang..”


“ karna ini bukan siapa yang datang paling pertama tapi siapalah yang sanggup bertahan hingga akhir!” balas evelyne dengan akhiran tawa kecilnya.


Lelaki itu adalah William. Awalnya ia berniat untuk mencari evelyne karna ada sesuatu yang ia ingin tanyakan. Tetapi saat melihat evelyne sedang tertawa sendiri dengan wajahnya yang lucu membuatnya merasa sedikit heran akan semua itu. Bahkan jika di pikir secara logika, maka itu akan disebut tidak waras.


“Sedang apa kau disini?!!” tanya William seraya melihat kedua tangannya di dada


Evelyne tertegun, melihat sekitar lalu menggeleng seperti orang yang linglung. “Tidak, tidak sedang apa-apa. Tuan sendiri, kenapa anda disini?”


“Tidak ada, hanya lewat saja” jawab William seraya berbalik badan membelakangi evelyne. “Satu peringatan padamu! Jangan coba-coba mencari masalah dengan Clara, jika kau tidak mau berurusan denganku nantinya!”


Evelyne terheran “Aku...tidak memiliki masalah dengannya! Mengenalnya saja tidak, untuk apa aku membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna? Lagipula yang selama ini mencari masalah kan dia, bukan aku!”


Bruukk!

__ADS_1


Tubuh kecil evelyne tergantung ke dinding, dengan sebuah tangan yang besar sedang mencekik erat leher evelyne. Itulah William, jika ia sudah memperingati seseorang maka itu bukanlah main-main baginya. Dan ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang menganggap bahwa ancamannya adalah omongan kosong. Bahkan ia juga membalikkan fakta serta melemparkan kesalahannya pada orang lain.


“Eughh...Apa yang kau lakukan?!!” Evelyne menggerakkan giginya saat merasakan punggung terasa amat sakit.


Yaps, emosi yang melanda William membuatnya lupa akan luka parah di punggung evelyne. Hingga ia tidak mempedulikan seberapa keras evelyne menahan rasa sakit di punggung. Bahkan evelyne hanya bisa mencoba untuk mendorong tubuh William ke belakang. Tetapi kekuatan dari amarah seseorang yang ada di depannya cukuplah kuat.


“Cukup punya nyali juga kamu ya?!!” kata William yang terus menekan tubuh evelyne lebih keras.


Evelyne menggeleng, kakinya terus bergerak mencari kaki William untuk Melumpuhkannya. Tetapi ia tidak bisa jika pusat kekuatan dari William ada di lehernya.


“T-tuan...k-kau...B-bajingan!! L-lepaskan aku!!”


William terdiam, ia sama sekali tidak menjawab ataupun merespon evelyne yang tengah merintih kesakitan tepat di depannya. Bahkan sampai nafas evelyne sudah hampir melemah, William baru melepaskannya hingga tubuh lemah evelyne terjatuh ke tanah.


Melihat evelyne masih mengatur nafasnya serta memegangi dadanya dengan erat di tanah, membuat William menurunkan tubuhnya dalam posisi berlutut di depan evelyne seraya memandangnya dengan remeh. Bahkan William masih berniat untuk membuat evelyne lebih menderita dari ini.


“Ini adalah peringatan terakhir dariku! Jangan sampai aku membuatmu lebih menderita dari ini!” William mencengkram dagu Evelyne dengan keras lalu menepisnya dengan kasar hingga membuat suatu bekas kemerahan terdapat di dagu wanita itu.


-Eline, bisakah aku membunuh lelaki itu sekarang?!!-


Evelyne menggeleng, lalu terdiam saat melihat William telah beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkannya seorang diri. Bahkan lelaki tampak tidak peduli bagaimana kondisi Evelyne untuk saat ini.


-Dasar laki-laki gila!!? Apa dia pikir, dia bisa melakukan itu seenaknya?-


“Huh...sudahlah Eve! Tidak perlu dibahas lagi. Bisakah kamu bantu aku sebentar?”


-Eum...tunggulah ssebentar-


Setelah mengucapkan kata-kata itu, bayangan hitam yang besar pun keluar dari tubuh Evelyne. Bayangan itu seperti asap yang mulai menyelimuti seluruh tubuh evelyne secara sempurna, namun Evelyne dapat merasakan kelembutan dari bayangan tersebut, hingga membuatnya merasa nyaman saat di kelilingi oleh bayangan itu.

__ADS_1


-Tutuplah matamu! Aku tidak ingin kau melihatnya-


Evelyne mengangguk, lalu dengan menurut ia memejamkan matanya sesuai dengan permintaan Eve.


__ADS_2