
Di tengah malam.
Evelyne tidak sengaja terbangun dari tidurnya, karna mendapatkan mimpi yang sama seperti yang dulu. Dimana mimpi itu selalu mengingatkannya kepada Dion di kenangan masa lalunya. Evelyne tidak menginginkan itu kembali, tapi rasanya sulit untuk melepaskan seseorang yang ia cinta pergi bersama dengan orang yang di cintainya.
Ia tahu bahwa semua cinta itu pasti akan berubah, tapi dengan ketulusannya di permainkan Evelyne merasa bahwa lelaki seperti Dion tidak akan pernah mendapatkan cinta yang tulus sepertinya. Walaupun ia dulunya hanya seorang wanita penghibur, tapi soal yang namanya perasaan. Ia tidak akan pernah memainkan itu didalam hidupnya.
“Yoona, kenapa kau bangun? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanya William dengan mata yang tertutup namun ia memeluk pinggang ramping Evelyne yang kini sedang dalam keadaan duduk.
Evelyne menggeleng “Tidak apa, maaf. Apa aku membangunkanmu?”
“Tidak! Aku hanya terbangun setiap jam, jadi itu bukan salahmu!” kata William dengan membuka matanya seperti perlahan.
Evelyne terdiam, lalu dengan manik matanya yang indah. Ia menatap kearah lelaki yang kini sedang tidur dengannya di satu ranjang yang sama tanpa melakukan hal yang ia sangat ia benci. Padahal status mereka adalah suami istri, tapi kenapa lelaki ini tidak pernah memaksanya untuk memuaskannya. Bahkan lelaki ini juga tidak pernah memaksanya jika ia tidak menginginkannya.
Aku terjebak oleh perasaan aneh saat Aku selalu berada di samping lelaki ini. Aku selalu merasa bahwa Aku sangat membencinya, tapi disisi lain. Aku merasa bahwa aku memiliki hak untuk melindungi pernikahan ini dari orang-orang yang berusaha menghancurkannya. Membangun sebuah hubungan yang pernah hancur, memang tidak mudah. Tapi itulah yang membuat Evelyne merasa sedikit senang Karna Ia bisa mengetahui tentang lelaki ini lebih banyak lagi.
-Kita adalah orang yang kesepian Karna terjebak di masa lalu. Dunia menyatukan kita untuk membangun kembali perasaan yang kini telah hilang oleh masa lalu, tapi bagaimana cara Aku bisa mempercayai seseorang lagi dalam hidupku?-
Evelyne mengusap kepalanya William dengan lembut. Lelaki itu mudah tertidur saat tubuhnya terasa begitu lelah. Bahkan evelyne sendiri merasakan hal yang dirasakan oleh William walau itu hanya sebagiannya. “Kau sudah bekerja keras hari ini. Aku bangga padamu. Walau aku tahu, bahwa perasaanku ini hanyalah kebohongan.”
Memang sulit untuk membuka hati kembali, disaat hati sudah terluka parah. Bahkan untuk melengkapi satu sama yang lain, kami sama sekali tidak menaruh rasa kepercayaan untuk yang lain. Kami hanya mementingkan ego, hingga kehancuran yang selalu menang dalam suatu hubungan yang seperti itu.
“Yoonaa...apa kau masih belum tidur?” Gumam lelaki itu dalam mimpinya “Ayo kembali tidur, besok kita akan pergi bekerja. Jadi istirahat kan tubuhmu dengan cukup, atau kau akan jatuh sakit nantinya”
Evelyne terkekeh pelan, sepertinya ia salah menilai. Walaupun William memiliki kepribadian yang buruk, tetapi evelyne merasa bahwa William adalah satu-satunya lelaki aneh yang pernah ia temui. William dulu sangat membencinya, bahkan ia juga selalu bersikap kasar dengannya. Tapi sekarang...ia seperti es yang mencair Karna api yang menghangatkannya.
“Aku tidak bisa tidur, kau berhentilah bergumam. Dan tidurlah dengan nyenyak!” ucap Evelyne dengan senyuman kecil di wajahnya.
Ya, Aku seharusnya tidak terjatuh disini lebih dalam lagi. Karna Aku pasti yang akan merasakan sakit di akhir seperti hubunganku dengan Dion. Aku tidak ingin mati hanya karna percintaan, tapi...aku juga tidak bisa melakukan apapun sekalian menghadapi sikap baik darinya.
William yang merasa bahwa Evelyne masih saja duduk bersandar di ranjang, membuatnya harus membuka matanya yang dingin untuk melihat kearah Evelyne yang tengah memejamkan matanya seraya mengukirkan senyuman aneh di wajahnya. “Yoona, apa yang kau lakukan?” Tanya William dengan memeluk Evelyne secara spontan.
“Kenapa kau terbangun? Aku kan sudah menyuruhmu untuk tidur kembali, kenapa kau malah seperti ini?” William memeluk Evelyne begitu hangat. Hati yang seperti batu, perlahan mulai merasakan sakit yang tidak seharusnya ia rasakan. “Liam, berhentilah memelukku seperti ini!” Evelyne mendorong tubuh William dengan pelan.
William tertegun saat melihat reaksi Evelyne yang menolak pelukan dirinya. Ia tidak tahu apa yang baru saja mengganggu pikiran wanita ini di malam hari, hingga membuatnya harus bersikap aneh dengannya. “Yoona, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?” Tanya William dengan cemas.
Karna khawatir dengan Evelyne, William mencoba mendekati wanita ini secara perlahan. Walau Evelyne terlihat menolak, tetapi untuk memastikan wanita itu dalam keadaan yang baik-baik saja. William harus mendapatkan sebuah tamparan keras yang melayang untuk pertama kalinya disekian lamanya ia tidak melakukan kontak fisik dengannya.
William terdiam saat merasakan panas yang menyengat di wajahnya, sementara Evelyne hanya terus meringkuk ketakutan seperti ada yang berusaha untuk mengganggu ketenangannya di malam hari. “Aku sudah bilang, jangan dekati Aku!! Apa kau tidak mendengarnya?” bentak Evelyne dengan menangis.
__ADS_1
Ia tidak melakukan apapun, Ia hanya ingin memeluk wanita itu. Tapi kenapa dia sampai menangis saat mengatakan hal itu kepadanya? Apa yang salah dari wanita itu? Kenapa dia beraksi seperti 2 orang berbeda?
“Yoona, apa kau baik-baik saja? Katakan padaku, apa yang kau membuatmu tidak nyaman?” Tanya William dengan pelan.
Plak!!
Lagi-lagi Evelyne menepis tangan William dengan kasar. “Aku sudah mengatakan untuk tidak mendekati atau menyentuhkan?! Kenapa kau keras kepala sekali?!!” kata Evelyne dengan mata yang merah Karna menangis.
William terdiam sejenak, menenangkan dirinya agar tidak terbawa suasana yang panas saat malam ini. Karna Ia takut akan ikut mengeluarkan emosinya, saat melihat Evelyne yang secara Terang-terangan menolak keberadaannya. Setelah ia merasa bahwa tubuhnya sudah jauh lebih tenang, William yang tanpa aba-aba pun langsung melompat kearah Evelyne lalu dengan erat ia memeluk wanita itu.
“H-hey!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan Aku!!” teriak Evelyne dengan memukul kedua tangan William yang tengah menahan tubuhnya agar tidak pergi dari sana.
William menggeleng, ia harus terdiam sampai rasanya ia cukup untuk menenangkan wanita ini. Tapi jika ia tidak bisa, maka dengan berat hati ia melepaskan wanita itu dan berhenti melakukan sesuatu yang ia ingin kembalikan itu.
“Liam!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan Aku bajingan!” ucapnya dengan keras.
William mengangguk, pelukan itu semakin mengendur namun secara perlahan William menempelkan kepala Evelyne di dekat dadanya. “Sstt...Yoona, coba tenangkan dirimu dan dengarkan baik-baik.” Kata William dengan suara yang pelan dan tangan yang mengelus kepala Evelyne dengan lembut.
Mendengar suara pelan dan sentuhan lembut dari William membuat Evelyne dengan sontak menghentikan pergerakan menolak dari tubuhnya, bahkan tenaga yang dikeluarkan oleh Evelyne kepada William, secara perlahan melemah.
Dag..dig..dug..
Evelyne tertegun serta merasa nyaman saat mendengar detakan jantung William yang terdengar begitu keras. Bahkan suhu hangat yang di berikan oleh William membuat Evelyne merasakan nyaman saat di dekatnya.
Evelyne mengangguk pelan, meletakkan salah satu tangannya di dada William untuk merasakan lebih pada detakan jantung lelaki itu.William. “Yoona, jika pelukan ini bisa membuatmu nyaman. Maka peluklah Aku kapanpun, dan dimanapun saat kau mereka tidak nyaman. Kamu mengerti?” kata William dengan meletakkan kepalanya di atas kepala Evelyne.
Mendengar hal itu, Evelyne hanya terdiam seraya meremas baju tidur William dengan erat. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang membuat Evelyne merasa tidak nyaman, tetapi Evelyne seperti tidak memiliki niatan untuk berbagi cerita dengannya.
-Inilah yang aku takutkan sejak Aku dekat denganmu! Aku tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi, tapi aku juga tidak ingin melukai semua usahamu yang sudah memperlakukanku dengan baik. Maafkan aku, Liam. Maafkan aku-
William yang melihat Evelyne kembali menutup matanya dan tertidur, membuat dirinya kembali berjaga di malam ini. William sepanjang malam terus menatap wajah Evelyne tanpa sedetikpun terlewatkan. karna Ia takut, Evelyne akan menghadapi mimpi buruk lagi seperti tadi.
Dan semua itu berlangsung sampai pagi tiba, dan William juga tertidur dalam keadaan duduk bersandar seraya memeluk Evelyne diatas pangkuannya.
Sinar matahari pagi yang kini menerobos masuk dari jendela, membuat sebagian ruang kamar yang gelap kini di terangi oleh sebagian cahaya matahari yang masuk kedalam kamar. Kicauan seraya music yang di lantunkan di alarm William membuat suasana pagi menjadi sangat menenangkan.
Tidak ada sedikitpun beban yang dirasakan oleh keduanya saat mereka membuka matanya secara bersamaan. Evelyne tampak terlihat biasanya saat pagi tiba, seperti tidak merasakan sesuatu yang aneh terjadi di malam tadi. Bahkan William sendiri yang mengingat itu hanya bisa terdiam dan tidur membicarakan hal itu kembali kepada Evelyne.
“Selamat pagi! Bagaimana keadaanmu” sapa William dengan senyuman diwajahnya, ia menyambut Evelyne saat manik mata indah itu mulai terbuka.
__ADS_1
Evelyne mengusap matanya seraya mengangkat kepalanya dari dads William. Sepertinya wanita ini masih belum sadar, dan William juga masih terdiam sampai menunggu kesadaran Evelyne kembali secara stabil. “Eum...liam, jam berapa sekarang?” tanya Evelyne saat hendak menidurkan kepalanya di atas dada William kembali.
“Jam 06.45” jawab William dengan santai “Apa kau ingin kembali tidur?”
Evelyne terkejut, membuang pandangannya ke arah jam dinding yang kini menunjukan pukul yang baru saja di sebutkan oleh William tadi. Namun yang lebih mengejutkannya lagi adalah, Evelyne sadar bahwa ia telah tidur di atas tubuh William sepanjang malam. “L-liam, B-bagaimana bisa kau dan aku?” kata Evelyne dengan terbata-bata.
“Tidak, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kita hanya tertidur sepanjang malam, jadi jangan terlalu berpikir jauh. Karna aku tidak akan melakukan hal yang tidak kamu sukai.” Ucap William dengan mengelus kepala Evelyne saat wanita itu sudah turun dari atas tubuhnya.
Evelyne menatap William dengan malu. “K-kau serius?!”
“Ya, Aku serius. Kita tidak melakukan apapun semalam” jawabnya dengan perasaan hati yang sedikit sakit. “Ini sudah siang, kau mandilah lebih dulu. Aku akan mandi di tempat biasa. Setelah selesai, kita akan makan bersama dengan kakek. Oke?”
Evelyne mengangguk, lalu dengan wajahnya yang memerah Evelyne dengan cepat berlari melompat turun dari ranjang kasur serta berlari menuju kamar mandi untuk menyembunyikan rasa malunya. Melihat tingkah lucu dari Evelyne pun membuat William hanya terdiam kecil saat manik matanya terus tertuju kearah kamar mandi.
“Kau ini aneh! Tindakanmu terkadang memberikan Aku suatu harapan, tapi kau juga bisa memberikan aku suatu keputus-asaan saat melihat tindakanmu yang seperti menolakku”
...--🥀🕊—
...
Di ruang makan kediaman Maxime.
Kakek besar yang sedang makan dengan tenang pun seketika dikejutkan oleh datangnya Jessica serta Edgar di pagi ini. Semua pelayan yang melihat mereka juga langsung menundukkan kepalanya sebagai hormat mereka kepada putra dan putri dari keluarga JIN.
“Hallo kakek, selamat pagi!” teriak Jessica yang membuat suratnya terdengar di seluruh ruangan makan.
Kakek yang mendengar suara kencang itu pun dengan sontak menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Manik mata yang tajam dari kakek pun langsung tertuju kearah jessica untuk memberikan suatu teguran hanya dari sepasang mata. “Jessica, tolong jangan tingkahmu! Ini masih pagi, apa kau akan membuat keributan di dalam kediamanku pagi ini?” Tanya kakek dengan nada yang tidak baik.
“Ahh...kakek, apa yang kau sedang ributkan. Aku ini datang kesini, Karna Aku ingin bertemu denganmu. Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau tidak merindukan cucu kakek yang cantik ini?” goda jessica dengan memeluk kakek dari belakang.
Kakek menghela nafasnya, mengetuk sendok ke atas meja untuk beberapa kali saat meminta semua yang ada di sana memperhatikannya. “Jessica, duduklah dengan tenang disana! Pelayan, bawakan beberapa makanan yang sudah di hidangkan sebelumnya. Pagi ini, aku akan makan bersama dengan mereka” ucap kakek yang mengundang Edgar dan jessica untuk sarapan bersama dengannya pagi ini.
Mendengar kakek bicara seperti itu, kedua orang tersebut pun langsung duduk di kursi meja makan yang sudah tersedia disana. Tak lama, para pelayan pun keluar dari dapur dengan membawa beberapa makanan enak di tangannya. Terlihat sarapan pagi ini begitu mewah, dan hal itu tentu saja membuat jessica dengan bersemangat mengambil piring untuk menyiapkan makanannya untuk dirinya sendiri.
Berbeda dengan Edgar yang meminta beberapa pelayan untuk melayaninya dari mengambil makanan dan membuatkannya minuman segar. “Edgar, Aku sudah lama tidak mendengar kabar orang tuamu. Apa mereka semua baik-baik saja disana?” Tanya kakek yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Edgar mengangguk “Ya, mereka semua baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar kakek dan kakak tertua? Apa kalian sudah berhubungan dengan baik?”
“Ya sudah, walaupun anak itu sedikit menyebalkan. Tapi aku sangat menyukainya, apalagi melihat kedekatannya dengan Yoona akhir-akhir ini membuatmu merasa senang” ucap kakek yang membuat kedua orang itu dengan terkejut. “Ada apa? Kenapa kalian tampaknya begitu terkejut? Apa kalian belum pernah melihat mereka bersama akhir-akhir ini?”
__ADS_1
Jessica menggeleng “Tidak kakek! Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa kakak tertua mendekatkan dirinya pada wanita seperti Evelyne? Dia itukan hanya menikah dengan kakak tertua, Karna harta bukan cinta. Jadi untuk apa kakek merasakan senang jika melihat keduanya dekat?”
“Memangnya Aku seburuk apa dimatamu? Sampai-sampai kau selalu mengejekku di belakang, apa kau tidak memiliki keberanian untuk membicarakannya langsung kepadaku?” kata seorang wanita yang berdiri di depan pintu ruang makan dengan senyuman menyeringai di wajah jahatnya.