Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 33 : Tubuh ini milikku, milikmu dan miliknya.


__ADS_3

Evelyne yang mendengar hal itu tentu saja merasa amarah memuncak, tetapi dengan cepat ia memalingkan wajahnya kearah pintu besi itu. Lalu berlari dan membukanya. Benar saja, saat ia memasuki tempat itu evelyne langsung dibuat terkejut dengan sosok penampilan seorang wanita tua tengah duduk di tanah kotor dengan tubuh yang terlihat begitu kurus.


Hati evelyne terasa sakit melihat itu, bahkan ia tidak menyangka sosok dari bayangan ibunya akan terbayang di benaknya kembali. “Ibu..apa yang kau lakukan disini?” Tanya evelyne seraya berlari ke arah wanita tua itu.


Liliana adalah sosok ibu kandung dari Yoona jiang yang kini berada di depannya. Dan sekilas ingatan dari Yoona mengingatkan Evelyne kepada setiap kejadian mereka di masa lalu. Memang pahit, tapi kepahitan itu tidak bisa ia bandingkan dengan masa lalunya yang lebih kejam. “S-sayang, Y-yoona kenapa kau berada disini??” tanya Liliana dengan tangan langsung mengelus wajah evelyne dengan lembut.


Evelyne terdiam, ‘Ini bukan ibuku, tapi kenapa rasanya sakit sekali jika melihat keadaannya seperti ini. Hancur seperti tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hey!! Wanita lemah, apakah kita memiliki nasib yang sama?’


Maisha mendesah, “Aduh pemandangan yang begitu menyedihkan ya. Seorang anak yang sudah lama tidak pulang kini kembali datang dan melihat ibunya sudah tidak berguna lagi. Bahkan hanya bisa melayani beberapa lelaki untuk bermalam!”


Evelyne tertegun serta dengan reaksi yang cepat ia berlari kearah maisha dan mencekiknya dengan erat. Semua yang ada disana tampak dibuat terkejut akan hal itu, tetapi evelyne tidak peduli. Emosinya sudah tdak bisa dikendalikan lagi. “Eughh... Sialan kau ******!? Apa kau yang kau lakukan?!! Lepaskan aku!?” pekik maisha saat tubuhnya ditahan ke dinding oleh evelyne.


“Wanita bodoh!! Apa yang kau lakukan?!! Lepaskan ibu!” teriak evan dari belakang.


“Yoona, apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!! Dia itu ibumu!!” tambah Gavin dengan panik.


Evelyne tertawa, “Dia? Ibuku? Sejak kapan aku memiliki ibu yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun pada anaknya?!”


“Eughh... Sialan kau ******!!”


Evelyne tidak menghiraukan perkataan dari Maisha, karna semakin ia mendengarkan maka cekikan di leher maisha akan semakin bertambah erat. “Aakkhhh!!!” jerit maisha yang membuat Liliana dengan sigap berlari kearah evelyne dan meraih tangannya dengan tangan lemahnya itu. “Yoona, apa yang kau lakukan?!! Hentikan, kau bisa membunuhnya”


-Aku sudah pernah membunuh orang dulu, jadi untuk membunuh wanita bajing*n ini tidak akan mempermasalahkan diriku!-


“Yoona hentikan, tolong hentikan! Kasihan maisha... Dia bisa mati!”


Liliana terus memohon pada evelyne yang tengah emosi saat ini, tapi demi seorang ibu yang bukan ibu kandungnya. Ia rela melepaskan mangsanya yang sudah hampir mati di tangannya.


Melihat Maisha terjatuh ke tanah dengan tubuh yang lemas membuat ke3 orang itu berlari kearahnya untuk melihat kondisi Maisha. Sementara evelyne hanya terdiam tanpa rasa bersalah, lalu dengan cepat ia menarik tangan Liliana hingga terjatuh kepada gendongannya. Liliana terkejut saat melihat tubuhnya melayang dibelakang punggung evelyne yang terlihat tegak dan kuat. “S-sayang?!”


“Ayo, kita pergi dari sini?!” kata evelyne seraya mengukirkan senyuman pasti pada Liliana.


Tak menunggu lama, Evelyne berlari keluar dari penjaga itu dengan cepat. Hingga membuat Evan tersadar akan kepergian dari evelyne yang membawa Liliana di punggungnya. “Ayah, lihat!! Wanita itu pergi membawanya!”


Gavin yang tersadar pun langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari tempat itu, dan melihat satu obor terlepas dari tempatnya.


“Sayang, apa yang kau lakukan? Cepat berhenti, atau ayahmu akan marah padamu nanti” kata Liliana yang mencoba menghentikan langkah cepat dari evelyne. “Marah atau tidak, aku tidak peduli. Sekarang kita keluar dulu dari sini, buat ganti udara pernapasan ibu” jawab Evelyne yang tidak ragu akan semua yang terjadi nanti.


Begitu sampai di luar halaman kediaman, Evelyne dan Liliana langsung di blokir oleh beberapa penjaga di kediaman jiang. Awalnya mereka berjumlah 6-9 orang dan evelyne masih sanggup untuk melawannya. Jadi ia menurunkan Liliana dan menyuruhnya untuk berlari ke pinggir, sementara ia berkelahi 1vs 9 dengan para penjaga itu.


Perkelahian pun membuat semuanya menjadi berantakan, banyak para penjaga lain yang ikut menyerang evelyne hingga membuatnya sedikit kewalahan karna tidak bisa menyerang mereka semua secara bersamaan. Ditambah lagi, ia dapat melihat Gavin, Maisha dan ke2 putra putrinya sudah berada didepan pintu halaman kediaman. Evelyne juga tidak bisa tenang karna beberapa dari penjaga itu hendak menganggu ibunya yang tengah memperhatikannya di pinggir.


Sibuk dengan kebingungan yang melanda dipikirannya, membuat evelyne tidak sadar akan sebuah cambukan besar telah dilayangkan ke langit hingga mendarat ke tubuhnya dengan keras. Kejutan dari matanya pun seketika menatap kearah Liliana yang sudah di pegangin oleh beberapa penjaga, sementara evelyne sendiri tidak bisa merasakan sedikitpun tenaga dari tubuhnya.


Cambukan itu membuat evelyne tumbang dengan mudah, karna ia tidak bisa bertarung jika hatinya penuh di kuasai oleh rasa kekhawatiran. Itu sebabnya dimasa lalu evelyne, wanita itu dikenal sebagai pembunuh tak berperasaan karena memang ia membunuh tanpa memikirkan sedikit tentang seseorang yang ia bunuh.


“YOONAA...” Teriak Liliana saat melihat evelyne terjatuh ke tanah.


...--🥀🕊—


...


“Apa masih ada jadwal untuk meeting hari ini?” tanya William pada Nathan yang tengah mengikutinya belakang.


Nathan mengecek datanya sejenak, lalu menatap William kembali. “Masih ada tuan, jadwal hari ini sedikit padat jadi anda harus mendatangi beberapa klien lagi untuk meeting selanjutnya.”

__ADS_1


“Jam berapa meeting itu dimulai?” tanya William seraya melirikkan sedikit matanya kesamping. “Untuk meeting siang, akan dimulai sekitar jam 14.30 dan untuk meeting malam akan di mulai sekitar jam 20.00” jawab Nathan yang membukakan pintu ruangan William dan membiarkan William masuk terlebih dahulu.


William terdiam seraya berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk disana sembari menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. “Ubah jadwal malam ini ke lain hari. Aku tidak pulang malam hari ini” kata William yang membuat Nathan sedikit terkejut dengan keputusan itu. “Baik tuan, tapi apakah anda memiliki alasan untuk mengganti jadwal itu?”


“Ya, aku akan kembali lebih awal karna ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan ditempat lain” William berkata dengan nada dingin.


Nathan mengangguk paham, lalu meminta izin sekilas untuk memberitahu pihak sana untuk membatalkan atau menunda meeting malam ke hari lain. Tetapi saat Nathan sedang memeriksa beberapa informasi di tabletnya, ia terkejut hingga membuat langkagnya dengan sontak terhenti di tempat.


“Ada apa?!” tanya William yang melihat pergerakan dari Nathan tampak sangat aneh.


Sementara Nathan membalikkan tubuhnya dengan cepat seraya menatap William dengan tatapan yang membuat William sendiri ikut merasa heran. “Tuan, apakah kau tidak mengecek hpmu selama di kantor?”


William menggeleng, “Tidak! Di kantor itu untuk bekerja bukan untuk bermain HP”


“Tidak tuan, tapi sebaiknya anda membuka hpnya sejenak. Karna bi Dessy sejak tadi pagi menghubungi saya hingga beberapa kali. Dan meninggalkan pesan agar memberitahu tuan untuk membuka pesan yang ia berikan” jelas Nathan yang membuat William dengan sontak tertegun.


Ini bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh Dessy sebelumnya, karna Dessy jika ada sesuatu maka is hanya akan meninggal sebuah pesan dan tidak sampai menghubungi seseorang hingga berkali-kali. William yang merasa ada sesuatu aneh pun langsung mengambil hpnya di dalam laci meja kerja. Dan benar saja, William dapat melihat 20 panggilan tidak terjawab dari Dessy serta pesan yang ditinggal oleh Dessy membuat ia sedikit kebingungan.


Dessy : Tuan, apakah Nyonya bersamamu?


William mengerutkan keningnya, lalu menekan nomer Dessy untuk mencoba menghubunginya kembali. Menunggu beberapa saat sampai telpon itu tersambung, William terus menatap Nathan yang masih berdiri di sebrang meja kerja untuk menunggu hasil yang di dapat oleh William dan menunggu perintah dadakan yang akan di turunkan oleh William kepadanya.


“Hallo? Tuan?”


“Bi, ada apa? Kenapa kau menelponku sebegitu banyaknya?”


“Tuan, akhirnya anda melihat pesannya!! Maaf sebelumnya tuan, saya punya ingin bertanya tentang nyonya ke tuan.”


“Yoona? Ada apa dengannya? Masalah apalagi yang ia buat?!”


“Tidak ada? Kemana dia?!!”


“S-saya tidak tahu tuan, yang pasti saya dan semua pelayan pada mencarinya di seluruh kediaman tetapi tidak ada. Saya khawatir tuan dengan nyonya, perasaan saya juga tidak enak”


William menghela nafasnya, “Apa bibi sudah coba menghubunginya?”


“sudah tuan tapi HP nyonya tertinggal di kamar dan saya rasa nyonya terburu-buru hingga melupakan hpnya”


“Huh... Baiklah, aku paham sekarang. Bibi tunggulah di kediaman, aku akan mencarinya di kota”


“Baik, tuan! Terimakasih banyak”


Setelah mendengar itu, William langsung mematikan sambungan dari telpon. Lalu meletakkan hpnya diatas meja dengan raut wajah yang gelap. Nathan yang melihat perubahan William pun sudah bisa menebak siapa yang membuat tuannya akan bersikap seperti ini. Ditambah lagi, ia juga mendengar kata-kata ‘Yoona' dipercakapan telpon William.


“T-tuan?”


“Pergi cari informasi tentang Yoona sejak pagi ini. Dan jangan ada satupun informasi yang terlewat!”


Nathan yang mendengar hal itu pun langsung mengangguk lalu berbalik badan untuk melaksanakan perintah dari William. Sementara lelaki itu masih terdiam di meja kerja seraya memijat beberapa laki keningnya karna merasa pusing akan sikap evelyne akhir-akhir ini.


“Masalah apa lagi yang kau buat, Yoona?”


...--🥀🕊—


...

__ADS_1


Sraakk...Sraakk...Sraakk...


Suara cambuk yang terus dilayangkan beberapa kali ke udara dan didaratkan tepat di punggung evelyne membuat bercak-bercak darah mulai menyiprat di sekitar tubuh evelyne. Liliana menangis melihat putri satu-satunya ia miliki kini tengah menjalankan sebuah hukuman kejam dari Gavin karna nekad membawanya pergi dari tempat itu.


Mendengar Liliana menangis, membuat hati Evelyne semakin tidak merasa nyaman. Ia tidak peduli sudah beberapa kali cambukan itu mengenai tubuhnya, tetapi yang kini ia pikirkan adalah kenapa memiliki perasaan terhadap orang akan semerepotkan ini?


“Cukup Gavin!! Cukup!!” teriak Liliana yang membuat Evelyne mengangkat kepalanya.


Melihat Liliana tengah berlutut di kaki Gavin dan terus memohon agar hukuman itu di hentikan membuat Evelyne terus sesekilas mengingat akan hal dulu, dimana kejadian ini hampir mirip dengan kejadiannya di masa lalu.


“T-tidak p-perlu memohon dengan seperti itu, ibu!! A-aku b-baik-b-baik saja.” Kata evelyne yang beberapa kali menahan jeritannya dengan menggigit bibirnya hingga berdarah.


Liliana terus menatap evelyne dengan tatapan yang khawatir, cemas dan sedih. Karna keadaan dari tubuh evelyne benar-benar sudah hancur berantakan. Punggungnya sudah dipenuhi oleh banyak darah, evelyne juga sudah beberapa kali memuntahkan darah dari mulut tetapi dia masih tidak menjerit sedikitpun. Hanya gigitan di bibir yang bisa ia pelampiasan.


-Huh...merepotkan sekali kau ini, eline!-


Evelyne tertawa, “ Tidak apa...mungkin aku memang harus merasakan sakit ini untuk kedua kalinya. Rasanya memang sama, tapi untuk kali ini, aku tidak akan membiarkan seorangpun menjadi korban”


-Tapi kan kau bisa saja membunuh mereka semua. Jadi hal seperti ini tidak akan terjadi padamu-


“Ya memang membunuh itu bisa membuat masalah selesai, tapi yang sekarang aku tinggali bukanlah tubuhku dan aku tidak bisa berbuat seenaknya atau tidak aku akan menghancurkan hidupnya”


-Tapi tubuh ini sekarang milikmu! Kau bisa melakukan apa yang kau jnginkan-


“Tidak, tubuh ini milikku, milikmu dan miliknya!”


Maisha yang melihat Evelyne seperti tidak merasa kesakitan pun meminta Gavin untuk menambah hukuman Evelyne jauh lebih keras lagi. Karna hukuman yang tidak membuat ia menyesal tidak akan membuat ia berubah. Liliana yang mendengar permintaan itu pun dengan sontak menggeleng tidak setuju.


“Tidak, tidak! Gavin.. Tolong jangan tambahkan hukumannya. Kasihan Yoona, dia sudah menahan semuanya. Aku mohon Gavin, hentikan semua ini”


Liliana terus memohon dengan berlutut kepada Gavin, tetapi Gavin sama sekali tidak menanggapi keberadaan ataupun perkataan Liliana sejak tadi. Bahkan ia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Maisha tadi.


“Tambahkan cambukan itu lebih keras lagi!”


...--🥀🕊—


...


Tok... Tok... Tok...


Seseorang mengetuk pintu ruangan kantor yang membuat seseorang yang berada di dalam mengangkat kepalanya untuk menatap kearah pintu yang tengah di ketika oleh seseorang dari luar. William yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaannya pun seketika langsung menghentikan semuanya saat pintu ruangan itu mulai terbuka dan menunjukan beberapa orang tengah berjalan masuk kedalam ruangannya.


Diantara mereka juga ada Nathan yang ikut masuk dengan membawa sebuah tablet ditangannya. “Tugas sudah selesai tuan” kata Nathan seraya berdiri tegak di depan meja kerja milik William.


William mengangguk, “Eum... Jelaskan!”


Nathan yang mendengar itu pun langsung menatap kearah layar tablet tersebut lalu berkata, “Pagi ini Nona jiang pergi dari kediaman sekitar pukul 08.00 pagi, dia menggunakan taksi online untuk pergi ke kediaman keluarga jiang untuk menemui ibunya. Dan setelah itu tidak ada kabar lagi tentang nona jiang yang sudah keluar dari kediaman atau belum”


William mengerutkan keningnya, “Kediaman jiang?”


Mengingat akan sesuatu, William pun segera bangkit dari duduknya yang membuat beberapa orang itu terkejut akan tindakan William yang secara tiba-tiba. Setelah bangun, William juga langsung berjalan melewati mereka dengan mengucapkan satu kalimat yang membuat semuanya dengan serentak menjawabnya.


“Ikut aku, pergi ke kediaman jiang!!”


“Siapa!!”

__ADS_1


__ADS_2