Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 85 : Hadiah sebelum balas dendam


__ADS_3

William yang menunggu lebih dari 1 jam setengah, membuat ia harus menyandarkan tubuhnya di kursi rumah sakit dengan nafas yang beberapa lagi di hembuskan. Ia sudah seperti orang yang pasrah akan nasib dan takdirnya, karna surya yang berada di dalam masih belum kunjung keluar dari sana. “Huh...aku harap takdir masih membuatku bisa membuatku hidup bersama dengan Yoona di dunia ini lagi! Karna aku benar-benar tidak membutuhkan orang lain, tapi aku hanya membutuhkannya!”


Kreekk!!


Suara pintu dari ruang UDG terbuka dengan perlahan, membuat William yang sedang termenung di tempat duduknya langsung dengan sontak menolehkan kepalanya untuk melihat seorang lelaki berjas putih ( Surya ) tengah berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang membuat William sedikit mengkhawatirkan keadaan Evelyne.


“Sur, ada apa? Apa semuanya baik-baik saja? Yoona, apa yoona masih bisa diselamatkan?” tanya William dengan memegang kedua bahu Surya untuk menjelaskan semuanya sesuai dengan keinginannya.


Namun sepertinya takdir masih memberikannya cobaan, karna sekarang pihak rumah sakit kehabisan pendonoran darah yang bergolongan O dan hal itu membuat Surya sedang mencemaskan keadaaan Evelyne yang kini benar-benar kehilangan banyak darah. “Kita butuh golongan darah O, kakak tertua. Tapi....stok di rumah sakit sudah habis. Apa kau mau mencarikan Pendonor darah yang bergolongan O?” ucap Surya dengan menatap serius pada William.


“Kenapa kau memintaku untuk mencarikan pendonor orang lain? Bukankah kau tahu bahwa aku juga pemilik darah bergolongan O?” tanya William dengan mengerutkan keningnya.


Nathan terdiam sejenak, ia bukan bermaksud untuk melupakan posisi William saat ini yang sudah menikah dengan Yoona selama 2 tahun. Tapi...ia terpaksa mengatakan hal seperti itu, karna William dulu pernah mengatakan bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah memberikan wanita itu darahnya setetes pun.


“Maafkan aku, kakak tertua. Tapi bukankah?..” kata Surya yang langsung memotong bagian akhir dari kalimatnya saat melihat William menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang kecewa. “Lupakan dulu masa lalu, karna itu aku akan menanggungnya sendiri.”


Surya mengangguk, lalu dengan cepat ia menyuruh William untuk masuk ke dalam ruangan operasi untuk pendonoran darahnya kepada Evelyne.


Bisa dilihat dengan begitu jelas, seorang wanita dengan tubuhnya yang masih di lumuri oleh darah tengah terbaring tidak sadarkan diri di atas kasur operasi. Ia bisa melihat bagaimana tangannya di suntik untuk dipasangkan selang untuk mengalihkan darahnya pada tubuh Evelyne yang sudah terlihat begitu lemah.


Bahkan William bisa melihat bagaimana wajah itu sudah berubah menjadi putih pucat karna kondisi tubuhnya yang masih belum kunjung membaik. Surya yang melihat keadaan serta kekhawatiran yang di rasakan oleh William pun membuat dirinya berpikir bahwa hati yang keras seperti batu sudah ditekuk pelan oleh seorang wanita gila seperti Evelyne.


Sungguh! Dunia ini benar-benar luar biasa.


“Kau bisa memegang tangannya, jika kau menginginkannya kakak tertua.” Ucap Surya dengan senyuman sekilas di wajahnya yang serius. Ia memang pernah membenci Yoona sebelumnya, karna wanita ini terlalu murah untuk William yang termaksud cowok mahal.


Tapi...jika dilihat dengan kenyataan yang sekarang, bahwa status sekecil apapun, itu sama sekali tidak Memperngaruhi datangnya cinta di hati dirinya dan seseorang. Bahkan jika ia menyangkal itu semua, maka perasaan yang terikat pada hatinya juga akan semakin. Karna konon katanya, Semua yang lepas tidak akan pernah kembali, namun yang masih terikat tetaplah bertahan sebelum dunia yang memaksa kalian untuk berpisah.


William melirikkan matanya kearah Evelyne, lalu dengan tangannya yang panjang ia meraih tangan Evelyne yang sedang diletakkan di samping tubuh lemahnya. Hati yang kuat, dingin seperti gunung es kini seperti akan mencair saat ia melihat kondisi Evelyne yang benar-benar terpuruk di depannya. ‘Apa semuanya akan berakhir, jika kesempatan ini tidak berhasil? Apa aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi setelah ini?’ Batin William dengan hati yang terluka.


Membayangkan bagaimana arwah ibunya sedang memeluk tubuhnya agar tetap kuat di setiap jalannya masalah untuknya. ‘Liam, putra kesayangan ibunda...kamu adalah anak laki-laki yang kuat. Berjanjilah pada ibu, bahwa masalah sebesar apapun tidak akan pernah membuatmu terjatuh dan putus asa. Ibunda ingin Liam terus berdiri seperti harapan ibunda pada Liam yang tidak pernah roboh sedikitpun. Kau boleh menangis, kau boleh berteriak...tapi ibu sangat ingin kamu tidak pernah menyerah pada sesuatu apapun ya sayang!’


‘Iya ibunda, aku berjanji padamu! Setelah ini, aku akan mengubah semuanya seperti yang kuinginkan...dan aku juga berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah menyerah pada masalah dunia yang tidak akan pernah selesai ini'


Selesai menjalankan pendonoran darah secara lancar, William bisa melihat bagaimana semua operasi yang di lakukan oleh Evelyne ikut berjalan dengan lancar. Bahkan tidak lama dari itu, Evelyne sudah dibawa ke dalam kamar nginap untuk beristirahat dan William juga ikut berada disana untuk menemani Evelyne.


Disana, William hanya duduk di samping ranjang rumah sakit wanita itu seraya memainkan jari-jari mungil milik Evelyne. “Hey! Wanita gila...Apa dengan cara membunuh bisa membuat hatimu terasa tenang? Apa dengan cara mendengar jeritan orang yang kesakitan membuatmu bisa tertawa dengan bahagia?” William bergumam saat pikirannya mengingat bagaimana penampilan Evelyne yang begitu mengerikan saat berada di markas itu.


Tawaan yang begitu keras, tubuh yang dipenuhi oleh darah seseorang serta api yang bersahabat dengannya membuat William merasa gelisah jika memikirkan hal itu. “Kupikir, kau wanita bodoh yang pernah ku temui di dunia ini. Tapi...siapa yang menyangka bahwa kau adalah wanita gila saat memiliki keinginan untuk membunuh seseorang!”

__ADS_1


William terkekeh lembut “Lihatlah dirimu! Kau terlihat seperti wanita yang menggemaskan jika sedang tertidur seperti ini, tapi...kenapa kau terlihat seperti iblis yang kejam jika kau membuka mata mu yang tajam itu”


William yang terus mengoceh tentang hal yang tidak jelas pun membuat dirinya merasa kesepian saat melihat Evelyne masih belum kunjung membuka matanya sampai matahari yang kini sudah menyinari pagi yang segar. Beberapa kali, William dengan sengaja mematikan alat pendingin di ruangan Evelyne dan menggantikan dengan membuka jendela kamar rumah sakit untuk mengganti udara yang ada di dalam ruangan tersebut.


William juga merasakan tubuh dan pikiran hatinya sudah jauh lebih tenang, karna tahu bahwa kondisi Evelyne yang sudah membaik setelah operasi itu selesai. Dan ia juga sempat berpikir bahwa Evelyne tidak mengingat apapun tentang kejadian semalam, maka ia berniat untuk merahasiakannya dari wanita itu.


Karna William tidak mau, Evelyne kembali. Mengingat masa-masa yang tragis dalam hidupnya.


Kring!!


Suara telpon dari hp William berbunyi dengan keras. Membuat William yang tadinya sedang menikmati udara segar, kini dengan cepat ia mengangkat telpon tersebut karna ia tahu bahwa telpon tersebut dari Nathan yang pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. “Hallo” ucap William saat telpon itu sudah tersambung.


“Selamat pagi tuan, apakah semuanya berjalan dengan lancar disana?” tanya Nathan yang sedikit mengkhawatirkan kondisi Evelyne.


William menolehkan kepalanya, melihat wanita itu seperti putri yang tertidur membuatnya sedikit mengerutkan bibirnya karna sedih. “Ya, sedikit. Kondisinya sudah membaik sejak tadi pagi, tapi sampai siang ini...dia masih belum membuka matanya.”


“Itu sudah menjadi hal yang wajar, tuan. Karna tubuh nona sedang mengalami pemulihan di bagian dalam, jadi itulah yang mengakibatkan dia belum membuka matanya setelah menjalankan opera.” Jelas Nathan yang sedikit membuat William merasa tenang.


William mengangguk “Ya, kau benar! Jadi...ada masalah apa kau masih menghubungiku seperti ini?”


“Tidak ada masalah apapun, tuan. Hanya saja, saya melihat dari tingkah semua karyawanmu disini semakin membicarakan Evelyne tanpa harus menyebutkan namanya.” Jawab Nathan dengan suara pelan.


“Mereka semua membicarakan Nona Yoona secara terang-terangan, tapi mereka tidak membicarakannya dengan nama. Melainkan dengan julukannya” Nathan sedikit mengkhawatirkan dirinya jika William sampai marah saat tahu bahwa Evelyne yang kini sedang berbaring lemah di atas kasur rumah sakit malah dibicarakan yang tidak-tidak oleh orang yang diluaran sana. “Kumpulkan mereka, dan bilanglah bahwa mereka hari ini akan mendapatkan cuti liburan dariku selama 3 hari. Kau juga jangan lupa berikan uang senilai 50 juta untuk mereka berlibur nantinya”


Nathan terkejut, “T-tuan, kenapa anda malah memberikan mereka semua liburan?”


“Karna mereka pantas untuk mendapatkan itu!” jawab William dengan misterius “Kau lakukan saja, apa yang aku minta. Dan sisanya, biarkan aku yang mengurusnya nanti!”


Nathan mengangguk ragu “B-baik tuan.”


“Nathan, kau tidak perlu meragukan itu. Aku sekarang hanya menunda waktu sampai semua sudah tepat pada waktunya. Jadi...tunggulah sampai pertunjukannya dimulai! Kau mengerti?” William berkata dengan nada dinginnya membuat Nathan sedikit menghilangkan rasa keraguannya itu.


Nathan mengangguk paham “Baik tuan, saya mengerti.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung menutup telponnya dan kembali menyimpan HP nya ke dalam saku jas hitamnya. Ia berjalan menghampiri Evelyne yang masih tertidur, lalu menyeka beberapa helai rambut yang berada di wajah cantiknya.


William tersenyum, lalu dengan lembut ia mencium kening Evelyne dengan waktu yang lama. Karna ia mengharapkan Evelyne bisa terus bersamanya, walau wanita ini terkadang sangat membencinya. “Tetaplah berada di sampingku! Karena aku tidak ingin kau pergi lagi seperti ini.”


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Suara pintu yang terketuk dari luar pun membuat William melirikkan matanya yang tajam, Karna ia merasa terganggu jika ada seseorang yang datang menghampiri kamar Evelyne. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan pengobatan Evelyne, Karna itu untuk keselamatan hidupnya. “Masuk!”


William menyipitkan matanya saat melihat pintu itu terbuka dengan lebar seraya menampilkan seorang lelaki dengan jas putihnya masih ia kenakan dari semalam. Ia juga tampak lebih segar dari sebelumnya, berbeda dengan William yang masih sama seperti semalam.


Rambutnya yang berantakan, bajunya yang di penuhi oleh darah serta wajah yang tampan kini mendapatkan noda hitam di pipinya.


Surya, si lelaki berjas putih itu sampai mengerutkan keningnya saat melihat penampilan William yang belum berubah sedikitpun dari yang semalam. “Kakak tertua, kupikir kau akan pulang untuk mengganti pakaian dan membersihkan tubuhmu. Tapi kenapa kau malah masih ada disini? Bahkan kau juga tidak membersihkan tubuh dan mengganti pakaianmu”


“Aku tidak bisa pergi, jika tidak ada seseorang yang menemaninya disini.” Ucap William dengan santainya ia duduk di kursi samping ranjang rumah sakit.


Surya menggelengkan kepalanya “Ckck...kau ini terlalu berlebihan, tahu! Nih...ambil dan pakailah setelah kau membersihkan tubuhmu di kamar mandi!”


“Kau mendapatkan baju ini dari mana?” tanya William dengan menatap baju yang baru saja Surya berikan padanya.


Surya melipat tangannya di dada. “Tentu saja, aku mendapatkannya dari Nathan. Sekretaris utamamu!”


“Ohh oke, terimakasih!” ucap William seraya bangun dari duduknya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar nginap Evelyne.


Surya yang melihat William langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, merasa bahwa lelaki itu sudah menahannya semalaman. Bahkan ia juga rela menemani Evelyne dengan pakaiannya yang kotor itu. ‘Huh...dasar! Kalau sudah jatuh cinta, pasti begini'


...--🥀🕊—...


Di kantor.


Nathan yang sedang mengumpulkan semua orang yang ada di perusahaan ini ke aula utama kantor, membuat semuanya kebingungan dengan apa yang terjadi disana. Banyak mereka yang berpikir bahwa berita itu sudah di ketahui oleh Nathan, dan ada juga yang berpikir bahwa Nathan melihat CCTV terakhir kali dimana keributan terjadi ke kantornya saat ia dan William pergi ke luar kota.


Dan mereka semua juga menemukan bahwa dan elakkan jika Nathan benar-benar seperti yang mereka pikirkan.


“Selamat siang! Maaf jika aku mengganggu waktu kalian bekerja hari ini! Tapi..aku mengumpulkan kalian disini, karna perintah langsung yang diberikan oleh tuan besar padaku. Beliau ingin aku memberitahu kalian, bahwa dari hari ini dan 3 hari kemudian akan di liburkan secara bersamaan. Tuan besar berkata, bahwa ia ingin memberikan kalian cuti liburan untuk merilekskan pikiran kalian yang sudah terlalu banyak bekerja. Dan tuan juga memberikan uang senilai 50 juta/orang untuk berlibur” jelas Nathan.


Mendengar semua perkataan itu, tentu saja membuat semua orang yang ada disana tampak kebingungan namun mereka juga tampak senang saat mendapatkan cuti liburan serta uang senilai 50 juta untuk mereka gunakan berlibur. Padahal ini masih pertengahan bulan, tapi William maxime sudah berani memberikan uang sebanyak 50 juta untuk setiap orang gunakan berlibur. Dan jumlah karyawan yang ada Diperusahaannya sangat banyak, jadi 50 untuk mereka semua akan membuat William mengeluarkan uang sebanyak ratusan juga.


Bahkan sampai miliaran. “Tuan Nathan, kenapa tiba-tiba Tuan besar mengadakan cuti liburan tanpa surat pemberitahuan?” tanya seseorang dengan mengacungkan tangannya.


“Tuan besar memang sengaja melakukan ini, Karna ia ingin memberikan kalian semua kejutan dari hasil yang kalian berikan pada tuan besar di bulan ini. Jadi tidak perlu khawatir, karna uang ini tidak akan memotong gaji kalian nanti” jawab Nathan dengan suara dinginnya. .


Semua orang yang ada disana bersorak kegirangan, karna mereka bisa berlibur di pertengahan bulan. Dan mereka juga merasa bahwa berita yang beredar di sosial mereka membawa keberuntungan besar bagi mereka di bulan ini. Jadi mereka berpikir untuk menambah berita yang tidak benar terhadap Evelyne di sosial media.


“Tertawa dan berbahagialah kau sekarang! Karna aku sendiri tidak tahu bagaimana tuan akan membuat kalian membayar semua tindakan itu!” Gumam Nathan dengan suara yang pelan.

__ADS_1


__ADS_2