Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 68 : Luka yang di buat saat pagi hari


__ADS_3

Pagi harinya, Evelyne terbangun dari tidurnya begitu cepat hingga membuat ia harus bertemu dengan wajah tampan William yang kini tengah tertidur di sampingnya. Entah apa yang terlalu semalam, Evelyne benar-benar tidak ingin mengingat hal itu bahkan ia juga berharap William akan melupakan kejadian itu setelah ia membuka matanya.


Evelyne duduk di tepi ranjang sebelum ia beranjak dari sana untuk pergi ke kamar mandi, awalnya hanya terdiam seraya mengumpulkan kesadarannya. “Eumm..” gumam William dengan mengulurkan tangannya untuk meraba sesuatu yang sedang ia cari. Melihat sikap William yang seperti itu, tentu saja membuat Evelyne sedikit terkekeh kecil saat melihatnya.


“Liam, bangun! Ini sudah pagi, apa kau tidak ingin pergi ke kantor hari ini?” tanya Evelyne dengan suara pelannya.


Mendengar suara itu, tangan William yang tengah meraba-raba di sampingnya pun langsung memegang tangan Evelyne yang tadinya berada di atas kasur. “Kembali tidur! Kau tidak diizinkan sedikitpun untuk menurunkan kakimu ke lantai, yoona” kata William dengan mengerutkan keningnya, namun mata dari lelaki itu masih terpenjam begitu rapat.


“Aku ingin pergi ke kantor hari ini. Kau tidak memiliki hak untuk melarangku pergi dari sini” ucap Evelyne yang membuat sepasang manik mata gelap William terbuka dengan sontak, bahkan menatap Evelyne dengan penuh peringatan. “Aku sudah bilang padamu untuk berhenti bermain-main yoona, karna jika aku sudah marah maka tidak akan ada belas kasih lagi yang akan aku berikan padamu!”


Mendengar sebuah peringatan dari perkataan William yang terdengar seperti lelucon pun membuat Evelyne tidak bisa menahan tawanya. Dan hal itu membuat Evelyne sedikit terkekeh saat mendengar perkataan itu. “Apa yang kau tertawakan? Apanya yang lucu?”


“Tidak ada, aku hanya beranggapan bahwa kau terlalu rendah memandangku di matamu. Hingga kau berpikir bahwa aku memerlukan belas kasih dari lelaki sepertimu” Evelyne menutup sebagian wajahnya dengan salah satu tangannya.


Mata yang tajam dengan manik mata berwarna merah menyala serta di sandingi dengan senyuman yang mengerikan dari wanita itu membuat William seketika tertegun dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh evelyne kepadanya begitu mengerikan walau hanya terlibat sebagian dari wajahnya yang tidak tertutup saja.


‘Apa itu? Ekspresi wajah macam apa yang ia tampilkan padaku?’ batin William.


Melihat William hanya terdiam menatapnya, Evelyne pun menjauhkan salah satu tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk menutup sebagian wajahnya. William memalingkan pandangannya, lalu dengan sontak lelaki itu mengangkat salah satu tangannya yang panjang untuk menutupi kedua mata Evelyne.


“Liam? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menutup mataku?” tanya Evelyne yang sama sekali tidak berbuat untuk menyingkirkan tangan besar lelaki itu dari matanya.


William terdiam sejenak, lalu dengan perlahan ia beranjak dari tidurnya untuk beralih duduk di depan Evelyne. Tangan lelaki itu masih saja singgah di tempat yang sama, namun saat ia melakukan beberapa pergerakan maka tangan yang berada di mata Evelyne sama sekali tidak menekannya.


Cup!


William secara tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Evelyne, hal itu tentu saja membuat pihak yang merasakan kecupan itu secara spontan rona dari pipinya berubah menjadi merah. Bahkan William yang melihat itu hanya tersenyum dan secara perlahan tangannya terusap keatas untuk menyingkirkan beberapa poni yang ada di kening wanita itu.

__ADS_1


Evelyne yang terpaku di tempat karna ulah William pun membuat lelaki itu semakin menunjukan senyuman di wajah tampannya. Tak menunggu Evelyne tersadar, William sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya di samping wajah Evelyne. “Kau memang memiliki mata yang indah, tapi aku tidak suka jika mata itu kau gunakan seperti tadi”


“Hah? Apa yang kau bicarakan?” cicit Evelyne yang merasakan nafas hangat dari lelaki itu.


William tertawa kilas saat melihat sikap bodoh Evelyne yang seperti tidak melakukan apapun sebelumnya. “Aku sudah bilang padamu untuk tidak bermain-main denganku. Tapi kenapa kau selalu berani menentangku? Apa kau tidak takut terjadi sesuatu dengan tubuhmu nanti?”


Baru saja menyelesaikan perkataan itu, William terdiam sejenak. Lalu dengan senyuman yang semakin lebar di wajahnya membuat Evelyne yang melihat itu hanya menatapnya dengan tatapan datar. “Bukankah ini terlalu berlebihan, jika kau langsung menggunakannya padaku?” tanya William seraya melirik kan matanya ke samping.


Lebih tepatnya lagi di samping lehernya yang sudah di todongkan sebuah pisau kecil yang terlihat tajam. Bahkan jarak dari pisau itu pada leher William hanya beberapa sentimeter saja. “Kenapa tidak di lanjutkan? Nanggung sekali, padahal jaraknya sudah sangat dekat pada leherku.”


“Berhenti bermain-main, Liam! Kau pikir aku bercanda dengan hal ini?” ucap Evelyne dengan memberikan suatu peringatan kepada William.


William mengangkat kedua alisnya secara perlahan, lalu dengan senyuman jahat di wajahnya lelaki itu dengan sontak melemparkan lehernya kepada pisau tersebut. Alhasil pisau itu menatap sebagian pada leher William yang membuat Evelyne dengan sontak mencabut pisau itu hingga menyipratkan beberapa darah dari leher William.


“Liam, kau bajingan!! Apa yang kau lakukan?!!” Evelyne dengan reaksi yang cepat langsung membalur leher William menggunakan kain yang ada di sekitarnya.


“Liam, ayo pergi ke rumah sakit! Hentikan pendarannya sebelum kau mati karna hal seperti ini” kata Evelyne dengan nadanya yang tergesa-gesa.


Tangan panjang William yang kini tengah di tarik paksa oleh Evelyne namun tidak membuat suatu gerakkan sedikitpun membuat William merasa bahwa wanita ini selalu lemah jika bersamanya, namun akan berbeda jika ia sedang sendirian. “Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Kenapa harus pergi ke rumah sakit untuk membereskan masalah ini?”


“Apa kau bilang? Masalah kecil? Tertusuk pisau dibagian lehermu, kau katakan itu masalah kecil?!!” tanya Evelyne yang benar-benar merasa muak dengan sikap William saat ini.


William terdiam, melihat wanita di depannya tengah berdiri seraya menatap lehernya yang tengah di baluti oleh kain karna terluka olehnya. “Kemarilah! Untuk apa kau malah berdiri sana?” William menarik tangan Evelyne secara tiba-tiba. Hal itu tentu saja membuat Evelyne dengan tidak sengaja harus terjatuh pada pangkuan lelaki itu.


“A-apa yang kau lakukan, bodoh?!” umpat Evelyne dengan terkejut.


Mendengar wanita ini terus mengatakan hal yang kasar kepadanya pun membuat William mengerutkan keningnya saat pandangan mereka saling bertemu di jarak yang begitu dekat. “Berhenti mengoceh dasar wanita bodoh! Kau seperti ini tidak akan membuat lukaku menjadi lebih baik, kau tahu itu?!”

__ADS_1


“Aku tahu, maka dari itu aku mengajakmu pergi ke rumah sakit” Evelyne merasa risih saat duduk di pangkuan lelaki itu, dan berniat untuk turun dari sana.


Merasakan pergerakan Evelyne yang hendak turun dari pangkuannya, William langsung menahan kedua paha Evelyne dengan kedua tangannya. “Mau kemana kamu? Aku tidak menyuruhmu untuk pergi dari sini ya”


“Ckk...aku hanya ingin pindah ke kasur. Cepat lepaskan dan singkirkan tanganmu itu dari padaku!!” bentak Evelyne kesal


William menggeleng, lalu dengan salah satu tangannya ia mengambil sebuah kotak p3k yang berada di laci bawah ranjang. Ia selalu menempatkannya disana, karna itu akan memudahkannya jika suatu hari nanti ia membutuhkan kotak itu tanpa harus pergi ke ruang ganti untuk mencarinya. Melihat kotak itu di letakkan di samping William, evelyne hanya terdiam dengan manik mata yang harus berjalan mengikuti kemana arah tangan William di gerakkan.


“Kau ingin turun bukan?” tanya William dengan singkat.


Evelyne mengangguk seraya menatap William dengan manik matanya yang indah. “Kalau begitu, ambil beberapa obat serta perban yang ada di dalam kotak itu.”


“Untuk apa? Kau menyuruhku mengambil hal itu?” Tolak Evelyne dengan menyipitkan matanya. “Jika kau merasa kesakitan dengan lukanya, kenapa tidak pergi ke rumah sakit saja? Kenapa kau malah memintaku untuk mengambil beberapa obat dan perban?”


William berdecih, terlalu malas ia menjawab pertanyaan Evelyne hingga membuatnya harus menatap wanita itu dengan tajam saat wajah mereka sedikit berdekatan. “Kau terlalu banyak pertanyaan. Tinggal lakukan saja, apa yang aku katakan! Lagipula luka ini di sebabkan olehmu kan?!!”


“Ya, tapi ini juga kesalahanmu karna menusuk lehermu sendiri pada pisau itu. Padahal sudah jelas-jelas aku hanya mengancam, tapi kenapa kau malah menganggapnya begitu serius?!” elak Evelyne yang masih berkeras kepala


William terdiam sejenak, lalu dengan salah satu tangannya ia membuka kotak itu. Mengambil beberapa obat serta perban dalam satu gengaman tangannya. “Lebih baik kau diam dan obati saja luka ini sebelum kakek melihatnya!!” kata William seraya memberikan beberapa obat serta perban di tangannya kepada Evelyne.


Karna sudah terlalu banyak ia berucap, Evelyne pun hanya terdiam seraya menerima obat serta perban itu dari William. Melihat kain yang sebelumnya di lilit pada leher William sudah berwarna merah darah, membuat ia dengan sekilas memalingkan wajahnya kearah lain saat tubuhnya sedikit terangkat untuk melepaskan kain itu dari leher William.


Saat kain itu sudah terlepas bebas dari leher William, membuat suatu penampakan luka tusukan pada leher bagian samping William yang kini sudah mengeluarkan darah yang begitu banyak. Evelyne juga sedikit dibuat ingat dengan beberapa orang yang telah ia bunuh sebelunnya memiliki luka yang sama, tepatnya lelaki di bagian leher.


-Apa ini terlalu berlebihan? Kenapa aku melakukan ini?-


Evelyne yang secara tidak sadar pun meraba luka itu dengan perlahan, namun reaksi yang diberikan oleh William hanya mengerutkan keningnya dalam dian. Hingga membuat ia berpikir bahwa lelaki ini sedang menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


“M-maaf, apa ini menyakitkan?” tanya Evelyne dengan suara pelan, ia memegang kedua pipi William dengan tangannya yang gemetar.


__ADS_2