
Sepulang dari mall, Evelyne langsung berlari ke dalam kamar tanpa menyapa kakek terlebih dahulu yang sedang duduk di ruang utama dengan meminum secangkir teh hangat. Melihat evelyne berlari begitu saja, kakek sama sekali tidak menggubrisnya sedikitpun. Melainkan saat William berjalan masuk kedalam, kakek besar langsung melirikkan matanya yang tajam kearah William.
“Bocah tengik! Aku ingatkan sekali lagi padamu...jika kau memang tidak bisa menerima dirinya sebagai istrimu, maka setidaknya kau harus menjaganya dengan baik sebelum kau menyesalinya nanti.”
Mendengar hal itu, William pun menghentikan langkahnya tepat di depan tangan. Kepala lelaki itu menoleh kebelakang, atau lebih tepatnya lagi kearah tempat kakek besar itu duduk. “Apa maksudmu?”
“Mungkin untuk saat, Clara lah yang memenangkan hatimu. Tapi suatu hari nanti, kemenangan hati itu akan hancur jika kau melihat sesuatu yang tidak dapat kau jaga dengan baik, hancur tepat di depanmu!?” tekan kakek.
William mengerutkan keningnya “Kakek, kau terlalu banyak berpikir. Tidak akan ada yang hancur nanti! Karna Clara akan selalu aku jaga dan tidak akan pernah aku biarkan dia pergi seorang diri! Berbeda dengan Yoona, dia akhir-akhir ini suka membuat masalah. Jadi kalau kakek takut terjadi apa-apa dengannya, maka larang saja dia untuk keluar dari kediaman. Karna itu sangat merepotkan sekali!!”
Brakk!!
Kakek besar memukul meja itu dengan keras saat mendengar perkataan kejam yang dilontarkan oleh William begitu santainya. Ia tidak habis pikir, cucu yang paling ia sayang akan berkata sekejam itu pada wanita yang statusnya kini sudah menjadi istrinya, dan ia juga malah lebih memilih untuk menjaga wanita lain dibandingkan oleh istrinya.
“William!!? Kakek peringatkan sekali lagi padamu! Kau boleh membencinya, tapi kau tidak bisa menggertaknya seperti itu!”
William terdiam, lalu menatap kakek dengan tatapan dinginnya. “Kakek, Aku kan sudah bilang padamu, kalau Aku sangat membenci wanita yang memiliki wajah yang sama seperti ibuku! Jadi...jangan salahkan aku, jika aku masa sekali tidak pernah memandangnya”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Namun saat ia berhenti tepat didepan pintu, William mendapati pintu itu terbuka dari dalam dan menunjukan seorang wanita dengan seluruh tubuh yang di tutupi oleh pakaian yang berwarna hitam membuatnya sedikit mengerutkan keningnya saat melihat hal itu.
“Izin pergi sebentar, tuan!” kata evelyne.
Tanpa menunggu jawaban, Evelyne pun langsung berjalan melewati William dengan rasa acuh tak acuh. Sementara William yang melihat tindakan itu membuatnya sedikit merasa heran pada evelyne untuk akhir-akhir ini.
“Kakek, Maaf atas Ketidaksopananku saat pulang dari mall sebelumnya. Aku mengaku salah, kau bisa menghukumku nantinya. Tapi bisakah sekarang aku meminta izin padamu untuk pergi keluar sebentar? Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di luar”
Suara Evelyne terdengar di telinga William, hingga membuat lelaki itu memundurkan langkahnya kebelakang untuk melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu pada kakek besar. Terlihat dari atas, William dapat melihat evelyne sedang berdiri di hadapan kakek dengan kepala yang menunduk. Ia seperti gadis yang penurut tapi bagi William, evelyne hanya gadis yang keras kepala.
“Kau baru saja pulang dari pergi berbelanja. Apa kau tidak bisa mengulur waktu sejenak untuk mengistirahatkan tubuhmu itu?” tanya kakek.
Evelyne menggeleng “Maaf kakek, aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang, karna sudah ada janji dengan seseorang”
“Berapa jam yang kau ingin pergi?” kakek menatap evelyne yang terlihat bersikeras untuk pergi.
Evelyne terdiam, lalu dengan menunduk ia berkata “Aku tidak tahu, jadi kakek saja yang mengatur kapan aku pulang.”
“Membiarkan aku mengatur jam kau pulang? Apa kau tidak keberatan soal itu?” kata kakek seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Evelyne menggeleng tanpa ragu “Sama sekali tidak, kakek. Aku malah beruntung, jika kau bisa mengatur jam pulangku”
Mendengar hal itu, kakek pun mengangguk puas dan senyuman lebar terukir di wajahnya yang keriput. “Kau pergi dari pukul 15.00 dan kau harus kembali ke rumah dalam pukul 20.30. Dalam pukul itu kau harus sudah berada dirumah! Aku tidak ingin mendengar alasan kau pulang terlambat. Entah dari kemacetan atau alasan yang lain, paham?!”
“Saya paham, kakek.” Angguk Evelyne dengan senyuman di wajahnya. “Kalau begitu saya izin pamit”
Evelyne berjalan keluar menuju pintu utama, sementara kakek yang melihat penampilan aneh evelyne hanya terdiam seraya menganggap hal itu seperti biasa. Berbeda dengan william yang tengah melihat dan mendengar pembicaraan keduanya dari atas. Ia sedikit merasa aneh karna Evelyne dengan mudahnya memberikan kakek izin untuk mengatur jam pulangnya.
Padahal waktu dulu, Yoona sangat membenci sekali orang yang melarangnya pulang terlambat. Bahkan jika ia dilarang, maka ia akan semakin berani untuk melakukan larangan tersebut. Berbeda dengan Evelyne saat ini, ia benar-benar pergi dengan meminta izin dan berkata bahwa kakek boleh mengatur jam pulangnya.
__ADS_1
Apa ia lupa bahwa kakek adalah seorang yang sangat disiplin. Terlambat satu detik pun ia akan mempermasalahkannya, apalagi dengan sikap pemberontak dari evelyne ini. Disisi yang bersamaan, Kakek menyadari keberadaan william yang sedang memperhatikan dirinya dengan evelyne dari atas membuatnya tidak bisa menahan senyuman di wajahnya itu.
“Kau lihatlah! Yoona semakin berubah seperti wanita yang tidak kau kenal. Dia memang sedikit ceroboh, tapi aku bisa melihat bahwa dia wanita yang tidak bisa kamu tebak dari luar maupun dalam.”
Mendengar perkataan itu, William pun langsung berjalan masuk kedalam kamar tanpa menjawab ataupun merespon sedikitpun perkataan dari kakek.
...--🥀🕊—
...
“Aku akan segera datang, tunggulah sebentar disana! Aku tidak akan lama”
Kata evelyne seraya mematikan telponnya. Saat ini, evelyne sedang berada di depan rumah sakit. Ia awalnya berencana untuk memeriksa beberapa barang yang ia bawa, tetapi saat evelyne baru saja ingin memasuki rumah sakit. Ia tidak sengaja bertemu dengan clara dan jessica yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit.
Evelyne tidak ingin berurusan dengan mereka, jadi ia hanya terdiam seraya berjalan melewati mereka tanpa menyapa. Jessica yang tidak bisa menahan diri untuk merendahkan evelyne di tempat umum pun membuat wanita itu membalikkan badannya seraya melipat kedua tangannya di dada.
“Wah...kebetulan sekali, kita ketemu disini. Sendiri aja? Dimana kakak tertua, kenapa dia tidak bersamamu?” tanya jessica yang membuat evelyne menghentikan langkahnya sejenak.
“Dia dirumah, sedang istirahat.” Jawab evelyne tanpa membalikan tubuhnya menghadap kearah 2 wanita dibelakangnya.
“Sedang istirahat atau memang dia tidak ingin menemanimu?” cibir jessica dengan kekehan tawanya. “Tadi aku mendengar dari telpon kak clara bahwa kakak tertua akan mengajaknya pergi jalan..”
“...” evelyne terdiam.
Jessica yang melihat evelyne terdiam pun membuat dirinya merasa senang saat evelyne merasa bahwa dirinya tidak akan pernah dipandang oleh William sedikitpun. “Kasihan sekali... Sudah lama menikah, tapi masih belum memiliki seorang anak”
“Tidak apa, lagipula aku juga merasa bersyukur jika tuan benar-benar belum menyentuhku. Karna aku pribadi merasa bahwa orang seperti tuan akan sangat menjijikan jika sampai ia berani menyentuhku.” Balas evelyne.
Mendengar hal itu, keduanya dengan sontak terkejut dan terpaku dengan apa yang dikatakan oleh evelyne. Tetapi jessica yang masih ingin memprovokasi evelyne pun kembali membuka suaranya dengan sikap yang arogan. “Aku lihat, kau tidak memiliki keistimewaan dari dalam dirimu. Aku sangat heran, kenapa kakek bisa menikahkan kakak tertua yang di lahirkan secara sempurna harus menikah dengan wanita bodoh sepertimu?”
Evelyne tertawa ejek “Jika aku yang seperti ini kau bilang bodoh, lalu bagaimana dengan dirimu? Kau saja sampai sekarang masih belum menyelesaikan kuliahmu, kau juga tidak memiliki keahlian apapun selain bisa merendahkan orang lain, kau juga hanya bisa menghabiskan uang dan kau tidak bisa bekerja. Lalu kau harus kusebut seperti apa, putri kesayangan?!”
“Kamu!!??” geram jessica
Clara menahan tubuh jessica yang hendak berjalan mendekati evelyne dengan tangan tangan menunjuk. Sementara evelyne yang melihat kemarahan itu hanya terdiam dengan wajahnya yang dingin. “Tidak perlu marah, aku hanya becanda. Kenapa kau begitu sensitif? Bukankah, kau yang memulainya lebih dulu?”
“Kak Yoona...tolong jan-“
“Sstt... Tidak ada yang menyuruhmu bicara!” kata evelyne yang menghentikan perkataan clara. “Aku juga sudah bosan mendengar kau bicara. Jadi lebih baik diam atau kau hanya akan membuat telingaku terasa sakit saja”
“....” Clara terdiam.
Tak lama...suara mobil yang tengah melaju cepat kearah mereka dengan sontak berhenti tepat di hadapan mereka. Mobil itu terlihat mewah, merek serta body yang mengkilap membuat semua orang yang ada disana memusatkan perhatian mereka pada mobil itu.
Bahkan saat pintu mobil itu mulai terbuka, evelyne dapat melihatnya dengan jelas. Seorang lelaki dengan pakaiannya yang rapih keluar dari mobil itu dengan tampilan yang membuat wanita disekitarnya menjerit girang.
Plak!!
__ADS_1
Jessica menampar wajahnya sendiri dengan tangannya, lalu dengan raut wajah yang menyedihkan. Ia berlari menghampiri William yang sedang berdiri di samping mobil. “Kakak tertua...lihatlah! Wanita itu menamparku begitu keras. Padahal aku hanya menasehatinya, tetapi dia bukannya Terima, malah menamparku!” keluh jessica seraya menutupi pipinya dengan kedua tangannya.
Mendengar keluhan itu, William pun mengangkat pandangannya saat melihat evelyne yang berdiri sedikit berjauhan dari nya. Evelyne yang merasa ditatap oleh manik mata yang dingin, membuat ia mengangkat kepalanya secara sekilas serta senyuman yang membuat wanita itu terlihat begitu menyebalkan.
“Ada apa tuan, kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau tidak ingin mendengar perkataanku dulu, sebelum kau mempercayai adik rubahmu?” cibir evelyne
“Kakak, lihatlah. Dia bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun setelah menamparku seperti ini.” Protes jessica yang membuat mood William terasa buruk.
Sibuk merengek dengan william, jessica tidak menyadari sebuah langkah besar datang menghampirinya hingga tiba-tiba...
Plak!!
Suara tamparan keras terdengar di depan aula rumah sakit. Membuat semua orang terpaku, begitu pula dengan jessica yang tadinya dengan merengek, kini berubah menjadi diam membeku. “Tamparan ini, barulah aku yang melakukannya!!” kata evelyne seraya menantang tatapan tajam milik William.
Tidak menunggu lama, Evelyne pun berbalik badan lalu berjalan menjauh dari mereka ketempat ia sebelumnya. Dan saat itu, barulah jessica kembali bereaksi hingga membuat dirinya merasa kesal. “K-kau!! Berani sekali kau menamparku tepat di depan kakak tertua?!!”
Evelyne bersedih kesal “Kenapa tidak? Bukankah itu sesuai dengan perkataanmu?”
“Yoona, hentikan!” William berkata di sela-sela keributan evelyne dengan jessica. “Minta maaf sekarang!!” pinta William pada evelyne.
Evelyne tertegun “Kau, menyuruhku untuk minta maaf? Apa aku tidak salah dengar?” tanya evelyne dengan menatap William dengan tatapan remehnya. “Dia menampar wajahnya sendiri dan berkata bahwa akulah yang menamparnya. Jadi dimana letak kesalahanku, jika aku menyesuaikan perkataannya itu?!”
“Kau sudah menamparku! Kenapa kau sama sekali tidak merasa bersalah dengan itu?” bentak jessica
Evelyne berdecih “Diamlah!! Selain banyak drama, kau juga berisik!” kata evelyne seraya menatap tajam kearah jessica.
Melihat bayangan datang menghampirinya, evelyne pun menolehkan kepalanya kearah datangnya bayangan itu. Dan benar saja, saat evelyne menolehkan kepalanya kesamping, ia sudah di kagetkan oleh seorang lelaki yang tengah berdiri tepat di depannya. “Ada apa, tuan? Apa kau datang untuk mencekikku lagi seperti yang ditaman?”
Di lihat seorang lelaki dengan tinggi badan 180 an tengah berdiri depannya, membuat evelyne harus mengangkat kepalanya ke atas. Menatap wajah dingin milik lelaki itu dengan wajah sombongnya. Evelyne tidak tahu kenapa ia akan membuat keributan di luar, hingga membuat William sendiri datang menghampirinya dengan tatapan yang seperti ingin membunuh.
Apa ia merasa puas dengan ini?
William sendiri yang melihat ekspresi arogan dari evelyne membuatnya merasa bahwa ini bukanlah Yoona yang ia kenal. Karna searogan-arogannya Yoona, ia pasti akan luluh jika di dekatnya. Tapi ini tidak, melainkan ia marah bersikap nenantang.
“Untuk apa kau berdiri seperti ini?! Apa kau akan berharap aku seperti Yoona yang kau kenal lagi?” tanya evelyne seraya menarik kerah kemeja William hingga membuat tubuh lelaki itu sedikit condong kedepan. Mempertemukan wajah dingin William dan wajah arogan dari evelyne dalam jarak yang dekat.
“Mengagumi seseorang itu sangat wajar tapi jika kamu terjebak olehnya, itu akan membuat segalanya menjadi sulit bagimu. Kau boleh mencintai seseorang, tapi jika dia bukan takdirmu dan kau tidak mengakuiku sebagai takdirmu, maka aku akan mengabulkan semua keinginanmu!” kata evelyne dengan nada tegasnya.
“....” William terdiam.
“Mari kita bercerai, dan pilihlah jalan yang kau mau!!” bisik evelyne
Mendengar hal itu, William pun tertegun di tempat. Sementara evelyne melepaskan tarikan nya pada kerah kemeja milik William saat menyadari seorang lelaki keluar dari rumah sakit dengan jas putih panjangnya. “Nona Jiang? Apa yang kau lakukan? Apa kau akan membuang-buang waktuku lebih lama lagi?” Kata lelaki itu.
“Baik, aku segera kesana!” sahut evelyne seraya berbalik badan dengan rasa kepuasan yang ia miliki dihatinya. Menjadi seorang kekasih dalam hidup William adalah keinginan terbesar dari kalangan wanita di kota Seoul. Tapi menurut evelyne, menikah dengan seorang lelaki yang tidak memiliki hati hanya akan membuat pernikahan akan menjadi sulit.
Karna yang ia butuhkan itu cinta dan kasih sayang, bukan uang!!
__ADS_1