
Disaat Evelyne sedang menidurkan kepalanya diatas meja dengan pasrah, membuat semua teman-temannya disana merasa heran. Ingin bertanya, namun mereka tahu bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan soal itu kepadanya. Jadi semua teman-teman Evelyne pun membiarkan wanita itu menenangkan dirinya seraya menatap layar laptop dengan raut wajahnya yang kosong.
Kriing!!.
Suara telpon di HP evelyne berbunyi, membuat semua orang yang disana menolehkan kepalanya saat melihat Evelyne masih saja menidurkan kepalanya diatas meja. “Tolong jangan ganggu aku!!” kata evelyne seraya memukul HP nya dengan keras.
Semua orang yang ada disana pun terlonjak kaget karna melihat Evelyne dengan santainya memukul HP itu tanpa mempedulikan seberapa kuat ia memukulnya. Evelyne melirikkan matanya dengan tajam, saat melihat semua pandangan teman-temannya kini tertuju kearahnya. “Apa yang kalian lihat?!”
Mendengar pertanyaan itu, semua yang ada disana pun dengan sontak meluruskan kembali posisi tubuhnya kearah laptopnya masing-masing. Sementara Evelyne masih terdiam dengan posisi tubuh yang sama seperti tadi.
Kreekk!.
Pintu ruangan mereka terbuka dengan lebar, menampilkan seorang wanita sedang membawa seorang lelaki yang berjalan di belakangnya. Semua orang yang ada disana dengan sontak menolehkan kepalanya kearah pintu, menatap bingung kearah lelaki yang ada di belakang wanita itu.
“Siapa dia?” tanya seorang wanita disana.
Tak mempedulikan pertanyaan itu, Wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan, seketika menolehkan kepalanya ke samping. Tepat dimana Evelyne sedang duduk dengan kepala yang di letakan diatas meja. “Yoona! Sedang apa kamu?” tanya wanita itu.
Evelyne melirikkan matanya “Aku sedang mengerjakan pekerjaanku, ada ap-“ Evelyne terkejut saat ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang lelaki yang tengah berdiri di belakang wanita itu. “T-tuan Nathan?”
Lelaki yang disebut dengan Nathan pun mengangguk seraya meletakan salah satu tangannya di dada bagian kirinya. “Selamat pagi, Nona” sapa lelaki itu.
“Sedang apa kau disini?” tanya Evelyne dengan mengerutkan keningnya.
Lelaki itu hanya terdiam, sementara pertanyaan Evelyne dijawab oleh wanita tadi. “Dia datang menemuimu. Katanya ada sesuatu yang perlu kalian bicarakan. Apa kau memiliki waktu untuk itu, Yoona?”
“Ya, aku punya.” Angguk Evelyne yang tidak merasakan sesuatu aneh.
Evelyne yang hendak beranjak dari duduknya pun seketika berhenti saat mendengar perkataan Nathan. “Tolong jangan lupa membawa barang-barangmu ke ruang private, karna kita akan membutuhkan waktu yang lama disana.”
“Hmm” angguk Evelyne
Keduanya pun berjalan keluar dari ruangan dengan posisi Nathan yang sedang berjalan di depan Evelyne. Evelyne tidak tahu, ada unsur apa lelaki ini datang menemuinya, bahkan berkata bahwa ia akan berbicara dengannya.
“Nona, tolong tunggu saya di ruangan private dulu ya. Saya ingin kesana sebentar” Ucap Nathan saat berhenti tepat di depan pintu ruangan private.
Evelyne mengangguk tanpa ragu dan berbalik badan untuk memasuki ruangan private itu terlebih dahulu. Sementara Nathan berjalan pergi meninggalkan Evelyne yang kini sudah masuk kedalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu, Evelyne sedikit kagum dengan fasilitas yang ada disana.
Ruangan itu cukup luas bagi Evelyne, karena disana terdapat sepasang 2 jendela besar yang ada di samping ruangan, jendela tersebut juga di lapisi oleh 2 jenis korden berwarna coklat dan putih. Di sisi setiap ruangan terdapat lemari kecil yang berukuran lonjong, diatas setiap lemari itu terdapat sebuah panjangan yang berbeda-beda.
Disisi sebelah kanan , terdapat 2 kursi busa berwarna coklat serta sofa panjang yang berwarna putih. Disana juga ada meja kaca yang diletakkan di tengah-tengah kursi itu. Tak lupa, disana juga terdapat karpet yang menutup sebagian lantai di bawah kursi serta meja.
Berpindah kesisi sebelah kiri, disana terdapat 2 rak buku yang besar diantara jejeran laci yang banyak. Disana juga terdapat meja yang besar berisi beberapa kertas serta map yang tersusun rapih disana, serta kursi kantor yang memiliki sandaran sedang untuk melengkapi meja itu.
“Wahh...sibuk sekali rasanya, hingga kau tidak sadar dengan kedatanganku sejak tadi”
Mendengar suara yang tidak asing bagi Evelyne pun langsung membuat wanita itu memutarkan tubuhnya untuk mencari dimana keberadaan lelaki itu. Tetapi saat ia hendak memutarkan tubuhnya kebelakang, sebuah tangan besar pun datang dan langsung menutup kedua matanya dengan satu tangan itu.
“Liam? Apa itu kau?” tanya Evelyne.
__ADS_1
Suara itu tertawa “Sepertinya kau bisa lebih mudah mengenal seseorang dari suaranya ya”
Tangan besar itu tersingkir dari kedua mata Evelyne, membuat wanita itu bisa melihat kembali serta dengan cepat menolehkan kepalanya kebelakang. Evelyne tertegun, saat ia melihat sosok lelaki dengan tubuhnya yang gagah serta wajahnya yang tampan, kini sedang berdiri di depannya.
“A-apa yang kau lakukan disini?” tanya Evelyne dengan menatap heran lelaki yang ada di depannya.
William tersenyum “Bukankah seharusnya aku yang melontarkan pertanyaan itu? Apa yang kau lakukan sampai tidak menjawab telpon ku?”
“Hah? Apa maksudmu?” Evelyne kebingungan dan dengan cepat ia mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya. “Astaga, apa yang terjadi? Kenapa HP ku jadi seperti ini?”
Melihat keluhan itu William pun mengerutkan keningnya seraya memajukan sedikit tubuhnya saat melihat layar HP Evelyne sudah hancur total. “Apa yang kau lakukan dengan HP mu itu?” tanya William dengan terheran.
“Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya....memukulnya saja saat itu” elak Evelyne yang tidak akan pernah menyangka bahwa ia akan memukul HP itu dengan tenaga yang kuat.
William menghela nafasnya “Kau ini ada-ada saja! Kau memukul HP itu dengan apa?”
“Tidak menggunakan apapun, aku hanya, memukulnya dengan tanganku” Jawab Evelyne seraya mengangkat tangan kanannya.
Mendengar Evelyne menghancurkan layar HP menggunakan tangan, membuat lelaki itu sedikit tidak mempercayainya. Karna, sangat mustahil menghancurkan layar HP dengan tangan kecil itu. “Berhenti bermain-main, katakan padaku dengan serius!”
“Aku serius! Aku tidak memukul HP ini dengan barang, tapi menggunakannya dengan tangan.” Kata Evelyne yang membuat William sedikit tidak tahan lagi.
Sreekk!.
William menarik tubuh evelyne kearah kursi kantor yang berada di dekat meja besar itu. Membantu Evelyne untuk meletakkan barang-barangnya diatas meja, barulah lelaki itu mengangkat tubuh Evelyne diatas pangkuannya saat ia duduk di kursi tersebut.
“Lihat tanganmu!” pinta William yang langsung membuat Evelyne mengangkat tangannya lalu memberikannya pada lelaki itu. “Eum...kau benar-benar memukul HP itu dengan tanganmu ini?”
William mulai memperhatikan tangan kecil Evelyne yang memiliki banyak luka kecil. Memang awalnya ragu, tetapi setelah ia melihat tangan yang penuh luka ini, membuat William sedikit mempercayainya. Tapi satu hal yang masih membuatnya bertanya-tanya, seberapa kuat ia memukulnya?
“Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa kau memukul HP mu dengan tangan? Apa yang sebenarnya kau lakukan sih?” tanya William yang tidak habis pikir.
Evelyne menundukkan kepalanya, terdiam sejenak hingga membuat William sedikit merasa bersalah jika ia terus memaksa wanita ini untuk berbicara. “Aahh...Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku tidak ingin memperpanjang urusan ini” kata William seraya mendekatkan tubuh Evelyne pada dada bidang yang kini sedang di tutupi oleh kemeja putih nya.
“Maaf” ucap Evelyne dengan suara yang begitu pelan.
William menurunkan pandangannya, lalu mengelus kepala wanita itu dengan lembut. “Sudah, tidak apa-apa kok. Aku tidak marah padamu. Hanya terheran, kenapa jah bisa memukul HP ini? Apa jah sedang dalam mood yang tidak baik?”
Evelyne mengangguk pelan, tetapi masih tidak mengucapkan kata sedikitpun. Hal itu tentu saja membuat William meletakan dagunya diatas kepada evelyne. “Lain kali jangan seperti ini lagi! Kau boleh merasa kesal dengan sesuatu, tapi jangan sampai kau memplampiaskan rasa kesal mu dengan benda yang berada di dekatmu. Karna jika itu terus berlanjut, maka di masa depan nanti kau tidak ragu untuk menyakiti orang lain.”
“....” Evelyne terdiam.
Melihat wanita itu masih terdiam, membuat William mengangkat dagunya dari atas kepala evelyne. Kemudian dengan tangan besarnya, William mengangkat kepala evelyne yang kini sedang tenggelam di dadanya. “Hey! Kenapa kau malah diam saja?”
Evelyne menggeleng “Aku hanya berpikir bahwa aku benar-benar tidak sengaja, menghancurkan HP itu”
“Hmm? Apa maksudmu?” tanya William saat mendapati jawaban dari Evelyne.
Evelyne mengangkat kepalanya, melihat William yang kini sedang menatapnya. “Aku menyerah dengan proposal itu!” kata Evelyne yang kembali menenggelamkan wajahnya di dada William. “Rasanya tidak mungkin untuk mengerjakan semua ini dalam waktu yang dekat!”
__ADS_1
William terkekeh “Siapa yang tidak mungkin?”
“Akulah! Aku yang tahu, bagaimana sulitnya proposal itu” jawab Evelyne
William mengelus kepala Evelyne lagi. “Yoona, ini bisa diselesaikan jika kau mengerjakannya dengan tenang. Memang semua yang baru pertama kali kau kerjakan itu pasti akan sulit. Tapi jika kau bisa mengendalikan dirimu, maka kau bisa untuk mengerjakan semuanya dengan mudah.”
“....” Evelyne terdiam.
“Berbaliklah sebentar!” pinta William yang membuat Evelyne sedikit kebingungan, namun masih menjalankan apa yang di katakan oleh lelaki itu.
Setelah melihat Evelyne sudah berbalik badan, William pun sedikit memajukan kursi yang kini ia duduki sedikit lebih dekat pada meja. Lalu dengan tangan panjang nya, lelaki itu mengambil laptop Evelyne yang berada di atas meja. Membukanya, lalu pergi ke lembaran kerja yang kemarin Evelyne kerjakan.
“Apa yang kau lakukan? Aku kan sudah bilang tidak mungkin bisa selesai hari ini!” kata Evelyne.
Sementara William hanya terdiam tak merespon perkataan Evelyne tadi. Ia hanya menggerakkan tangannya untuk mengambil beberapa kertas, lalu menuliskan sesuatu diatas kertas itu. Evelyne yang melihat itu pun terdiam, sekilas ia juga melihat wajah William kini sedang berada telat di sampingnya.
Setelah selesai menulis, William pun meletakkan pulpen itu ke tempatnya. Membiarkan evelyne dengan sejenak melihat apa yang ia tuliskan tadi di atas kertas. Evelyne tertegun dan dengan sontak ia menolehkan kepalanya samping seraya menatap William dengan tatapan kebingungan. “Apa maksud dari tulisan ini?”
“Apa yang kau tanyakan itu, bodoh?! Tentu saja itu adalah bagian penting dari setiap pengerjaanmu sebelumnya.” Jawab William dengan mengelus kepala Evelyne.
Evelyne mengerutkan keningnya “Untuk apa kau melakukan itu? Aku kan tidak memintamu untuk membantuku menyelesaikan ini”
“Ya, kau memang tidak memintanya. Tapi akulah yang menawarkan diriku untuk membantumu” kata William dengan tersenyum kecil. “Sekarang, cobalah kerjakan sesuai arahan ini. Aku akan menunggumu, jadi kalau ada yang tidak kau mengerti maka katakan saja”
Mendengar hal itu, Evelyne hanya mengangguk lalu tangannya mulai mengambil alih laptopnya. Ia mengerjakan beberapa arahan dari kertas yang William kasih, tapi tidak semua evelyne menirunya. “Liam, menurutmu kalimat ini perlu atau tidak?” tanya evelyne seraya mengangkat kepalanya untuk melihat wajah William tepat di atasnya.
“Tidak perlu, lagipula penjelasan ini akan kau jelaskan secara langsung jika sedang melakukan meeting. Karna di laporan ini hanya inti pentingnya saja” jawab William.
Evelyne mengangguk, lalu mulai mengerjakan kembali pengerjaannya. Sementara William yang berada di belakang Evelyne hanya sibuk memainkan rambut panjang wanita itu. Setelah beberapa menit kemudian, Evelyne pun menyelesaikan semuanya dengan baik. Dan William juga mengangguki semua hasil yang baru saja Evelyne kerjakan.
“Cukup bagus! Kau memang berbakat ya” puji William seraya mengusap kepala Evelyne dengan gemas. “Yasudah, sekarang kau kembalilah! Jangan lupa untuk memberitakan itu pada ketua mu, aku pergi dulu” kata William yang hendak berjalan pergi meninggalkan Evelyne.
“Liam” Panggil Evelyne yang membuat William dengan sontak menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah Wanita yang ada di belakangnya. “Terimakasih untuk hari ini” ucap Evelyne dengan mengukir kan sekilas senyuman yang sudah lama ia hilangkan.
William tertegun, Namun ia terdiam seraya menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Evelyne tadi.
Semua pun berakhir, William telah pergi dari sana dan Evelyne juga sudah kembali ke ruangannya untuk mengumpulkan hasil kerjaanya kepada ketua. Waktu masih belum habis, dan Evely bisa menyelesaikan pengerjaan itu lebih awal dari pada teman-temannya yang lain.
“Yoona, kau sudah selesai?” tanya salah satu lelaki yang melihat Evelyne mengumpulkan tugas itu di atas meja ketua.
Evelyne mengangguk “Ya sudah, tadi ada sedikit bantuan dari seseorang yang membuatku bisa mengerjakannya”
“Waw...keren sekali! Apa kau bisa membantuku menjelaskan ini?” kata lelaki itu yang membuat semua teman-temannya ikut meminta bantuan pada Evelyne. Karna terlalu banyak orang, jadi Evelyne pun langsung menjelaskannya secara langsung dan akan menjawab pertanyaan teman-temannya yang masih belum di mengerti.
Ia memang bukan orang yang pintar, ia juga bukan orang yang memiliki pengetahuan yang luas, tetapi kalau ia bisa atau mengerti dalam suatu hal, ia pasti akan membantu seseorang yang membutuhkan bantuannya.
Disisi lain, William yang sedang duduk di kursi penumpang depan seraya menghirup sebatang rokok ditangannya membuat surya yang ada disana melirikkan matanya. “kau sudah lama sekali tidak merokok, tuan. Apa yang membuatku tiba-tiba kembali merokok seperti ini?” tanya surya yang ikut mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya.
“Dulu, aku tidak merokok karna clara. Tapi sekarang aku kembali merokok karna dia” gumam William dengan suara pelan.
__ADS_1