
Setelah menangis begitu lama di dalam pelukan William, Evelyne pun tertidur dengan tubuhnya yang lemah. William terus bertanya-tanya kepada wanita yang ada di depannya ini. Apa wanita ini tertidur setelah menangis untuk melupakan semua yang terjadi? Atau memang memori dalam ingatannya terlalu banyak hingga dengan tertidur, ia dengan mudah melupakan semuanya.
-Kenapa semua ini terjadi di waktu yang tidak tepat? Akan kah aku harus menjelaskan semuanya kepadamu setelah kau bangun dari tidur?-
William yang tidak ingin Evelyne merasakan sakit karna tertidur di pangkuannya saat mereka berada di lantai, jadi William memutuskan untuk mengangkat tubuh Evelyne ke atas kasur. Baru saja ia meletakkannya di atas kasur, tangan wanita itu seperti sedang mencari sesuatu yang hilang hingga membuat suatu kerutan muncul di antara dahinya.
“Jangan mengerutkan keningmu disaat kau tidur! Itu tidak baik.”
William duduk di tepi ranjang yang dengan sontak wanita itu langsung memeluk kakinya sebagai bantal gulingnya. Bahkan kepala wanita itu sudah berada di paha atas milik William yang membuat lelaki itu terkejut dengan reaksi cepatnya. “Jika semua hilang, maka apa gunanya aku ada disini?” gumam Evelyne dengan meremas celana panjang milik William.
“Kau disini mencari kebahagiaanmu, mereka yang hilang tidak bisa kau jadikan alasan untukmu menyerah pada kehidupanmu sendiri. Karna semua yang hilang tidak akan pernah kembali dan jika itu kembali, maka itu belum tentu menjadi milikmu sepenuhnya” kata William dengan mengelus kepala Evelyne dengan lembut.
Kriingg!
Telpon William berbunyi secara tiba-tiba, membuat suatu pergerakan Evelyne yang berbalik arah berlawanan hingga membuat William merasa kesal karna wanita itu melepaskan pelukannya dari kaki panjangnya. Tetapi disaat William merasa kesal dengan itu, manik matanya langsung beralih ke layar HP nya untuk melihat siapa yang tengah mengganggunya di waktu sekarang.
“Nathan?” gumam William dengan ekspresi wajah yang berubah dalam sekejap.
Manik mata yang gelap kini beralih ke arah Evelyne yang tengah tidur miring membelakanginya. Karna tidak ingin Evelyne mendengar pembicaraannya, William memutuskan untuk keluar dari kamar saat mengangkat telpon tersebut. “Tunggu sebentar ya! Aku akan mengangkat telponku dulu, ini tidak akan lama. Jadi tidurlah dengan nyenyak”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung beranjak dari ranjang. Namun saat ia hendak bangun dari duduknya, tangan dari lelaki itu tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan hangat dari tangan kecil yang tengah menahan tangannya agar tidak pergi dari sana. “Jangan pergi! Aku takut sendirian.”
“Tidak akan membuatmu merasa sendirian ataupun kesepian lagi di masa depan, aku hanya akan mengangkat telpon. Jadi hanya sebentar, tidak apa-apa kan?” tanya William seraya mengecup kening Evelyne dengan penuh kasih sayang.
Evelyne mengangguk saat mendengar itu, tapi William yang melihat itu hanya tersenyum. Karna dimatanya, Evelyne begitu menggemaskan jika sedang tertidur.
Di ruang kerja.
William langsung mengangkat telpon yang sempat tertunda tadi. Ia juga terdiam saat telpon itu sudah tersambung dan ia juga pada dapat mendengar suara dari dalam telpon itu. “Ada apa?” tanya William dengan nada dinginnya.
__ADS_1
“Maaf mengganggu waktumu, tuan. Aku disini hanya ingin memberi kabar bahwa aku sudah mendapatkan sebagian data yang kau minta sebelumnya. Apakah kau ingin melihatnya sekarang, atau menunggu sampai semua data terkumpul?” kata Nathan dari dalam telpon.
Mendengar Nathan sudah mendapatkan sebagian data, William benar-benar berpikir bahwa Merekrut Nathan adalah pilihan yang terbaik. Karna bukan kerjanya saja yang cepat, tetapi lelaki itu selalu mengerjakan semua yang ia minta dengan disiplin. Dan Nathan adalah seseorang yang satu-satunya ia pilih dengan keinginannya sendiri.
“Kirim data itu ke emailku! Aku akan melihatnya sebentar, kau kembalilah bekerja.” Ucap William dengan mematikan telponnya saat ia selesai mengucapkan kata-kata itu.
Tak lama, beberapa pesan dari email masuk kedalam notifikasi di laptop William. Benar-benar beruntung memiliki sekertaris cekatan seperti Nathan. Tanpa menunggu lama, William pun langsung buka data itu untuk melihat apa saja yang sudah di temukan oleh Nathan saat ini.
Baru saja William membuka salah satu data yang di berikan, manik mata yang dingin kini terbelalak terkejut saat melihat beberapa informasi dari data tersebut. “Liam?”
Sudah terkejut dengan beberapa informasi di laptopnya, kini William kembali di kagetkan dengan suara yang pelan entah memanggilnya dengan lembut. Ia tidak tahu kenapa hari ini ia mendapatkan rasa keterkejutan secara berturut-turut. “Maaf, apa aku mengagetkanmu?” tanya seorang wanita yang tengah berjalan menghampiri William dengan perlahan.
“Tidak, kenapa kau bangun cepat sekali? Bahkan ini tidak sampai 1 jam berlalu” kata William seraya mengayunkan tangannya untuk memberi isyarat kepada Evelyne untuk berjalan lebih dekat lagi kepadanya.
Evelyne terdiam dan hanya berjalan menghampiri William dan berdiri tepat di samping lelaki itu. “Duduklah, kau baru saja bangun. Apa tidak pusing, berjalan setelah kau bangun dari tidurmu?” ucap William seraya menarik tangan Evelyne dengan perlahan. Membuka kakinya sedikit lebih lebar untuk membiarkan Evelyne duduk di atas pahanya.
Evelyne benar-benar sedang duduk di atas pangkuan William seperti koala. Bahkan disaat ia dapat mencium parfum yang menempel di pakaian William membuat Evelyne merasa nyaman saat itu. Evelyne juga menempelkan kepalanya pada dada bidang milik William saat ia merasa heran dengan dirinya ini.
Berbeda dengan Dion! Ia dulu sangat mencintai lelaki itu, bahkan memiliki niatan untuk menikah dengannya. Tapi kenapa dengan semua yang ia lakukan kepadanya, selalu membuat ia begitu tidak nyaman saat di dalam pelukan lelaki itu? Kenapa hanya ada rasa paksaan yang ia rasakan pada hatinya saat itu? Apakah cintanya pada Dion hanyalah kebohongan belaka?
“Yoona? Yoona, ada apa denganmu? Kenapa diam saja? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya William dengan menundukkan kepalanya saat melihat Evelyne tengah terdiam di dalam pelukan lelaki ini.
Evelyne menggeleng “Tidak ada, hanya teringat masa lalu saja”
Mendengar jawaban itu, William dengan sontak terdiam saat menyadari bahwa Evelyne kembali mengingat masa lalunya bersama Edgar. Memang tidak salah untuk mencintai siapapun, tapi entah kenapa William merasa sangat marah jika mendapati Evelyne yang terus memikirkan Edgar.
Apa ini rasanya cemburu saat melihat pasangan mereka lebih memikirkan orang lain di bandingkan dengan dirinya yang sudah berada di depannya ini. William juga sedikit mengungkit pertanyaan dulu saat dimana ia melihat Edgar dengan paksa mencium Evelyne hingga menangis. Ia selalu ingin bertanya pada saat itu, tapi...karna tidak bisa mengucapkannya, William selalu di bayang-bayang oleh pikiran negatif yang mengatakan bahwa Evelyne masih menginginkan Edgar.
“Yoona?” panggil William dengan wajahnya yang gelap.
__ADS_1
Evelyne mengangkat kepalanya, melihat raut wajah lelaki ini sudah menggelap tanpa alasan membuatnya hanya menatapnya dengan kebingungan. “Ya, ada apa?”
“Bisakah aku bertanya sesuatu padamu? Pertanyaan ini sudah lama ingin aku tanyakan, tapi aku masih ragu untuk mengatakan ini padamu” kata William dengan suara pelan, dan dengan perlahan ia mematikan laptopnya yang masih menyala.
Evelyne mengangguk “Sudah lama? Kenapa kau tidak mengatakannya saat di hari itu juga?”
“Aku tidak berani, takut mengganggumu” jawab William dengan memalingkan pandangannya kearah lain. “Baiklah, katakan apa yang ingin kau tanyakan padaku. Aku akan menjawabnya dengan jujur”
William terdiam sejenak, lelaki dengan mengatur nafasnya untuk tenang saat mengucapkan kata-kata itu. “Kenapa saat Edgar mencium dan memelukmu, kau terlihat begitu menolak? Apakah kau sedang memiliki masalah dengannya?”
“Tidak!” jawab singkat Evelyne yang memotong penjelasannya. “Aku tidak nyaman dengannya, awalnya aku kira dia adalah adikmu yang baik. Tapi... Siapa sangka jika ia berani mencium ku di samping kediaman, bahkan ia juga mengatakan sesuatu yang buruk mengenai dirimu”
“Bukankah dia mengatakan yang sebenarnya? Kenapa kau menyangkal hal itu?” tanya William dengan penasaran.
Evelyne terdiam sejenak “Benar atau tidak dari perkataannya, aku tidak peduli! Aku disini hanya berumah tangga denganmu, bukan dia. Disini yang menikah denganku adalah kamu dan bukan dia. Jadi, atas izin apa dia berani melakukan hal itu padaku?”
Degh.
William terdiam dalam waktu yang cukup lama karna keterkejutan yang di alami oleh dirinya saat mendengar jawaban Evelyne. Ia tidak tahu kenapa Evelyne berkata seakan-akan dia tidak melakukan hal yang seperti itu? Padahal jelas-jelas mereka memiliki hubungan terlarang di belakang pernikahan ini.
“Aku tahu kamu memikirkan bahwa semua perkataanku adalah kebohongan, karna kita berdua sama-sama melakukan hal seperti itu di belakang pernikahan. Jadi akan sulit mempercayai perkataanku tadi” ucap Evelyne yang membuat William terciduk akan sesuatu.
William melirikkan matanya kearah Evelyne yang sudah menjauh dari dada bidangnya. Lelaki itu terdiam dan merasa menyesal karna sudah menanyakan sesuatu yang membuat Evelyne merasa tidak nyaman dengannya. “Lupakan! Tidak perlu bicara lagi”
“Tidak perlu? Bukankah kau tadi ingin menanyakan hal itu?” tanya Evelyne yang memancing rasa ketidaksabaran William. “Aku tahu kau tidak nyaman, tapi lebih baik berbagi masalah daripada menyimpannya sendiri. Karna aku merasa tidak akan berguna jika aku menikah denganmu, tapi kau masih menyimpan masalah itu sendiri”
William terdiam, sementara Evelyne kembali berkata “Butuh waktu untuk mempercayai seseorang yang dulu pernah mengkhianati kamu, aku mengerti itu. Jadi tidak perlu memaksakan untuk berbicara jika kau tidak nyaman. Lakukan sesuatu yang bisa membuat hatimu tenang dan senang saat melakukan saat itu, karna kau tidak menyesal setelah melakukan itu”
Evelyne melihat kearah jam di tangannya sudah menunjukan pukul 16.30. “Sudah sore, aku akan kembali lebih dulu. Kau bekerjalah dengan baik, besok aku akan datang kesini untuk memintamu mengantarkanku ke ruangan CEO. Terimakasih atas semua hari ini, maaf sudah mengganggu waktumu”
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William kasih saja terdiam saat Evelyne mulai turun dari pangkuan lelaki itu. ‘Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini?’