
Di kantor.
William dan Evelyne pergi ke tempatnya masing-masing untuk mengerjakannya pekerjaan mereka. Keduanya tampak asing saat memasuki kantor, bahkan Nathan yang mengetahui hubungan William dan Evelyne sudah membaik beberapa hari yang lalu membuatnya sedikit merasa kebingungan saat melihat keduanya bersikap seperti ini.
-Kemarin kulihat mereka baik-baik saja, Apa mereka sedang bertengkar?-
Nathan yang sedang membawa Evelyne pergi ke tempat kerjanya pun membuat ia merasa canggung jika mereka hanya terus terdiam sepanjang jalan. “Nona, sepertinya anda dan Tuan sedang memiliki masalah” ucapnya yang membuat Evelyne mengangkat pandangannya untuk melihat sekilas kearah punggung Nathan yang tengah berjalan di depannya ini.
“Tidak, kami memang selalu seperti ini” Evelyne mengelak dengan suara pelannya. Sementara Nathan yang berada disana hanya terdiam dengan menghela nafasnya. “Kupikir kau hanya berakting untuk mendapatkan tuan lagi, tapi ternyata...kau benar-benar seperti orang yang berbeda ya”
Evelyne mengerutkan keningnya “Apa maksudmu? Aku masih sama kok seperti yang dulu”
“Tidak! Kau berbeda, Nona. Dulu kau tidak seperti ini!” bantah Nathan dengan suara yang tegas. “Dulu, kau sangat menginginkan keberadaan tuan. Tapi sekarang, kau terlihat seperti tidak membutuhkannya lagi. Bahkan sikapmu juga tidak seperti yang dulu, kau tidak tergila-gila dengannya. Sebaliknya, kau malah secara terang-terangan Mempersetujui hubungan yang dulu sangat kau benci”
Evelyne mengerutkan keningnya, menatap Nathan dengan tatapan tajamnya yang membuat lelaki yang ditatap ini hanya terdiam seraya melirik kan matanya secara sekilas. “Tuan Nathan, sepertinya kau terlalu berlebihan dalam mencampuri urusanku dengan Tuan Liam. Lebih baik, kau urusi saja urusanmu! Kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang hubunganku dan tuan Liam yang sekarang. Jadi...kau diam atau aku yang akan secara pribadi membuatmu tidak bisa membuka mulutmu lagi!!”
“....” Nathan terdiam.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun berbalik arah untuk pergi meninggalkan Nathan yang terdiam di tempat karna perkataannya. Lelaki itu terdiam seraya memandangnya dengan tatapan dingin, lalu secara perlahan ia mengeluarkan hpnya dari saku celananya. “Anda dengar itu, tuan? Sikap yang memberontak seperti ini bukanlah sikap yang seharusnya ada di dalam dirinya!!”
“Hn...kau bisa kembali, biarkan aku yang mengurus sisanya!”
...--🥀🕊—
...
William menghela nafasnya, merasakan tubuhnya yang lelah saat ia baru menduduki kursi kerjanya setelah ia menghadiri beberapa meeting hari ini dengan para petinggi lainnya. Nathan yang bersama William seharian penuh pun mengerti apa yang di rasakan oleh William saat ini. Karna ia juga merasakan lelah di bagian tubuhnya.
“Tuan, Apa kau ingin meminum sesuatu untuk menyegarkan sedikit tubuhmu ini?” tanya Nathan yang menawarkan diri untuk menyiapkan minuman untuk William.
William menghembuskan nafasnya, lalu dengan tangan yang terangkat setinggi dada. Kemudian ia mengayunkan tangannya kepada Nathan. “Pergilah! Kau juga istirahatkan tubuhmu”
“hn...baik tuan.” Ucap Nathan seraya berbadan dan pergi.
Tok...tok...tok...
Suara pintu ruangan William terkejut dari luar. Membuat Nathan yang tadinya sedang berjalan menuju pintu, seketika berhenti tepat di depannya seraya menolehkan kepalanya untuk meminta perizinan kepada William.
William mengangguk, seperti mengatakan bahwa Nathan boleh membukakan pintunya untuk seseorang yang ada di balik pintu itu. Nathan menerima perintah itu, lalu membukakan pintu tersebut untuk melihat siapa yang ada di baliknya.
Nathan terkejut, bahkan ia sampai terdiam di tempat saat melihat seorang wanita tengah berdiri di depan pintu seraya membawa nampan yang berisi gelap minuman hangat. “Tuan, apakah Tuan Liam ada di dalam?” tanya wanita itu dengan nada dindingnya.
Nathan yang masih terdiam tentu saja menghiraukan pertanyaan wanita itu serta membuat William yang berada di dalam merasa kebingungan saat melihatnya. “Nathan, ada apa? Kenapa kau diam saja? Siapa dia?” tanya William dari dalam ruangan.
Nathan tersadar, menoleh dengan cepat kearah William dengan menggelengkan kepalanya. “Tidak ada apa-apa, tuan. Hanya Nona Yoona datang membawa sesuatu, mungkin ini untuk anda.”
“Yoona?” gumam William seraya mengayunkan tangannya untuk Nathan segera pergi dan membiarkan Yoona masuk ke dalam.
__ADS_1
Mengerti dengan perintah itu, Nathan pun langsung memberikan jalan masuk kepada Evelyne, sementara dirinya berjalan keluar dari ruangan William untuk meninggalkan mereka berdua untuk berbicara. Tapi Nathan yang merasa kebingungan dengan sikap Evelyne yang terus berubah-ubah seperti ini.
Di dalam ruangan kerja.
William yang melihat Evelyne tengah berjalan menuju kearahnya dengan membawa sesuatu di tangannya, membuat ia terdiam seraya memandang wanita itu dengan serius. “Kudengar kau bekerja padat seharian ini, Apa itu melelahkan?” Evelyne meletakan Minuman hangat di atas meja William.
“Sedikit, tapi aku sudah terbiasa dengan itu” sahut William dengan sekilas menatap minuman itu lalu dengan cepat ia beralih menatap Evelyne yang masih terdiam berdiri di sebrang meja kerjanya. “Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Apa kau masih ingin berperang dingin denganku?”
Evelyne menggeleng “Apa maksudmu?”
“Kau mendiamkanku setelah sarapan pagi ini, tidak menjenguk ku di istirahat siang. Lalu kau datang membawa minuman untukku, namun kau hanya diam dan tidak berbicara denganku. Apa kau masih marah dan ingin kita terus seperti tadi?” William menjelaskan dengan nada pelannya.
Ia tahu bahwa kejadian di Restoran itu hanyalah kesalahpahaman, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Evelyne seperti dia yang selalu dengan mudah meremehkan layar belakang orang lain yang belum tentu kau tahu sepenuhnya. “Tidak, aku tidak marah denganmu. Aku hanya sedang menenangkan diri dan meng intropeksi diri saat aku tahu bahwa kejadian di Restoran pagi ini, adalah kesalahanku” ucap Evelyne dengan menatap William yang sedang duduk di tempat kerjanya.
“Jika kau tidak marah denganku? Lalu kenapa kau tidak datang menjenggukku di jam istirahat siang tadi?” tanya William yang mengingat bahwa ia menghabiskan jam istirahatnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. “Aku pikir, kau masih marah denganku. Bahkan kau juga tidak akan menemuiku hingga jam pulang tiba”
Evelyne menggeleng “Tidak, aku hanya banyak pekerjaan saja. Maaf sudah membuatmu seperti ini”
“Maaf? Maaf saja, bagiku itu tidak cukup untuk menghapus semua pikiranku selama bekerja ini” tolak William dengan melipat tangannya di depan dada.
Evelyne menghela nafasnya “Lalu, kau ingin aku melakukan apa agar kau mau memaafkanku?”
Prok..prok..prok..
William dengan senyuman nakalnya, menepuk pahanya sendiri untuk mengisyaratkan Evelyne untuk pergi duduk di atas pangkuannya. Ia juga memundurkan sedikit kursi kantornya, agar Evelyne bisa dengan mudah duduk di atasnya. “Duduklah disini terlebih dulu! Setelah itu, aku akan memaafkanmu”
William mendengus kesal, membuang wajahnya kearah lain seperti layaknya anak kecil yang sedang merajuk karna tidak di turuti kemauannya oleh ibunya. “Yasudah, kalau begitu kau juga tidak akan mendapatkan maaf dariku”
“Hah?” Evelyne bergidik aneh. “Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti ini?”
Evelyne benar-benar merasa kebingungan saat melihat tindakan William yang semakin hari, semakin aneh. Entah dari mana, sikap manja itu datang. Evelyne benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa lelaki dingin dan keras seperti William juga memiliki sikap manja di balik itu. Tapi...kenapa sebelumnya ia tidak pernah menunjukannya? Bahkan dengan Clara, wanita yang disukai oleh William. Lelaki itu juga tidak pernah menunjukkannya.
Apa kepala lelaki ini terbentur sesuatu yang keras hingga membuat otaknya sedikit bermasalah?
“Yoona! Apa yang kau lakukan?! Kemarilah! Atau kau benar-benar tidak akan berbaik kan denganku” ancam William dengan sedikit kesal karna Evelyne terus diam di tempat tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya untuk berjalan kearahnya. “Sialan kau! Berani sekali mengancamku dengan teknik mu yang seperti ini”
Evelyne yang merasa di meremehkan pun langsung berjalan menuju kearah William. Lalu dengan kasar, ia menarik kearah kemeja milik William hingga membuat tubuh lelaki itu sedikit ber condong kedepan. Sementara dirinya menundukkan sedikit tubuhnya agar wajah mereka bisa bertemu dengan jarak yang dekat.
“Apakah seperti ini yang kau mau?” tanya Evelyne dengan menatap datar lelaki yang tengah tertegun saat melihat tindakan Evelyne yang secara tiba-tiba ini.
William terdiam, lalu dengan sontak ia mengukirkan senyuman miring yang membuat suatu peringatan pada Evelyne disana. “Aah...sepertinya saya ingin lebih dari ini!” katanya dengan menarik tubuh Evelyne hingga terjatuh di atas pangkuannya. Salah satu tangan evelyne yang sebelumnya berada di kerahasiaan kemeja milik William pun seketika beralih ke atas bahu William untuk menahan tubuhnya agar tidak terlalu menempel dengan tubuh lelaki ini.
“Sialan!! Apa yang kau lakukan?” bentak Evelyne dengan kesal.
William terkekeh lembut, ia tidak tahu kenapa rasanya menyenangkan saat membuat Evelyne merasa kesal dengan tingkah lakunya. Padahal jika wanita ini sedang berada di tempat umum, ia selalu memasang raut wajah datarnya. Tapi jika bersamanya, wanita itu secara tidak sengaja membuat banyak sekali ekspresi yang tentu saja membuat Williams merasa senang saat melihat itu.
Buukk!!
__ADS_1
Evelyne yang kesal pun memukul kepala William dengan keras hanya menggunakan salah satu tangannya. William terkejut, bahkan ia merasakan sakit pada kepalanya saat Evelyne baru memukulnya sekali. “Yoonaaa...apa yang kau lakukan? Kenapa kamu memukulku?” rengek William dengan memegang kepalanya dengan kedua tangan.
“Ini hukuman untukmu!” Ucap Evelyne dengan kesal.
William yang merasa tidak bersalah pun langsung menunjukkan ekspresi menyedihkannya seperti anak anjing yang tengah meminta kasih sayang kepada majikannya. “Tapi, aku tidak melakukan apapun padamu. Kenapa kau malah menghukumku? Dan bahkan kau juga tidak melanjutkan permintaan maafmu secara tulus padaku”
“Tidak jadi. Aku menarik semua perkataanku tadi! Jadi lupakan semuanya, dan mari kita jalani hidup kita masing-masing” Evelyne berkata dengan santai saat ia hendak bangun dari pangkuan William.
Mendengar perkataan itu terucap lagi di mulut Evelyne membuat William dengan cepak menarik tubuh Evelyne semakin dengannya. Bahkan William juga menahan tubuh kecil Evelyne dengan pelukkan nya, agar wanita itu tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkannya lagi. “H-hey! A-apa yang kau lakukan, liam?”
“Memelukmu! Kau tidak bisa pergi begitu saja, setelah kau mengatakan hal yang kejam padaku!” Ucapnya dengan suara pelan “Aku tahu, aku pernah mengatakan hal seperti itu di masa lalu. Tapi tidak bisakah kau memaafkanku sebelum Tuhan menghukumku nanti?”
Evelyne terdiam sejenak, lalu melirik kan matanya saat melihat William tengah meletakkan kepalanya diatas salah satu bahunya. “Apa perkataan itu kejam?” tanya Evelyne dengan suara yang pelan.
“Ya, sangat kejam! Bahkan aku tidak bisa membayangkannya jika tak itu terjadi lagi” jawab William yang masih terdiam di atas bahu Evelyne.
Evelyne tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, tapi secara sekilas ia mengingat perkataan kakek saat mereka berbincang di malam hari. Sebelum terjadinya William melakukan hal seperti itu padanya disaat mabuk.
Kakek : Anak itu memang keras, tapi kau tidak bisa meninggalkan sendiri. Karna kesendiriannya, membuat jiwanya menjadi lemah.
‘Kesendirian? Apa dia pernah merasakan kesepian seperti diriku?’ batin Evelyne dengan secara tidak sadar, ia mengelus punggung William dengan lembut. “Ya, maafkan aku. Aku salah, aku tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi.” Kata Evelyne dengan berbisik lembut.
William tertawa kecil saat mendengar itu, dan ia juga mengangkat kepalanya dari batu Evelyne. Lalu dengan sekilas, ia mengecup lembut bibir manis Evelyne yang membuat pemiliknya terkejut saat mendapatkan kecupan kilas itu. “K-kamu?!” Evelyne menutup mulutnya dengan salah satu tangannya saat menatap William dengan tatapan tajam nya.
“Hehehe...Permintaan maafmu diterima. Terimakasih untuk kebaikkanmu hari ini” ucap William dengan senang.
Evelyne memalingkan wajahnya, menutupi sebagian wajahnya yang memerah dengan salah satu punggung tangannya. “Bodoh!”
...--🥀🕊—
...
“Dasar bajingan!! Apa yang kau lakukan selama ini hah?!!” bentak seorang lelaki tua dengan amarahnya yang meluap.
Terlihat ia sedang memarahi seorang lelaki yang tengah berdiri di depannya dengan kepala yang menunduk. Lelaki itu terlihat masih muda, berpikir bahwa ia menginjak usia 30 tahunan. Namun di umurnya yang seperti itu, lelaki muda itu tampak memiliki wajah yang tampan serta aura yang membuat semua Wanita tidak bisa mengalihkan pandangan kearahnya.
“Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, ayah! Kau tidak bisa terus memaksaku untuk melakukan hal lebih, ini sudah mencapai budget maksimal kita. Apa yang ingin kau capai lagi ayah?!!” tanya lelaki muda itu dengan nada yang keras namun masih terdengar sopan.
Lelaki tua itu tertawa remeh “Aku ingin lebih dari ini!! Aku ingin semua yang ada di dunia ini menjadi milikku. Termaksud perusahaan terbesar milik seseorang yang terkenal di negara ini”
“Shitt!! Kau jangan bercanda ayah!! Bagaimana bisa kau berpikir ingin memiliki perusahaan sebesar itu? Bahkan aku juga seharusnya tahu, bahwa pemilik dari perusahaan itu tidak sebaiknya kita ganggu” bantah lelaki muda dengan berpikir bahwa keinginan ayahnya terlalu tinggi.
Lelaki itu tertawa keras, memperlihatkan kesombongan pada lelaki muda itu di depan semua anak buahnya. “Aku saja bisa merampas semua kekayaan yang dimiliki oleh mantan istriku, bahkan kau juga tahu bahwa kekayaan itu bisa membuatku hidup menjadi lebih baik.”
“Tapi jika kau berurusan dengan iblis itu, apa kau tidak takut hidupmu akan selalu di ancam buruk olehnya?” tanya lelaki muda dengan memastikan.
Lelaki tua itu menyeringai “Bukan dia yang akan mengancam hidupku menjadi buruk, tapi akulah yang akan mengancam yang penguasa itu jatuh kedalam neraka yang dalam!!”
__ADS_1