Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 66 : Bisakah aku mendapatkan itu kembali?


__ADS_3

Melihat wanita itu hendak berjalan pergi, William dengan sontak menahan tangan wanita itu agar tidak pergi kemanapun. Bahkan hal yang di lakukan oleh William, membuat Evelyne kepalanya untuk menatap lelaki yang ada di belakangnya ini. “Ada apa? Apa ada hal yang ingin kau bicarakan lagi?” tanya Evelyne yang membuat William sedikit mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Evelyne.


Merasakan eratan yang sedikit menguat, Evelyne merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran William. Tapi terlihat begitu jelas, kalau lelaki ini masih tidak bisa untuk berterus terang kepadanya. “Aku akan mengantarmu pulang” ucap William.


Baru saja ingin menjawab perkataan itu, William dengan sontak bangun dari duduknya seraya berjalan menuju pintu dengan tangan yang masih menggenggam pergelangan tangan Evelyne dengan lembut.


“Liam! Kau tidak bisa melakukan ini di tempat umum, karna semua karyawan akan melihatnya, jadi biarkan aku keluar lebih dulu sebelum kamu” ucap Evelyne yang berhenti di tengah perjalanan mereka.


William tertegun saat mendengar perkataan itu terlontar dari mulut wanita yang kini tengah berjalan melewatinya. “Yoona, tunggu!” kata William sebelum Evelyne meraih gagang pintu tersebut.


“Kita tidak memiliki waktu banyak, jika kau masih ingin tetap disini maka aku akan pulang lebih dulu. Jangan memaksakan dirimu, jika hari ini banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan” jawab Evelyne dengan nada datarnya.


William saat itu benar-benar dibuat kaget dengan sikap yang terus berubah-ubah dari Evelyne. Wanita itu terkadang bisa jadi hangat, namun ia juga bisa menjadi dingin tanpa alasan jelas. Melihat lelaki itu terdiam di tempat, Evelyne pun langsung membuka pintu tersebut untuk keluar dari ruangan William.


Sedangkan William masih terdiam di tempat seraya memaki dirinya sendiri. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku merasa kesal jika Evelyne bersikap seperti itu? Padahal dulu aku sering kali mengabaikannya, bahkan tidak pernah melihatnya sedikitpun. Aku tahu, itu adalah aturan yang aku buat untukmu. Tapi kenapa disaat kita sudah mulai dekat, sikapmu selalu berubah dengan sekejap waktu.


Ditambah lagi, aku tidak tahu apa alasan kau tiba-tiba berubah dari yang hangat menjadi dingin. Aku tahu semua yang aku lakukan di masa lalu adalah kebodohan, tapi bisakah aku mendapatkan perhatian yang kau berikan padaku dulu? Dimana kau masih mengejarku, sebelum kau berpaling dariku kepada Edgar.


Evelyne yang tengah berjalan seorang diri tiba-tiba ia melirikkan sekilas manik matanya saat menyadari bahwa William tidak ada di belakang. Ia tahu, kalau mengungkit masa lalu di waktu yang sekarang adalah tindakan yang kekanak-kanakan dalam suatu hubungan. Karna, jika kita berpikir lebih luas. Sesuatu yang terjadi di masa lalu, hanya untuk kita pelajari di masa depan, bukan mengungkitnya untuk menciptakan suatu permasalahan.


Tapi, jika bukan karna mengungkit William tidak akan pernah tahu bahwa tindakannya selama ini membuat Yoona merasakan sakit di hatinya. Dan hal itu tentu saja membuat ia berpaling dari pria sempurna itu dengan pria seperti Edgar.


“Ahh...kau membuat masalah di kehidupanmu begitu rumit, Yoona!”


...--🥀🕊—


...

__ADS_1


Di satu kota yang sama, namun berbeda dengan tempat. Terdapat sebuah rumah yang ukurannya lumayan begitu besar dengan halaman rumah yang sedikit luas. Disana menunjukkan beberapa tamanan serta pepohonan yang kini tumbuh di sekitar halaman tersebut. Banyak yang mengira, bahwa lingkungan itu sangat membuat hati menenangkan.


Tapi siapa yang menyangka, bahwa lingkungan yang begitu menyejukkan akan di tempati oleh seseorang yang selalu membuat suasana di sekitar rumah itu begitu mengganggu.


“Aku sudah bilang untuk tidak pergi mabuk lagi kan?!! Kenapa kau tidak mendengar perkataanku?” teriak seorang wanita dengan emosi yang meluap.


“Aku hanya meminumnya sedikit, kenapa kau begitu marah padaku? Dulu saja, dia tidak pernah melarang apapun yang aku lakukan!” sahut lelaki itu dengan acuh tak acuh..


“Beraninya kamu menyebut wanita ****** itu di rumah ini lagi?!! Apa kau tidak merasa bosan untuk terus memikirkan wanita tak bersuci itu?!!”


“Tidak bersuci kau bilang?!! Jaga bicaramu ya!!”


“Untuk apa aku menjaga bicaraku, jika kau saja tidak bisa mengontrol nafsumu kepada semua wanita!!”


Aakkhhh...


Lelaki itu dengan kasar menarik rambut pendek Wanita itu hingga menjerit kesakitan. “Aku sudah bilang, kau tidak perlu mencampuri urusanku dengan wanita di luar saja!! Tugas kau di rumah itu hanya melayani ku saja, apa kau mengerti?!!” kata Lelaki itu dengan kasar lempar wanita itu hingga terjatuh ke lantai.


“Hah?!! Kau menyebutku apa, ******?!” tanya lelaki itu dengan rasa kesalnya. Ia berjalan menghampiri wanita yang tengah tergeletak di lantai, lalu tanpa pikir panjang lelaki itu langsung menendang pipi wanita itu dengan salah satu kakinya. “Kau tidak berhak mengatakan seperti itu, jika kau saja memiliki status yang sama seperti diriku!”


Wanita itu menangis “Sial!! Kenapa kau harus bertemu bajingan gila sepertimu?!”


“Aku juga sial karna harus menikah dengan pelacur sepertimu, padahal aku jelas-jelas ingin menikahinya. Tapi karna kau!! Aku harus dengan terpaksa membunuhnya bahkan mengkhianati ketulusannya saat mencintaiku!!” kata lelaki itu dengan menatap wanita di bawahnya dengan tatapan jijik.


Mendengar ungkapan yang di lontarkan oleh lelaki itu, tentu saja terdengar seperti lelucon di telinga wanita itu. “Terpaksa? Kau melakukan semua itu dengan tanganmu sendiri, bahkan kau sendiri rela mengorbankan cintamu padanya untukku”


“Jalang kau!! Mati saja sana!!!” kata lelaki itu dengan menendang bagian pipi wanita itu yang lain.

__ADS_1


Menerima rasa sakit pada bagian rahangnya, membuat wanita itu hanya terdiam seraya menangisi rasa sakit yang ia sedang rasakan sekarang. Ia benar-benar ingin membunuh lelaki itu, tapi disisi lain ia sangat mencintainya.


...--🥀🕊—


...


Yoona yang baru saja memasuki kediaman pun langsung di sambut oleh Dessy serta kakek besar yang tengah berbincang di ruang tamu. Mereka tampak sesuai menikmati teh sangat dan beberapa makanan ringan yang ada di atas meja. Melihat Evelyne berjalan masuk kedalam seorang diri, membuat kakek berpikir bahwa wanita itu pulang sendirian di malam ini.


“Yoona, apa kau pulang kesini sendirian? Dimana William? Kenapa dia tidak ada disini?” tanya kakek saat melihat raut wajah Evelyne yang sedang murung.


Evelyne menghentikan langkahnya, lalu menolehkan kepalanya seraya mengukir sebuah senyuman manis di wajahnya. “kakek, aku pulang sendiri. Liam bilang, dia memiliki beberapa kerjaan yang harus ia kerjaan untuk beberapa waktu, jadi aku memutuskan untuk pulang sendiri. Awalnya ia ingin mengantarku, tapi aku menolak karna takut membuatnya harus menunda pekerjaannya itu.”


“Tapi itu kan tugas dia untuk mengantarmu pulang. Haissh!! Anak itu selalu saja seperti itu!” kata kakek seraya memijat keningnya yang sudah terlihat mengeriput.


Melihat kakeknya seperti itu, membuat Evelyne berjalan menghampirinya seraya berkata. “Kakek, kau jangan terlalu banyak berpikir. Aku baik-baik saja, aku pulang sendiri bukan karna bertengkar. Itu hanya masalah pekerjaan, jadi kau tidak perlu. Mengkhawatirkannya”


“Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkannya, jika ia selalu berpikir bahwa hubungan itu selalu di dampingi oleh harta bukan cinta!” sahut kakek yang membuat evelyne terdiam.


Apa? Berpikir bahwa hubungan harus di dampingi oleh harta untuk bahagia bukan cinta? Lalu bagaimana jika harta itu menghilang, apa hubungan itu akan berakhir tanpa adanya cinta? Di zaman sekarang memang realitanya bahwa hidup itu tidak makan cinta, tapi dalam sebuah hubungan apa kau menganggap bahwa hubungan akan terasa baik tanpa cinta.


Kakek yang melihat evelyne terdiam saat mendengar perkataan itu pun membuat kakek berpikir bahwa William belum pernah menceritakan apapun tentang dirinya sendiri kepada wanita itu. “kau pergilah!! Aku akan bicara dengan Yoona disini” ucap kakek yang menyuruh Dessy untuk pergi meninggalkan mereka dan memberitahu kepada yang lain agar tidak menganggu nya di ruang tamu.


Setelah mendapat perintah itu, Dessy segera berlari keluar dari ruang tamu untuk meninggalkan Evelyne berbicara dengan kakek. Ia tahu bahwa mereka akan membicarakan hal penting, jadi ia harus memberitahu yang lain agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.


Evelyne yang merasa canggung dengan suasana serius ini, membuatnya sesekali membuat suatu pergerakan dalam duduknya yang tentu saja di sadari oleh kakek besar yang duduk di sofa seberangnya. “Maaf kakek, apa yang ingin kau bicarakan padaku malam-malam begini?” tanya Evelyne dengan suara yang pelan namun terdengar begitu nyaring karna di ruangan itu tidak ada sedikitpun suara kecuali angin yang berhembus masuk dari jendela.


“Bisakah aku bertanya akan sesuatu terlebih dahulu sebelum aku membicarakan tujuanku padamu?” kakek menatap Evelyne dengan wajahnya yang sedikit terlihat santai.

__ADS_1


Evelyne mengangguk “Tentu saja, kau bisa bertanya apa saja dan aku akan menjawabnya sesuai dengan keinginanmu”


“Kau terlalu baik untuk itu. Aku hanya ingin tahu, apa kau masih mencintai William seperti kau mencintainya dulu?” tanya kakek yang membuat Evelyne sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.


__ADS_2