
“Tidak, itu sama sekali tidak menyakitkan” kata William saat melihat raut wajah Evelyne yang cemas.
Evelyne menggeleng, menganggap bahwa lelaki yang ada di depannya ini cukup bodoh karna mengatakan bahwa luka tusukan di leher itu tidak menyakitkan. ‘Kau pembohong! Aku sudah lama membunuh orang di bagian leher dengan benda apapun. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa itu sangat menyakitkan, bahkan mereka lebih baik mati daripada merasakan sakitnya tersiksa oleh itu. Tapi...kenapa kau malah mengatakan bahwa ini tidak menyakitkan?’ batin Evelyne.
Tangan yang berada di wajah William pun mulai menjauh untuk membuka beberapa obat yang ada di dekatnya. Menaburkan sedikit obat itu pada luka William, lalu meratakannya secara perlahan dengan salah satu tangannya. “Kau bisa memukulku jika itu menyakitkan” ucap Evelyne sebelum memulai meratakan obat tersebut.
“Heh...untuk apa aku bermain tangan denganmu lagi? Apa kau mencoba mengungkit masa lalu, agar bisa memancing emosiku untuk memukulmu?” tanya William dengan mengerutkan keningnya saat melihat Evelyne tengah memfokuskan pandangannya pada luka di lehernya.
Evelyne menggeleng “Tidak, aku hanya berpikir bahwa tidak akan adil jika hanya kau yang terluka saat ini. Jadi untuk kali ini, aku membiarkanmu memukulmu hingga kita sama-sama terluka”
“Tidak adil? Lalu, apa yang harus aku minta untuk mengimbangkan perasaan cemburu, sakit hati serta luka yang kau alami di masa lalu?” tanya William lagi dengan pandangan yang terus melekat pada wajah datar Evelyne.
Evelyne menggelengkan kepalanya kembali “Itu sudah masa lalu, untuk apa kau mengungkitnya kembali? Aku saja sudah tidak memikirkan hal itu lagi”
“Sebelumnya kau juga mengungkit hal itu, tapi kenapa saat mengungkitnya kembali...kau malah seperti ini” kata William dengan menghela nafasnya yang berat, lalu terdiam.
Evelyne yang melirik kan matanya untuk melihat sekilas lelaki yang ada di depannya ini tengah terdiam, membuatnya juga ikut terdiam dengan tangan yang masih bergerak membaluti beberapa perban di leher William.
Eugh!
William meringis kesakitan saat mendapati Evelyne yang terlalu kencang mengikat perban itu pada lehernya. “M-maaf, apa itu terlalu kencang?” Evelyne kembali mengendurkannya sedikit hingga membuat kerutan di dahi William secara perlahan menghilang. “Maafkan aku, maafkan aku...aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu kesakitan, maafkan aku. Aku hanya tidak mengerti caranya saja”
“Huh...sudahlah tidak apa-apa, ini sudah tidak sakit” ucapnya dengan menatap Evelyne yang terus mengkhawatirkan luka yang ada di lehernya.
__ADS_1
William mengelus kepala serta wajah bagian samping Evelyne untuk menghilangkan sedikit rasa kekhawatirannya itu. Sedangkan Evelyne yang merasa bersalah akan hal itu pun hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya yang sesekali mencuri perhatian nya pada leher William yang sudah di baluti oleh perban berwarna putih.
“Kau tunggulah disini! Aku akan mengambil beberapa sarapan milikku dan milikmu di bawah” kata Evelyne yang hendak bangun dari pangkuan William untuk menuruni ranjang.
William menahannya kembali, lalu menggeleng “Tidak perlu, kau bersiap-siaplah lebih dulu. Aku akan mengajakmu keluar setelah ini”
“Keluar? Ngapain? Bukankah kau sedang terluka? Dan aku juga harus pergi ke kantor hari ini” kata Evelyne dengan menolak ajakan william.
William mengerutkan keningnya, ia paling tidak suka jika ada orang yang menolak perkataannya secara terang-terangan bahkan orang ini berbicara seakan-akan tidak takut dengannya. “Tidak ada penolakan untukmu. Sekarang, pergilah bersiap-siap! Aku akan menunggumu di bawah.”
“Langsung menungguku dibawah? Apa kau tidak pergi membersihkan tubuhmu terlebih dulu?” tanya Evelyne dengan melipat tangatrnnya di dada.
William menghela nafasnya karna lelah, ia juga menjentikkan jadi pada kening Evelyne. “Tentu saja aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Karna kau akan menggunakan kamar mandi yang ada di kamar, maka aku akan menggunakan kamar mandi sebelah untuk menghemat waktu. Jadi kita tidak perlu saling menunggu”
“Kamar mandi sebelah?” gumam kecil Evelyne.
Plakk!!
Evelyne menepuk dahi William dengan telapak tangannya hingga membuat bunyi yang nyaring karna pukulan itu begitu keras. “Jangan pernah bermimpi seperti itu, dasar kau bajingan!!” Evelyne menatap William dengan tajam, lalu dengan sontak wanita itu turun dari pangkuan William dan langsung berlari kearah kamar mandi untuk melarikan diri dari lelaki mesum itu.
Melihat Evelyne yang berlari terhuyung-huyung ke kamar mandi, membuatnya sedikit tertawa kecil karna merasakan puas jika ia berhasil membuat banyak Ekspresi dari raut wajah wanita yang penuh tipuan itu. “Kali ini kau bisa lolos, tapi aku yakin kau tidak akan lolos di kemudian hari!”
Beberapa menit kemudian, Evelyne yang keluar dari ruang ganti setelah ia selesai mandi dan berganti pakaian disana tidak melihat sedikitpun keberadaan William di dalam kamar. Entah lelaki itu menunggunya di bawah atau telah pergi ke kantor karna ada urusan mendadak, Evelyne rumah terlalu memikirkan hal itu.
__ADS_1
“Dasar anak nakal!! Aku kan sudah sering bilang padamu untuk tidak pergi menemuinya lagi!! Kenapa kau masih saja bertemu?!”
Suara yang keras yang terdengar di seluruh ruangan membuat Evelyne terkejut saat mendengar hal itu. Suara itu terdengar dari bawah, dan kemungkinan itu berasal dari lantai dasar. Evelyne mengenali suara keras itu dari dalam kamar, namun saat itu...Evelyne sedikit penasaran sesuatu yang telah membuat suara itu terdengar di pagi hari.
“Kau mabuk, membuat mobil kesayanganmu sendiri menjadi sangat jelek. Bahkan kau juga tidur di kamar yang sama dengan Yoona, apa kau akan memanfaatkan mabukmu untuk memplampiaskan emosimu padanya?”
Degh!
Mendengar perkataan itu, Evelyne dengan sontak berlari keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana. Terlihat begitu jelas, kakek besar maxime tengah mengomeli seorang lelaki yang ada di depannya ini dengan suara yang keras. Bahkan wajah dari kakek juga sangat memerah, apa dia sedang marah dengan lelaki itu?
Evelyne yang tidak ingin membuat semua menjadi salah paham karna kejadian semalam, Ia pun turun menuruni tangga dengan cepat untuk pergi menghampiri ke2 lelaki itu. “Kakek, apa yang terjadi? Kenapa kau memarahi William di hari pagi ini?” tanya Evelyne saat ia berhenti tepat di antara keduanya.
Kakek menoleh “Yoona, apa kau baik-baik saja? Apa William semalam memukulmu habis-habisan? Katakan kepadaku! Apa kau terluka?”
“T-tidak, aku tidak terluka.” Jawab Evelyne yang merasa heran karna kakek tiba-tiba mengkhawatirkan keadaannya.
Kakek melirik tajam secara sekilas pada William, lalu beralih ke Evelyne dengan tatapan yang cemas. “Jangan berbohong pada kakek! Katakan saja kalau dia melukaimu! Tidak perlu takut, karna jika dia berani macam-macam maka kakek akan memukuknya”
“Huh...aku harus bilang berapa kali padamu, kalau aku tidak melakukan apapun pada Evelyne semalam” ujar William yang merasa muak dengan sikap kakek yang terlalu berlebihan. Evelyne terdiam saat melihat keduanya masih saja bertengkar hanya karna perihal semalam saja, padahal William semalam tidak berbuat kasar padanya.
Tapi...
Seputar kejadian semalam pun terbayang di pikiran Evelyne yang membuatnya secara sontak menutup mulutnya untuk menutupi bagian pipinya yang kini terlihat sangat merah. “Yoona, ada apa? Kenapa kau menutup mulutmu seperti itu? Apa kau sedang sakit?” Kakek yang melihat itu pun membuat usaha Evelyne sia-sia untuk menyembunyikannya dari mereka.
__ADS_1
William tersenyum miring, ia tahu apa yang membuat Evelyne bisa memerah seperti itu saat keduanya tengah bertengkar satu sama lain. “Kakek, kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa menanyakannya pada Yoona sendiri.” Kata William dengan mengangkat kedua alisnya serta menujukkan sikapnya yang arogan.
“Yoona. Tolong jujur padaku kali ini! Apa William menyakitimu saat malam dimana pulang dalam keadaan mabuk?”