
Sesampainya di kediaman maxime, Evelyne yang hendak membereskan barang-barangnya terlebih dahulu di dalam mobil seketika terdiam saat melihat William sudah keluar dari mobil tanpa mengucapkan kata sedikitpun. Ia merasa bahwa akhir-akhir ini sikap William sering membuatnya kebingungan, entah dari sikapnya yang kekanak-kanakan atau sikapnya yang kasar seperti biasanya.
Semua itu terjadi setelah pertengkaran mereka 5 hari yang lalu, tepatnya disaat ia mulai menjaga jarak serta memutuskan hubungan kontak fisik ataupun berbicara dengan lelaki itu. Dan lagi, Evelyne juga sering membiarkan atau secara terang-terangan memberi restu atau persetujuannya antara hubungan William dengan Clara.
Sedang sibuk memikirkan hal yang menurutnya tidak penting, Evelyne pun dikagetkan oleh suara pintu mobil yang terbuka dari luar. Membuat wanita itu dengan sontak menolehkan kepalanya saat mendapati pintu mobil yang ada di sebelahnya sudah terbuka.
“Masih berapa lama lagi kau akan tetap di dalam?” tanya seorang lelaki dengan menunjukkan dirinya dari balik pintu mobil yang terbuka itu.
Evelyne terkejut, melihat seorang lelaki tengah berdiri di samping mobil dengan ekspresinya yang dingin. Ia tidak tahu kenapa rasanya seperti sangat canggung jika ia bersikap seperti ini. “Aku sedang membereskan barang-barangku sebentar, kau pergilah lebih dulu!” ucap Evelyne seraya bergegas membereskan beberapa kertas serta laptop yang berada di Sampingnya.
Lelaki itu berdecih kesal “Minggir! Biarkan aku yang membereskannya.”
Melihat lelaki itu dengan perlahan memasukkan setengah dari tubuhnya ke dalam mobil, membuat Evelyne dengan spontan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil agar tidak mengenai tubuh lelaki yang ada di depannya ini. “A-apa yang kau lakukan?”
“Membereskan barang-barangmu lah! Apa kau tidak melihatnya dengan jelas?”
Lelaki itu dengan tangan panjangnya mulai menyusun beberapa kertas yang berserakan disana, menyusunnya menjadi satu di salah satu tangannya sementara tangan yang lain mengumpulkan kertas-kertas yang ada disana.
Tak memerlukan banyak waktu, Semua barang-barang Evelyne pun sudah tersusun rapih di tangan panjang lelaki itu. Mulai dari map besar, laptop serta beberapa tumpukan kertas kini sudah berada di satu tempat yang sama.
Setelah semua selesai, Lelaki itu pun langsung mengeluarkan setengah dari tubuhnya itu keluar dari mobil. Berdiri tegak seraya menunggu Evelyne yang kini masih sibuk dengan tas kerjanya. “Apa lagi yang kau sibukkan?” tanya lelaki itu dengan nada dinginnya.
Evelyne menggelengkan kepalanya, lalu dengan cepat ia keluar dari mobil tanpa memperhatikan bagian atas mobil itu. Membuat kepala wanita itu terbentur namun tidak begitu keras karna ada sesuatu yang menghalanginya dari permukaan atas mobil. Evelyne mendongak, melihat sebuah tangan besar ada disana yang membuatnya tidak terbentur atas mobil terlalu keras.
“Dasar Ceroboh!” ejek William dengan suara dinginnya.
Evelyne terdiam, kali ini ia mengakui kesalahannya tetapi ia masih merasa gengsi untuk mengucapkan terimakasih pada lelaki itu. Jadi ia hanya terus berdiam saat berdiri di samping mobil, sementara William menutup pintu mobil itu. “Apa kepalamu terasa sakit?” Tanya William seraya menatap kepala Evelyne dari atas untuk memeriksanya.
Evelyne menutup kepalanya dengan kedua tangannya “Tidak apa, itu tidak sakit!”
“Kau yakin?” William kembali memastikan perkataan Evelyne yang sedikit membuatnya ragu.
Evelyne mengangguk tanpa berucap, Sedangkan William yang melihat itu pun hanya terdiam seraya menggandeng tangan kecil Evelyne untuk berjalan bersama memasuki kediaman utama. Disana awalnya Evelyne sedikit terkejut dan hampir melepaskan genggaman tangan William dari tangannya. Tetapi lelaki itu selalu membuatnya berhenti melakukan sesuatu untuk menghindarinya.
“Lain kali hati-hati saat keluar dari mobil, atau kepalamu akan terluka!?” kata William di sela-sela jalan mereka.
Evelyne mengangguk, lalu terdiam saat melihat postur tubuh William yang kini sedang berjalan di depannya. Jika di lihat dari belakang, William memiliki tubuh yang sempurna. Entah dari kaki dan lengannya yang panjang, wajahnya yang tampan, tubuh yang gagah ditutupi beberapa otot yang besar serta kepintaran yang membuat semua orang terkadang merasa iri dengannya.
William memang lelaki sempurna yang pertama kali Evelyne temui. Dulu ia menyangka bahwa Dion sudah menjadi daftar lelaki sempurna di matanya, tetapi jika ia bandingkan dengan William maka Dion bukanlah apa-apa. Walaupun kalah dengan segi fisik, maka mereka akan seri dalam segi sifat. Keduanya memiliki sifat egois yang besar, Sifat kasar, sifat kedewasaan serta perhatian yang terkadang membuatnya kebingungan.
Keduanya juga sama-sama melakukan suatu perselingkuhan di dalam hubungan. Jadi menurutnya, tidak ada yang baik di antara mereka. Keduanya hanya memiliki fisik yang sempurna, namun tidak bisa menghormati seorang wanita dengan baik.
“Apa kau lapar?” tanya William saat menyadari Evelyne sedang melamun di belakangnya. Jadi tangan panjang William yang tadinya berada di pergelangan tangan Evelyne pun kini beralih ke pinggang ramping wanita itu.
Evelyne terkejut saat melihat tubuhnya di tarik mendekat oleh William. “A-apa yang kau lakukan?!”
__ADS_1
“Tidak ada.” William meluruskan kembali pandangannya ke depan “Kenapa melamun tadi? Apa ada sesuatu yang membuatmu kepikiran seperti ini?”
Evelyne menggeleng “Tidak ada kok, perasaanmu aja kali”
“Eum...Baik, mungkin sekarang adalah perasaanku. Tapi jika di kemudian hari ada masalah yang membuatmu seperti ini, tolong beritahu aku! Karna aku tidak ingin kau terlalu dalam memikirkan masalah” kata William seraya mengusap kepala Evelyne dengan lembut.
Evelyne terdiam seraya memalingkan wajahnya kearah lain. ‘Canggung, rasanya sangat canggung jika kau bersikap seperti ini liam!’ batin Evelyne.
Melihat keduanya berjalan bersamaan seperti itu, membuat seseorang yang ada di balik pohon menggeram kesal dengan tatapan yang tajam serta hati yang dipenuhi rasa kebencian.
Di kamar.
Sesampainya di sana, Evelyne serta William pergi kearah yang berbeda. Evelyne yang langsung berganti pakaian di ruang ganti, sementara William pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya. Setelah berganti, Evelyne langsung pergi balkon dengan membawa laptop serta beberapa kertas di tangannya.
William yang baru saja keluar dari kamar mandi, seketika mengerutkan keningnya saat melihat pintu balkon terbuka begitu lebar. Membuat udara dingin dari luar masuk ke dalam. Baru saja ingin menutupnya, William seketika terdiam saat melihat seorang wanita tengah duduk di luar dengan memandang serius ke layar laptop.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa membiarkan pintu ini terbuka lebar? Apa kau ingin udara di luar masuk ke dalam kamar?” tanya William seraya berdiri di sandaran pintu tersebut.
Evelyne menoleh, melihat seorang lelaki dengan pakaian tidurnya sedang berdiri dengan ekspresi santainya. “Aah...maafkan aku! Aku lupa untuk menutupnya” kata evelyne seraya beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu untuk menutupnya.
Karna William sedang berdiri disana, Evelyne tidak bisa untuk menutupnya. Jadi ia hanya terdiam seraya menatap lelaki itu dengan raut wajahnya yang datar. “Bisakah kau minggir sebentar? Kau menyuruhku untuk menutupnya, tapi kenapa kau sendiri malah berdiri disini?”
William melirik ke samping, tepat dimana ia menyandarkan sebagian tubuhnya disana. Lalu ia kembali meluruskan pandangannya kearah Evelyne. “Biarkan aku yang menutupnya, kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Ini sudah malam, jadi cepatlah untuk membereskan semuanya sebelum tidur!” kata William seraya mengelus kepala Evelyne.
Evelyne yang merasa risih dengan perilaku William pun membuat dirinya menyingkirkan tangan besar lelaki itu untuk menjauh dari kepalanya. “Singkirkan tanganmu! Aku tidak suka, kau meletakkan tanganmu itu diatas kepalaku”
Melihat lelaki itu pergi ke kasur untuk memainkan hpnya, Evelyne kembali ke kursi yang ada di balkon. Mulai mengerjakan kembali pekerjaannya yang masih tersisa.
Tengah malam pun tiba, William yang berada di dalam kamar pun mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa evelyne belum masuk ke dalam hingga saat ini. Jadi ia dengan sontak melompat turun dari kasur dan berlari menuju pintu balkon. Membukanya dengan perlahan, saat melihat seorang wanita tengah tertidur di luar.
Yaps. Evelyne tertidur dengan kepala yang berada di tumpuan kedua tangannya di atas meja. Entah sudah berapa lama wanita itu tidur disana, William tidak mengetahuinya. Karna khawatir dengan udara dingin di luar, William pun menepuk-nepuk pelan pundak dari evelyne. “Yoona, bangunlah! Kenapa kau malah tidur disini? Apa kau ingin kedinginan? Ayo bangun dan masuk ke dalam!”
Eeuumm...
Evelyne menggeleng dalam tidurnya, William merasa bahwa evelyne sudah cukup lelah saat mengerjakan pekerjaannya. Jadi, tak menunggu wanita itu bangun, William pun langsung mengangkat tubuh ringan evelyne dalam gendongannya. “Ringan sekali! Kau ini manusia atau apa?”
Setelah memindahkan Evelyne di kasur, serta membereskan beberapa barang-barangnya diluar, William sempat terpaku dengan halaman pengerjaan yang ada di layar laptop milik evelyne. “Ini kan?” William menolehkan kepalanya kearah evelyne yang sedang terbaring diatas kasur.
William menghela nafasnya “Pantas memaksakan diri untuk mengerjakan ini dalam kondisi tubuh yang lelah, ternyata waktu deadline pengumpulannya besok”
...--🥀🕊—
...
Keesokkan paginya, Evelyne terbangun dengan terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akan ketiduran sampai pagi. Melihat ia terbangun di atas kasur membuatnya semakin menggaruk kepalanya dengan kasar. “Apa yang aku lakukan?! Aku bahkan tertidur disaat waktu terakhir ini!” keluh Evelyne yang terdiam sejenak saat melihat William keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang rapih.
__ADS_1
“Ohh.. Sudah bangun! Cepat mandi dan bersihkan tubuh kotormu itu! Kita sudah terlambat nih” kata William seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Evelyne terdiam, menatap William dengan tatapan yang seperti meminta penjelasan dengan apa yang terjadi semalam. William yang mengerti itu pun hanya memutarkan bola matanya dengan malas, lalu berkata “Kau tenang saja, hanya kau seorang yang tidur diatas kasur itu”
“Lalu, dimana kau tidur?” tanya Evelyne.
William yang sedang merapihkan dahinya pun melirik dingin kearah evelyne yang masih melontarkan pertanyaan yang tidak penting. “Aku tidur di sofa semalam. Tidak tidur bersamamu di kasur. Jadi berhentilah bertanya, dan cepat pergi mandi atau kita akan terlambat!!”
Mendengar hal itu, Evelyne pun langsung berlari ke kamar mandi. William yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya, lalu berbalik badan untuk berjalan keluar dari kamar. Evelyne baru saja keluar dari kamar mandi pun terheran saat ia tidak melihat William di dalam kamar. “Kemana manusia itu? Apa dia sudah pergi?”
Hooaamm...
Evelyne menguap karna mengantuk. Rasanya ingin tidur kembali, tetapi sadar bahwa sekarang ia sudah bekerja. Jadi dengan memaksakan diri, Evelyne pun langsung bergegas memakai baju kantornya. Setelah sudah, Evelyne pun langsung membawa barang-barang yang sudah tersusun rapih di atas meja.
Keluar dari kamar dengan melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia melihat kondisi kediaman di lantai dasar masih sangatlah sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sudah bekerja. Tetapi ia disana tidak melihat Dessy ataupun kakek yang biasanya selalu berjemur di pagi hari.
Baru saja melangkah keluar dari kediaman, Evelyne langsung melihat seorang lelaki dengan pakaian rapih di tubuhnya yang gagah membuat penampilannya semakin dewasa jika di lihat dari belakang. “Kenapa lama sekali? Apa kau ingin terlambat bekerja?” tanya William saat menyadari Evelyne di belakangnya.
“Tidak. Lagipula kalau kau takut terlambat bekerja, kenapa tidak meninggalkanku saja?” Evelyne merespon pertanyaan William dengan nada datarnya.
William tahu bahwa perubahan sikapnya ini tentu membuat Evelyne merasa risih, tapi demi membawa wanita itu sesuai dengan keinginannya maka tidak akan jadi masalah jika ia harus berubah menjadi seperti apapun. “Kalau aku pergi meninggalkanmu, maka kau akan pergi ke kantor pakai taksi. Apa kau pikir, sehari bolak-balik kantor menggunakan taksi tidak terlalu boros?” kata William dengan nada pelan.
“Kau sendiri, kenapa membeli banyak mobil kalau yang kau pakai hanya satu? Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa kamulah yang lebih boros daripada aku?” balas Evelyne.
William terkekeh “Mengoleksi banyak mobil itu adalah hobi. Jadi tidak akan ada yang namanya boros”
“Boros lah! Kau mengumpulkan segitu banyak mobil hingga bagasimu penuh dan kau juga hanya memakai satu mobil diantara puluhan mobil yang kau beli” kata evelyne yang tidak mau di anggap boros.
William terdiam, lalu dengan pelan ia menggandeng tangan evelyne saat ia berjalan menuju salah satu mobil yang terparkir di halaman kediaman. “Sudah, jangan permasalahkan itu! Ayo berangkat bekerja”
“Kau yang memulainya, tapi kau juga yang mengakhirinya. Dasar aneh!”
...--🥀🕊—
...
Evelyne yang baru saja sampai di ruangannya dan duduk di tempat ia bekerja. Evelyne langsung mengeluarkan laptopnya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang semalam. Hari ini memang sudah sangat mepet dengan Waktunya. Tetapi demi pengalaman, Evelyne akan terus berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan proposal itu.
Baru saja membuka laptopnya, evelyne terkejut saat melihat beberapa lingkaran pengoreksian berwarna merah di lembar pengerjaannya. “S-siapa yang yang melakukan ini?! Berani sekali!” kata Evelyne dengan kesal.
Sempat berpikir bahwa semuanya akan gagal, tetapi ia dibuat terdiam saat manik matanya tertuju kearah kertas yang menempel di keyboard laptop.
Note : Aku yang mengoreksi semua pengerjaanmu! Kau salah besar, cepat ganti sesuai arah yang ada disana. Jika ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa menghubungi aku!
Evelyne terdiam saat melihat kertas itu, lalu manik matanya dengan cepat beralih ke layar laptopnya. Dan benar saja, saat ia menggeser lembaran itu dari atas hingga bawah, semua terdapat beberapa coretan pengoreksian. Entah dari kata yang kurang atau kalimat yang tidak penting. Melihat semua pengoreksian itu, Evelyne pun menghela nafasnya dengan lelah.
__ADS_1
Ia tidak sanggup untuk mengerjakan ulang proposal itu dengan cepat, sudah waktunya hanya hari ini. Dan waktu deadlinenya pukul 21.00 , rasanya sangat tidak mungkin hal ini akan berhasil dengan sempurna.
“hah...Aku lelah! Apa kali ini aku akan gagal?”