Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 58 : Kukira William ternyata Edgar


__ADS_3

Evelyne tertegun saat menyadari bahwa dirinya telah berada di taman tanpa kesadarannya sendiri. Ditambah lagi, ia harus bertemu lelaki ini di waktu yang tidak tepat. Disana Evelyne juga sedikit memundurkan beberapa langkah agar membuat jaraknya semakin menjauh dari lelaki yang ada di depannya ini.


Tapi baru beberapa langkah, Lelaki itu kembali membuka suaranya yang dengan sontak menghentikan langkah Evelyne. “Yoona, sepertinya kau sedang menghindariku beberapa hari ini. Apa kau sudah merasa tidak nyaman lagi jika di dekatku?”


“.....” Evelyne terdiam.


Sementara lelaki itu kembali berkata seraya berjalan menghampiri Evelyne yang tengah terdiam di tempat. “Apa Yoona sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, sehingga kau bisa dengan seenaknya membuangku begitu saja?”


“Apa yang kau bicarakan?!” tanya Evelyne dengan mengerutkan keningnya.


Ia merasa bahwa tebakannya kali ini benar. Evelyne merasa bahwa Yoona memiliki hubungan terlarang dengan saudara iparnya sendiri di belakang William, ia melakukan sebuah penghianatan disaat ia tahu bahwa William telah mengkhianatinya sejak awal.


Tapi sekarang yang berada di dalam tubuh wanita itu adalah dia, bukan Yoona. Jadi kenapa ia harus terlibat dalam masalah seperti ini?


“Kau berkata bahwa aku segalanya untukmu, tapi kenapa sekarang kau seperti mengingkari perkataan itu?” Edgar bertanya dengan raut wajah yang menyedihkan. Evelyne sendiri yang melihat itu langsung bergidik geli, karna reaksi yang di keluarkan oleh lelaki ini cukup berlebihan. “Edgar! Apa kau katakan? Aku kan sudah bilang, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kenapa kau terus berkata bahwa kita memiliki hubungan khusus dibelakang william?”


Edgar tertawa, lalu dengan cepat ia menarik tangan Evelyne secara kasar lalu menghentakkannya kepada dinding. Bahkan Evelyne yang sebelumnya sudah tidak menerima perilakuan kasar dari William, kenapa sekarang ia harus mendapatkan hal yang sama dari lelaki lain.


“Kau bertanya kenapa aku berkata seperti itu?!! Kau bertanya dengan ketulusanku selama ini padamu, yoona?! Apa yang kau inginkan sampai-sampai kau harus kembali pada lelaki kejam itu? Apa kau lupa seberapa kasar dia padamu?!! Apa kau lupa bagaimana dia memandangmu dengan tatapan dinginnya itu?!! Apa kau lupa, yoona?” bentak lelaki itu dengan suara yang keras.


Membuat suatu kesan yang mendalam saat Evelyne mendengar semua pertanyaan itu. Ia memang tidak pernah bisa melupakan semua itu, tapi disisi lain ia memiliki perasaan bagaimana senangnya saat William mulai memperhatikan dirinya walaupun secara pribadi Evelyne sangat tidak menyukainya.


Evelyne tahu, itu adalah perasaan dari pemilik tubuh ini sendiri. Tapi disaat evelyne mendengar serta membayangkan bagaimana Yoona dan Edgar berhubungan, itu malah membuat Evelyne merasa bahwa pemilik tubuh ini tidak ada bedanya dengan William. Mereka sama-sama melakukan sebuah pengkhianatan disaat takdir tidak merestui hubungan keduanya.


“Aku tidak tahu, apa yang kau katakan itu benar atau tidak. Tapi aku bukan Yoona yang kau kenal dulu, jadi berhentilah berpikir bahwa aku akan melakukan pengkhianatan lagi pada William.” Kata Evelyne dengan nada dinginnya.


Edgar tertegun saat melihat itu, bahkan ekspresi serta manik mata yang dingin membuat lelaki itu sedikit terkekeh untuk menertawakan dirinya sendiri. “Kau bukan Yoona yang kau kenal? Lalu bagaimana dengan perasaan yang sudah kau berikan padaku? Apa kau akan membuangnya begitu saja?”


“Ya, jadi tolong berhentilah menggangguku! Aku tidak ingin William memberikanku kesan yang buruk saat dia melihat aku masih memiliki hubungan dekat denganmu” ucap Evelyne.


Edgar terdiam, ia merasa bahwa William telah membuat Evelyne bersikap dingin dengannya. Bahkan memandangnya dengan cinta saja, tidak. Wanita yang ada di depannya ini benar-benar seperti wanita asing yang tengah menatapnya dengan tatapan yang dingin. Tidak sedikitpun cinta di mata indahnya itu, disana hanya terdapat sebuah kebencian yang besar entah untuk siapa.


“Tidak! Aku tidak ingin berujung seperti ini, Yoona. Kau sudah berjanji denganku untuk tidak meninggalkanku dalam situasi apapun. Kau sudah berjanji tidak akan pernah menyukai lelaki itu lagi!! Tapi sekarang? Kenapa kau malah memandangnya dan berpaling dari aku!” kata Edgar dengan menempelkan keningnya di dinding tepat di samping telinga Evelyne.


Evelyne melirik, merasa bahwa ini adalah situasi yang tidak baik. Ia tidak ingin melakukan pengkhianatan seperti orang lain lakukan, tapi ia juga tidak tahu kenapa perasaan ini merasa bersalah saat melihat kepasrahan lelaki yang ada di depannya ini.


“Sulit rasanya menerima takdir yang tidak berpihak dengan kita. Tapi selain menjalaninya, apa kau akan terus menentang kenyataan ini? Kita dulu memang saling mencintai, tapi kita juga tidak bisa memaksakan keadaan yang tidak merestui hubungan ini.” Kata Evelyne dengan nada dinginnya. “biarkan semuanya berjalan apa adanya, berlalu dengan semestinya dan berakhir dengan seharusnya. Kita memang memiliki keinginan, tapi kau juga harus tahu bahwa di dunia ini pasti ada kenyataan yang terkadang itu menyakitkan”

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun sedikit mendorong tubuh Edgar yang tengah menyandar di tubuhnya. Wanita itu berjalan melewati lelaki itu saat tubuh Edgar sudah bergeser. Namun entah memikirkan apa, Edgar pun kembali menahan tangan Evelyne yang hendak pergi meninggalkannya.


“Jika kenyataan tidak merestui hubungan ini, maka kita harus membuat kenyataan mengerti tentang hubungan kita!”


Edgar kembali menarik tubuh kecil Evelyne masuk ke dalam pelukannya yang erat. Evelyne terkejut dan dengan sontak tangannya berusaha mendorong tubuh besar Edgar, agar menjauh dan melepaskan pelukan ini. “Edgar, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!”


“Tidak! Malam ini, aku akan membuktikan pada dunia bahwa cintaku tidak akan pernah berubah kepadamu. Bahkan jika itu perlu membuat reputasi milikku hancur”


“A-apa yang kau bicarakan?! Berhenti menentang kenyataan, jika kau tidak ingin semuanya menjadi lebih buruk”


“Tidak peduli seburuk apa nantinya, yang sekarang aku inginkan adalah menjadikanmu milikku seutuhnya.”


Mmhhpp...


Edgar yang tidak tahan pun langsung meraup bibir kecil Evelyne yang berwarna merah apel dengan bibirnya yang tebal. Evelyne tertegun saat merasakan bagaimana lelaki yang ada di depannya ini tengah menempel bibir tebalnya di bibir miliknya.


Evelyne memberontak, tangannya beberapa kali bergerak untuk mendorong serta memukuli dada lelaki itu agar mau melepaskan ciuman sepihaknya. Evelyne tidak suka, ciuman itu terasa begitu memaksa. Beberapa kali Evelyne menjauhkan wajahnya dari wajah lelaki itu, Edgar selalu menahan wajahnya agar diam menetap saat bibir tebal dari lelaki itu mengisap bibirnya.


“Edgar! Apa kau lakukan?!! Lepaskan ak...”


Evelyne kewalahan dengan tenaga yang di keluarkan oleh lelaki itu padanya, bahkan sekarang tangannya yang berfungsi untuk mencoba melepaskan diri kini sudah ditahan oleh satu tangan milik Edgar di belakang pinggangnya.


-Hentikan ini, aku mohon hentikan ini! Jika ini terulang kembali, maka tidak akan ada gunanya aku membalaskan dendamku nantinya-


Evelyne terus berusaha melakukan berbagai cara untuk melepaskan dirinya dari pelukan lelaki gila ini. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa terlepas dari paksaan Edgar. Awalnya ia mengira kalau William orang yang sama seperti Dion, tapi justru ia salah. Orang yang sepenuhnya memiliki kemiripan dengan Dion adalah Edgar.


“Apa yang kalian lakukan?!!”


Evelyne tersentak saat mendapati dirinya di tarik oleh seseorang yang begitu kuat, hingga membuatnya terlepas dari pelukan Edgar. Wanita itu dapat melihat reaksi yang terkejut saat menatap kearahnya dengan kemarahan yang bisa Evelyne rasakan. Bahkan kebencian yang telah terpendam, kini ia perlihatkan pada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya.


Menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang membantunya, Evelyne seketika tersandung kebelakang saat ia merasakan bahwa kakinya begitu terasa sakit dan lemas. Ia tidak bisa berpikir apapun dengan jernih saat ini, tapi disisi yang sama Evelyne merasa aman saat tubuhnya bersandar pada seseorang yang berada di belakangnya.


“Apa yang kau lakukan diaini?!” tanya suara dingin itu yang membuat Evelyne menyadari sesuatu yang tidak pernah ia lupakan sebelumnya. Ia juga dengan sisa tenaganya, hanya bisa menggenggam tangan besar seseorang itu dengan tangannya yang kecil kini tengah gemetar hebat.


Seseorang itu terkejut, ia merasakan ketakutan serta gemetar dari tubuh wanita yang ada di depannya ini. “D-dia yang melakukan semua ini! A-aku benar-benar tidak pernah mau melakukannya dengannya” tunjuk Evelyne kepada Edgar dengan posisi yangan yang terangkat hingga membuat suara getaran kecil terpampang jelas di mata lelaki itu.


“Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin aku memberi satu pukulan untuknya, atau membunuhnya karna sudah melakukan itu?” Suara dingin itu merespon Evelyne dengan hangat namun berbeda dengan manik matanya yang sangat tajam saat melihat kearah Edgar.

__ADS_1


Evelyne terdiam, ia menempelkan kepalanya di depan dada bidang lelaki itu. Edgar yang melihat Evelyne dengan senang hati meletakkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, tentu saja membuat Edgar merasa kesal dan hendak menghampiri mereka untuk menarik kembali Evelyne kepada dekapannya.


“Yoona, apa yang kau lakukan?!! Menjauh dari lelaki itu sekarang!!”


Melihat Edgar mendekati, Seseorang yang tengah disandae oleh Evelyne pun dengan sontak memeluk Evelyne agar wanita itu semakin jatuh di dalam pelukan. Sementara Edgar yang melihat itu, tentu saja membuat dirinya semakin di ambang emosi yang tinggi. “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!! Dia tidak ingin hidup bersamamu, dia menderita hidup berdampingan dengan lelaki kejam sepertimu!”


Seseorang itu terdiam, melirik sekilas ke arah Evelyne yang terus memeluknya dengen erat. Sikap yang tenang juga perlahan mulai merasakan kemarahan saat manik matanya tertuju ke arah Bibir tipis Evelyne yang terluka hingga mengeluarkan sedikit darah.


Ia memang melihat apa yang di lakukan oleh Edgar pada Evelyne. Tapi ia menyangka bahwa mereka melakukannya secara bersamaan, tapi jika di lihat dari reaksi ketakutan serta luka di bibir wanita ini membuat ia sadar bahwa ciuman yang ia lihat sebelumnya adalah ciuman paksa.


Lelaki itu meraih dagu Evelyne, ia mengangkat kepalanya secara perlahan. Lalu mengusap dengan lembut pada luka itu, namun Evelyne yang merasakan sakit pun berdesis pelan. “Kau bilang, dia tidak mau hidup bersamamu. Lalu apa kau pikir, dia mau hidup dengan seseorang yang hanya memikirkan ego nya saja?” kata lelaki itu saat manik mata yang tajam beralih ke arah Edgar.


“Apa yang kau bicarakan? Dia mencintaiku, jadi dia pasti mau hidup bersamamu saat kalian berpisah nantinya” Edgar dengan percaya diri menganggap bahwa dirinya bisa memiliki Evelyne seutuhnya nanti.


Mendengar semuanya seperti lelucon, Lelaki itu pun tertawa dengan dingin. “Dia? Mencintaimu? Apa kau yakin sedang tidak bermimpi?” tanya lelaki itu yang membuat Edgar terdiam “Lihat! Dia saja sekarang berada di pelukanku, bukan di pelukanmu. Kau seharusnya sudah tahu, bahwa yang kau lakukan itu membuatnya takut jika di dekatmu.”


“T-tidak!! Tidak mungkin” Ucap Edgar dengan ketakutan.


Lelaki yang melihat reaksi itu pun tersenyum miring, lalu tangannya yang berada di pinggang ramping Evelyne kini beralih ke atas kepala wanita itu. Tangan yang besar terasa begitu hangat dan nyaman saat ia mulai bergerak membelai rambutnya dengan perlahan. “Tidak mungkin? Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya langsung kepadanya.”


Edgar tertegun saat melihat Evelyne tidak menolehkan sedikitpun pandangan kearahnya. Wanita itu terlihat seperti tengah menenggelamkan seluruh wajahnya di dekapan lelaki itu. Apa benar, yang dilakukannya tadi membuat Evelyne ketakutan? Apa yang dilakukannya itu terlalu kasar hingga membuat wanita yang dulunya selalu nyaman dengannya, kini memeluk orang lain karna takut dengan tindakannya.


“Y-Yoona?” panggil lelaki itu dengan suara yang pelan.


Evelyne menggeleng, tidak membuat suatu jawaban pada panggilan itu. Ia hanya terus menenggelamkan wajahnya hingga membuat lelaki itu tersadar bahwa wanita yang ada di dalam dekapannya ini tengah menangis.


‘Apa sebegitu menakutkan ciuman itu hingga membuatnya menangis?’


Lelaki yang merasakan perasaan tidak nyaman dari tubuh Evelyne pun membuat lelaki itu mengangkat tubuh kecilnya dalam gendongannya yang seperti koala. Evelyne tidak terkejut, tetapi ia hanya terdiam seraya meletakkan wajahnya di bahu lelaki itu.


Nafasnya yang hangat dari tubuh Evelyne membuat lelaki itu seperti merasakan aliran listrik tengah berjalan di dalam tubuhnya. Rasanya tidak enak, namun terasa nyaman jika melihat Evelyne seperti ini. “Kau ingin kembali ke kamar?” tanya lelaki itu seraya mengelus lembut punggung Evelyne untuk menenangkannya.


Evelyne mengangguk, dan lelaki itu kembali bertanya. “Lalu, bagaimana dengan lelaki ini? Apa kau akan melepaskannya begitu saja? Apa kau tidak ingin aku memberikan satu pukulan untuknya sebelum kita pergi?”


Evelyne menggeleng, lalu memiringkan wajahnya untuk menghadap ke leher jenjang lelaki itu. “Tidak perlu, biarkan saja dia. Aku hanya tidak ingin melihatnya untuk selamanya” ucap evelyne yang membuat lelaki itu dengan sontak terpaku di tempat.


Sial!! Bagaimana bisa wanita ini berbicara dengan nafasnya yang hangat membuat suatu keterkejutan dalam dirinya? Lelaki itu memang tidak tertarik pada Evelyne sebelumnya, tapi ia juga lelaki normal yang tidak akan tahan jika diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


Lelaki itu menarik nafasnya dengan dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan agar bisa mengembalikan tubuhnya dalam kondisi yang tenang. Setelah tenang, lelaki itu baru menatap Edgar dengan tatapan yang tajam seperti sedang menusuk wajah Edgar di tempat.


“Kau mungkin selamat untuk hari ini, tapi jika kau berani mengganggunya lagi maka aku tidak akan segan-segan untuk memberitahu kakek tentang ini”


__ADS_2