Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 106 : Evelyne memiliki kemiripan dengan Isabella.


__ADS_3

Sore harinya.


Setelah William selesai berbicara dengan tuan NIU di ruangannya pun segera kembali ke halaman kediaman untuk menemui Evelyne yang sebelumnya ia suruh untuk menunggunya disini, namun saat melihat lingkungan sekitar yang tampak begitu sepi. Serta tidak menunjukkan orang sedikitpun disana membuat William sedikit mencemaskan Evelyne.


“Y-yoona...” William berlari menghampiri mobilnya, lalu dengan cepat ia langsung membuka pintu mobil itu. Melihat bagian dalam yang tidak menunjukkan siapapun disana membuat William langsung berdecak dengan kesal!!!


Bruukk...


William memukul mobilnya dengan tangannya kuat, karna saat ia memasukkan setengah dari tubuhnya ke dalam mobil. William melihat selembar kertas note yang tertempel di setir mobilnya, dan itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Evelyne kepada-Nya.


Yoona : Kepala ku terasa pusing, tubuhku juga tidak enak. Aku akan pulang lebih dulu menggunakan taksi online, jadi tidak perlu khawatir. Aku juga sudah membelikan beberapa makan siang untukmu, kau makanlah setelah selesai berbicara dengannya. Hari ini, aku tidak pergi ke kantor.


“Sial...kenapa hal seperti ini selalu terjadi?!!” geram William dengan mengepalkan tangannya untuk menahan semua emosinya di dalam hatinya.


William tahu bahwa semuanya ia melakukan kesalahan kepada Evelyne, namun ia karna suasana diantara mereka menjadi canggung. William yang setelah pergi dari kediaman NIU, lelaki itu langsung mengemudi mobilnya menuju kantor tanpa berniat untuk mampir ke kediamannya sejenak.


...--🥀🕊—


...


Di kediaman tua Maxime.


Evelyne yang sedang duduk di halaman kediaman dengan raut wajah yang gelap pun membuat Dessy yang melihatnya pun merasa sedikit khawatir, karna sudah lama Evelyne tidak bercerita lagi tentang masalahnya seperti dulu. “Nyonya, apa anda baik-baik saja?” Tanya Dessy saat berjalan menghampiri Evelyne yang kini tengah memejamkan matanya serta menghadapkan wajahnya ke langit.


“Aku baik-baik saja bi, maaf bisakah biarkan aku sendiri? Aku ingin menenangkan diriku terlebih dahulu” Evelyne berkata dengan posisi mata yang masih tertutup.


Dessy menggeleng, lalu berdiri di samping kursi taman untuk menunggu Evelyne membuka matanya. “Nyonya, apa anda yakin?” tanya Dessy yang ragu. Ia beberapa kali melirikkan matanya kearah salah satu tangan Evelyne yang di penuhi oleh luka yang parah serta darah yang masih menetes keluar dari luka tersebut.


“Aku baik-baik saja bi, kau tidak perlu khawatirkan aku! Aku hanya butuh ketenangan saja...” Evelyne memindahkan tangannya yang terluka ke belakang tubuhnya, karna ia menyadari tatapan Dessy yang tertua tertuju ke arah tangannya. “Jika kau masih bersikeras untuk tetap berada di sini, duduklah di sampingku! Kau berdiri disana hanya membuatku merasa kesal saja, tahu?!”


Dessy mengangguk, lalu dengan perlahan ia duduk di bangku yang kosong tepat di samping Evelyne yang kini telah membuka matanya untuk memandang langit dengan waktu yang cukup lama. “Pasangan dalam pernikahan itu harus ada yang namanya rasa kepercayaan serta rasa cinta yang saling berhubungan. Pernikahan itu tidak bisa di lakukan dengan ego, melainkan dengan hati yang selalu mengalah kepada hati yang keras untuk menghindari suatu keributan di dalam pernikahan.” Dessy membuka suaranya di saat hembusan angin yang sejuk tengah mengarah kearah mereka.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Evelyne menoleh.


Sementara Dessy yang melihat Evelyne menatapnya dengan kebingungan pun langsung mengukirkan senyuman manis di wajahnya yang cantik. “Maksudku, seperti hubungan Nyonya dan Tuan.”


“A-aku dan Liam?” Evelyne menunjukkan dirinya sendiri dengan menatap Dessy yang tidak mengerti.


Dessy tertegun saat mendengar Evelyne memanggil William dengan kata Liam, namun rasa keterkejutan itu segera menghilang saat Dessy mengerti dengan permainan yang di lakukan oleh kenyataan untuk dunia ini. “Kau memiliki kemiripan yang sama ya dengan Nyonya Isabella, tidak kusangka aku masih bisa melihatmu walau aku tahu bahwa itu bukanlah dirimu yang dulu”


“Isabella? Siapa dia? Kenapa kau menyamakan aku dengannya?” Evelyne selalu bertanya-tanya dengan kakek dan Dessy untuk saat di mana mereka selalu mengatakan bahwa ia memiliki kemiripan dengan ibu kandung William yang sudah lama sekali meninggalkan William bersama dengan kakeknya disini. “Eum...bibi, apa kau mengenali wanita itu dengan baik? Kenapa kau bisa mengambil keputusan bahwa aku memiliki kemiripan dengannya?”


Dessy tersenyum “Bukan hanya mengenalnya saja, aku juga sudah menganggap Isabella sebagai keluargaku sendiri. Dia wanita yang baik, lembut dan perhatian. Dia seperti malaikat yang bertugas untuk memberikan cahaya kepada seseorang yang membutuhkannya, ia juga memiliki senyuman yang lembut dan wajahnya yang cantik. Tapi ada banyak hal yang terjadi sebelum ia meninggalkan dunia ini ke surga yang tidak pernah bisa kita lihat sebelum kematian yang mengantarkannya.”


“Dia susah meninggal?” Evelyne bertanya dengan nada pelan.


Sedangkan Dessy yang melihat Evelyne seperti tidak tahu apa-apa soal Isabella pun membuatnya berpikir bahwa William sudah begitu kejam untuk menyembunyikan ketraumatiknya kepada Evelyne. “Apa William tidak pernah menceritakan tentang Isabella sedikitpun kepadamu?” Tanya Dessy yang hanya di respon dengan sebuah gelengan kepala.


“Tidak ada, mungkin tuan memiliki alasan untuk dia tidak mau memberikan cerita itu kepadamu.” Dessy memegang tangan Evelyne dengan lembut, memberikan suatu kelembutan dalam sentuhan itu yang membuat Evelyne dengan sontak mengangkat kepalanya untuk melihat Dessy yang benar-benar memiliki jiwa seorang ibu yang kuat. “Isabella adalah putri satu-satunya dari keluarga maxime, ia selalu dimanja, disayangi dan dicintai oleh kedua orang tuanya sepanjang hari. Namun kehidupannya yang selalu di penuhi oleh kedua orang tuanya tidak sama sekali membuat Isabella menjadi anak manja, melainkan ia tumbuh berkembang dengan baik tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Hingga dimana hari pernikahan keluarga maxime, Isabella secara pribadi memberikan 5 perusahaan besarnya di luar kota. Itu sangat tidak bisa dipercaya, tapi juga sangat mengejutkan jika wanita seperti dia akan berhasil di dunia perbisnisan ini.”


“Ya, kau tahu itu? Bahkan aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia akan membuat suatu kejutan kepada orang tuanya, tapi dunia juga mengedarkan kehebatannya hingga nama Isabella tersebar di dunia perbisnisan.” Dessy meresponnya dengan semangat, namun dalam seketika ia juga berubah menjadi murung sebelum ia membuka suara kembali. “Tapi diatas kesuksesan yang ia capai dalam hidupnya, kini telah lenyap diambil suaminya saat ia meninggal dunia”


Evelyne mengerutkan keningnya. “Suaminya? Maaf...apakah suami dari Isabella adalah Tuan NIU?”


“N-nyonya, b-bagaimana kau bisa mengetahui itu?!” Dessy terkejut dengan jantung yang hampir berhenti berdetak, karna ia tidak menyangka Evelyne akan mengetahuinya.


Evelyne mengangguk “Sedikit, memangnya ada apa? Apa aku salah untuk mengetahui orang seperti itu?”


“B-bukan seperti itu. Aku hanya terkejut, karna nyonya sudah mengetahui itu lebih dulu sebetulnya saya meminta maaf karna sudah menyembunyikan semua ini dari nyonya” ucap Dessy dengan menundukkan kepalanya.


Evelyne melirik, menatap Dessy yang tampak aneh membuat ia sedikit kebingungan. “Untuk apa kau meminta maaf, lagipula ada spesialnya orang itu sampai kau harus menyembunyikannya dariku?”


“Bukan aku yang menyembunyikannya, tapi keluarga maxime lah yang sudah sepakat untuk menyembunyikan identitas keluarga tuan yang masih tertinggi agar nyonya tidak mengetahuinya.” Dessy menjawab semua pertanyaan Evelyne dengan perlahan.

__ADS_1


Evelyne terdiam sejenak, “Jika semuanya sudah terungkap, bisakah kau ceritakan semuanya kepadaku? Aku disini seperti orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang Liam, bahkan keluarganya saja tidak.”


“Aku bisa menceritakannya padamu, tapi nyonya...tolong jangan bicarakan ini kembali ke tuan jika tuan tidak memulainya, oke?” Dessy membuat suatu perjanjian terlebih dulu kepada Evelyne.


Evelyne mengangguk “Baiklah, jika itu yang kau mau.”


...--🥀🕊—


...


Malam harinya.


William yang baru sampai di kediaman melihat suasana di sana tampak begitu sepi membuatnya hanya terdiam untuk menaiki tangga menuju kamarnya. Saat ia ingin mengetuk pintu kamarnya, seketika tangannya terhenti karna ia berpikir bahwa ia sudah begitu larut malam dan William tidak ingin membangun seseorang yang ada di dalam kamarnya.


Bahkan walaupun kamar ini milik William, William akan selalu mengetuknya terlebih dahulu. Karna ini pertama kalinya William masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu, ia hanya bisa membuka pintu itu dengan perlahan hingga tidak menimbulkan sedikitpun suara yang akan membuat seseorang yang di dalam terbangun.


Setelah William membukakan pintunya, ia langsung melihat bagaimana kamar yang begitu gelap dan hanya menyisakan lampu tidur yang kini berada di atas lemari kecil di samping ranjang. Dan cahaya dari lampu tidur itu memperlihatkan seorang wanita yang sedang tertidur lelap di atas ranjang dengan mengerutkan sedikit keningnya.


William yang melihat itu pun langsung meletakkan tangannya di antara kerutan di dahinya, lalu mengelusnya secara perlahan agar kerutan itu tidak terus singgah disana. “Yoona, berhentilah mengerutkan keningmu saat tertidur! Itu sangat tidak baik”


“Eum...” gumam Evelyne dengan menggelengkan kepalanya.


Sungguh menenangkan jika melihat wajah Evelyne disaat rasa lelah kini tengah menyelimutinya, namun William sadar bahwa ia dan Evelyne sedang bertengkar karna sesuatu yang selalu ia hindari mati-matian untuk Evelyne. William yang kini menatap wajah evelyne dalam waktu yang cukup lama, membuatnya tersadar akan tangannya yang terluka begitu parah.


William sampai memalingkan pandangannya dari wajah Evelyne ke tangannya, lalu mengangkat dengan perlahan untuk melihat luka Evelyne lebih dekat lagi. “Lukanya cukup baru, apa dia terluka saat pulang dari kediaman? Atau terluka di halaman kediaman saat aku meninggalkannya?” William terus bertanya-tanya dalam perasaan yang menyesal.


Karna tidak ingin membuat tangan Evelyne menjadi terluka seperti ini, William pun pergi dari sana untuk mengambil kotak obat di dalam ruang ganti untuk mencoba mengobatinya secara diam-diam. William mulai mengobati Evelyne dengan perlahan, dari awal yang mengolesi obat betadine serta membalutnya dengan perban berwarna putih.


Setelah selesai, William baru merapihkan kembali kotak obat itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya. Lalu William tidur seperti biasanya di samping Evelyne diatas ranjang yang sama, namun saat William baru menidurkan tubuhnya diatas kasur. Membuat Evelyne langsung menghampirinya untuk memeluk William sebagai bantal gulingnya. Hal itu tentu saja membuat William sedikit terkejut, namun tidak akan terheran lagi jika Evelyne akan selalu menempel kepadanya saat di dalam hari atau lebih tepatnya saat ia tertidur.


“Selamat malam, sayang. Maaf sudah membuatmu dalam masalah hari ini”

__ADS_1


__ADS_2