
Sepulang dari luar kota, William selama perjalanan terus memasang raut wajahnya yang dingin. Tidak membuka suaranya untuk berbicara, bahkan saat Evelyne mencoba untuk mencairkan suasana William hanya meresponnya dengan acuh tak acuh. Hal itu tentu saja membuat Evelyne sedikit merasa bingung, namun ia juga merasa khawatir karna rasa dingin yang di tunjukkan oleh William saat ini adalah sikap yang pernah ia tunjukkan saat dulu.
“Liam...kamu kenapa?” tanya Evelyne dengan suara yang pelan.
William terdiam, dan terus terdiam hingga ia sampai di depan pintu aula kediaman. Semua pelayan sedikit terkejut saat melihat kepulangan William dan Evelyne terlalu cepat dari janji yang mereka katakan beberapa hari yang lalu. Disana, Dessy juga hendak menyambut kedatangan mereka. Namun saat ia baru keluar dari aula samping, Dessy langsung di perlihatkan sikap dingin William kepada Evelyne.
Aura, nada bicara dan tatapan matanya, William seperti tengah menatap Evelyne sebagai musuhnya. “Tuan, Nyonya....kalian sudah kembali? Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu? Bukankah kalian akan kembali minggu depan?” Dessy bertanya seraya menghampiri keduanya yang kini sedang terlihat seperti bertengkar.
Mendengar ucapan Dessy, membuat Evelyne dan William dengan sontak menolehkan kepalanya ke arah Dessy yang kini sudah berdiri di samping antara Evelyne dan William. “Bibi, maaf kami tidak sempat memberitahu bibi terlebih dahulu. Karena, Liam baru saja mengatakan bahwa ia memiliki urusan penting yang tidak bisa di tinggalkan. Jadi...kani terpaksa untuk pulang”
“Urusan?” Dessy terheran dan dengan sontak ia langsung menolehkan kepalanya kearah William. “kamu bilang, bulan ini kamu free. Kenapa baru setengah bulan kamu tiba-tiba hilang memiliki urusan?”
William terdiam sejenak, lalu dengan tak acuh ia memalingkan wajahnya sebelum kakinya yang panjang mulai melangkah untuk pergi. “Masalah ini, aku tidak bisa meninggalkannya. Jadi aku memutuskan untuk pulang, dan Yoona sendiri juga tidak terlihat keberatan.” Ucap William dan pergi.
Sementara Evelyne dan Dessy yang mendengar itu pun langsung terdiam, bahkan hanya menatap kepergian William dengan tatapan yang kebingungan. “Nyonya, apa anda baik-baik saja?” Dessy mencemaskan perasaan Evelyne saat melihat sikap dingin William mulai di tunjukkan kepadanya lagi.
“Aku baik-baik saja, bibi” angguk Evelyne dengan terdiam.
...--🥀🕊—
...
5 jam yang lalu.
William yang tengah menikmati udara segar di taman bunga bersama Evelyne seketika bunyi HP dari William mengganggu suasana mereka. “Siapa itu?” tanya Evelyne dengan penasaran. Sedangkan William dengan sekilas mengecup kening Evelyne sebelum ia beranjak bangun dari tidurnya. “Maafkan aku, kamu tunggulah sebentar disini! Aku akan segera kembali saat selesai menerimanya”
“B-baiklah” Angguk Evelyne dengan sedikit kebingungan.
Sementara William yang sudah mendapatkan persetujuan Evelyne pun langsung pergi keluar kamar untuk menghindari Evelyne mendengar pembicaraan mereka dari telpon. Evelyne menunggu William yang tengah menerima telpon di luar kamar hotelnya, membuat Evelyne sedikit merasa gelisah jika memikirkannya.
Disisi lain, William yang sudah berada di luar pun langsung mengangkat telpon itu dengan raut wajah yang sangat dingin. “Ada apa?” tanya William saat telponnya sudah tersambung dan terdengar beberapa suara kebisingan dari dalam telpon. “William...bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya, kamu juga sudah sangat jarang untuk mampir kesini. Apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
“Aku baik. Tuan WU menghubungiku pagi-pagi sekali, ada apa?” tanya William dengan nada dinginnya.
Tuan WU tertawa “Tidak ada, aku hanya ingin berbicara denganmu. Tapi...kurasa tanpa aku memberitahumu, kau pasti sudah mengetahuinya lebih dulu bukan?”
“....” William terdiam, sedangkan Tuan WU kembali melanjutkan perkataannya. “Ahh...sepertinya wanita tua itu tidak memberitahumu secara langsung ya. Baiklah...aku akan menjelaskannya padamu terlebih dahulu. Aku ingin mencabut pembatalan pernikahanmu dengan clara, kalian bisa menikah setelah aku pencabutan itu. Aku tidak tahu kalau lelaki yang cintai oleh putri kesayanganku itu adalah dirimu, mungkin jika aku mengetahuinya aku tidak akan mungkin membatalkan pernikahan itu secara sepihak. Aku tahu, kalian masih saling mencintai. William, apa kamu masih bersedia menerima putri sebagai istrimu?”
William mengerutkan keningnya “Aku sudah menikah, tidak bisa kembali ke cinta masa laluku”
“Hahah...William, apa yang kau katakan? Tidak bisa bagaimana? Kamu mencintai putriku, dan putriku juga mencintai dirimu. Lalu apa yang tidak bisa untuk membuat kalian menikah? Apa kau takut istri pertamamu melarangnya?” Tuan WU berkata dengan arogan “kau di dalam keluarga itu adalah kepala rumah tangga, jadi...dia tidak berhak untuk mengatur dirimu”
William menghela nafasnya dengan perlahan “Jadi...kau ingin aku menikahi putrimu sesuai dengan perjanjian kita dulu?”
“Ya, seperti yang kau tahu. Putriku sudah menginjak usia matang untuk menikah, jadi aku ingin kamu secepatnya melakukan persiapan pernikahan untuk kalian” ucap Tuan WU dengan senyuman liciknya.
William mengangguk “Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya beberapa bulan lagi.”
“Siapa yang mengatakan kamu harus mempersiapkan itu?” tuan WU memotong perkataan William hingga membuat lelaki itu sedikit kebingungan. “Aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu tinggal datang ke kediaman untuk siang hari, acaranya akan di mulai saat itu juga”
Dia sekarang berada di luar kota, membutuhkan beberapa jam untuk kembali ke kediamannya. Hal itu tentu saja membuat William terpaksa untuk menunda rencana yang ia buat untuk Evelyne, dan ia juga harus kembali seperti dirinya yang dulu. Bagaimana ia memandang Evelyne sebagai Yoona, bukan wanita yang kini ia cintai.
Setelah pembicaraan mereka selesai, William langsung mematikan telponnya. Ia juga menyandarkan tubuhnya di dinding seperti orang yang tengah menenangkan dirinya.
Sementara di dalam kamar, Evelyne yang tengah menatap layar HP dengan raut wajah yang serius membuat suasana di dalam kamar terasa begitu canggung untuk dirinya sendiri. Evelyne melihat sebuah berita yang mengabarkan bahwa Clara akan menikah dengan seorang lelaki. Namun di dalam berita itu, wajah dari lelaki yang akan di nikahi oleh clara sama sekali tidak di perlihatkan dalam posternya.
Berita itu beredar dengan begitu cepat, banyak orang yang mengomentari serta penasaran dengan siapa lelaki yang berhasil mendapatkan hati wanita cantik seperti Clara. Itu adalah suatu keberuntungan, namun menjadi suatu keirian muncul di hati para lelaki. “Dengan siapa dia menikah? Apa dia bisa semudah itu melepaskan liam?”
Kreekk.
Pintu kamar terbuka dari luar, menampilkan seorang lelaki yang tengah berjalan masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang sangat dingin. Aura yang di keluarkan oleh lelaki itu juga sangat gelap hingga Evelyne sendiri merasa bingung dengan mood buruk apa yang di rasakan oleh lelaki ini. “Liam, ada apa denganmu? Apa kau sudah selesai menerima telpon? Lalu siapa tadi? Apa itu dari kantor?”
“Berisik!! Kita batalkan rencana pagi ini. Ayo kita pulang!!” bentak William dengan menarik kasar tangan Evelyne.
__ADS_1
Evelyne terlonjat kaget, dan ia juga merasa terheran dengan kemarahan yang di rasakan oleh William saat ini. “L-liam, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku...itu sangat sakit!!?” rintih Evelyne dengan berusaha menahan dirinya agar tidak terus tertarik oleh lelaki ini.
“Bisa diam tidak?!! Kita akan pulang, aku memiliki masalah di kantor. Jadi batalkan semua rencana kita hari ini” William benar-benar mengatakan semuanya dengan kejam. Tidak ada kelembutan yang ia perlihatkan pada Evelyne saat ini.
Evelyne kesakitan, namun ia juga merasa aneh dengan sikap William yang secara tiba-tiba berubah seperti ini. Apa dia marah saat melihat berita Clara akan menikah dengan seseorang? Apa dia masih mencintai Clara hingga itu membuatnya semarah ini?
...--🥀🕊—
...
Evelyne dan Dessy terdiam di aula utama dengan suasana yang sangat canggung, namun suasana itu seketika berubah saat William turun dari lantai 2 dengan pakaiannya yang sangat rapih. Style itu terlihat seperti baju pengantin laki-laki, dan Evelyne sedikit merasa tidak nyaman saat melihat William tiba-tiba mengenakan pakaian tersebut.
“Liam, kamu ingin kemana? Kenapa berpakaian seperti ini?” tanya Evelyne dengan menghentikan langkah kaki William.
William melirik sekilas, lalu dengan dingin ia kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan Evelyne. “Paman, siapkan aku mobil untuk pergi sekarang!!” ucap lelaki itu dengan suara dingin saat melewati pintu keluar aula.
Melihat kepergian William yang seperti itu membuat Dessy sedikit merasa kasihan dengan Evelyne, “Tuan memiliki banyak urusan, mungkin kalian bisa menikmatinya lain hari” ucap Dessy dengan memeluk Evelyne untuk menenangkannya. “Urusan kantor atau urusan cinta?” Evelyne membantah.
“Hah? Apa maksudmu?” Dessy terkejut.
Evelyne terkekeh pelan seraya mengasihani dirinya sendiri. “Liam masih mencintai Clara, apa itu benar bibi?”
“Tidak, apa yang kau katakan? Tuan sama sekali tidak pernah memiliki perasaan dengan nona Clara. Nyonya, kenapa anda bisa bicara seperti itu?” tanya Dessy.
Evelyne mengambil hpnya dari dalam tasnya, lalu menekan beberapa kali layar pada hpnya sebelum ia menunjukkan kepada Dessy. “Clara hari ini menikah dengan seseorang, undangannya tersebar luas di satu negara. Aku merasa bahwa Liam...tidak rela Clara menikah dengan seseorang.”
“N-nyonya, kenapa kamu memiliki pemikiran yang seperti itu?” panik Dessy.
Ting!!
Suara pesan masuk dari hp Evelyne yang datang dari kontak William. Evelyne sedikit saat menerima pesan tersebut, karna William hanya mengirim satu kalimat yang cukup aneh untuk nya.
__ADS_1
William : Pakai baju yg ada di dalam kamar dan pergi ke tempat yg aku kirimkan!