
“Sekarang aku tanya, apa yang kau lakukan disana?!!” Tanya William seraya menahan kedua tangan Evelyne ke dinding. Lelaki itu sedang marah, namun evelyne hanya menganggapnya seperti sesuatu yang tidak perlu ia takuti. “Eughh... Tuan itu sakit?! Lepaskan aku!!” Rintis Evelyne yang mencoba melepaskan tahanan William dari tangan Evelyne.
William menghela nafasnya yang berat, membuat Evelyne mengangkat kepalanya untuk menatap lelaki itu dengan raut wajah yang kebingungan. “T-tuan, ini begitu sakit. T-tolong kendurkan sedikit jika kau tidak ingin melepaskannya” mohon Evelyne dengan wajah yang menyedihkan.
“Tidak! Kau pikir aku tidak tahu, jika kau akan kabur setelah aku mengendurkan ini”
Bantah William yang membuat Evelyne merasa tercyduk karna niatannya diketahui oleh William. “Huh... Menyebalkan! Kenapa selalu seperti ini, kalau ketemu.” Protes Evelyne dengan mengembangkan pipinya yang tembem. William yang mendengar hal itu pun terdiam, “Apa maksudmu?”
Evelyne berdecih “Kau menyebalkan, tuan!! Jika kau memang tidak suka denganku, kau juga tidak boleh melakukan kekerasan seperti ini padaku! Aku bisa Terima jika di pernikahan ini tidak memiliki suatu perasaan, tapi Aku tidak Terima jika kau terus melakukan kekerasan dibalik rasa kebencianmu padaku!!”
Evelyne memalingkan wajahnya ke samping, sementara William hanya terdiam lalu secara perlahan penahan tangannya itu terasa sedikit longgar dan hal itu membuat Evelyne kembali menatap William yang sudah melepaskan tangan Evelyne hingga terlihat bekas kemerahan pada pergelangan tangannya.
“Kembalilah ke kediaman, aku tidak ingin melihatmu lagi disini”
William dengan raut wajahnya yang gelap pergi meninggalkan Evelyne di dalam gang sana seorang diri, sementara lelaki itu kembali ke cafe untuk menemui partnernya yang sudah begitu lama menunggunya. “Wey, darimana aja? Pergi gak bilang-bilang” kata lelaki itu saat melihat William duduk di sofa sebrangnya dengan raut wajah yang gelap.
William terdiam, sementara lelaki itu mengerutkan keningnya saat melihat perubahan William saat pergi tadi. “Habis marah dengan siapa lagi kau?” tanya Lelaki itu seraya menatap William dengan tatapan seriusnya. “Kau memiliki hubungan apa dengan wanita tadi?”
“Tidak ada” jawab singkat William
“Tidak ada? Lalu kenapa aku sedikit mengira kalau itu adalah Yoona Jiang? Wanita yang sudah menikah denganmu setahun yang lalu?” tanya lelaki itu yang sedikit memojokkan William. Sementara William hanya menghela nafasnya saat mendengar tebakan itu “Jika iya, memangnya ada urusan apa kau menanyakannya?”
Lelaki itu tertawa, “Biasa saja donk, ngomongnya! Kenapa kau begitu sensi sekali sih akhir-akhir ini? Tanya lelaki itu yang sedikit meredakan emosi William. “Ngomong-ngomong, kalau itu adalah Yoona kenapa dia sedikit berbeda ya dari yang dulu? Apa terjadi sesuatu lagi hingga membuat ia berakting seperti ini?”
William menggeleng, “Untuk saat ini aku tidak tahu dia berakting atau tidak, tapi yang jelas dia sangat aneh”
“Aneh? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu dengan kebingungan.
William melirikkan matanya kearah lelaki itu “Aku terlalu malas untuk menjelaskan, Jadi tunggu saja sampai ada suatu kejadian yang membuatmu paham bagaimana dirinya sekarang”
“.... “ lelaki itu terdiam seraya menatap William tengah meminum minuman yang telah ia pesan sebelumnya.
...──────ೋღ 🌺 ღღೋ───────
...
Disisi lain Evelyne yang baru saja keluar dari sebuah toko untuk membeli sesuatu, ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang tengah berdiri di depannya seraya menunjukkan senyuman diwajahnya. “Hey kakak ipar, apa yang kau lakukan disini?” tanya lelaki itu seraya melambaikan tangannya setinggi dada.
Evelyne mengangguk “Tuan Surya, apa yang kau lakukan disini?”
“Aah... Tidak ada, hanya menyegarkan tubuh saja setelah melayani beberapa pasien hari ini. Kau sendiri habis membeli apa?” Tanya surya dengan santai
Evelyne yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan surya pun hanya tersenyum seraya menjawab apa yang ditanyakan oleh lelaki itu padanya. “Aku habis membeli beberapa makanan ringan untuk cemilanku dikamar dan obatku juga habis, jadi perlu keluar untuk membelinya”
“Obat? Obat apa yang habis? Bukankah obat yang ku berikan, baru saja Dessy ambil ya? Bagaimana bisa habis secepat itu?”
Evelyne terpojok, merasa dirinya telah salah bicara pun membuat ia terkekeh kecil sembari melambaikan tangannya setinggi dada. “Ahh... Tidak ada. Lupakan saja! Itu sangat tidak penting”
“Maaf tuan surya, sepertinya saya sudah tidak bisa berlama-lama disini. Jadi saya izin pamit dulu. Permisi” kata evelyne sembari berjalan pergi meninggalkan surya yang masih belum menjawab ataupun merespon perkataannya.
Surya menatap punggung Evelyne yang telah menjauh dari pandangannya membuat manik mata tajam dari lelaki itu seketika membuat beberapa orang yang tengah berjalan di sekitarnya langsung bergidik merinding. “Jika bukan obat milikku, lalu apa itu...”
Baru saja Surya menundukkan kepala kebawah, ia langsung dikejutkan oleh sebuah kemasan obat yang tergeletak di tanah tepat berdirinya evelyne sebelumnya. “Sudah kuduga, jika ia mengonsumsi obat ini!” kata Surya seraya mengambil obat itu lalu menatapnya dalam diam.
__ADS_1
“Obat Temazepan”
...──────ೋღ 🌺 ღღೋ──────
...
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki yang begitu cepat memasuki halaman kediaman hingga membuat beberapa orang yang ada di dalam ruang tamu menolehkan kepalanya kearah pintu dan melihat seorang wanita tengah berjalan cepat memasuki kediaman tanpa memperhatikan sekitarnya.
“Hey!! Tidak sopan sekali, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.” kata salah satu wanita yang sedang duduk di sofa seraya mencibir Evelyne yang baru saja masuk ke dalam kediaman.
Evelyne menghentikan langkahnya tepat di depan tangga, lalu berbalik badan untuk melihat 2 wanita tengah duduk di sofa dan Dessy yang tengah berdiri di sudut ruangan. “Kalian? Ngapain disini?” Tanya ketus Evelyne
“Yaa... Cari kakak tertua lah! Ya kali kesini buat cari orang seperti kamu” cibir wanita itu seraya menatap kukunya yang indah. “Dimana kakak tertua?! Kenapa dia tidak ada disini?”
Evelyne menggeleng, “Mana ku tahu, lagipula kemana perginya dia itu bukan urusanku”
“Kamu?!!” wanita itu menunjukan kearah evelyne dengan kesal sementara wanita satunya menahan wanita itu untuk melakukan sesuatu yang buruk disana. “Hey sudahlah tenang, nanti kak William sebentar lagi kembali kok”
“Dia mungkin akan kembali terlambat” bantah evelyne dengan suara datarnya membuat kedua wanita itu dengan sontak menolehkan kepalanya kearah berdirinya ia. “Apa maksudmu? Dia kan hari ini libur di pekerjaan kantornya, kenapa bisa pulang terlambat?” Tanya wanita itu dengan nada lembutnya
Evelyne yang mendengar itu juga merasa telinganya sedikit gatal Karna bayinya itu adalah sesuatu yang berlebihan. “Tadi aku melihatnya ia datang ke cafe bersama seseorang dan sepertinya mereka sedang berbincang sesuatu yang penting.” Jelas evelyne yang membuat salah satu wanita itu merasa sedikit terheran akan dirinya.
-Kenapa wanita ini dengan mudah memberitahu dimana kakak tertua pada kami?-
Wanita itu menatap evelyne dengan tajam, namun pikirannya berpikir secara keras Karna sikap wanita ini tidak biasanya seperti ini. Bahkan dulu saja jika ia meminta informasi keberadaan William, pasti akan selalu bertengkar dulu atau semacamnya. Tetapi... Kenapa sekarang berbeda? Kenapa wanita ini dengan mudahnya menjawab pertanyaan dari kami?
Tut..tut.. Tut..
“Mungkin, kata dia juga kakak tertua sedang bersama orang lain. Dan kemungkinan besar dia sedang melakukan sesuatu penting, jadi tidak bisa mengangkat telponmu dulu.” Jawab wanita itu yang menenangkan temannya.
“Dimana?”
“... “
“Pulanglah dulu! Ada seseorang yang mencarimu disini”
“... “
“Pulang saja! Nanti kau juga akan tahu!”
ke2 wanita itu terdiam saat melihat evelyne tengah berbicara dengan seseorang di dalam telponnya. Setelah selesai, evelyne kembali menyimpan hpnya didalam saku roknya. Lalu menatap kearah 2 wanita itu sembari berkata “Aku sudah menghubunginya, dan dia akan segera kembali. Jadi tunggulah disini!”
Wanita itu tertegun, “Dia? Siapa dia yang kau maksud?”
“Tuan William Maxime” jawab evelyne dengan menyebut nama serta marga dari lelaki itu.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne langsung berbalik badan dan berjalan menaiki tangga tanpa menunggu ke2 wanita itu menjawab perkataannya. Disisi lain, ke2 wanita itu hanya terdiam dan tercengang dengan apa yang baru saja evelyne katakan tadi.
“Kakak tertua menjawab telponnya? Sementara telpon kak clara diabaikan?”
Wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan, dan bahkan dirinya tidak menyadari bahwa teman yang ia sebut clara tengah memandang ke arah tangga dengan tatapan yang tajam, serta kebencian yang mendalam.
__ADS_1
Disisi lain, Evelyne yang baru saja masuk kedalam kamar langsung merapihkan semua barang belanjaan yang baru saja ia beli. Bahkan beberapa cemilannya ia susun dilaci dengan rapih agar semuanya muat didalam lemari kecil milik-Nya.
“Oke, semua cemilan sudah selesai. Sekarang tinggal obatnya... Eh??”
Evelyne tertegun saat melihat tasnya sudah kosong tak berisi dan tidak melihat satu kotak pun di sana. “Lho... Kemana kotak obatnya?!” Tanya evelyne seraya mengaduk-ngaduk isi tasnya tersebut.
“Ahhhh.... Kemana kotaknya? Kenapa disini tidak ada?!!”
Evelyne mengacak-acak rambutnya Karna kesal, dan pandangan mata dari wanita itu juga terus melihat sekeliling untuk melihat kotak yang ia cari. Takut akan terselip, ia pun langsung beralih dengan cepat menuju lemari kecil tempat ia menyimpan semua cemilannya.
Tanpa pikir panjang, Evelyne pun langsung mengeluarkan semua cemilan tersebut dari dalam laci. Lalu melemparkannya dengan asal seraya mencari ditiap sudut laci tersebut. Namun sayangnya, saat ia sudah mengeluarkan semua cemilan tersebut dari dalam lemari, evelyne masih saja belum menemukan kotak obat yang ia maksud.
Disana evelyne hampir emosi setengah hati Karna barang berharga miliknya telah hilang, ditambah lagi dengan moodnya yang sekarang tidak stabil membuat nya semakin memperbesar masalahnya. “Perasaan kotak itu ada didalam tas ku sejak keluar dari toko itu! Kenapa sekarang menghilang?!”
Aagghh... Pusing sekali! Mana obat itu sisa satu di toko yang biasa ia membelinya. Dan sekarang sudah habis Karna ia sudah mengambil sisanya.
Ditengah kepusingan evelyne yang cukup lama, ia pun baru tersadar akan sesuatu yang membuat suatu harapan muncul di hatinya. “Oh ya, tadikan aku bertemu tuan Surya didepan toko. Apa kemungkinan, kotak itu jatuh ya?” Tanya evelyne pada dirinya sendiri “Ya... Mungkin saja disana! Semoga tidak ada yang mengambilnya deh.”
Setelah berlama-lama disana, Evelyne pun langsung beranjak dari duduknya pergi berlari keluar dari kamar. Membuat suara berisik yang membuat orang yang ada di ruang tamu, semuanya menatap kearahnya dengan kebingungan. Bahkan saat menuruni tangga, evelyne langsung berlari begitu cepat hingga membuat Dessy yang ada disana bergidik ketakutan.
“Nyonya, jangan berlari-lari di tangga nanti terjatuh!!” tegur Dessy
Evelyne mengangguk, dan saat dilantai bawah ia mulai memperlambat sedikit larinya disana. “Dessy aku akan keluar sebentar. Ada sesuatu yang kulupa... Aahh..”
Bruukk..
Evelyne terjatuh ke lantai saat berlari tepat di depan pintu. Dessy yang melihat itu pun segera menghampiri evelyne namun Seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki dengan tubuh yang tegak dan tinggi tengah berdiri didepan pintu.
“Aduhh.. Ini apaan sih, ngalangin aj... a” kata evelyne saat mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang telah ia tabrak.
Dan benar saja, baru saja ia melihat sosok lelaki tengah berdiri didepannya membuat mulutnya seketika terbuka sedikit akibat terkejut. “Apa yang kau lakukan?!” Tanya lelaki itu dengan nada dinginnya menatap evelyne yang tengah duduk tergeletak dilantai.
“T-tuan?” cicit evelyne seraya bangun dari duduknya serta merapihkan penampilannya yang sedikit berantakan. “Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja. Maafkan aku, maafkan aku” kata evelyne yang menundukkan beberapa kali kepalanya dengan rasa malu dihatinya.
-Kau memang benar-benar bodoh!-
William terdiam sejenak saat melihat evelyne tampak terburu-buru akan sesuatu. Sementara evelyne kembali menatap William seraya berkata “Tuan izin keluar untuk mencari barang!”
Evelyne berlari melewati William tanpa menunggu jawaban darinya. Sedangkan William hanya memiringkan kepalanya untuk melihat evelyne berlari ke halaman kediaman dengan cepat. “Apa yang terjadi?” Tanya William saat menatap Dessy dengan tatapan dinginnya.
Dessy menggeleng, “Saya kurang tahu, tuan. Tapi kelihatannya nyonya sedang mencari sesuatu yang hilang”
William hanya terdiam saat mendengar jawaban dari Dessy dan disisi lain ke2 wanita yang sudah menunggu William cukup lama pun langsung berlari keluar saat mendengar suaranya. “Hallo kakak tertua” sapa jessica dari balik pintu dengan senyuman riang di wajahnya.
“Kak William” sapa halus clara yang membuat William melirikkan matanya kearah wanita itu.
William tertegun, berpikir sejenak apa maksud dari semua ini. Karna sebelumnya ia mendapatkan telpon dari evelyne yang mengangkat bahwa ada seseorang yang mencarinya. Tetapi saat ia sudah sampai kesini, bukan hanya ditinggal oleh wanita tengik itu. Melainkan ia juga harus berhadapan dengan jessica serta clara.
-Jadi orang yang mencariku itu adalah mereka?-
-Dasar wanita sialan! Berani kau mempermainkan aku!-
William mengepalkan tangannya saat menahan emosi yang tidak dapat ia keluarkan. Hatinya terus meruntuki Evelyne dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berbincang cukup lama. William pun berjalan menaiki tangga untuk beristirahat sejenak dikamarnya, namun saat ia sampai disana dan baru saja pintu itu terbuka dengan lebar.
Sekujur tubuh William seketika terpaku ditempat saat melihat kondisi kamar yang begitu menguji kesabarannya. “Y-Yoonaa!!!”