Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 28 : Sebenarnya siapa dia?


__ADS_3

Mendengar pertanyaan itu, salah satu dari orang yang berada di dalam bangunan itu pun dengan sontak menolehkan kepalanya kearah sumber suara itu, atau lebih tepatnya lagi didepan pintu yang sudah ada William serta beberapa penjaga yang tengah berdiri di sana. Penjaga yang membawa Evelyne datang ke tempat ini pun langsung menundukkan kepalanya saat melihat William tengah berjalan masuk ke dalam bangunan itu dengan raut wajah yang kesal.


Manik matanya yang tajam terus terpaku pada seorang wanita yang sedang memainkan sebuah piano di depannya, bahkan wanita itu tidak berbalik arah saat ia memasuki tempat itu. Disisi lain, para penjaga yang masih mendengar alunan musik dari piano tersebut membuat mereka benar-benar mengagumi wanita itu. Karna ini adalah pertamanya mereka mendengar irama yang halus dari seorang wanita beraura gelap.


William yang hampir berjalan mendekat kearah Evelyne seketika langkahnya terhenti saat mendengar wanita itu menghentikan petikannya pada piano tersebut. “Tuan, apa yang sedang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang sibuk merayakan pesta ulang tahunmu itu?” tanya Evelyne dengan suara yang membuat William tertegun.


Karna suaranya begitu dingin, tidak ada reaksi berlebihan dari tubuhnya. Bahkan saat ini dia begitu saat menyadari bahwa orang yang berada dibelakang-Nya tengah kesal akan tindakannya. “Apa yang kau lakukan disini?!!” William mengulang pertanyaan sebelumnya hingga membuat Evelyne membalikkan arah kursi itu menghadap kearah William.


William dapat melihat begitu jelas, seorang wanita yang sedang duduk di kursi dengan kaki yang menumpu salah satu kakinya. Posisi duduknya juga tidak asing bagi William yang melihatnya. Berbeda dengan para penjaga yang terkejut saat melihat sosok wanita itu adalah ‘Evelyne’ dan bukan orang yang mereka kira jenius.


“Aku hanya bermain alat music saja, dan anda? Apa yang anda lakukan disini?”


Evelyne merespon pertanyaan William layaknya seperti orang asing, membuat semua orang disana dibuat terkejut saat mendengar perkataan itu terlontar di mulut Evelyne.


-Hey! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau berkata seperti itu?-


Entahlah, Evelyne tidak tahu kenapa dirinya beraksi seperti ini. Dan bahkan kontrol dari tubuhnya seketika di kontrol oleh sesuatu hingga membuatnya tidak bisa untuk menahan dirinya. Disisi lain, William terus memandang evelyne dengan tatapannya yang tajam, seperti ingin membunuh namun tidak bisa karna ada beberapa penjaga disini.


“Kembali ke kediaman!” tekan satu kalimat dari William yang sama sekali tidak ditanggapi baik oleh evelyne. “Aku masih ingin disini, jika kau sudah selesai maka kembalilah sendiri. Aku akan kembali nanti” ucap Evelyne seraya membalikkan arah kursi itu membelakangi William, sementara William yang sudah tidak bisa menahan diri pun langsung menarik kasar tangan putih Evelyne dari sana. Lalu menyeretnya pergi meninggalkan bangunan musically itu.


Evelyne terkejut akan tindakan kasar dari William, dan ia juga sedikit meringis kesakitan akan cengkraman tangan besar William pada lengan evelyne. “Tuan, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!” evelyne berkali-kali mengayunkan tangannya untuk melepaskan cengkraman tersebut, namun sayangnya ia kalah kekuatan dengan lelaki yang ada di depannya ini.


“Tuan, kau tidak bisa melakukan sesuatu kasar sekali ini!! Lepaskan aku!!”


Evelyne yang ikut terbawa emosi karna tindakan kasar dari William pun secara sontak langsung membentak lelaki itu serta menatapnya dengan tatapan yang tajam. William yang mendengar bentakkan untuk pertama kalinya Evelyne melakukan itu padanya membuat ia harus menghentikan langkahnya, serta menolehkan kepalanya hingga manik matanya yang tajam membuat suatu peringatan pada Evelyne.


Evelyne yang tidak takut akan tatapan tersebut pun seketika langsung menghempaskan tangan William ke udara. Dan hal itu membuat cengkraman dari tangan William terlepas dari lengannya. “Apa yang kau lihat?!! Apa kau pikir dengan menatapku saja, akan membuatku takut denganmu?” kata Evelyne yang benar-benar tidak menyukai apa yang dilakukan oleh William untuk malam ini.


“Aku tidak suka kau datang ketempat itu, jadi jangan pernah pergi lagi ketempat itu atau aku akan membunuhmu!” acam William yang terdengar tidak main-main.

__ADS_1


Evelyne tertawa keras saat mendengar hal itu, menatap William dengan senyuman miring nya seraya berkata “Kau ingin membunuhku? Apakah kau sedang bercanda?”


William tertegun saat melihat ekspresi wajah Evelyne yang berubah secara drastis saat mendengar ancamannya. Tidak ada rasa takut serta gemetar ditubuhnya, melainkan Evelyne malah menantang balik ancaman William secara terang-terangan. Hal itu membuat William hendak mengeluarkan kata-kata kembali, namun saat ingin membuka suaranya...


“Kak William...”


Suara wanita yang memanggil namanya dengan lembut membuat semua pertengkaran mereka terhenti di separuh jalan, dan bahkan William sekilas melirik kan matanya untuk mencari sumber suara itu datang. Sementara Evelyne yang tidak ingin memperpanjang masalah pun menghela nafasnya hingga membuat William kembali menolehkan kepala kearahnya.


“Dia mencarimu tuh, kau kembalilah ke tempatmu. Jangan membuat orang khawatir! Jarang sekali lho, ada wanita yang rela mencari pasangannya sampai sini, sendirian lagi.” Kata Evelyne yang merubah nadanya menjadi pelan.


William terdiam, memalingkan wajahnya dengan kerutan di dahinya masih terlihat. “Jika kau masih mempermasalahkan yang tadi, maka selesaikanlah acaramu terlebih dulu! Baru kita bicara” Evelyne berkata seraya pergi meninggalkan William yang masih terdiam ditempat sembari menenangkan emosinya.


Setelah dirasa emosinya sudah sedikit mereda, William menolehkan kepalanya kearah perginya Evelyne. Menatapnya begitu lama dengan tatapan dinginnya, hingga membuatnya tak sadar ada seseorang yang berjalan mendekatinya. “Kak William, apa yang kau lakukan di sini?”


William terkejut saat lengannya terasa dipegang oleh sesuatu dan dengan spontan ia menghempaskan lengannya tersebut hingga pegangan itu ikut terlepas. “Clara?!” Kata William saat melihat Clara sudah berada disini dengan raut wajah yang cemas. “Apa yang kau lakukan disini?”


Clara menunduk, “Kak William pergi terlalu lama, jadi aku memutuskan untuk mencarimu sampai kesini”


Semua pertanyaan itu terus menganggu pikirannya, hingga satu kalimat membuat William secara spontan menghentikan langkahnya.


“Sebenarnya siapa dia?”


Clara yang melihat William secara tiba-tiba berhenti membuat dirinya sedikit kebingungan dengan sikap William malam ini. “Kak William, ada apa? Apakah ada masalah” tanya Clara seraya menatap wajah dingin William dengan wajahnya yang cemas.


William menggeleng, “Tidak, ayo kembali ke aula!”


...__🥀🕊__


...

__ADS_1


Disisi lain, Evelyne yang baru saja sampai di kediaman tua langsung dihentikan oleh penjaga yang sebelumnya ia bawa kebangunan musically. “Nyonya, maafkan kesalahan saya yang sudah membuat Anda di marahi oleh tuan. Saya menyesal sekali, nyonya” kata penjaga itu seraya menundukkan kepalanya.


Evelyne menggeleng, lalu tersenyum. “Ini bukan salahmu kok, ini salahku yang pergi kesana tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya. Jadi wajar saja jika ia akan memarahiku seperti itu.”


Penjaga itu terdiam, sementara Evelyne hanya menepuk pelan salah satu baju penjaga itu. “Tidak perlu kau pikirkan masalah ini. Aku yakin besok semua akan mereda, Jadi kembalilah ke tempatmu dan jangan lupa beristirahat dengan baik!”


“Baik nyonya besar!” Ucap tegas penjaga itu dengan senyuman diwajahnya.


Sementara Evelyne berjalan masuk ke dalam kediaman dan menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Sepanjang jalan, Evelyne hanya terdiam tidak bersuara sedikitpun. Bahkan disaat suasana sedang sunyi, ia malah membuatnya semakin membuat suasana menjadi lebih sunyi dan tidak memiliki niatan untuk menghilangkan kesunyian tersebut.


Sesampainya dikamar, Evelyne langsung pergi ke balkon. Termenung disana cukup lama hingga pikirannya membuat ia mengingat sesuatu yang dulu.


...----


...


5 tahun sebelumnya.


Prangg!!


Piring terbanting begitu kencang tepat di depan seorang gadis kecil yang tengah menangis. Disana juga ada seorang lelaki tua yang tengah memegang tali sabuk ditangannya, dan bersiap untuk memukul gadis itu jika tidak berhenti menangis.


“Berapa kali aku harus bilang, jangan bermain music ya jangan bermain music!! Kenapa kau begitu keras kepala, huh?!!”


Gadis itu terisak, “Aku hanya ingin bermain itu, ayah. Kenapa kau melarangku?”


Sraaakk!


Lelaki tua itu memukul gadis kecil dengan tali sabuk yang di tangannya hingga membuat baju dibagian pinggang gadis itu robek dan memperlihatkan sebuah darah segar mengalir keluar. “Masih berani menjawab, huh?!! Aku kan sudah bilang jangan ya jangan!!! Apa kau ini tuli?!”

__ADS_1


Gadis itu hanya menangis, tidak menjerit sedikit dari rasa sakit dan rasa perih dibagian pinggangnya. Disisi lain, seorang wanita yang jauh lebih tua dari gadis itu berlari menghampirinya. Lalu memeluknya dengan tubuh yang gemetar. “Ayah, sudah hentikan!! Elin hanya ingin bermain music, kenapa kau harus begitu kasar dengannya?!” tanya wanita itu dengan air matanya yang terus menetes dipipi merahnya.


__ADS_2