Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 48 : Memprovokasi kakek di belakang Evelyne


__ADS_3

Di kamar


Evelyne yang sedang asik dengan memainkan hpnya pun seketika terdiam saat pintu kamar terbuka dari luar, menampilkan seorang lelaki dengan pakaian kerjanya serta ekspresi wajah yang dingin membuat Evelyne tahu bahwa lelaki itu cukup bekerja keras hari ini. Entah sesibuk apapun pekerjaannya, semua dapat melihatnya dari wajahnya.


Melihat William akan tidur di kasur pun membuat evelyne beranjak dari kasur seraya membawa satu bantal di tangannya. Hal itu tentu saja membuat manik mata tajam William tertuju kearahnya. “Ngapain kamu bawa bantal itu?!!” tanyanya dengan suara serak namun terdengar kesal.


Evelyne menurunkan pandangannya secara sekilas, melihat bantal yang berada di tangannya membuat ia kembali menatap William dengan perasaan acuh tak acuh. “Tidurlah! Kita kan sudah mau cerai, maka kita juga harus dibiasakan untuk tidur pisah! Mulai sekarang aku akan tidur di sofa dan kau tidur di kasur”


“Tapi kan tidak masih belum resmi bercerai, kenapa sudah harus melakukan hal itu?!” tanya William seraya mengerutkan keningnya.


Evelyne mengangkat kedua alisnya, melepaskan bantal yang ada di tangannya kearah kasur lalu melipat tangannya di depan dada. “Mau sudah resmi atau belum, aku tetap menganggap bahwa kita sudah bercerai dan tidak memiliki hubungan apapun. Jadi sekarang kau bebas mau melakukan apapun, aku tidak peduli!”


“....” William terdiam.


Sementara evelyne yang tadinya hendak pergi ke sofa seketika membalik badannya seraya berkata “Oh ya satu lagi....Untuk hari selanjutnya, tolong jangan bermain tangan ataupun fisik denganku. Karna aku takut, kau akan kehilangan tanganmu itu!”


Setelah menyelesaikan perkataan itu, Evelyne pun berjalan menuju sofa. Merapihkan sedikit bantalnya, barulah ia menidurkan tubuhnya disana. Sedangkan William hanya terus terdiam di tempat seraya menatap evelyne yang kini seperti menjauh darinya. Bahkan perasaan acuh tak acuhnya kini mengganggu pikiran dan hatinya.


‘Apa kau sudah membenciku mulai hari ini?.....Baguslah jika kau memang membenciku! Teruskan kebencianmu itu, sampai akhirnya kau tidak akan keberatan lagi untuk meninggalkan tempat ini!’


William berjalan menuju tempat tidur, lalu menidurkan tubuhnya disana tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Tak lama, HP dari lelaki itu berbunyi. Melihat dari layar, ternyata clara lah yang sedang mencoba menghubunginya. Tetapi karna malas, William pun hanya terdiam dan membiarkan telpon itu terus berbunyi, hingga seseorang yang berada di sofa menutup telinganya dengan bantal.


“Bisakah kau angkat telponmu itu?! Ini sudah malam, aku akan bekerja besok. Jadi tolong angkat atau matikan saja jika kau tidak mau mengangkatnya.”


“Eum...maafkan aku!?”


Mendengar seseorang mengomelinya, William pun langsung mematikan hpnya tersebut agar tidak ada telpon lagi yang akan mengganggunya. Bahkan ia juga sempat tersadar saat mendengar bahwa Evelyne akan mulai bekerja besok. ‘Dia bekerja? Apakah ia bercanda?’ tanya William seraya menatap punggung Evelyne yang sedang meringkuk di sofa.


Entah tidak percaya atau meremehkan, tetapi William sangat paham siapa itu Yoona. Wanita yang tidak memiliki pengalaman sedikitpun, dan bahkan ia juga tidak sekolah waktu kecil. Hal itulah yang membuat dirinya terlihat bodoh, bahkan kebodohannya itu selalu dimanfaatkan oleh orang yang ingin mencelakai nya, atau lebih tepatnya lagi Clara.


‘Melihat dari sikapmu sekarang, aku sedikit memberi kamu kesempatan untuk dunia. Karna kau tidak akan pernah menyangka, bahwa di dunia masyarakat itu jauh lebih kejam dibandingkan oleh dunia mu di rumah!’ -William Maxime


‘Dunia bercahaya yang di senangi oleh banyak orang ternyata lebih kejam daripada yang kau kira, tetapi kau tidak akan pernah menyangka bahwa dunia gelap yang selama ini kau benci adalah dunia yang selalu menemanimu, disaat kau terpuruk.’ -Evelyne Hyung


...--🥀🕊—


...


Keesokan harinya, Evelyne mulai bekerja di perusahaan **** yang pekerjaannya lumayan memudahkannya. Karna bukan tempatnya saja yang membuat ia nyaman, tetapi teman serta senior-senior yang ada disana cukup baik dengan-Nya. Tidak ada yang namanya perkelahian disini, mereka memang pesaing tetapi mereka bersaing secara sehat agar tidak ada yang namanya kesalahpahaman saat ditentukan hasil.


Dari awal kerja, Evelyne memang sudah terbiasa dengan hal yang tidak dapat ia mengerti secara cepat. Jadi ia selalu meminta salah satu seniornya untuk membantunya menjelaskan lebih detailnya lagi. Karna ini adalah pekerjaan kantor untuk pertama kalinya bagi Evelyne. Dulu ia memang sering bekerja, tetapi pekerjaan yang dia hasilkan sangatlah menjijikan.


Bahkan ia dulu sampai membuang uang sebanyak itu untuk menukarkannya dengan sepotong roti hangat. Masa lalu seseorang itu memang tidak ada yang tahu, tetapi untuk di zaman sekarang banyak sekali orang yang selalu memandang orang lain hanya dengan sebelah mata.

__ADS_1


Semua ini berjalan lancar untuk 3 hari kedepan. Tidak ada permasalahan yang timbul serta dirumah Evelyne juga tidak pernah berbicara sekalipun oleh William. Hal itu tentu saja membuat mood dalam diri Evelyne selalu membaik.


“kak maaf boleh bertanya, menurutmu ini lebih bagus yang mana ya?” tanya Evelyne seraya menyerahkan map biru yang berada di tangannya.


Senior wanita menoleh “Dua-duanya bagus, memangnya kenapa? Apakah atasan menyuruhmu untuk memilih salah satu dari kedua gambar ini?”


“Ya kak, tapi aku sedikit bingung dengan keduanya. Soalnya terlihat bagus dua-duanya” jawab Evelyne yang disertai anggukan


Senior itu mengangguk, lalu tersenyum. “Pilihlah yang menurutmu paling bagus! Dari gambar kedua ini, kau cari saja di internet untuk mengetahuinya lebih jelas. Karna dulu aku juga pernah mendapatkannya, jadi jawaban itu harus real kamu yang memilih”


“Oh...baiklah kak, Terimakasih” ucap Evelyne seraya mengambil map tersebut untuk kembali ke tempat duduknya.


Setelah Evelyne kembali ke tempat duduknya, seorang lelaki pun datang keruangan mereka sembari membawa sebuah kertas di tangannya. Kedatangan lelaki itu juga membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan sontak menolehkan kepalanya kearah lelaki itu dan siap mendengarkannya dengan baik.


“Selamat siang semua!” sapa lelaki itu


“Selamat siang juga, pak!!” serentak semua orang menjawab sapaan itu.


Lelaki itu mengangguk “baik, maaf mengganggu waktu kalian sebentar! Hari ini aku mendapatkan kabar bahwa boss besar kita akan menguji semua karyawan yang baru saja menjadi karyawan tetap serta karyawan magang yang berada disini. Beliau meminta kalian untuk mengerjakan beberapa proposal ini dalam 3 hari, dan jika kalian sudah selesai maka kalian bisa memberikan hasilnya langsung padaku”


Salah satu karyawan mengangkat tangannya, lalu berkata “Ketua bisakah kau beritahu kami, ada unsur apa boss besar menyuruh hal seperti ini? Bukankah biasanya boss akan selalu menyuruh para senior untuk mengerjakan itu?”


“Beberapa minggu lagi, perusahaan kita akan kedatangan para klien penting yang datang dari perusahaan besar di kota. Jadi boss menyuruh kalian yang belum memiliki pengalaman dari sana untuk belajar bagaimana caranya beradaptasi atau melayani para klien itu. Tidak hanya itu, kalian juga akan tahu bagaimana caranya melakukan diskusi secara langsung dengan mereka.” Jelas lelaki itu


“Tentu saja kalian sendiri yang akan menemaninya! Jadi setelah semuanya selesai, hasil itu akan kami diskusikan oleh boss serta junjungan besar kami. Siapapun yang terpilih nantinya, akan ada satu orang yang menemaninya. Jadi tidak akan sendirian saat pertemuan itu!” jelas lelaki itu


Semua pun mengangguk paham saat mendengar penjelasan tersebut, dan mereka juga mulai mengantri untuk mengambil dokumen yang berada di tangan lelaki tadi. Setelah itu keadaan ruangan pun menjadi sunyi, semua orang yang berada didalam tampak sangat fokus saat mengerjakan prososal itu.


Berbeda dengan Evelyne, ia tidak mengerjakan proposal itu terlebih dahulu. Melainkan ia memahaminya terlebih dahulu dan mencari semua penjelasannya di internet.


Beberapa saat kemudian, tak disangka hari sudah mulai gelap. Banyak karyawan yang sudah pergi untuk pulang karna jam bekerja sudah selesai. Evelyne yang baru saja hendak membereskan Barang-barangmya, Tiba-tiba ada seorang wanita yang cantik dengan senyuman di wajahnya sedang berjalan menghampirinya.


“Eline, kamu baru mau pulang?” tanya wanita itu seraya tersenyum.


Evelyne mengangguk “Iya nih kak, baru mau pulang. Kak Jane sendiri kenapa masih ada disini?” tanya Evelyne seraya menatap wanita yang ada didepannya tengah memegang tas di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya ia sedang membawa beberapa map.


“Ini juga baru mau pulang. Bagaimana kalau kita pulang bareng saja? Aku kebetulan bawa mobil nih, jadi bisa antar kamu” ajak Wanita itu dengan ramah.


Evelyne terdiam, lalu menggeleng “Tidak, terimakasih kak jane. Aku bisa pulang naik taksi online. Ini juga sudah ku pesan, sebentar lagi akan datang. Maaf bukannya aku bermaksud untuk menolakmu, tetapi aku takut untuk merepotkanmu!”


“Tidak kok, kita kan sudah lama menjadi partner kerja. Jadi sangat tidak mungkin jika kamu merepotkanku saat aku mengantarkanmu pulang” balasnya dengan senyuman.


Evelyne beranjak dari duduknya, lalu merapatkan kursinya pada meja kerjanya. “Terimakasih kak, tapi aku rasa tidak perlu. Lagipula rumahku juga dekat dari sini, jadi tidak akan masalah jika aku pulang naik taksi”

__ADS_1


Mendengar penolakan itu, Jane pun hanya mengangguk lalu berinisiatif untuk mengajaknya turun bersama dan evelyne menyanggupi itu.


...--🥀🕊—


...


Disisi lain, jessica yang sedang berbincang dengan William di ruang keluarga pun membuat suasana hati kakek menjadi buruk. Karna sedari tadi, wanita itu terus membicarakan evelyne yang tidak-tidak. “Kakek, kau tidak akan tahu bagaimana perasaanku saat dihina seperti itu oleh Yoona! Dia memang tidak tahu diri, sudah dikasih tempat untuk tinggal tapi dia malah berlagak seperti orang kaya” kata jessica dengan kesal.


“.....” semua orang yang disana hanya terdiam mendengarkan Jessica.


“Di luar saja, aku sempat bertemu dengannya di toko. Tapi saat aku menyapanya, dia hanya melirik ku secara sekilas namun tidak menjawab sapaanku. Kakak tertua, lihatlah wanita yang kau nikahi itu! Dia semakin hari, semakin sombong rasanya.” Jessica menggoyangkan tangan William yang berada di sandaran sofa.


William melirik kan matanya “Bagaimana sikapnya yang sekarang, bukankah seharusnya kau harus tetap menghormatinya?”


Mendengar hal itu, kakek mengangguk sementara jessica dan Edgar tertegun di tempat. Mereka tidak mengira bahwa William akan berkata seperti itu. Karna sejak dulu, William hanya terdiam seperti tidak peduli saat jessica merendahkannya. Tetapi sekarang, William malah berkata bahwa jessica harus tetap menghormati nya.


“k-kakak tertua, apa yang kau katakan? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?!” tanya jessica seraya menatap William dengan tatapan heran


Kakek yang melihat William terdiam tak menjawab perkataan dari jessica pun membuatnya membuka suaranya disaat William tidak ingin melanjutkan kembali perkataan. “Jessica, kakek tahu kamu masih belum menerima Yoona sepenuhnya di keluarga ini! Tapi awal kau tahu, karna Yoona lah kakek masih tetap hidup disaat ini!”


“Kakek, aku tahu bagaimana wanita itu menolongmu saat kecelakaan. Tapi apa tidak terlalu besar untuk membalasnya dengan pernikahan seperti ini?” jawab jessica seraya melirik kearah William. “Kakak tertua saja, sampai terkena imbasnya. Kakek, kau tidak boleh terlalu egois dengan perasaan kakak tertua. Kau tahu, dia mencintai kak clara. Tapi kenapa kau malah memisahkan mereka?”


Kakek menggelengkan kepalanya “Kakek melakukan ini, karna kakek tahu yang terbaik untuk William. Jika kau memang tidak Terima dengan keputusanku, maka tidak akan jadi masalah. Yang terpenting kau harus berhenti untuk mengganggu Yoona!”


“Mengganggu? Sejak kapan aku mengganggunya kakek? Dialah yang menggangguku duluan! Dialah yang memulai semua keributan yang pernah terjadi dimasa lalu. Kenapa kakek malah sepenuhnya menyalahkanku?” protes jessica.


Kakek dan William langsung terdiam dan tidak melanjutkan kembali perkataannya, karna jika mereka melanjutkannya maka hanya akan menimbulkan pertengkaran saja. Jessica yang tidak bisa memprovokasi kakek pun mencari celah untuk membuat kakek merasa marah kepada evelyne.


Manik mata jessica yang terus melihat sekeliling membuatnya sadar bahwa evelyne sudah jarang sekali terlihat saat ia datang di malam hari. Entah karna malas bertemu dengannya atau memang is merasa takut jika ia datang untuk membuat kakek mengizinkan pernikahan William dengan clara.


“Kakek, dimana Yoona? Kenapa aku jarang sekali melihatnya” tanya jessica yang tidak sopan.


Kakek menghela nafasnya “Jessica! Dia adalah kakak iparmu! Cobalah untuk sedikit sopan walaupun kau tidak menyukainya”


“Ckk...untuk apa aku bersikap sopan dengan wanita sombong sepertinya? Bukankah kakek malah membuatnya semakin membiarkan dia untuk bertindak seenaknya?!” Tanya jessica yang merasa bahwa kakeknya terlalu memanjakan orang lain dibandingkan dirinya.


Edgar yang merasa bahwa jessica sudah melampaui batasnya pun membuatnya membuka suaranya untuk menghentikan perkataan jessica. “Jessica, sudah berhenti! Jika kakek dan kakak tertua sudah menyuruhmu untuk menghormatinya, maka kau harus menghormatinya!”


“Kakak kedua? Kenapa kau malah menyalahkan aku? Disini yang salah itu Yoona, si wanita sombong itu!!” bantah jessica.


Disaat keduanya sedang beradu mulut, seketika pintu dari aula utama terbuka secara perlahan. Menampilkan seorang wanita dengan pakaian kantornya sedang berjalan masuk dengan membawa tas di tangannya. Itulah Evelyne, wanita yang sudah mendengar semua pembicaraan jessica yang sedari tadi merendahkannya.


Bahkan jessica sendiri tidak malu, saat ia membicarakan tentangnya di depan kakek. “Memangnya aku salah apa sampai kau berkata seperti itu? Apa kau merasa bahwa aku seperti pelakor di dalam hubungan sahabat baikmu itu?!” sahut Evelyne yang membuat semua orang yang ada disana dengan sontak terdiam dan secara bersamaan menolehkan kepalanya kearah pintu.

__ADS_1


__ADS_2