Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 8 : Meminjam baju William


__ADS_3

Pagi hari yang cerah kini disinari oleh cahaya matahari yang segar, udara yang sejuk dan kicauan burung dari arah luar. Evelyne terbangun dari tidurnya dan melihat William tengah berdiri di depan kaca sambil mengancingi kemeja putihnya. Lelaki itu tampak sangat rapih dan wangi, Evelyne yang baru saja sepenuhnya sadar pun menolehkan kepalanya kesamping. Melihat kearah jam, dan itu masih menunjukan pukul 06.00


“Aku akan pergi beberapa hari untuk meeting penting di luar kota” William membuka suaranya saat mengetahui Evelyne telah terbangun “Ini aku tinggal beberapa kartu milikku diatas meja. Pakailah jika kau ingin membeli sesuatu!” William mengeluarkan 2 kartu dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja rias.


Evelyne menggeleng, “Tidak perlu tuan, lagipula hari ini aku tidak pergi kemana-mana.”


William yang mendengar itu pun hanya melirikkan matanya yang tajam, melihat wajah polos Evelyne yang kusut karna baru saja bangun dari tidurnya. “Perlu atau tidak itu bukan urusanku” kata William yang selesai bersiap lalu berjalan pergi keluar dari kamar, menutup pintu tanpa melihat menunggu jawaban Evelyne lagi.


Evelyne yang melihat William pergi keluar dari kamar pun menghela nafasnya dengan kasar, ‘Dasar aneh, padahal aku sudah bilang tidak perlu tapi kenapa dia tetap memaksa?’ Evelyne yang badmood karna sikap William pun berdecak kesal sembari berjalan menuju kamar mandi. Tak lama, Evelyne pun keluar dari sana dengan memakai baju handuk berwarna putih. Rambut yang panjang kini tergerai Basah.


“Sialan kau tuan, kenapa semua airnya jadi sangat hangat? Apakah kau ingin membuatku mati?”


Evelyne menggerutu dengan raut wajah yang kesal, dan berjalan pergi menuju ruangan ganti untuk berganti pakaian. Saat didalam ruang ganti, otak Evelyne seketika teringat bahwa baju-baju didalam lemarinya sangat pendek, bahkan menurutnya tidak layak untuk dipakai.


“Aduhh lupa lagi sama bajunya, gimana donk nih? Masa iya harus pinjem baju tuan dulu?” kepala Evelyne menolehkan kearah lemari besar milik William. “Daripada kek maksain mending pinjem aja deh”

__ADS_1


Evelyne pun langsung keluar dari ruang ganti yang masih memakai baju handuknya, wanita itu mengambil ponselnya diatas meja kecil sampai ranjang tidurnya lalu menekan beberapa tombol di layarnya. ‘kenapa disini ada nama kontaknya yang namanya sayang? Bukankah tuan itu suaminya?’ batin Evelyne saat terdiam menatap layar ponsel itu cukup lama.


Evelyne yang tidak ingin mengurusi itu pun langsung menekan nomer William dan menempelkan hpnya didekat telinganya, menunggu beberapa saat agar telpon itu tersambung. “Ada apa?” suara William terdengar dari telpon yang menandakan bahwa telponnya sudah tersambung. Namun saat mendengar suara William, Evelyne malah ragu untuk meminta izinnya.


“A-anu..tuan” kata Evelyne dengan perasaan yang penuh dengan keraguan. “Kenapa menelponku? Aku sedang sibuk, jika ingin bicara maka bicaralah!” suara William terdengar dingin namun tidak sabar menunggu Evelyne untuk berbicara. “Maaf tuan sudah mengganggu waktumu, tapi disini aku ingin minta izin padamu” Evelyne berkata dengan memotong bagian akhir.


William yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya, “Apa itu?” tanya singkat William yang membuat Evelyne tercekik dalam perkataannya sendiri. Lelaki ini memang tidak bisa diajak bicara dengan baik, suara dan auranya sangat dingin bahkan ia tidak menunjukan sedikitpun status sebagai suami dari tubuh ini.


“Baju mu” Evelyne menjawab dengan ragu-ragu, namun disana William semakin dibuat pusing. “Bajuku? Apa maksudmu?” William sedikit mengeraskan suaranya. Ia tidak tahan jika Evelyne terus membuatnya penasaran. “Aku ingin pinjam bajumu” cicit Evelyne dengan malu.


Mendengar suara Evelyne berubah menjadi pelan, William pun kembali mengerutkan keningnya. “Meminjam bajuku untuk apa? Apa kau tidak memiliki baju sendiri?” Evelyne cemberut, “Aku memang punya, tapi baju itu kan..” “Cikh..pake saja baju yang ada, tidak perlu memakai bajuku!” kata William dengan nada yang keras memotong perkataan Evelyne.


Saat evelyne mengucapkan itu sekali lagi, telponnya pun terputus. William mematikan telponnya hingga membuat Evelyne kembali merasa badmood nya semakin buruk. “Pelit banget!! Padahal hanya pinjam sebentar” gerutu Evelyne yang kembali meletakkan ponselnya diatas meja, lalu berjalan masuk kedalam ruangan ganti.


Evelyne membuka pintu lemari bajunya dengan raut wajah yang kesal, ia tidak menyangka lelaki itu akan sepelit ini dengannya. Raut Evelyne yang kesal pun seketika terkejut saat pintu lemari sudah terbuka dan melihat isi baju yang ada didalam lemari. Semua baju yang ada disana tampak berbeda, ditambah lagi model dari baju-baju itu tidak mencolok seperti yang kemarin. Siapa menukar semua baju-baju ini?

__ADS_1


Evelyne yang tidak mengetahuinya pun hanya tersenyum bersyukur, karna ia tidak perlu memakai baju yang tidak pantas lagi. Evelyne mengambil salah satu drees yang tergantung didalam lemari itu, ia memilih dress berwarna hitam dengan panjang yang hanya selutut namun memiliki lengan yang panjang. Tanpa berlama-lama, ia pun langsung memakai dress tersebut.


Setelah memakai dan merias sedikit wajahnya, Evelyne terkejut dengan apa yang ia lihat. Dress itu sangat cocok dengannya, bahkan penampilannya lebih baik daripada sebelumnya. Evelyne yang penasaran pada orang yang sudah menukar bajunya pun langsung berlari keluar dari ruang ganti, dan berlari keluar dari kamar.


“Dessy!!”


Evelyne meneriaki nama Dessy saat berlari menuruni tangga. Dessy yang berada di lantai bawah pun menolehkan kepalanya kearah saat melihat Evelyne tengah berlari disana. “Nyonya, tolong jangan lari-lari ditangga, itu berbahaya!” Dessy berlari menuju tangga agar Evelyne sendiri memperlambat langkahnya.


“Dessy, aku ingin bertanya padamu. Apa kau tahu siapa yang telah menukar semua bajuku dilemari?” tanya Evelyne dengan terburu-buru, Dessy yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya, merasa bahwa bukan dirinya yang melakukan itu. “Maaf nyonya, saya tidak tahu. Memangnya ada apa ya?”


Evelyne terdiam, “Tidak apa, hanya saja baju itu berubah semua dan aku tidak tahu siapa yang telah menukarnya” Dessy terdiam sejenak, menatap kearah dress yang dipakai oleh Evelyne. Dress itu memang sangat cocok di tubuh mungil Evelyne, namun yang membuat Dessy mengerutkan keningnya adalah sikap dari Evelyne. “Mungkin tuan yang mengganti semua baju, nyonya” tebak Dessy yang membuat raut wajah Evelyne berubah.


“Tidak Mungkin, dia saja sangat sibuk. Bagaimana bisa melakukan hal yang menurutnya akan membuang-buang waktunya”


Dessy terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Evelyne. William yang sekarang memiliki banyak pekerjaan, entah dari kantor ataupun dari misi rahasia. Dessy sendiri menyadari bahwa hubungan dalam pernikahan ini memang hanya dianggap sebagai pasangan yang tak saling mencintai. Memikirkan hal itu seketika Dessy tertegun dengan apa yang dipikirkan olehnya.

__ADS_1


Ia baru menyadari bahwa nyonya besar Yoona tidak searogan dan sepenjilat dulu. Bahkan ia berubah seperti kekanakan dan terkadang ia bisa dewasa saat orang lain menghinanya. Auranya juga sangat berbeda yang dulu.


“Apa karna kecelakaan kemarin yang membuat seluruh temperamen Yoona berubah?”


__ADS_2