Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 40 : Kepulangan kakek besar Maxime


__ADS_3

Hembusan angin yang begitu menenangkan hati membuat suasana pagi ini menjadi lebih tenang, bahkan langit biru kini di terangi oleh cahaya matahari yang membuat Dunia Lebih nyata. Seorang wanita dengan pakaian style hitamnya sedang duduk di depan rumahnya. Ia terlihat sedang menikmati suasana pagi ini, dengan raut wajah yang datar.


Wanita itu adalah Evelyne yang tengah termenung di depan rumahnya tanpa melakukan apapun, hingga membuat Liliana yang sedang berada di kursi taman seraya merajut beberapa kain di tangannya memandang Evelyne dengan raut wajah yang kebingungan.


“Sayang! Kamu tidak ada kerjaan lain selain merenung disana?” tanya Liliana


Evelyne menggeleng, “Tidak bu, aku tidak ada kerjaan. Ibu kalau butuh sesuatu, bisa bilang ke aku saja”


Kringg...


Mendengar deringan telpon berbunyi, Liliana dengan sontak memeriksa hpnya. Tetapi suara sering itu bukan berasal dari hpnya, melainkan dari hp evelyne yang berada di saku celana nya. Evelyne yang mendengar suara deringan itu, sama sekali tidak ada niatan untuk mengambilnya. Bahkan mengangkatnya pun ia tidak sudi.


Liliana yang melihat evelyne membiarkan telpon itu terus berbunyi pun membuat ia berkata. “Sayang! Hpmu berbunyi itu, kenapa kau tidak mengangkatnya?”


Evelyne menggeleng, “Paling gak penting! Jadi tidak perlu di angkat”


“Sayang, kamu tidak boleh gitu! Angkat telponnya, takutnya itu dari tuan besar.” Liliana meletakan semua peralatan merajutnya diatas meja.


Evelyne melirik tajam kearah Liliana “Kalau dari dia, udah pasti gak penting bu!” kata evelyne seraya berjalan meninggalkan Liliana. “Aku ingin pergi sebentar, Ibu tidak perlu khawatir jika aku terlambat pulang”


“Sayang! Kamu mau kemana?! Jangan berkeliaran disini! Ini bukan tempat yang aman buat kamu, sayang!” teriak Liliana dengan terabaikan oleh evelyne.


...--🥀🕊—


...


Disisi lain, kakek besar yang sedang duduk di kursi dengan secangkir teh hangat dibawakan oleh pelayan membuat dirinya agak sedikit tenang. Bahkan nafasnya sampai terengah-engah setelah menghubungi seseorang di telponnya.


“Tuan, silahkan minumnya”


Pelayan itu memberikan teh hangat pada kakek besar, ia juga berdiri di belakang kakek itu untuk siap menerima apa yang ia perintahkan.


Selang beberapa menit, Pintu besar dari kediaman utama terbuka lebar. Menampilkan dengan sempurna sepasang kekasih yang tengah berjalan bersama dengan tangan yang saling menggenggam. Lelaki dari pasangan itu memiliki tinggi 180 an keatas sementara wanita yang berada di sebelah lelaki itu memiliki tinggi 160 keatas.


Memang itu adalah perbedaan yang jauh, tetapi mereka sangat terlihat cocok dimata kakek besar maxime. Melihat keduanya berjalan bersama, membuat kakek maxime tersenyum lebar. Bahkan menghela nafas leganya saat angguk pelan kepalanya mulai bergerak.


“Kami datang untuk menjenguk kakek!” serentak pasangan itu, saat berhenti tepat di depan kakek besar maxime.


Kakek maxime mengangguk, lalu mengayunkan tangannya setinggi dada. “Yoona, kemarilah! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu”


Mendengar hal itu, Evelyne pun berjalan menghampiri kakek besar. Lalu duduk lantai untuk membuat dirinya lebih rendah dari posisi duduk kakek besar. “Ada apa kakek?” tanya evelyne seraya mengangkat kepalanya, hingga mempertemukan antara pandangannya dengan pandangan kakek itu.


“Kemana saja kamu kemarin? Kenapa saat aku tidak di rumah, kau tidak datang menyambutku?” kakek itu menatap evelyne yang posisinya jauh lebih rendah darinya. Ia sedikit terkejut saat melihat evelyne datang lalu dengan sopan ia duduk di lantai seraya memandangnya dengan hormat. Bahkan tidak ada kesombongan sedikitpun yang terdapat di dalam matanya.


“Maafkan aku kakek, bukannya aku bermaksud untuk tidak menghormatimu. Tapi, kemarin aku benar-benar disibukkan oleh urusanku diluar. Jadi tidak sempat untuk pulang hari itu....maaf jika kakek marah jika aku tidak menyambutmu” jelas Evelyne dengan kepala yang menunduk.


Melihat dan mendengar sikap Evelyne saat itu, membuat semua orang yang ada di kediaman utama terkejut serta terheran-heran akan apa yang dilakukan oleh evelyne ini. Kakek besar maxime yang kini berada di depan evelyne juga ikut terkejut saat mendengar penjelasan itu, karna bisa dibilang ini adalah pertama kalinya ia diperlakukan begitu sopan dan dihormati oleh evelyne.


Kakek tersenyum, lalu dengan lembut mengelus kepala evelyne yang masih belum kunjung terangkat. “Angkatlah kepalamu! Aku akan benar-benar marah jika kau masih merendahkan dirimu seperti ini”


“Tidak apa-apa kakek, bukankah itu yang harus kulakukan padamu?” Evelyne mengangkat kepalanya, lalu tersenyum yang membuat kakek itu tertegun sejenak.


Kakek itu mengulurkan tangannya, membantu Evelyne untuk berdiri dari duduknya. “Sekarang, bagaimana denganmu menjelaskannya?!” Tanya kakek dengan ketua pada William yang berdiri tak jauh darinya.


Mendengar berubahnya nada suara kakek, membuat William tak akan heran lagi dengan sikapnya yang seperti itu. “Aku masih banyak kerjaan di kantor, jadi tidak sempat pulang!” Jawab William dengan singkat.

__ADS_1


“Apa pekerjaanmu itu lebih penting daripada kepulanganku?” kakek itu menatap tajam kearah William.


Sementara Evelyne yang melihat William di marahi oleh kakek pun membuatnya berlari kearah William. Lalu mengalunkan tangannya di salah satu lengan istimewa milik William. “Kakek, tolong jangan memarahinya. Liam sudah bekerja lembur beberapa hari ini karna terjadi masalah di kantor. Aku tidak tahu seberapa besar masalah itu, tetapi tolong kakek untuk memaafkan kesalahannya!” kata evelyne yang asal bicara saja.


William mengerutkan keningnya, menatap tubuh evelyne yang begitu dekat dengan tubuhnya hingga memberikan beberapa sentuhan pada bagian samping dari tubuh mereka. Evelyne juga disana sedikit merasa canggung dengan kedekatannya, tetapi mau bagaimana lagi jika inilah kesepakatan mereka buat sebelumnya.


2 jam yang lalu.


Evelyne berjalan menuju jembatan besar yang memperlihatkan sebuah mobil hitam terparkir disana dengan seorang lelaki yang berdiri di samping mobil itu dengan style kantornya. Baru sekali lihat, Evelyne sudah dapat menebak bahwa lelaki itu adalah William.


“Ngapain?! Aku akan sudah bilang, tidak perlu datang menjemputku!” kata evelyne saat berdiri di hadapan William.


William sendiri terdiam sejenak saat melihat penampilan evelyne layaknya seperti orang yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan senyuman dan wajahnya yang ceria kini berubah menjadi ekspresi yang dingin. Bahkan auranya begitu mengutuk siapapun yang berada di dekatnya.


“Kakek pulang! Dia memintaku untuk membawamu sekarang. Jadi tolong jangan bertingkah dan ikuti perkataanku!” pinta William dengan nada dinginnya.


Evelyne menggeleng, “Kau pulang lah lebih dulu, aku akan menyusulmu nanti!”


“Tidak! Kau ikut denganku pulang!? Bagaimana nanti jika kakek melihat aku pulang tanpa membawamu? Apa kau ingin membuat kakek marah lebih besar lagi?!” paksa William dengan menatap tajam kearah evelyne.


Evelyne terdiam saat mendengar itu keluar dari mulut William, ingin menertawakannya tetapi baru saja akan situasi yang sedang serius ini. “Akan dapat apa aku? Jika aku melakukan ini untukmu sekali?!” tanya Evelyne yang meminta imbalan pada William.


“Aku akan memberikanmu apa saja! Entah itu uang, pekerjaan, atau perlindungan” jawab William seraya melemparkan sebush kantor plastik berwarna hitam pada William. “Ambil itu dan pakailah di mobil!!”


Evelyne menangkapnya, lalu membuka plastik itu serta mengeluarkan isi dari dalam plastiknya. “Apa ini? Kenapa kau memberikan aku baju?” tanya evelyne seraya menatap William yang sedang mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya.


“Pakai saja! Tidak perlu banyak tanya. Aku disini untuk bekerja sama denganmu, bukan untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu itu!” William melirikkan matanya yang tajam saat ia mulai menjepit sebatang rokok itu Diantara dua bibirnya yang tebal.


Evelyne hanya terdiam seraya berjalan menghampiri mobil hitam itu, sesampainya di samping mobil dan baru saja ia ingin membuka membuka pintu mobil bagian kursi penumpang belakang. Tiba-tiba William kembali mengeluarkan suaranya yang membuat evelyne menjeda pergerakannya itu. “Didalam ada sepatu yang sudah kusediakan untukmu. Kau pakailah dan beritahu aku jika sudah selesai memakai itu semua”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, evelyne kembali terdiam dan mulai memasuki dirinya kedalam mobil milik William yang ukurannya cukup besar hingga itu memudahkannya untuk berganti didalam. ‘Ternyata kau hanya menganggapnya sebagai partner Kerjasama jika kakek besar ada di kediaman dan kau memang sama sekali tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri'


...--🥀🕊—


...


“Kenapa kau terus membelanya? Itu hanya akan membuatnya semakin bertingkah!” kata kakek besar seraya menunjuk kearah William.


Evelyne hanya tersenyum lalu dengan perlahan ia menyenggol tangan besar William hingga membuat lelaki itu dengan tajam melirikkan matanya. Sementara evelyne yang mendapatkan lirikan tajam itu hanya mengodenya dengan matanya, agar William mau meminta maaf atas kesalahannya itu.


Kode mata Evelyne : Cepat minta maaf, jika semua ini mau berakhir dengan cepat!


Kode mata William : Atas nama siapa kau berani menyuruhku?


Mengerti kode itu, Evelyne semakin menajamkan matanya agar William mau menurunkan sedikit gengsinya pada kakek besar. William yang tidak tahan dengan kedekatan itu pun menghela nafasnya, lalu berkata “Maafkan aku, kakek. Aku salah!”


Kakek itu tertawa kencang saat mendengar William berkata seperti itu “William, kau rela menurunkan gengsi mu itu demi Yoona?!.... Sudah menakjubkan sekali”


“Kakek sudahlah! Tolong jangan perpanjang ini, kami salah. Kami minta maaf padamu” sahut Evelyne yang masih belum melepaskan William dari kedekatannya itu.


Kakek mengangguk, lalu tersenyum pada evelyne yang masih berdiri disamping William, dengan tangannya yang mengalungkan salah satu lengan William. “Kakek suka tindakan kamu hari ini! Kalian bisa kembali ke kamar! Aku akan pergi ke taman sejenak.”


Keduanya mengangguk lalu membiarkan kakek dan satu pelayannya keluar dari aula utama, barulah evelyne dengan cepat melepaskan tangannya dari lengan William. Hal itu tentu saja membuat William terkejut serta melirikkan matanya kearah evelyne yang sedang merapihkan rambut panjangnya.


“Membuangnya setelah kau gunakan. Apa kau pikir aku ini barang?” cibir William seraya merapihkan jas hitamnya.

__ADS_1


Mendengar cibiran itu, evelyne tersenyum miring lalu berkata. “Kau sendiri kenapa rela membuang berlian hanya demi sebuah batu karang?”


William tertegun, ia tidak tahu apa yang di maksud dari Evelyne tentang perkataannya itu. Bahkan ia juga merasa sedikit aneh dengan perubahan yang drastis dari temperamen evelyne saat ini. Padahal sudah jelas-jelas ia mengclaim bahwa evelyne yang sekarang adalah wanita yang ceria dan ramah walaupun sikapnya sedikit Kenakak-kanakan. Tetapi kenapa sekarang ia berubah?


Apa semua yang ia lakukan itu hanya aktingnya saja?


Disisi lain, Evelyne yang tidak ingin menunggu lebih lama disana pun langsung berjalan keluar dari kediaman utama untuk menemui kakek besar di taman bersama pelayannya disana. Tetapi baru saja ia ingin menghampiri kakek besar, ia langsung di kejutkan oleh berdirinya Clara di depan kakek itu.


“Ngapain kau disini? Aku kan sudah bilang untuk tidak datang lagi kesini?!!”


“Tuan besar, Aku kesini tidak memiliki niat apapun untuk mencelakai Yoona. Tapi aku disini hanya ingin menjengukmu saja”


“Halah...tidak perlu berbohong kamu! Aku tahu kau disini dengan menunggu William untuk keluar kan?!!”


“T-tidak tuan, k-kenapa anda bicara seperti itu? Aku dan kak William hanya sebatas teman kecil saja”


“Teman kecil? Kau pikir, kau bisa membodohi aku dengan sebutan teman kecil itu?!”


“Tuan, apa maksudmu? Aku datang kesini untuk niatan yang baik, kenapa kau malah memarahiku dan bahkan kau menuduhku yang tidak-tidak dengan kak William.”


Kakek tertawa ejek “Apa kau merasa tuduhanku itu benar? Kenapa kau begitu menganggapnya dengan serius? Apa kau memang benar melakukan semua itu pada William?!!”


“T-tidak tuan, tolong jangan bicara begitu. Aku dan kak William benar-benar hanya partner kerja. Dan Aku juga tidak memiliki niatan sedikitpun untuk merebutnya kembali”


“Oh ya? Kalau begitu apa maksudmu dari semua yang kau lakukan beberapa hari yang lalu?! Aku ingin tahu bagaimana kau menjelaskannya!”


“A-aku...”


“Apa kau pikir dengan sikapmu seperti itu tidak akan melukai perasaan cucu menantuku?!”


“T-tuan...a-aku tidak bermaksud seperti itu..”


“Lalu apa? Apa kau pikir semua keputusanku ini adalah penghalang dari hubunganmu dengan cucuku?!!”


Clara terpojok, merasa semua perkataan kakek besar itu cukup melukai hatinya. Bahkan tanpa menjawab perkataan itu, Clara lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang terasa sakit serta air mata yang menetes di pipinya.


Sementara kakek besar yang melihat kepergian dari Clara membuatnya menghela nafasnya dengan lega, lalu tersenyum kecil saat ia melirikkan mata kesamping. “Sudah puas mendengar semuanya disana?! Dasar makhluk yang tidak tahu sopan santun!”


Merasa ketahuan oleh kakek besar, evelyne pun keluar dari tempat persembunyiannya lalu dengan perasaan malu ia berjalan menghampiri kakek dengan kepala yang sedikit menunduk.


“M-maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu”


Kakek melirikkan matanya dengan tajam, “Seberapa banyak kau mendengarnya?”


“Semuanya. Maafkan aku kakek”


Kakek menggeleng, lalu dengan perlahan ia menepuk-nepuk bahu evelyne yang terlihat rapuh di matanya. “Ini adalah balasan untuknya. Kuatkan bahumu, jangan sampai rapuh! Karna jika kau sekali terjatuh, maka itu akan memberikannya peluang untuk bertindak seperti itu lagi”


“Aku mengerti, kakek. Terimakasih”


Kakek mengangguk seraya menjauhkan tangannya dari bahu evelyne. “Bisakah akh menitipkan satu permintaanku padamu?”


“Bisa kakek. Apa yang anda ingin titipkan pada saya?”


“Tolong sembuhkan kebutaan hati William terhadap Clara. Aku hanya bisa mengharapkannya padamu, Karna kau memiliki wajah yang sama seperti wajah yang selalu dirindukan oleh William selama 4 tahun lalu. Kau memang memiliki hati yang keras, tetapi kau selalu melembutkan hatimu untuk melawan hati keras yang miliki oleh William. Jadi bisakah kau buat William untuk mencintaimu?”

__ADS_1


__ADS_2