
“k-kamu!!? “ tunjuk jessica yang terkejut.
Evelyne tersenyum di dalam raut wajahnya yang datar. Membuat suatu kesan ekspresi yang menantang namun terlihat menyeramkan. “Kenapa? Kaget ya, kepergok sama orang yang kau omongi itu?” ejeknya di depan William serta kakek.
“Yoona, kemana saja kamu? Kenapa baru saja pulang? Inikan sudah malam” tanya kakek yang mengalihkan pembicaraan mereka.
Evelyne menolehkan kepalanya kearah kakek, lalu tersenyum seraya berjalan menghampirinya dengan membawa bingkisan di tangannya. “Maaf kakek, sepertinya aku lupa memberitahumu kalau aku sudah mulai bekerja di perusahaan terdekat”
“Oh ya kah?” kakek terkejut “kapan kau mulai bekerja disana?”
Evelyne berhenti tepat di depan kakek, lalu duduk di sofa yang kosong untuk mencairkan suasana. “2 hari yang lalu, aku sudah mulai bekerja. Ya walaupun masih menjadi karyawan kontrak, tapi aku sudah senang sekali bisa merasakan dunia pembisnisan ini kakek”
“Ckk...baru jadi karyawan kontrak saja udah sombong!” cibir jessica yang membuat Evelyne menolehkan kepalanya kearah wanita itu. “Iya...aku mah karyawan kontrak, yang masih perlu belajar banyak hal. Kau sendiri sudah sebesar ini, kenapa tidak mencari kerja? Bukankah tidak asik jika kau menghinaku disaat kau tidak sebanding denganku!” balas Evelyne yang membuat jessica tersinggung.
“Kamu!!?” geram jessica.
Evelyne tersenyum “Jessica, aku tahu kau terlahir dari anak orang kaya. Kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kau hanya menunjuk, maka itu semua akan menjadi milikmu. Tapi disaat kau masih memakai uang orang tuamu, maka alangkah baiknya untuk tidak meninggikan dirimu sendiri. Karna bagaimanapun kau akan tetap kalah jika merendahkan seseorang yang sedang berusaha mencari hasilnya sendiri.”
“....” jessica terdiam sementara Evelyne kembali berkata “Terkadang orang yang berada di tingkat tinggi karna status orang tuanya maka akan dengan mudah merendahkan orang lain, seperti kau melihat mereka bagaikan semut kecil. Tetapi berbeda dengan orang yang sukses karna usaha sendiri, dia tidak akan merendahkan orang lain. Karna dia pernah merasakan bagaimana sulitnya memulai dari awal”
Kakek serta William mengangguk saat mendengar perkataan itu, karna bagi mereka semua itu benar. Tetapi berbeda dengan jessica yang meresponnya. “Aku sudah terlahir kaya karna orang tuaku! Jadi...untuk apa aku harus bekerja lagi, disaat aku bisa mendapatkan semuanya?”
“Ya...kau memang saat ini sedang berada di fase tertinggi. Tapi ingatlah baik-baik! Dunia ini berputar, terkadang orang yang diatas akan merasakan bagaimana sulitnya orang dibawah, sementara orang yang dibawah akan merasakan bagaimana keberhasilan dari usaha yang mereka lalui” kata Evelyne yang membuat kakek merasa sedikit terkagum olehnya.
-Boleh juga! Belajar darimana dia sampai otaknya bisa bekerja seperti itu?-
Jessica tertawa kencang “Aku tidak akan pernah merasakan sulitnya dibawah, karna aku ditakdirkan oleh dunia untuk hidup dalam penuh kebahagiaan! Beberapa dengan orang-orang yang disana, mereka sudah ditakdirkan menjadi orang susah. Jadi tidak perlu bermimpi untuk berada di fase tertinggi!”
“Hati-hati kalau bicara! Aku takut, kau akan mati jika tidak bisa menghadapi semua itu” kata Evelyne seraya beranjak bangun dari duduknya. “Kakek, aku izin pergi ke kamar untuk beristirahat. Maaf tidak bisa menemanimu malam ini”
Kakek mengangguk “Tidak apa! Kau beristirahatlah, jangan sampai kau jatuh sakit karna kelelahan bekerja.”
“Tidak akan terjadi kok kakek.” Jawab Evelyne seraya meletakan bingkisan itu diatas meja. “oh ya, ini ada sedikit makanan dari senior ku, rasanya enak dan manis. Kakek cobalah untuk beberapa rasa. Jika kau menyukainya, maka aku akan membelinya nanti”
Kakek mengangguk “Baik-baik, terimakasih sudah merepotkanmu.” Kata kakek seraya menolehkan kepalanya kearah William “Bocah! Temani istrimu tidur sana! Kasihan dia baru saja pulang bekerja, takutnya dia butuh sesuatu, tidak ada orang yang berada di sampingnya!”
“Tapi kakek, aku kan harus pergi malam ini!” protes William yang hendak menolak perintah kakek.
Kakek menajamkan matanya saat mendengar penolakan tersebut. Sementara Evelyne yang berada disana pun ikut menolaknya. “Kakek, aku rasa tidak perlu. Tuan terlihat sibuk malam ini, jadi tidak perlu memaksakan nya!”
“Tidak, tidak! Kalian berdua pergi naik keatas bersama!” Tolak kakek yang bersikeras “Yoona pergi beristirahatlah dikamar, jika kau sakit maka kakek akan menghukummu nanti!” ancam kakek pada Evelyne. “Bocah! Pergi temani istrimu. Jika dia sampai Kenapa-kenapa, maka aku akan menyalahkanmu nanti!”
William menghela nafasnya dengan malas “Aku tahu, kau cerewet sekali!”
Melihat kakek besar maxime sudah menajamkan matanya, Evelyne serta William hanya bisa menurut untuk berjalan pergi ke atas. Sementara jessica yang melihat kakek mempersatukan mereka pun membuatnya sedikit merasa jengkel. Apalagi dengan sikap serta perkataan Evelyne sebelumnya.
Disisi lain, Evelyne yang tengah berjalan bersebelahan dengan William tanpa membuka suaranya sedikitpun membuat keheningan selalu berada di antara mereka. Sikap acuh tak acuh yang diberikan oleh evelyne saat ini memang membuat William sedikit merasa tidak nyaman, bahkan itu lebih mengherankan lagi baginya.
__ADS_1
Sampai tibanya di kamar, Keduanya langsung pergi ke tempat yang berbeda tanpa ada sedikitpun pandangan mereka mengarah ke satu sama yang lain. Semua terlihat seperti orang asing setelah tidak ada siapapun orang kecuali mereka. Entah Evelyne yang kini mulai berjaga jarak dengan William, atau memang Williamnya sendiri yang semakin membiarkan Evelyne untuk menjauh.
...--🥀🕊—
...
Pagi harinya Evelyne seperti biasanya berangkat ke kantor lebih awal dari jam masuknya. Berfikir bisa menghindari kemacetan serta masalah lainnya yang akan terjadi di jalan, Evelyne malah tidak akan menyangka bahwa ia akan bertemu dengan clara tepat di depan pintu kediaman. Wanita cantik yang angin ini terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
“Kak Yoona” sapa Clara dengan ramah
Melihat itu, Evelyne hanya mengangguk lalu terdiam. Sementara wanita itu kembali membuka topik untuk mengukur waktu Evelyne. “Tumben sekali kak Yoona pergi sepagi ini. Kau ingin kemana?” tanya Clara seraya menatap pakaian evelyne dari atas hingga bawah.
Evelyne terdiam, ia tidak berniat untuk menjawab apapun dari pertanyaan Clara ini. Bahkan sampai terdengar nya suara langkah kaki seseorang yang tengah berjalan mendekatinya dari belakang. “Yoona, kau ingin pergi ke kantor?” tanya suara lelaki itu di samping telinga Evelyne.
Karna merasa merinding dengan sikapnya itu, Evelyne pun dengan sontak menolehkan kepalanya ke samping. Membuat suatu pertemuan antara wajahnya dengan wajah seorang lelaki yang tengah bersandar di salah satu bahunya. “Berangkat bareng yuk! Kakek menyuruhku untuk mengantarmu juga” kata lelaki itu seraya mengusap kepala Evelyne dengan lembut.
Clara dan Evelyne dibuat terkejut dengan kedatangan William yang sedang bersikap manja dengan istrinya di depan wanita yang dulu pernah ia cintai. Evelyne yang merasa jijik dengan kedekatan itu, hampir saja ingin menjauhkan dirinya dari William, tetapi yang membuat Evelyne seketika terdiam salah tangan hangat William yang kini dengan menggenggam erat tangan dinginnya.
“A-apa yang sedang kau lakukan?” tanya Evelyne seraya melirik kan matanya untuk melihat kepala William yang terus singgah di salah satu bahunya.
William menggeleng tanpa mengangkat kepalanya “Tidak ada, hanya ingin seperti ini saja”
“Ckk...berhentilah melakukan itu! Aku ingin segera pergi, atau aku akan terlambat” Kata Evelyne sembari mendorong kepala William untuk menjauh dari bahunya.
William yang merasa kesal dengan sikap Evelyne pun membuatnya mengangkatnya dengan malas lalu mengangkat tubuh Evelyne secara tiba-tiba. “H-hey! A-apa yang kau lakukan?” tanya Evelyne saat tubuhnya terangkat oleh lelaki itu.
“Liam!! Apa yang kau lakukan?!! Turunkan aku!” teriak Evelyne yang terus menggoyangkan kakinya.
William melirik sekilas ke arah Clara lalu mulai berjalan melewati wanita itu tanpa menjawab panggilan dari Clara tadi. “Baik, baik....aku akan menurunimu nanti” jawab William yang meledek teriakan Evelyne.
“Sialan! Bisakah kau turunkan aku sekarang! Apa yang kau lakukan sih?” Kata Evelyne yang sudah merasa kesal dengan tindakan William yang seperti ini.
Sesampainya di samping mobil, William pun langsung menuruni Evelyne dari gendongannya. Sementara Evelyne yang sudah menapakkan kakinya di tanah, salah satu tangan Evelyne dengan spontan menampar pipi William dengan begitu keras. “Apa kau gila?!!” Kata Evelyne seraya menatap tajam kearah William yang sedang terdiam setelah menerima tamparan itu.
“Dia itu kekasihmu lho! Untuk apa kau melakukan ini di depan dia?! Apa kau ingin membuat wanita yang merasakan apa yang aku ras-“
Sstt....William menempelkan jari telunjuknya di bibir merah kecil Evelyne. Mencoba untuk menenangkannya barulah ia mengelus kepala wanita itu untuk kedua kalinya. “Baiklah, kalau kau tidak suka hal seperti itu! Maafkan aku” kata William sedang suara pelan.
Sekarang yang terdiam adalah Evelyne setelah mendengar perkataan itu, ia tidak tahu apa yang dilakukan William kali ini. Ia kira William setelah keluar dari pintu aula, lelaki itu akan pergi mengajak Clara untuk berangkat bersama. Tetapi siapa yang menduga bahwa lelaki ini keluar lalu melakukan semua itu tepat di depan mata Clara.
“Sebenarnya, apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Clara? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Evelyne dengan memutarkan hatinya agar tidak terpengaruh oleh sikap William saat ini.
William menatap Evelyne yang kini sedang terlihat diam seraya memasang ekspresi dinginnya. “Aku tidak bertengkar dengannya. Memangnya aku salah jika melakukan itu denganmu?”
“T-tapi, kamu dengan dia...”
William yang tidak ingin mendengar perkataan itu pun langsung mengalihkannya dengan hal lain. “Kita sudah hampir terlambat nih. Ayo masuk, biarkan aku yang mengantarmu!” kata William seraya menarik tangan Evelyne untuk masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Sementara William sendiri ikut masuk dan duduk di kursi sopir, lalu mulai menjalankannya keluar dari halaman kediaman. Evelyne yang kini duduk di kursi penumpang depan, Seketika manik matanya melirik kearah William yang sedang menyetir mobil dengan ekspresi dinginnya. Ia juga sempat terkejut dengan bekas kemerahan yang ada di pipi William.
Merasa bahwa dirinya sudah menampar begitu keras, tetapi William tidak marah. Melainkan ia hanya mengusap kepala Evelyne seraya meminta maaf. ‘Apa yang terjadi dengannya? Memainkan sebuah permainan apa lagi untuk menjebakku?’ batin Evelyne yang terheran-heran.
“Kalau sudah pulang, jangan lupa hubungi aku!” kata William disisi keheningan mereka.
Evelyne menolehkan kepalanya sekilas, lalu meluruskan kembali ke depan. “Tidak perlu, aku bisa pulang naik taksi.”
“Perlu atau tidak, hubungi aku saja jika kau butuh!” Tekan William seraya menghentikan mobilnya di sebuah parkiran. “Apa ini tempatmu bekerja?”
Evelyne mengangguk “Ya...memangnya kenapa? Apa perusahaan ini terlalu kecil dimatamu?”
“Tidak, aku hanya terheran. Wanita yang tidak memiliki pengalaman dan pendidikan sepertimu bisa masuk kedalam perusahaan seperti ini” cibir William yang membuat Evelyne merasa tersinggung.
Disaat hatinya merasa kesal dengan William, Evelyne hanya terdiam seraya membuka pintu mobil lalu melangkah keluar dari sana tanpa mengucapkan perkataan apapun kepada William. Sementara lelaki itu ikut terdiam seraya menatap punggung Evelyne yang kini sedang berjalan menjauh dari pandangannya.
-Andai dulu aku tidak sebodoh itu! Mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi-
Kring!!
Suara telpon dari HP William berbunyi, membuat lelaki itu langsung mengangkat telponnya saat tahu bahwa Nathan lah yang sedang menghubunginya. “Hallo tuan, selamat pagi!” sapa nathan saat telpon itu tersambung.
“Hm...ada apa?” tanya William
“Maaf mengganggu waktumu tuan. Saya disini Cuma ingin memberitahu bahwa Nona Clara sedang mencari anda di kantor. Saya sudah bilang kalau tuan tidak masuk ke kantor untuk beberapa hari, tetapi ia tidak percaya dan memilih untuk menunggu tuan di depan ruangan anda” jelas Nathan
Mendengar penjelasan itu, William hanya terdiam tak meresponnya. Karna memang benar bahwa William sudah tidak masuk kedalam kantor beberapa hari yang lalu untuk menghindari kontak antara dirinya dengan Clara. Tapi tak disangka, selama ini dia menunggunya disana dan bersikeras untuk mencarinya.
“Tuan, bagaimana menurut anda? Apa Nona Clara dibiarkan saja atau menyuruhnya untuk menunggu tuan di ruang khusus tamu?” tanya Nathan lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari William.
“Tidak perlu! Biarkan saja dia...kau lanjutkan saja pekerjaanmu itu!” pinta William
“Baik tuan”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun mematikan telponnya. Lalu terdiam kembali seraya menolehkan kepalanya kearah gedung perusahaan, tempat Evelyne bekerja. “Aku akan membuat semua berganti” gumam William dengan nada dinginnya.
...--🥀🕊—
...
Disisi lain, Evelyne yang sedang memperhatikan mobil William dari lantai atas, membuat Jane yang sedang berdiri di samping nya berkata “Kau daritadi melihat kearah mobil hitam itu mulu. Ada apa dengan mobil itu?” tanya Jane seraya menatap kearah Evelyne yang kini sedang melamun.
“Tidak, aku tidak memperhatikan mobil itu!” elak Evelyne dengan memalingkan wajahnya kearah lain
Jane tersenyum “Ada apa? Apakah itu mobil pacarmu yang sedang menunggu?”
“Tidak...aku tidak memiliki pacar! Aku juga....tidak mengenali mobil itu!” jawab Evelyne seraya berbalik badan untuk masuk kedalam ruangan. Sementara Jane masih terdiam dengan senyuman di wajahnya. Manik mata dari wanita itu juga menatap mobil mewah berwarna hitam itu dari atas, lalu terdiam sejenak saat menyadari plat nomor dari mobil tersebut.
__ADS_1
Jane terkekeh “Kelihatannya, kau memiliki hubungan dengan orang penting di kota ini, Yoona”