Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 47 : Pertengkaran Evelyne dan William


__ADS_3

Bruukk!!


Evelyne tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan di depannya. Ia semakin panik saat mendengar teriakan Edgar semakin dekat untuk mengejarnya. Tidak menunggu untuk minta maaf, Evelyne hendak melanjutkan kembali lariannya itu, tapi seseorang yang baru saja ia tabrak hanya terdiam dengan menggenggam tangan evelyne begitu erat.


Evelyne tidak bisa pergi jika tangannya di tahan oleh lelaki ini. Tapi saat Edgar muncul di hadapannya, seseorang itu sudah lebih dulu menyembunyikan mereka berdua di samping tembok perbatasan. Evelyne terkejut kenapa lelaki ini menyembunyikan tubuh kecilnya dibalik tubuh besarnya.


Ia tidak sempat melihat wajah lelaki itu dengan jelas hingga ia tidak menyadari siapa lelaki yang tengah berada di depannya ini. “Maafkan dan Terimakasih” kata Evelyne seraya mendorong lelaki itu menjauh dari dirinya. Tak menunggu jawaban dari lelaki itu, Evelyne hendak berjalan pergi meninggalkannya. Namun saat ia berbalik badan, lelaki itu menahan tangan Evelyne.


Evelyne menoleh, lalu dengan seketika matanya terbelalak kaget saat melihat sosok lelaki yang berdiri di depannya. “T-tuan?” gumam kecil Evelyne dengan membuang wajahnya kearah lain. Sementara lelaki yang di sebut tuan oleh Evelyne yang berarti William hanya terdiam seraya berjalan melewatinya.


“Kutunggu kau di kamar untuk menjelaskan semuanya!!”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William langsung berjalan pergi meninggalkan Evelyne yang masih terdiam di tempat. Merenung seraya menatap bekas kemerahan yang terdapat di pergelangan tangannya. Ia tidak menyangka, orang yang selama ini ia kira baik ternyata memiliki sifat yang sama dengan William.


“Ini menyakitkan!” kata Evelyne seraya mengelus pergelangan tangannya.


Ia tahu bahwa semunya tidak akan pernah berjalan dengan mulus, sulit rasanya jika hidup harus menggunakan perasaan. Tapi ini adalah kehidupannya yang baru, dan ia juga harus menerimanya. Kenyataan memang pahit, tetapi kita bisa membuat kebahagiaan dengan mudah walau itu dari sesuatu yang sederhana.


-Lakukan jika kau mampu, pergi jika kau sudah menyerah!-


...--🥀🕊—


...


Disisi lain, William yang sedang duduk di atas kasur sembari memainkan hpnya di tangan seketika kepalanya menoleh saat pintu kamar terbuka dari luar. Menampakkan seorang wanita dengan ekspresi datarnya sedang berjalan masuk kedalam kamar. Itulah Evelyne yang akan diinterogasi oleh William untuk kedua kalinya.


Setelah Evelyne masuk kedalam kamar, ia juga tak lupa untuk mengunci pintu dari dalam agar tidak ada seseorang yang mengganggu mereka.


“Tuan, ada apa kau memanggilku?” tanya Evelyne dengan nada datarnya.


William melirikkan matanya “Tidak perlu kutanyakan, kau pasti sudah mengertikan?”


Ya...Evelyne mengerti apa yang di inginkan oleh William kepadanya. Jadi Evelyne mengangguk seraya berkata “Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya! Kejadian di taman benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan”


“Oh ya kah? Lalu, Aku harus menganggap seperti apa kejadian itu?” cibir William.


Evelyne menghela nafasnya “Aku sudah bilang, tidak memiliki hubungan dengannya! Mau percaya atau tidak, maka itu urusanmu!! Lagipula kenapa kau terlalu ikut campur dengan hal seperti ini? Bukankah seharusnya kau tidak peduli?”


“....” William terdiam.


Sementara Evelyne kembali membuka suaranya “Aku berterimakasih padamu sudah menolongku tadi, tapi jika kau meminta penjelasan dan tidak mempercayainya maka aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai itu. Jadi anggap saja kau seperti aku yang melihatmu bersama clara”


Bruukk!!


William yang merasa tersinggung akan hal itu pun, langsung berlari kearah evelyne seraya membantingnya kearah dinding. Bahkan itu lebih keras dari yang sebelumnya. Evelyne yang menerima itu pun langsung menggertakkan giginya, serta menatap datar kearah William yang sedang menatapnya dengan tajam.


“Jangan sekali-kali kau menyebut nama itu dalam permasalahan kita, Yoona!!” tekan William.


Evelyne mengangkat alisnya “Kenapa? Bukankah permasalahan ini sama dengan permasalahanmu?”


“Tentu saja berbeda!! Aku dan clara hanya partner kerja yang tidak sama dengan perselingkuhanmu itu!!” bentak William sembari menekan tubuh evelyne lebih keras lagi.


Evelyne tertawa kencang “Kau dan dia hanya Partner kerja?!!”

__ADS_1


Merasa semua hanya lelucon, Evelyne pun tertawa dengan keras seperti merendahkan William. Sementara lelaki itu hanya terdiam seraya menatap wanita itu dengan aneh. “Iblis mana yang berkata bahwa itu hanya partner kerja, huh? Aku ingin tahu seperti apa iblis itu” kata Evelyne.


“Kau pikir aku ini wanita bodoh yang bisa kau tipu hanya karna sebuah sebutan itu?!!” Tanya Evelyne seraya menarik kerah baju William hingga membuat wajah mereka bertemu. “Sifat kau saja sudah sangat berbeda jika bersamaku ataupun bersamanya! Kemesraan, perhatian, kelembutan, ataupun kasih sayang....semua kau berikan padanya!! Sedangkan aku? Kau malah memperlakukan aku seperti orang ke3 dalam hubunganmu!!”


William tertegun, sementara Evelyne kembali menarik kerah baju itu agar wajahnya bisa lebih dekat lagi dengan wajah William. “Jika kau lebih menginginkannya, maka bicara padaku! Apa kau ingin semuanya berakhir agar kau bisa menikah bersamanya? Atau kau memperlambat perceraian, agar kau bisa menyiksaku seperti ini terus?!!”


“.....” William terdiam


Evelyne yang tidak sabar pun membentak William dengan suaranya yang keras! “Jawab aku, Liam!! Apa kau seperti it-“


Praakk!!


William mendaratkan sebuah tamparan keras tepat di pipi Evelyne yang sebelumnya ia pernah menamparnya disana. Bahkan disaat Evelyne yang kini sedang emosi dan malah mendapatkan sebuah tamparan dari William, itu malah semakin membuat api di dalam diri evelyne berkobar-kobar.


“Siapa yang menyuruhmu untuk bicara sebanyak itu, huh?!!” bentak William


Tekanan pada tubuh Evelyne pun kembali dikuatkan oleh William, ia merasa bahwa kini adalah saatnya William yang mengeluarkan emosinya. Bahkan secara tak sadar, evelyne telah melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju milik William.


“Aku dan clara hanya teman! Kami tidak memiliki hubungan apapun, kenapa kau seperti menganggap aku ini seperti itu dimatamu, huh?!” kata William yang dirasa oleh evelyne hanyalah pembelaan diri.


“Kalau hanya teman, kenapa selalu dia mendapatkan apa yang Seharusnya aku dapat?!! Kenapa Liam?!!” balas Evelyne yang tidak mau kalah.


“Kau sudah mendapatkannya, Yoona!! Apa lagi yang kau mau?! Kau sudah menikah denganku, kau juga bahkan dapat merasakan kekayaanku. Apa semua itu kurang di matamu?!!”


“Tentu saja kurang!! Aku ini istrimu yang butuh perasaan, bukan harta?!! Kenapa kau malah memberikan perasaanmu pada orang lain, sementara aku...kau hanya memberikan sebuah harta yang sama sekali tidak aku butuhkan, Liam!!”


“.....” William terdiam


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun langsung mendorong tubuh William dengan kasar. Lalu berjalan melewatinya untuk pergi ke ruang ganti, sementara William hanya terdiam seraya menahan emosinya.


...--🥀🕊—


...


Keesokan harinya, Evelyne mulai mencari kerja di kota Seoul walaupun dirinya belum diterima dikerja manapun. Ia tahu bahwa mencari kerja di zaman sekarang memanglah sulit, tetapi ia juga ingin tahu bagaimana rasa bekerja dan mendapatkan uang hasil dari keringat sendiri.


Hari juga sudah memasuki jam siang, dan evelyne mencoba memberanikan dirinya untuk melamar kerja di perusahaan ***** yang jaraknya lumayan dekat dengan kediamannya. Evelyne berjalan memasuki ruang pelamaran staf baru yang letaknya di samping perusahaan itu. Awalnya, rasa gugup dan tidak percaya diri mulai menakuti perasaan evelyne, namun karna perasaan ingin tahu wanita itu jauh lebih besar membuatnya semakin ingin tahu seperti apa dunia bisnis.


30 menit kemudian setelah Evelyne melakukan wawancara, ia langsung diterima begitu saja setelah mengecek kemampuannya. Ya walaupun evelyne dulunya adalah seorang wanita yang tidak memiliki pengalaman, tetapi ia sedikit mempunyainya walau tidak sehebat yang lain.


Evelyne senang karna akhirnya ia mendapatkan pekerjaan, dan ia juga tidak akan merepotkan keluarga maxime setelah ini.


Sepulangnya dari kota, Evelyne yang baru saja keluar dari mobil seketika langsung melihat seorang wanita dengan pakaian yang rapih sedang berdiri di depan halaman kediaman dengan kepala asisten yang ada disana. Yang tak lain, wanita itu adalah Clara.


“Ada apa ini?” tanya Evelyne seraya berjalan menghampiri mereka.


Mendengar suara Evelyne, keduanya menoleh secara bersamaan saat Evelyne sudah berdiri di hadapan mereka. “Nyonya besar” Kepala asisten menundukkan kepalanya.


Evelyne mengangguk “Tuan, Apa ada masalah?”


“T-tidak ada nyonya, hanya saja tuan tidak menerima tamu hati ini. Jadi saya sangat berat hati untuk tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali penghuni kediaman” jelas kepala asisten.


Evelyne mengerut keningnya, merasa sedikit aneh jika William tiba-tiba memerintahkan kepala asisten untuk memblokir semua tamu yang datang ke kediaman, bahkan Clara sekalipun. “Kau datang kesini untuk apa?” tanya evelyne saat menolehkan kepalanya kearah Clara.

__ADS_1


“A-aku hanya ingin membicarakan masalah pekerjaan kantor dengannya. Bisakah kak Yoona memanggilnya keluar?” ucap Clara dengan suara lembutnya.


Evelyne mengangguk, lalu dengan acuh tak acuh ia berjalan masuk kedalam untuk meninggalkan mereka dan berjalan memasuki ruang kerja milik william yang berada di lantai 1.


Tok...tok...tok...


Evelyne dengan sopan mengetuk pintu itu sebelum membukanya secara perlahan. Saat pintu itu terbuka, Evelyne dapat melihat seorang lelaki dengan penampilannya yang berantakan sedang duduk di meja kerja dengan memandang laptopnya.


“Untuk apa kau masuk kesini? Apa aku sudah mengizinkanmu?” tanya William dengan suara yang dingin


Evelyne memutarkan bola matanya “Izin pun kau tidak akan membiarkan kumasuk. Jadi untuk apa aku harus meminta izin padamu?” Kata evelyne yang membuat William dengan sekilas melirikkan matanya kearah evelyne yang sedang berdiri di depan pintu. “Kekasihmu datang tuh! Apa kau akan terus memblokir semua pintu untuknya?”


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Evelyne pun membuatnya terdiam seraya mengerutkan keningnya. “Tidak perlu terkejut! Seharusnya kan kau sudah tahu kalau dia akan datang!” tambah Evelyne. “Dah sana, Keluar dan temui dia!! Kasihan dia sudah lama menunggumu” Evelyne berbalik badan seraya berjalan keluar dari ruangan William.


Bruukk!!


William melemparkan sebuah vas bunga ke arah pintu saat evelyne hendaklah membuka pintu tersebut, ia merasa kesal jika wanita itu terus menerus memancingnya dengan cara seperti itu. “Siapa yang menyuruhmu keluar kali ini?!!” bentak William seraya menatap Evelyne dengan tajam


“Keluarlah! Memangnya kau berharap apa jika aku tetap disini?!” tanya Evelyne dengan memiringkan kepalanya untuk melihat William yang tengah berada di belakangnya.


William beranjak dari duduknya, berjalan dengan cepat untuk menghampiri Evelyne yang kini sedang berdiri di depan pintu seraya menatapnya dengan ekspresi datarnya. Setelah di dekat Evelyne, William pun mengulurkan salah satu tangannya di kepala Evelyne. Posisi mereka seperti William yang tengah mengukung Evelyne di dalamnya.


Evelyne yang melihat itu pun hanya terdiam seraya menatap datar kearah manik mata dingin milik William. “Ada apa? Mau ribut lagi seperti semalam?” tanya Evelyne.


“Siapa yang menyuruhmu datang kesini untuk menyampaikan hal tidak berguna seperti itu?!” William bertanya dengan suara serak.


Evelyne mengerutkan keningnya “Tidak ada yang menyuruh, aku kesini hanya karna inisiatifku saja. Aku kasihan dengan kekasihmu itu...pasti dia sud-“


Braakk!!


William memukul pintu itu dengan sangat kencang, sementara Evelyne hanya melirik sekilas kearah tangan panjang William yang berada di samping kepalanya. “Bisakah kau berhenti membicarakan itu?!!”


“.....” Evelyne terdiam.


William menarik nafasnya, lalu menghembuskannya saat ia menempelkan kepalanya ke pintu atau bisa di bilang tepat di atas kepala Evelyne. “Berhenti bicara seperti itu!! Aku benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengannya.” Kata William dengan suara serak.


Mendengar hal itu, Evelyne sungguh tidak dapat mempercayai lelaki itu lagi. Bahkan jika sikapnya sudah seperti ini tidak akan membuat kepercayaannya kembali dengan mudah. “Sudahlah, aku tidak mau dengar itu! Sekarang kau mau pergi temui dia atau tidak, itu urusanmu! Aku kesini sudah memberitahumu” kata Evelyne seraya mendorong tubuh William kebelakang.


William yang mendapatkan dorongan itu pun hanya melangkah mundur dan membiarkan Evelyne keluar dari ruangannya dengan perasaan tak acuh padanya. Pikiran serta hatinya kini berubah menjadi sangat kacau, bahkan ingin meluapkan semua emosinya namun tidak bisa.


Disisi lain Evelyne yang baru saja keluar dari ruang kerja William pun segera dihampiri oleh kepala asisten yang sudah menunggunya sedari tadi. “Nyonya besar, bagaimana? Apa tuan besar ingin menemui Nona Clara?” tanya nya dengan sopan.


Evelyne terdiam sejenak, manik matanya sekilas melirik kearah pintu ruang kerja William yang masih belum kunjung terbuka. “Hari ini tuan sibuk, tidak memiliki waktu untuk bertemu. Jadi suruh dia pulang saja!!” Jawab Evelyne.


“T-tapi...Nona Clara bilang dia akan menunggu di luar sampai Tuan besar keluar untuk menemuinya. Apa sebaiknya saya izinkan masuk saja?” Kata kepala asisten


Evelyne menggeleng “Tidak perlu, biarkan saja dia! Kau tunggu perintah tuan saja nanti, tidak perlu menemaninya diluar!”


“Baik Nyonya!” ucap kepala asisten dengan tegas.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun berjalan pergi meninggalkan kepala asisten yang kini sedang berjalan di depan pintu ruang kerja milik William. Sementara evelyne yang sedang berjalan kembali ke kamar, secara sekilas manik matanya melirikkan kearah jendela yang menampilkan seorang wanita dengan pakaian dress yang sedikit terbuka tengah berdiri disana seraya membawa bingkisan di tangannya.


Evelyne yang melihat hal itu pun hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Entah apa yang terjadi pada mereka, evelyne merasa bahwa itu adalah suatu kegembiraannya. “Aku ingin tahu, seberapa lama kau akan menunggunya disana”

__ADS_1


__ADS_2