
“Ahh...membosankan!”
Evelyne yang sudah terlalu lama menunggu William tanpa melakukan apapun membuat dirinya merasa bosan, dan seketika manik matanya tertuju ke arah ruangan yang sebelumnya William tawarkan kepadanya. Karna penasaran, Evelyne pun langsung berjalan menuju ruangan itu. Membuka pintu kaca secara perlahan, lalu dikejutkan oleh sesuatu yang ada di depannya.
Waw, itu sangat menakjubkan! Sebuah kamar yang luas, terdapat kasur besar didalam kamar tersebut. Disana juga ada TV besar yang terpasang di dinding. Tidak hanya itu, disana juga ada lemari es, kamar mandi dan juga beberapa barang-barang yang lain. Evelyne tidak menyangka, bahwa di perusahaan seperti ini, akan memiliki kamar di dalam ruangan pribadi milik william.
Tidak akan heran, jika lelaki ini dulunya tidak pernah pulang ke kediaman. Karna di kantornya saja, ia memiliki kamar yang berasa seperti rumah serba ada. “Aku lapar!” gumam Evelyne dengan memegang perutnya yang kurus. Ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia tidak memiliki nafsu makan yang beraturan.
Bahkan jika dihitung, Evelyne hanya memakan satu kali dalam sehari. “Aku ingin manis-manisan” Evelyne berjalan menuju lemari es, lalu membukanya untuk mencari sesuatu yang manis di dalamnya.
Saat ia membukanya, raut wajah lesu kini berganti dengan raut wajah yang penuh nafsu dengan aa yang ia lihat di depannya. “Puding caramel!!!” girang Evelyne dengan mengambil semua puding itu dari lemari esnya. Tanpa pikir panjang, Ia juga langsung melahap nya dengan penuh semangat.
Di tengah-tengah memakan puding caramel, Evelyne tiba-tiba menghentikan tindakannya. Menatap puding itu dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. “Ahh...kenapa puding ini selalu mengingatkanku pada kakak yang selalu membuatkannya untuk ku? Rasanya belum ikhlas untuk membiarkan kalian tenang, tapi aku juga tidak bisa berbuat apapun untuk merelakan semuanya”
“Nona, tolong jangan masuk terlebih dahulu! Kami belum mendapatkan izin dari Tuan besar untuk menyuruhmu masuk. Tolong nona tunggu di luar hingga tuan besar menyelesaikan meetingnya”
“Menunggu di luar? Apa kau bercanda? Aku ini adalah kekasih William! Jadi aku berhak untuk memasuki ruangannya tanpa izin dari nya. Lagipula, ia juga akan mengizinkannya tanpa kau bertanya”
“Tapi nona, tuan besar akan marah jika tahu kalau ada seseorang yang memasuki ruangannya tanpa seizin darinya”
“Aakhhh...aku kan sudah bilang, kalau aku ini kekasihnya. Kenapa kau begitu tidak mengerti dengan maksudku?!!”
“Ada apa ini?”
“K-kak w-william?”
“Kamu? Apa yang membuatmu datang kesini?”
“Ahh...maafkan aku kak William, aku datang tanpa memberitahumu. Aku kesini untuk membicarakan sesuatu padamu. Apa kau memiliki waktu untuk berbicara?”
“Aku sibuk, sebentar lagi aku akan ada meeting lagi. Jadi pulanglah! Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara denganmu”
“Kau sudah sibuk akhir-akhir ini, tapi kenapa kau tidak bisa meluangkan sedikit waktumu untuk ku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, hingga kau bisa melupakan dan membuangku seenaknya?”
“Aku sibuk! Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu! Apa kau tidak mendengar perkataanku?!!.....jika kau memang memaksa untuk berbicara, maka bicaralah sekarang!”
“Eum...aku ingin kita bicara di luar. Sekalian kita makan siang bersama, kamu masih belum makan kan? Kamu terlihat lelah hingga se emosi ini”
“Jangan sentuh aku! Aku sudah bilang padamu, untuk berhenti berkontak fisik denganku. Apa kau melupakan itu?”
__ADS_1
“Jika tidak boleh, lalu apa yang harus aku lakukan padamu? Aku sudah lama tidak memelukmu, aku ingin memelukmu. Aku juga sudah lama tidak mendapatkan sentuhan lembut dari tanganmu, aku ingin merasakannya lagi. Kenapa kau akhir-akhir ini berubah? Kenapa kau seperti menjauh darimu? Apa yang membuatmu seperti ini?”
“Jika kau tahu aku menjauh darimu, maka seharusnya kau memiliki kesadaran diri untuk tidak menemuiku lagi”
“.....”
“Sudah selesai bicara? Sekarang, keluarlah dari ruangan ku sebelum aku bertindak yang tidak ingin aku tindakan!”
Praakk!!
“Aku kecewa denganmu, William! Aku kira kau mencintaiku selamanya, tapi pada akhirnya kau membuangku setelah kau membuat kenyamanan yang begitu besar dari dalam hatiku!”
Mendengar semua perkataan itu, Evelyne hanya memejamkan matanya seraya memeluk kakinya dengan erat. Pikirannya kini terus memutarkan bagaimana kejadian itu, memiliki kemiripan yang sama seperti dirinya dengan dion.
...--🥀🕊—
...
“D-dion, apa yang kau lakukan?” tanya seorang wanita saat lelaki di depannya tengah mencoba membuka baju yang ia kenakan.
Cup!
Lelaki itu mengecupkan kening wanita dengan lembut. Membuat suatu kekhawatiran dari hatinya menghilang secara perlahan hingga berganti dengan perasaan yang hangat. “Aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi! Bisakah kita melakukan itu sekarang? Aku berjanji padamu untuk melakukan hal itu dengan hati-hati”
Lelaki itu menggeleng, “Aku akan perlahan, aku berjanji itu tidak akan melukaimu sesedikitpun”
Setelah mengatakan hal itu, Lelaki itu pun mencium bibir Wanita itu dengan sangat lembut. Kelembutan yang di berikan dalam ciuman itu semakin membuat panas keduanya. Tidak sadar untuk menahannya, lelaki itu membuat suatu keterkejutan pada wanita itu hingga membuat dengan sontak membuka mulutnya.
Kesempatan yang bagus, lelaki itu langsung meneroboskan lidahnya yang hangat ke dalam mulut wanita itu. Wanita itu menggeleng saat mendapati lidah lelaki itu sedang bermain-main di dalam mulut. Lidah lelaki itu, terus menjelajahi setiap gigi dari wanita itu yang tersusun dengan rapih. Ditambah lagi dengan lidah yang manis membuat lelaki itu terus mengisap lidah wanita itu dengan nafsunya.
‘Ini terlalu berlebihan, aku bisa gila!!’
Wanita itu mencoba mendorong tubuh lelaki itu menjauh darinya, karna ia juga merasa bahwa nafasnya akan segera habis. Mengerti dengan kode itu, lelaki yang tadinya mencium wanita di depannya dengan penuh semangat kini harus melepaskannya karna takut membuat wanita ini merasa tidak nyaman dengan tindakannya.
Plaakk!!
“A-apa yang kau lakukan?!!” bentak wanita itu dengan air mata yang menetes di pipinya.
Melihat wanita di depannya menangis, lelaki itu pun langsung memeluknya dengan lembut. Bahkan memberikan suatu kenyamanan pada wanita ini. “M-maafkan aku! Aku seharusnya tidak melakukan ini denganmu. Aku tahu kau takut, tapi aku juga tidak tahan untuk menjadikan dirimu menjadi milikku sepenuhnya”
__ADS_1
“T-tapi kenapa kau harus melakukan hal yang seperti itu? Apa kau akan melakukan yang sama seperti ayahku lakukan?” tanya wanita itu saat menyandarkan kepalanya di depan dada lelaki itu.
Lelaki itu menggeleng, mengelus lembut kepala wanita itu untuk menghentikan tangisannya. “Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku melakukan ini karna aku mencintaimu, bukan tubuhmu.”
“Lalu kenapa kau tidak menikahiku saja untuk sebagai bukti dari perkataanmu?” Wanita itu menjauhkan kepalanya untuk menatap wajah lelaki yang tengah memeluknya dengan hangat.
Lelaki itu terdiam sejenak, “Aku bukannya tidak ingin menikahimu, tapi aku tidak bisa meminta izin kepada ayahmu. Disaat kau sekarang dalam perangkapnya”
“Tapi, setidaknya jangan lakukan itu sekarang. Aku tidak belum siap untuk menerimanya.” Wanita itu berkata dengan suara yang pelan.
Sementara lelaki itu hanya terdiam seraya menenggelamkan kepala wanita itu di dalam pelukannya. “Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Maaf, sudah membuatmu takut”
...--🥀🕊—
...
‘Sialan kau bajingan!!’
Evelyne terus memendam kemarahannya itu di dalam pelukan kakinya sendiri, ia ingin mengeluarkan karna ia tidak tahan untuk menahan semuanya lebih lama lagi. Tapi apa daya nya yang sekarang? Ia tidak memiliki tempat untuk bercerita, bahkan hanya Eve ( dirinya sendiri ) yang dapat menjadi tempat disaat ia merasa kesepian.
“Aku ingin semua berakhir, aku ingin semua berakhir. Tolong berikan aku ketenangan!”
Perasaan amarah yang tidak bisa keluar dari mulutnya membuat ia terus merutuki dirinya sendiri. Disaat ia ingin mengatakan semuanya kepada dunia, tetapi kenapa mulutnya selalu tidak bisa berkata sesuatu dengan apa yang ia inginkan.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu mulai terdengar dari luar, Evelyne yang tengah memusatkan perhatiannya kepada hatinya yang gelisah. Membuat ia tidak bisa mendengar suara ketukan itu. “Yoona? Apa kau di dalam? Yoona?” panggil seseorang dari balik pintu.
Tidak mendapatkan jawaban dari dalam, seseorang dari balik pintu itu pun langsung membuka pintunya dengan cepat. Takut terjadi sesuatu di dalam hingga membuat Evelyne yang berada di dalam tidak membukakan pintu untuknya.
Lelaki yang memasuki ruangan itu tidak lain adalah William. Salah satu orang yang di dengar pembicaraan oleh Evelyne. William tertegun, saat melihat. Evelyne yang tengah meringkuk di depan TV dengan beberapa puding caramel sampingnya.
Wanita itu menggumam sesuatu yang tidak jelas, namun tubuhnya yang gemetar membuat William dengan cepat berlari ke arah wanita itu seraya memeluknya dengan hangat. “Yoona, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?” tanya lelaki itu dengan cemas.
Evelyne yang mendapatkan pelukan hangat itu, langsung membalas pelukan itu dengan menenggelamkan kepalanya di depan dada bidang milik william. Wanita ini menangis, dan membasahi kemeja putih yang di kenalan oleh William saat ini.
Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia menangis? Apa ia mendengar semua pembicaraan kita?
William tidak tahu harus menjelaskan seperti apa jika Evelyne benar-benar mendengar semuanya. Tetapi disisi lain, Evelyne yang tidak mau mencampuri urusan William dengan clara membuatnya terus tersiksa karna harus menerima ingatan itu secara tiba-tiba.
__ADS_1
Aku menangis? Aku tidak marah, tapi aku menangis? Kenapa? Kenapa disaat ajh ingin mengeluarkan semuanya? Kenapa air mata yang terus keluar dari mataku? Apa aku tidak bisa mengeluarkan semua dari mulutku sendiri? Apa aku tidak diizinkan oleh dunia untuk mengatakan itu?
“Yoona, jangan menangis. Maafkan aku...aku tidak bermaksud untuk membuatmu mendengar semua itu” William memejamkan matanya saat kehangatan itu mulai membuat perasaan nyaman di antara pelukan mereka. “Aku memang lelaki yang kejam, aku tidak bisa membedakan mana cinta mana suka”