Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 55 : Kebersamaan William membuatnya terkadang mengingat Dion


__ADS_3

Mendengar seseorang tengah memanggil nama-Nya, Wanita itu pun menolehkan kepalanya ke belakang. Ia tertegun saat melihat ada seorang lelaki datang menghampirinya, seraya memeluknya dengan tubuh yang gemetar. Tubuh wanita itu terasa sangat dingin, sedangkan tubuh dari lelaki itu begitu hangat. Membuat suatu perasaan yang nyaman saat mereka berpelukan.


“T-tuan Liam?” kata wanita itu dengan suara yang pelan.


Mendengar perkataan itu, William yang sedang memeluk Evelyne pun semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Evelyne merasa ter bingung dengan apa yang terjadi pada lelaki ini. “Hey, ada apa? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Evelyne sekali lagi seraya menepuk-nepuk pelan punggung besar William yang kini sedang membungkuk karna memeluknya.


William menggeleng, melepaskan pelukan itu secara perlahan lalu menatap wajah Evelyne yang begitu kotor, entah karna apa. “Kotor sekali, apa yang terjadi dengan wajahmu?” Tanya William seraya membersihkan wajah Evelyne dengan tangan besarnya.


“Tidak terjadi apa-apa, aku hanya terjatuh tadi” jawab Evelyne seraya menyingkirkan tangan besar William dari wajahnya, dan berganti pada tangan miliknya yang kini sedang membersihkan beberapa pasir disana.


William mengerutkan keningnya, Merasa bahwa ada sesuatu aneh terjadi pada wanita ini. Bagaimana bisa orang sepintar dia bisa dibohongi dengan perkataan seperti itu. Lihatlah! Bukan wajahnya saja yang kotor, kedua tangan dari wanita itu juga dipenuhi banyak darah. Entah apa yang telah ia lakukan, itu tentu saja membuat William kembali mengingatkan kejadian dimana Banjir darah di kediaman jiang.


Rasanya memang aneh, tapi William masih belum mengetahui apa yang terjadi dengan Evelyne saat ini. “Lalu, kenapa kau bisa berada disini? Aku sudah menjemputmu di kantor, tapi teman sekantormu bilang kau sudah pulang sejak tadi siang. Apa itu benar?” tanya William dengan menatap manik mata berwarna merah terang milik Evelyne.


Manik mata itu sangat indah, bahkan jika di malam hari maka itu akan membuatnya terlihat seperti bersinar. “Ya benar, aku pulang sejak tadi siang karna aku sedang tidak enak badan.” Angguk Evelyne dengan senyuman di wajahnya.


“Lalu kenapa kau disini? Apa yang kau lakukan?” tanya William lagi dengan memegang kedua tangan Evelyne dengan kedua tangannya. William tertegun saat merasakan tangan wanita di depannya ini begitu dingin dan pucat. Entah seberapa lama ia berdiri disini, hingga membuat suhu di dalam tubuhnya ikut mendingin.


Evelyne yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaan William pun membuat lelaki itu melepaskan blazer yang tengah ia kenakan sekarang. Blazer berwarna hitam itu di lepaskan lalu di letakkan di bahu Evelyne untuk menghindari udara di luar masuk ke dalam tubuhnya lebih banyak lagi. Evelyne yang melihat sikap William pun membuatnya dengan sontak terkejut serta melepaskan blazer itu untuk mengembalikannya kepada William.


“Tuan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberikan ini kepadaku?” tanya Evelyne seraya melepaskan blazer itu dari bahunya.


William memalingkan wajah kearah lain “Pakai saja! Kau sudah kedinginan, apa kau akan membuat tubuhmu semakin kedinginan seperti itu?”


“T-tapi aku sudah ter-“


William melirik kan matanya yang tajam kearah Evelyne yang kini terus menolak pemberiannya. “Aku bilang pakai ya pakai!! Apa kau tidak mendengarkan perkataanku dengan baik?”


“....” Evelyne terdiam saat mendengar perkataan itu. Ia pikir sikap William akan terus melembut hingga membuat ketraumaan dari dalam hatinya bisa di sembuhkan, tapi ternyata sikap kasar yang diiringi oleh sikap lembut lelaki itu malah membuatnya kembali mengingatkannya pada Dion.


William yang melihat Evelyne menundukan kepalanya kebawah, membuat lelaki itu sedikit merasa bersalah karna sudah berkata yang tidak baik dengan wanita itu. Tapi karna untuk menghindari kecurigaan, William harus terpaksa melakukan itu pada Evelyne. “Huh...untuk apa kau masih diam saja disana? Ayo pergi! Hari sudah mulai larut, apa kau ingin terus lebih lanjut disini?” Kata william seraya menarik tangan dingin Evelyne.


Disaat William sedang menggandeng erat tangan dingin milik evelyne, wanita itu hanya terdiam seraya menatap genggaman tangan besar William yang melekat erat pada tangan kecilnya. “Apa yang membuatmu bersikap seperti ini? Kenapa kau datang mencariku disini? Apa setelah ini kau akan memintaku untuk melakukan apapun yang kau inginkan, seperti aku dengan dion?” gumam kecil Evelyne yang diabaikan oleh William.


‘Dion? Siapa dion? Lelaki mana lagi yang memiliki hubungan dengannya?’ batin William yang seraya tidak sadar membuat genggaman tangannya semakin mengerat.


Evelyne merintih pelan saat menerima eratan dari genggaman tangan William. Disisi lain, William yang melihat itu pun langsung berbalik badan untuk melihat apa yang terjadi dengan Evelyne. “Yoona, apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak sengaja mengeratkan pegangan itu” kata William dengan perasaan bersalah.


Evelyne menggeleng “Aku baik-baik saja kok. Sudah, tidak perlu bergandengan lagi. Tanganku kotor, takut mengotori tangan bersihmu”

__ADS_1


“Mengotori bagaimana? Tanganku sudah kotor sejak tadi” ucap William dengan menarik tangan evelyne dan memasukkannya kedalam saku jas hitamnya. “Tanganmu sangat dingin, besok jika tubuhmu merasa tidak nyaman maka jangan pergi kerja dulu, oke?”


Evelyne mengangguk, ia juga merasa bahwa dirinya butuh istrahat yang cukup untuk menenangkan semua pikirannya yang sedang berantakan ini. “Ya, baiklah!”


Keduanya pun pulang dari sana menggunakan mobil yang di bawa oleh William sebelumnya, mereka selama di perjalanan masa sekali tidak berbincang sedikitpun tentang apapun lagi. Wiliam jadi merasa bahwa Evelyne yang sekarang, bukanlah Yoona yang ia kenal. Karna walaupun dulu ia sangat membenci Yoona, tetapi rasanya begitu tenang jika wanita itu selalu bercerita apapun mengenai banyak hal.


Tapi sekarang? Wanita yang biasanya dipenuhi banyak cerita, kini menjadi seseorang yang aneh dan misterius. Entah dari sikap maupun perbuatannya. Mereka memang memiliki wajah serta suara yang sama, namun yang membedakan mereka adalah sikap serta temperamennya.


William terdiam saat melihat Evelyne tengah tertidur meringkuk di atas kursi penumpang depan seraya membungkus erat tubuhnya yang dingin. William juga sekilas mencium bau sesuatu yang membuat sedikit mengerutkan keningnya saat mengenali bau itu. Karna tidak ingin mengganggu tidur wanita di sebelahnya, William hanya bisa menghiraukan bau itu dan bersikap seperti tidak mencium apapun satu tubuh wanita itu.


Sesampainya di kediaman, William langsung menggendong tubuh Evelyne yang masih tertidur itu dengan gendongan ala Bridal style. Lelaki itu dengan perlahan mengangkat serta membawa tubuh Evelyne di dalam dekapannya masuk kedalam kediaman. Dessy yang baru saja melihat sekeliling pu terkejut saat melihat William tengah membawa Evelyne pulang dalam posisi seperti itu.


“Tuan, apa yang terjadi dengan nyonya?” tanya Dessy dengan cemas.


William menyuruh Dessy untuk sedikit mengecilkan suaranya, karna takut akan membangunkan wanita itu dari tidur. “Dia baik-baik saja, hanya tertidur. Kau kembalilah ke tempat setelah mengunci semua pintu” kata William yang di angguki oleh Dessy sebelum ia menaiki tangga ke atas.


“Engh...” Geliat Evelyne dalam dekapan William dengan membuka matanya secara perlahan. “Liam?” panggil nya dalam gumaman


William yang mendengar hal itu pun hanya sedikit mendekatkan tubuh Evelyne pada tubuh bagian dengannya. Lelaki itu juga dengan sekilas mengecup kening Evelyne yang masih bergumam memanggil namanya. “Hn..aku disini, Yoona.”


...--🥀🕊—


...


Edgar yang melihat emosi jessica semakin meluap pun membuat dirinya hanya terdiam saat mendengar semua umpatan yang di keluarkan oleh Wanita ini. Jessica yang merasa dihiraukan oleh lelaki yang ada di depannya pun membuat emosinya semakin meluap dan bahkan hampir meledak. “Kakak kedua! Kenapa kau hanya diam saja?! Katakan padaku!! Katakan kenapa kau terus membelanya?” Jessica mengayunkan salah satu tangan lelaki yang tengah terdiam ini.


“Jessica, aku kan sudah berkali-kali bilang kepadamu untuk bersikap hormatnya. Kenapa kau masih saja merendahkannya sih? Apa sebegitu besar rasa kebencianmu padanya?” tanya Edgar dengan nada yang menekan.


Mendengar pembelaan dari seorang kakak kepercayaannya, jessica pun menghentakkan kakinya dengan erat seraya melepaskan pegangan tangannya pada lengan lelaki itu. “Besar! Sangat besar. Bahkan aku juga sudah memiliki niatan untuk semakin membuat Yoona semakin menderita!”


Plak!


Kakak kedua melayangkan satu tamparan keras di wajah Jessica yang tadinya sedang memerah karna marah. “k-kakak kedua? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menamparku?” tanya jessica dengan perasaan sakit di hatinya.


“Aku sudah bilang berhenti untuk memberhentikan membicarakannya! Kenapa kau begitu keras kepala hingga kau sendiri tidak ingin mendengarkan apa yang aku katakan” Edgar berkata seraya menatap wanita didepannya kini sedang memegang pipinya karna merasa panas akibat tampatan tadi.


Jessica menggeleng kecewa “Aku tidak menyangka, kakak akan melakukan hal ini padaku! Padahal dulu kakak tidak pernah bermain tangan denganku, tapi kenapa sekarang setelah adanya wanita itu...kakak jadi seperti ini? Kenapa kak? Kenapa kakak berani menamparku demi wanita ****** itu?!!”


“....” Edgar terdiam.

__ADS_1


Melihat lelaki yang ada di depannya terdiam, jessica pun langsung berbalik pergi meninggalkan lelaki itu tanpa menunggu jawaban ataupun penjelasan darinya. Karna hatinya sudah kecewa, maka akan terus kecewa. Ini adalah pertama kalinya, jessica mendapatkan perlakuan seperti itu.


Entah kenapa, sekarang banyak sekali orang yang ada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang bukan ia kenal lagi. Contohnya seperti kak Edgar yang menampar dirinya karna sudah mengatakan hal buruk tentang evelyne. Tapi bukankah itu benar? Wanita ****** itu hanya ingin manfaatkan kekayaan serta warisan yang di miliki oleh William.


Jadi apa salahnya ia bicara begitu?


“Dia milikku, jika kau berani menghinanya maka aku tidak akan tinggal diam. Termaksud kakak tertua sekalipun!” gumam Edgar dengan tatapan yang mengerikan kini membuat suaranya menjadi berubah.


...--🥀🕊—


...


Pagi harinya, William terbangun lebih awal seperti biasanya. Ia juga dapat melihat seorang wanita yang masih tertidur nyenyak diatas kasur seorang diri membuatnya sedikit merasa bahwa hubungan dirinya dengan wanita itu semakin merenggang. Berpikir bahwa dirinya sudah melakukan banyak kesalahan, apakah masih dapat di Terima kembali oleh wanita itu?


“Yoona, apa kau sudah bangun?” tanya William seraya berjalan menghampiri evelyne yang masih tertidur. Lelaki itu menyikapi rambut evelyne yang menghalangi wajah polosnya saat tertidur, William juga melihat wajahnya yang bersih tanpa make up sedikitpun membuatnya merasa bahwa itu adalah suatu perbedaan yang besar baginya.


“Yoona, ayo bangun! Kita sarapan dulu di bawah, setelah itu kau bisa tidur lagi nantinya” kata William yang masih sabar untuk menghadapi Evelyne yang masih belum kunjung bergerak dari tempat tidurnya.


Evelyne Mengeliat “Eeuumm...Aku tidak lapar, kau makanlah sendiri! Aku akan makan nanti”


“Huh...nanti kapan? Apa kau akan menunda-nunda jadwal makanmu seperti ini?” tanya William seraya duduk di tepi ranjang dengan tangan yang berada di kepala Evelyne. “Hey, Ayo bangun! Ini sudah hampir siang, apa kau tidak ingin bekerja?” ledek lelaki itu.


Evelyne sekali lagi menggeliat seraya berbalik badan dalam posisi memirinhkan tubuhnya hingga membuat ia tertidur dalam pelukan di sebagian kaki tas milik william. “Aku masih mengantuk, biarkan aku tidur sebentar lagi!!.....lagipula efek obatnya juga akan berakhir beberapa menit lagi.” Ucap Evelyne yang secara tidak sadar berkata yang seharusnya ia tidak katakan.


“Efek obat? Obat apa yang kau minum?” tanya William dengan kerutan di dahinya.


Evelyne terdiam sejenak, lalu bergumam yang tidak jelas hingga membuat William tidak mendapatkan jawaban sesuai dengan keinginannya. “hey, apa kau tertidur lagi?” panggil William yang tidak mendapatkan jawaban dari wanita itu.


Melihat wanita itu kembali tertidur seraya memeluk pinggangnya yang gagah, membuat William semakin di buat penasaran oleh wanita ini. Kenapa rasanya seperti ada ribuan kebohongan yang di lakukan oleh wanita ini, ada ia juga menutupi sebagian kebohongannya dengan kebodohannya.


William yang tidak bisa ke mana-mana karna evelyne tengah memeluknya seperti itu pun membuat lelaki itu kembali menidurkan tubuhnya di atas kasur untuk menemani wanita itu tidur sebentar.


Tak beberapa lama, Evelyne pun membuka matanya saat efek obat yang ia minum telah habis. Ia terkejut saat melihat dada bidang seorang lelaki yang tampak gagah kini berada tepat di depan wajahnya tanpa di selimuti oleh pakaian sedikit. Evelyne terkejut, dan dengan sontak wanita itu langsung terbangun dari tidurnya seraya menyeret tubuhnya menjauh dari lelaki yang tengah tertidur di sampingnya.


“N-ngapain kamu?!! Ngapain kamu ada disini?!!” bentak Evelyne yang membuat lelaki itu membuka matanya dengan malas.


William mengerutkan keningnya saat melihat sikap Evelyne yang tampak terkejut saat melihatnya tertidur di sampingnya, padahal jelas-jelas wanita ini duluan yang memeluknya dan juga tidak membiarkannya untuk pergi.


"Apa yang salah? bukankah kau yang mengajakku tidur bersama?"

__ADS_1


__ADS_2