
“Paman, tenanglah! Kamu tidak bisa sembarangan menggunakan pisau itu pada seseorang yang belum kamu kena, atau kau akan masuk ke dalam penjara” Evelyne berkata dengan suara pelan.
Sementara lelaki itu terus berlari mendekati Evelyne sambil mengayunkan pisau itu seperti ingin menusuk Evelyne secara sadis, bahkan Evelyne bisa menyadari perasaan kebencian yang besar terungkap di tatapan mata lelaki itu kepadanya. “Tidak peduli aku harus mati membusuk di dalam penjara, setidaknya kamu harus mati di tanganku dasar manusia tidak punya hati!!!”
Sraakk!!
Suara hentakan yang begitu keras terdengar di heningnya malam, serta tetesan darah segar yang kini mengalir keluar dari tangan Evelyne yang kini menahan pisau tersebut dengan tangannya sendiri. Hal itu tentu saja membuat lelaki itu tersebut dan dengan sontak ia melepaskan pisau yang kini berlumuran darah jatuh ke atas tanah.
Evelyne sendiri yang merasakan sakit di tangannya hanya terdiam sambil memandangnya tanpa ekspresi sedikitpun. “K-kau, A-apa yang kau lakukan dasar gila?! Kenapa kamu menahan pisau itu dengan tanganmu sendiri?!” Tanya lelaki itu dengan menunjuk heran kepada Evelyne yang kini terdiam di tempat.
“Kau datang kesini mengawasiku, bahkan tadi kau hampir membunuhku dengan mengayunkan pisau seperti tadi. Aku hanya menghentikanmu dengan membuatku terluka, tapi kenapa kau malah menyebutku gila? Apa kau pikir dari semua tindakanmu itu tidak bisa kusebut gila?” Evelyne bertanya dengan nada yang dingin, ia membuat lelaki tadi terdiam untuk beberapa saat. “Aku tidak tahu kau memiliki masalah apa dengan wanita bernama Evelyne, tapi kau salah paman. Disini...aku Yoona, bukan wanita yang kau maksud. Di tambah lagi, jika kamu memiliki masalah sebaiknya bicarakan semua itu dengan baik-baik. Jangan membuat perkelahian menjadi caramu untuk menyelesaikan, karena itu bukan menyelesaikan melainkan hanya menambah masalahmu saja.”
Lelaki itu membantah “Jika tidak membunuhmu, lalu dengan cara apa aku menembus keluargaku yang sekarang dalam bahaya?!! Semua ini salahmu, Evelyne!! Seharusnya kamu tidak pernah di lahirkan di dunia ini agar semua orang itu aman dalam hidupnya, tapi kamu...kamu lahir di dunia ini hanya membawa masalah saja. Kenapa kau tidak mati saja?!!”
“....” Evelyne tertegun saat mendengar itu dan ia juga merasa tubuhnya seketika tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang yang terasa begitu hangat hingga menghentikan semua pikiran negatif serta perasaan buruk muncul di dalam pikiran dan hatinya saat ini. Evelyne bisa merasakan aroma familiar dari tubuh seseorang yang kini memeluknya dengan hangat.
Karena bukan hanya tubuh besarnya saja yang menjadi sandarannya saat ini, melainkan ia juga merasakan tangan yang besar dan kasar sedang memegang tangannya yang kini sedang mengeluarkan darah yang banyak. Tanpa aba-aba, William langsung melepaskan dasinya dari kerah kemeja putihnya untuk di lilitkan di tangannya yang sedang terluka.
__ADS_1
Evelyne tahu, lelaki ini ingin menghentikan pendarahannya tapi itu terasa lebih menyakitkan jika harus di balut oleh sesuatu yang kasar. “L-liam...” Evelyne berdesis “Ini sangat tidak nyaman.”
“Aku tahu, tahanlah sebentar sampai aku membawamu ke kediaman.” Ucap William seraya mengelus kepala Evelyne dengan sekilas, lalu ia langsung mengangkat tubuh Evelyne masuk ke dalam gendongannya ala bridal style.
William melirik kan matanya yang tajam ke arah lelaki yang baru saja berduaan bersama Evelyne di tengah malam yang sunyi ini, bahkan William sedikit merasa kesal akibat luka yang di dapat oleh Evelyne di tangannya. Padahal William sudah menjaga-jaga untuk tidak membiarkan Evelyne mendapatkan luka lagi di masa depan, tapi ternyata luka akan selalu datang menghampiri Evelyne tanpa henti.
“Kita pulang sekarang” ucapnya seraya pergi meninggalkan lelaki itu dengan membawa Evelyne yang kini berada di dekapannya.
Di dalam mobil.
“L-liam...maafkan aku” ucap Evelyne dengan kepala yang menunduk.
Sedangkan William yang kini sedang menyetir mobil pun hanya melirik kan matanya secara sekilas lalu menjawabnya dengan nada yang dingin. “Tidak apa, kamu sendiri sedang apa bersama lelaki tadi? Bukankah kamu bilang akan pergi mencari angin sebentar, tapi kenapa berkelahi dengan lelaki itu?”
“A-aku memang sedang mencari angin malam tadi, tapi...lelaki itu salah mengira aku sebagai kenalannya dulu. Jadi...ada sedikit kesalahpahaman.” Jelas Evelyne dengan jujur namun di sisipkan kebohongannya sedikit.
__ADS_1
William tahu itu, tapi ia lebih memilih untuk diam dan menunggu Evelyne sampai ia berani untuk berbicara bahkan berbagi cerita kehidupannya kepada William. Ia tahu kepercayaan Evelyne akan sangat sulit di dapatkan karena ia pernah meletakkan kepercayaannya dengan mudah kepada orang dan pada akhirnya dikhianati.
Hal itu tentu saja membuat Evelyne berkata bohong kepadanya, karena sudah banyak kepercayaannya dimasa lalu dikhianati dengan cara yang tidak tahu diri. Bahkan Evelyne sendiri tidak dapat menangis lagi jika mengingat semua itu.
William mengangguk paham atas jawaban Evelyne, dan ia juga langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu dengan sontak mengambil sebuah kotak P3k yang selalu tersedia di dalam mobil untuk kebutuhan yang mendadak. “Berikan tanganmu! Aku ingin lihat lukanya” ucap William dengan perlahan mengangkat tangan Evelyne nyang kini terlilit oleh dasi kantornya yang sudah penuh dengan darah.
Luka ini tidak terlalu dalam, namun karena ukuran dari luka ini cukup besar maka itu yang membuat banyak darah keluar dari tangannya. Evelyne sendiri yang melihat kehangatan yang di berikan oleh William dari waktu ke waktu membuatnya harus merenungi kebohongannya tadi, di tambah lagi dengan perasaan yang mencair akibat perlakuan yang di lakukan oleh William untuknya.
Selama mengobati luka di tangan Evelyne, William begitu perlahan. Takut kan menyakiti tangan yang sudah begitu banyak menahan luka tanpa ia sadari, bahkan ada yang lebih kuat menahannya tanpa memberontak. Yaitu hatinya sendiri...
“Eum....Terimakasih, Liam. Kamu tidak perlu melakukannya, ini hanya akan mengotori bajumu” ucap Evelyne yang hendak menarik tangannya.
William yang melihat itu pun langsung menahan tangan Evelyne serta memberikannya tatapan lembut agar wanita ini dapat memberikannya sedikit saja kepercayaannya. “Hanya sebentar, biarkan aku mengobatinya atau ini akan infeksi.”
“....” Evelyne terdiam lalu dengan manik matanya yang lembut ia menahan tangan William yang kini mulai bergerak kembali untuk memberikannya obat di atas lukanya serta meliliti nya dengan perban berwarna putih. Setiap yang lelaki ini lakukan, pasti berkali-kali akan mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ia lakukan itu menyakitinya atau tidak.
Hingga pada akhirnya luka itu di obati tanpa adanya masalah sedikitpun, dan William juga langsung menyuruh Evelyne untuk beristirahat selama ia melanjutkan perjalanannya lagi. Tetapi saat William hendak menyalahkan mobilnya, Tiba-tiba Evelyne mengatakan sesuatu yang membuatnya dengan sontak menghentikan tindakannya tadi...
__ADS_1
“Liam, Apakah kamu mendengar setiap yang di katakan oleh lelaki tadi?”