
Seminggu berlalu begitu cepat, Evelyne terus merengek pada Dessy agar membawanya pulang ke rumah saja. Karna dia sudah bosan sekali dengan pemandangan yang seperti itu-itu saja. “Bibi, tolong beritahu tuan Surya agar mengizinkanku pulang. Aku benar-benar sudah bosan bi.” Evelyne menggoyangkan tangan Dessy untuk beberapa kalinya.
Dessy tersenyum pasrah “Nyonya, ini baru seminggu lho. Anda kan harus beberapa bulan untuk pengobatan ini”
“Ya tapi ini terlalu membosankan bi. Aku saja dulu yang suka terluka akan selalu dibiarkan sembuh sendiri.” Protes Evelyne yang membuat Surya mengerutkan keningnya.
-Dia dulu sering terluka? Kapan? Bukankah setiap dia luka, Aku yang selalu mengobatinya?-
Dessy yang tidak tahu harus Bagaimana pun, hanya bisa menolehkan kepalanya kearah Surya yang tengah berdiri di sisi ruangan dengan diam. “Tuan, bagaimana ini? Apakah tidak apa-apa, jika nyonya pulang sebelum waktunya?” tanya Dessy
Mendengar hal itu Surya sedikit kebingungan, bahkan ia sedikit ragu akan menjawabnya. “Maaf bi, kakak tertua menyuruhku untuk merawat kakak ipar sampai jangka waktunya. Jadi kalau mau pulang di awal waktu, maka harus mendapatkan izin dulu darinya”
“Ngapain harus izin sih? Lagipula kalau aku sudah sembuh ya sudah sembuh. Kenapa perlu memaksa ku untuk menetap disini sih?!!” bentak Evelyne dengan menatap tajam kearah Surya.
Surya menghela nafasnya, menyangka bahwa sikap anggun dari evelyne benar-benar sudah hilang. Kini yang ada di dalam dirinya hanya sikap kekanak-kanakan serta keras kepala yang tinggi. “kakak ipar, kenapa kau begitu keras kepala? Apa kau tidak takut lukamu tidak sembuh dengan sempurna?”
“Biarlah!! Lagipula, siapa yang menginginkan tubuh ini sempurna?!!” kata evelyne dengan suara yang keras.
Surya dan Dessy tertegun di tempat, sementara evelyne kembali membuka suaranya. “Aku berterimakasih padamu yang sudah banyak berkorban demi aku, tapi untuk sekarang.....aku sudah cukup! Karna Aku tidak pernah diajarkan oleh orangtuaku untuk mengobati tubuhku secara sempurna. Karna akan ada lain hari yang membuatku terluka lagi!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne segara beranjak dari kasurnya. Lalu berjalan keluar dari kamar dengan membawa beberapa pakaian yang ingin ia kenalan saat pulang. Dessy yang melihat kepergian dari evelyne dengan cepat mengikutinya dari belakang, sementara Surya masih terdiam di tempat dengan menggenggam hpnya dengan erat.
“Bagaimana? Kau sudah mendengarnya? Sikap memberontak dan sudah diatur, bukanlah sikap kakak ipar sebenarnya”
“Aku dengar, terimakasih. Sekarang biarkan saja dia pulang. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ini dan menemui nanti.”
“Hm..”
Setelah mendengar perkataan itu, Surya mematikan telponnya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas putihnya. Lelaki itu menatap pintu luar dengan tatapan dingin, tatapan itu seperti sedang melacak apa yang sedang terjadi disini.
-Permainan hidup apa lagi ini? Mengantikan sosok Yoona yang sombong menjadi wanita asing yang misterius-
...--🥀🕊—
...
“Nyonya, anda benar-benar akan pergi dari disini tanpa izin dari tuan besar?” tanya Dessy yang mengikuti evelyne dari belakang.
Evelyne mengangguk, “Aku yakin, lagipula aku sendiri sudah tidak apa-apa. Dan aku juga sudah berjanji pada tuan, tidak akan merepotkan dirinya dilain hari. Jadi dengan cara inilah aku tidak akan merepotkannya”
“Tapi nyonya, akan sangat berbahaya jika anda yang sedang terluka berjalan-jalan seperti ini?” Dessy mulai mengkhawatirkan evelyne hingga tak mempedulikan posisinya.
Evelyne menolehkan kepalanya kesamping, melihat Dessy yang tengah berjalan disebelahnya. Lalu tersenyum “Aku harus cepat pergi karna ada beberapa hal yang harus kulakukan, jadi bibi pulanglah lebih dulu. Jika ada yang bertanya aku dimana, maka bilang saja kalau aku sedang melakukan sesuatu dan akan pulang agak larut malam.”
“Lalu bagaimana jika tuan tahu kalau nyonya pergi keluar setelah kabur dari RS? Pasti tuan akan memarahi nyonya” Dessy mengingatkan ada evelyne agar tidak bermain-main dengan William karena yang tahu identitas lelaki itu hanya dirinya dan kakek besar maxime.
Evelyne tertawa kecil, “Jika dia marah, maka biarkan saja. Lagipula aku sudah tidak peduli bagaimana sikapnya padaku.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan Kata-kata itu, evelyne pun langsung berlari ke tangga untuk menuruni lantai 15 sampai ke lantai dasar. Sementara Dessy menggunakan lift untuk menyusul evelyne, karna sebelum Dessy hendaklah mengikutinya, evelyne sudah lebih dulu memberi isyarat kepada Dessy untuk menemuinya di lantai dasar menggunakan lift.
Dessy yang tidak tahu cara pola pikir evelyne pun hanya menganggukinya. Setelah sampai dibawah, Dessy tertegun saat melihat evelyne sudah menunggunya di bawah tanpa merasa kelelahan. Di wajahnya juga tidak ada jejak keringat yang sudah membasahinya. ‘Apakah ia benar-benar melewati tangga?’ batin Dessy seraya berjalan menghampiri evelyne.
Disisi lain, Evelyne yang menyadari kedatangan Dessy pun hanya memiringkan kepalanya lalu tersenyum, bahkan manik matanya yang tajam membuat Dessy melupakan siapa gadis lembut bermata tajam ini. “Cepat sekali sampainya, apa nyonya tidak kelelahan?” tanya Dessy
Evelyne menggeleng “Aku tidak lelah kok. Bi maaf bolehkah aku bertanya dimana ibuku aku sejak di RS tidak pernah melihat ibu, dan ibu juga tidak menjengukku. Bisakah kau beritahu aku dimana dia?”
Mendengar hal itu, Dessy terdiam sejenak. Membuat suatu kerutan di antara dahi evelyne saat melihat itu. “Ada apa bi? Ibu saya gak apa-apa kan? Dimana dia?” Evelyne mengulang pertanyaannya kembali, bahkan hatinya tidak merasa nyaman jika Dessy hanya diam saja.
“Ibu nyonya baik-baik saja kok, beliau juga sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tetapi tidak sempat menjenguk nyonya karna tuan menyuruh saja untuk mengantarkan beliau ke rumah kecilnya.” Jawab dessy.
Rumah kecil? Liliana memang tinggal bersama dengan Gavin dan lainnya di kediaman jiang, tetapi liliana sendiri memiliki rumah kecil yang jaraknya cukup jauh dari kediaman jiang. Liliana sering kesana karna rumah itu termaksud peninggalan dari ibunya sendiri. Dan terlebih lagi, rumah kecil itu lah yang menyembunyikan Liliana dari pengejaran Gavin.
“Aku akan pergi ke sana. Bibi maaf sudah merepotkan mu membawa barang-barang ini. Tetapi Bibi tenang saja, aku udah memesan taksi online untuk Bibi pulang” kata evelyne dengan menyerahkan sebuah kertas yang berisi catatan nomor plat taksi online itu.
“Tidak apa-apa nyonya, terimakasih” Dessy mengangguk lalu mengambil kertas itu dengan senyuman pasrah diwajahnya. Evelyne memang melihat raut wajah itu, tetapi ia lebih memilih untuk diam karna mau bagaimana pun tujuan ia ada di tubuh ini adalah balas dendam dan bukan memiliki hubungan dengan keluarga ini.
“Bi, aku sudah sedikit terlambat” kata evelyne yang melihat kearah jam tangannya. “Aku permisi dulu.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, evelyne pun berjalan pergi di tengah-tengah keramaian depan rumah sakit. Ia juga menghilang tanpa jejak saat Dessy sedang mencari kemana arah ia pergi. Karna tidak tahu kemana dan ada urusan apa dari kepergian evelyne, Dessy pun hanya berjalan ke arah taksi yang sudah terparkir di sana.
-Astaga, bagaimana caranya aku memberitahu ini ke tuan besar?-
...--🥀🕊—
...
Perasaan takut, gelisah dan khawatir kini menyelimuti hatinya. Liliana menutup telinganya, berharap agar tidak mendengar apapun dari suara dibalik pintu rumahnya. Karna ada jawaban atau respon dari Liliana, suara gedoran dan teriakan dari balik pintu mulai terdengar keras di telinga.
“Hey pelacur!! Aku tahu ya kau didalam ya!! Buka pintunya!”
“Jangan berpikir kau bisa kabur dari kami ya!!?? Mungkin tadi kau beruntung, tapi sekarang aku akan membuatmu lebih kacau dari sebelumnya”
“Liana!! Keluar kamu!!!”
Liliana terus menggeleng saat suara itu menembus ke pendengaran. “Tidak! Tidak! Tolong hentikan ini! Aku tidak ingin dengar lagi!!”
“Liliana!!! Kau dengar tidak!!!”
Braakk!
Pintu luar ditendang begitu keras, bahkan Liliana yang sedang bersembunyi di sudut kamar hampir terlonjak kaget saat mendengar hal itu. Liliana menundukkan kepalanya, menenggelamkan seluruh wajahnya di atas lututnya. Air mata deras kini membasahi pipi nya, mulut dari Liliana tidak pernah berhenti berkomat-kamit untuk memohon semuanya berhenti.
Tak lama mendengar suara kencang itu, Liliana sudah tidur mendengar lagi gedoran serta teriakan keras dari luar. Bahkan suasana disana seketika hening, yang membuat Liliana memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Lalu dengan perlahan ia berjalan keluar dari kamar untuk melihat situasi di depan.
Perasaan takut, dan semua yang ia rasakan tadi seketika mereda dengan perlahan. Sampai tibanya ia di depan pintu kamar, ia melihat sekeliling. Takut orang-orang itu masih ada disana menunggunya keluar.
__ADS_1
Tok...tok...tok..
Suara ketukan itu kembali terdengar hingga membuat Liliana dengan sontak melompat masuk ke dalam kamar. Hendak berlari kembali kedalam tempat persembunyiannya tadi, tetapi baru saja Liliana ingin melangkahkan kakinya, ia mendengar suara yang membuat langkah kakinya terhenti serta membuat tubuhnya terpaku di tempat.
“Ibu? Ibu? Apakah kau di dalam? Ini aku....Yoona”
Suara itu? Suara yang lembut dan halus membuat hati Liliana seketika tenang akan kekhawatiran nya tadi. Bahkan tanpa pikir panjang, Liliana pun berlari keluar dari kamar dan membuka pintu tersebut hingga terbuka dengan lebar.
Liliana memeluk seseorang dari balik pintu itu dengan erat. Perasaan yang rindu serta senang kini membuatnya berpikir untuk tidak membiarkan seseorang itu pergi lagi darinya. Tetapi saat kerinduannya sudah terpenuhi, Liliana langsung tersadar akan sesuatu yang ia lupakan.
Lalu dengan cepat ia melepaskan pelukan itu, dan melihat seorang gadis dengan senyuman manisnya tengah menatap kearahnya dengan lembut. “Ibu, aku pulang!” kata wanita itu.
Liliana tersenyum, lalu dengan perlahan ia menarik wanita itu masuk dan menutup pintunya dengan rapat. Wanita itu terheran, kenapa Liliana harus mengunci pintunya walaupun di daerah ini cukup aman untuk penduduknya. “Bu, kenapa dikunci?”
Liliana menggeleng, “Tidak apa-apa kok, Cuma biar aman saja. Soalnya kan ibu sering di belakang, jadi takut ada orang yang masuk”
“Takut ada orang yang masuk? Maksud ibu, maling?” Tanya wanita itu
Liliana mengangguk ragu, di hatinya ia merasa bersalah jika harus berbohong pada putrinya ini. “Iya sayang, ibu takut ada maling. Walaupun daerah sini aman, tetapi kita gak ada yang tahu dengan niat jahat orang kan?”
Mendengar hal itu, wanita tadi mengangguk. Lalu Liliana langsung menyuruhnya untuk duduk di kursi ruang tamu, sementara dirinya pergi mengambil air di belakang untuk wanita itu minum.
Tuk!
Liliana meletakkan gelas berisi air putih untuk wanita itu yang sedang memerhatikan kondisi rumahnya. “Maaf ya sayang, kondisi rumah ibu memang seperti ini.” Liliana dengan malu duduk di kursi yang kosong untuk menemani wanita itu duduk.
“Tidak apa bu, aku Cuma sedikit heran karna rumah ini masih tetap ada walau sudah lama sekali di tinggal” kata wanita itu seraya menatap Liliana dengan wajah manisnya.
Liliana terdiam saat melihat postur tubuh wanita didepannya cukup tegak, semua terlihat baik-baik saja. Tetapi jika Liliana mengingat kejadian di kediaman jiang beberapa hari yang lalu, membuatnya merasa bersalah karena sudah melibatkan orang di dalam permasalahannya.
“Sayang! Ibu dengar dari bi Dessy, kalau kamu bisa pulang dari rumah sakit beberapa bulan kedepan. Tapi.... Kenapa kamu disini sayang?” tanya Liliana dengan cemas.
“Jawabannya simple. Aku disini, karna aku merindukan ibu. Aku cemas dengan keadaan ibu. Ibu kenapa tidak menjengukku, di rumah sakit? Apa ibu tidak tahu seberapa bosan aku disana menunggumu datang menjengukku?” protes evelyne dengan pipi yang mengembang.
Liliana tertawa, mengelus lembut wajah dari evelyne dengan tangannya yang kasar. “Maaf sayang, ibu tidak sempat jenguk kamu, karna ibu harus cepat-cepat pulang kesini. Karna ibu takut, ayahmu akan mencari ibu lagi”
“Lalu Bagaimana dengan sekarang? Apa ayah masih mencari mu sampai sini?” tanya evelyne dengan raut wajahnya yang seketika berubah menjadi gelap.
Liliana menggeleng, serta menjauhkan tangannya dari wajah evelyne. “Sudah tidak sayang. Tempat ini tidak ada yang tahu kecuali ibu dan kamu, jadi bisa dibilang aman jika ibu tinggal sementara disini”
Mendengar penjelasan itu, evelyne pun menghela nafas leganya. Rasa kekhawatiran di dalam hatinya sudah mulai mereda, karna perasaan itulah yang terus mengganggunya hingga membuat dirinya datang kesini tanpa meminta izin pada William terlebih dahulu.
“Ibu, bolehkah aku sering main kesini untuk menerimamu?” tanya evelyne yang mengubah topik pembicaraan.
Liliana mengangguk pelan, “Boleh sayang. Tapi kamu kalau ingin datang kesini, jangan lupa beritahu tuan besar. Agar ia tidak mengkhawatirkan mu nantinya...”
Evelyne tersenyum kikuk, ia merasa bahwa perkataan Liliana sangat tidak masuk akal. Karna mau bagaimanapun hubungan dirinya dengan tuan William, hanya orang asing yang terjebak di pernikahan kontrak ini. Bahkan jika Evelyne pergi kemanapun, tidak akan pernah sesekali berpikir bahwa William akan mengkhawatirkannya.
__ADS_1
Karna William sendiri, sudah menempatkan nama wanita lain di dalam hatinya. Dan ia selalu menutupi perasaan itu dengan sebutan “Teman kecil” atau “Partner kerja” itulah alasannya kenapa, evelyne tidak pernah mau Liliana tinggal bersamanya di kediaman tua. Karna ia tidak ingin Liliana tahu dan melihat kedekatan dan keakraban William dengan clara.