
20 tahun yang lalu.
William yang kini menginjak umur 10 tahun harus menghadapi masa kecilnya dengan melihat pemandangan bagaimana ayahnya selalu memarahi ibunya di depan matanya. Ayahnya juga seperti tidak peduli bagaimana perkembangan William nanti di masa depan.
Berbeda dengan ibunya Isabella yang selalu merawat dan mendidik William dengan penuh kasih sayang walau pernikahannya kali ini akan berakhir tidak lama lagi, namun untuk membuat William dapat mengerti kondisi mereka sekarang. Isabella meminta ayahnya tuan maxime untuk mengajari William dalam ilmu bela diri dan kemampuan yang bisa disalurkan kepadanya.
Awalnya kakek maxime menolaknya, karna William terlalu dini untuk belajar hal yang seperti itu. Karna itu bisa memengaruhi kondisi tubuhnya serta pemikirannya yang belum matang untuk usianya yang sekarang. “Aku sudah bilang aku tidak bisa mengajari anak ini jika dia belum berumur 15 tahun. Isabella, tolong mengertilah putramu saat ini!!”
“Aku mengertinya, jadi itulah alasanku untuk memintamu mengajarinya ayah!” mohon Isabella dengan tangisannya.
Isabella tidak ingin William disakiti terus-menerus dengan tuan NIU saat ia tidak lagi bersamanya, karna Isabella sudah beberapa kali memergoki William yang tengah mengobati lukanya tanpa sepengetahuan asal luka itu darinya. Tetapi Isabella tahu, kalau di kediamannya tidak ada yang berani melakukan kekerasan seperti itu kecuali tuan NIU, ayah kandungnya sendiri.
“Isabella, putriku... Berikan aku satu alasan yang kuat agar aku bisa mengabulkan keinginanmu, tapi jika itu hanya untuk dipermainkan maka aku tidak akan menerimanya” kakek maxime mengatakan hal itu dengan lembut, karna ia merasa sedih akibat selalu melihat Isabella yang terus menangis kepadanya saat ia pulang dari kediaman NIU.
Isabella menyeka air matanya, lalu berbicara dengan isakan tangis yang masih tersisa. “Aku...ingin Liam...bisa menjaga...dirinya, ayah! Banyak orang yang berusaha melukainya tanpa alasan, jadi aku ingin kemampuan yang ayah miliki bisa kau alurkan kepadanya. Jika kau tidak mempercayai aku, kau bisa melihat lukanya sendiri!!” Isabella menunjuk kearah pintu yang kini tengah berdirinya seorang anak kecil dengan tampang yang misterius. “Dia sudah mendapatkan luka beberapa minggu ini, aku tidak ingin lukanya akan lebih parah dari apa yang ia dapatkan sekarang. Jadi ayah...tolong ajari dia demi aku...”
“Kau ingin aku mengajarinya sampai mana?” tanya kakek dengan menatap William kecil.
Isabella terdiam sejenak, “Aku...ingin kau merubahnya agar tidak ada seorangpun berani menyentuhnya!”
Setelah permintaan Isabella yang di Terima, kakek maxime pun mulai mengajari William untuk beberapa hal. Bahkan itu membuat William tidak bisa bertemu dengan Isabella untuk beberapa bulan, dan William juga tidak pernah melihat bagaimana kondisi Isabella saat ia tidak bersamanya. Apakah tuan NIU akan melakukan hal seperti biasanya kepada Isabella? Atau, lelaki itu bahkan melakukannya lebih parah dari apa yang ia bayangkan? William benar-benar tidak fokus saat menjalani pelatihan saat hatinya merindukan Isabella.
“William!!! Apa yang sedang kau lamunkan itu?!! Cepat berlatih kembali atau kau tidak akan mendapatkan makan siang nantinya” teriak kakek dengan suara yang kesal.
Namun suara itu bisa membuat William tersadar dari lamunannya dan kembali berlatih tanpa mengucapkan sedikitpun perkataannya. Kakek maxime yang melihat sikap William sudah dapat mengetahuinya bahwa anak ini sudah mulai merindukan isabella, tapi sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat.
William tidak bisa bertemu dengan isabella hingga ia berumur 15 tahun.
__ADS_1
Kakek maxime tidak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh isabella saat membuat kesepakatan itu, tapi kakek juga sedikit merasa tidak enak karna melihat anak seusia William sudah diajarkan untuk hidup dalam latihan yang keras tanpa dibolehkan untuk bertemu dengan ibunya sendiri. Namun kakek maxime juga sadar bahwa William lebih baik di keraskan olehnya, tapi pada tuan NIU yang tidak memiliki perasaan itu.
“Hey bocah! Latihanmu sudah selesai...pergi ke dapur untuk meminta makanan mu! Aku akan pergi sebentar, jadi...berlatihlah sendiri selagi aku tidak ada. Apa kau bisa?” kakek menatap William yang masih terdiam di tempat dengan sebuah anggukkan di kepalanya, bahkan ia juga tidak pernah berbicara kepada kakek jika ia membutuhkan sesuatu.
Kakek yang melihat William sudah seperti itu sejak mereka bertemu pun membuatnya tidak akan heran lagi dengan sikapnya yang aneh, bahkan ia juga tidak tahu kenapa William bisa menjadi anak yang diam di umurnya segini. Bukankah di umur mereka yang seperti ini akan selalu banyak tertawa dan bermain? Tapi William... Dia hanya sibuk membaca buku dan memandangi pemandangan taman atau sungai tanpa melakukan hal yang biasa anak seumurnya melakukan hal yang lain.
-Kau menghindari anakmu terpengaruh oleh lingkungan, tapi... Kau tidak tahu bahwa itu sudah merubahnya saat ia menemui orang baru. Dia memang tidak pernah menunjukkannya padamu, tapi dia selalu menampilkan itu kepada ku dengan tatapan yang waspada dan membenci hal yang baru-
Kakek berjalan pergi meninggalkan William yang masih terdiam di tempat seraya menatapnya dengan tatapan dinginnya...
...--🥀🕊—...
Di kediaman NIU.
Suasana yang kini berubah menjadi kacau akibat pertengkaran yang dibuat oleh tuan NIU kepada kakak pertama, membuat Isabella yang tenagh terbaring lemah diatas kasur merasa sedih dan kecewa akan perkataan yang dilontarkan oleh tuan NIU tentang. “Kakak ipar, apa yang kau katakan?!! Apa aku salah membicarakan soal wasiat kepada bella saat ini?!! Memang apa yang kalian harapkan tentang kesembuhannya ini?!!”
Tuan WU menyeringai “Berhenti mengatakan hal itu? Bukankah seharusnya kau berterimakasih kepadaku, karna sudah mau membicarakan hal seperti ini kepadanya. Lagipula dia juga akan mengerti tentang penyakitnya itu, benar begitu sayang?”
“Kau yang seharusnya mengerti akan posisimu dalam keluarga ini, Tuan NIU”
Semua orang terkejut saat melihat pria tua sedang berjalan masuk dan menghampiri mereka dengan amarah yang terlihat begitu jelas di muka merahnya. Isabella juga yang berada disana ikut terkejut dengan kedatangan ayahnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepadanya. “A-ayah..”
Tuan NIU yang baru saja melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak di dengar oleh kakek besar maxime pun membuatnya memasang wajah yang pucat saat melihat kedatangannya secara tiba-tiba. “Jadi ini perlakuanmu pada Isabella di belakangku?!” kakek melirikkan matanya yang tajam kearah Tuan NIU yang kini tengah menundukkan kepalanya karna takut.
Ya, takut! Siapapun orang pasti mengenal siapa itu kakek maxime yang memiliki julukan sebagai singa kejam dalam dunia kehidupannya. Semua juga tahu bagaimana sadisnya kakek maxime saat sedang berurusan dengan bajingan yang selalu mengganggu Isabella seperti sekarang ini. “A-ayah...K-kenapa kau bisa ada disini? A-apa kau..” Isabella melihat kebelakang kakek maxime untuk melihat keberadaan seseorang yang paling ia takuti untuk melihat situasi seperti ini.
“Aku datang kesini untuk menjengukmu, memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh datang kesini, karena kamu tidak ingin aku mengetahui semua yang dilakukan oleh suamimu ini?!” tanya kakek dengan kecewa.
__ADS_1
Isabella menggeleng “Tidak ayah, ini tidak seperti yang kau lihat!!”
“B-benar ayah, kau hanya mendengar perbincangan kita dibagian akhirnya saja. Bagaimana bisa kau langsung menyimpulkan bahwa aku akan seperti ini kepadanya?” balas tuan NIU yang melakukan suatu pembelaan.
Kakek tertawa keras, lalu seketika terhenti saat ia membuka suaranya untuk memanggil seseorang yang ada dibalik pintu itu. “Seret dia keluar, dan pernah biarkan dia memasuki tempat ini lagi!!”
“A-ayah...A-ayah apa yang kau lakukan?! Ini rumahku, bagaimana bisa kau mengusirku dari rumahku sendiri.” Protes tuan NIU saat beberapa orang masuk ke dalam ruangannya untuk menahan Tuan NIU secara kasar.
Kakek melirikkan matanya, lalu memandang tuan NIU dengan tatapan yang sangat merendah. “Rumah, tanah, kehidupan serta yang kau miliki selama ini adalah milik keluarga maxime. Kau menikahi Isabella tanpa memberikan uangmu sepeser pun. Jadi...untuk apa aku mempertahankan orang sepertimu ada di dalam sini bersama putri kesayanganku, bahkan kau juga melakukan hal yang paling kubenci selama hidupku!!”
“A-ayah...tidak, bagaimana kau bisa menyimpulkan aku seperti itu? Kau bahkan jarang berada disini untuk melihat bagaimana perlakuanku kepadanya.” Tuan NIU memberontak dalam penahanan beberapa di sampingnya.
Isabella yang melihat itu pun mencoba untuk bangun dari tidurnya diatas kasur, karna jika ia tidak menghentikan kakek sekarang maka William akan hidup tanpa keluarga saat ia pergi nantinya. “A-ayah...t-tolong jangan mengusirnya, ayah! Dia baik kepadaku, bahkan aku juga tidak merasa keberatan jika membicarakan soal wasiat disaat aku seperti ini ayah. Hidupku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, jika kau mengusirnya. Maka William akan bersama siapa nantinya? Aku tidak ingin meninggalkannya tanpa sebuah keluarga, ayah.”
“Tapi dia sudah keterlaluan, bella!! Apa kau akan terus membelanya demi anak itu? Lagipula, jika dia mengetahui ini semua pasti dia juga akan marah sama sepertiku.” Kakek mengeras suaranya saat merasa kesal kepada isabella yang trus membelanya tanpa memikirkan perasaan dan kondisinya saat ini. “kau juga tidak bisa menyembunyikan semua ini darinya, bella. Karna anakmu cepat atau lambat akan mengetahui semua ini.”
Isabella merengek “Tidak peduli bagaimana dia akan mengetahui semua ini ayah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin Liam tidak hidup sendiri setelah aku pergi nanti, aku hanya ingin itu ayah!”
“Aku bilang tidak ya tidak! Berhenti membantahku dan istirahatkanlah tubuhmu dengan baik. Aku tidak ingin bocah itu sampai tahu kondisimu yang terus-menerus memburuk seperti ini.” Ucap kakek seraya berbalik badan sera menyuruh beberapa orang menyeret tuan NIU keluar bersamanya.
Namun saat ia melangkah keluar dari pintu kamar isabella pun seketika manik matanya terpaku pada suatu tempat yang gelap dan sepi di bagian pojok lorong yang menuju kearah gudang kediaman. Kakek menatap tempat itu dalam waktu yang cukup lama, hingga membuat orang-orang yang berada di belakangnya merasa bingung.
“Master, ada masalah?” tanya nya dengan mengikuti arah pandang yang tengah dituju oleh kakek maxime saat ini.
Kakek maxime menggeleng “Kalian pergilah lebih dulu, aku akan menyusul nantinya.”
“Eum... baik master!” semua orang itu pun langsung pergi membawa tuan NIU menuju suatu tempat yang sudah diperintahkan oleh kakek sejak awal. Sementara kakek hanya terdiam seraya melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk menghampiri gudang yang ia curigai ada seseorang yang berlari kearah sana. ‘kupikir ini bukan waktunya, tapi kaulah yang membuat saat ini menjadi waktunya’
__ADS_1