Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 59 : Maaf dan terimakasih atas semuanya


__ADS_3

Di kamar.


William menurunkan tubuhnya untuk meletakkan tubuh Evelyne duduk di tepi ranjang. Melihat wanita itu hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya membuat William ikut terdiam seraya berdiri untuk pergi mengambilkan sesuatu. “Liam, mari bicara sebentar” ucap Evelyne seraya menahan tangan William agar lelaki itu tidak pergi meninggalkannya.


Mendengar ucapan itu, William menoleh. Ia tahu bahwa Evelyne memintanya untuk berbicara agar ia bisa menjelaskan semuanya, tapi menurut William semua kejadian yang baru saja terjadi tidak perlu dj jelaskan lagi. “Bicarakan nanti, aku akan kesana untuk mengambil sesuatu” jawab William seraya melepaskan genggaman tangan Evelyne yang kini berada di pergelangan tangannya.


“....” Evelyne terdiam.


Sementara William kembali melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Evelyne yang masih duduk diam di tepi ranjang. Tak lama, William kembali dengan membawa suatu kotak besar berada di tangannya. Lelaki itu berjalan menghampiri Evelyne dengan menarik kursi kerjanya dengan salah satu tangannya yang masih terbebas.


Ia meletakkan kursi itu di depan Evelyne lalu mendudukinya hingga membuat keduanya duduk dengan saling berhadapan. William meletakkan kotak itu di samping tempat duduknya, tangan besar yang hangat itu kini beralih mengangkat kepala Evelyne yang masih saja tertunduk. “Mau sampai kapan kau akan menundukkan kepalamu? Apa kau tidak merasakan sakit di bagian leher?”


“Tidak, itu tidak akan sakit” jawab Evelyne saat kepalanya terangkat, hingga membuat suatu pertemuan antara pandangan Evelyne dengan William.


Lelaki yang ada di depannya ini tersenyum kecil, lalu mengelus lembut pipi Evelyne yang kini basah akibat menangis. “Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Apa kau takut dengan hal seperti itu? Apa kau tidak suka dengan ciuman paksa itu?”


“T-tidak! Aku tidak menyukainya! Itu sangat menyakitkan. Aku tidak tahu apa yang salah darinya, dia datang dan berkata bahwa aku memiliki hubungan dengannya, dan saat aku menolak semua perkataannya. Ia memelukku dengan erat, bahkan menciumku secara paksa. Aku ingin melawan, tapi aku tidak tahu kenapa disana tenaganya begitu kuat hingga aku tidak bisa mengimbangi tenaganya” jelas Evelyne dengan tangisan yang meluap.


William tertegun saat melihat itu, wanita yang di anggap kuat, keras kepala, berhati patung serta ekspresi yang tidak dapat di tebak kini tengah menangis kencang di depan matanya. Hati yang merasakan itu, Tiba-tiba meresponnya dengan perasaan yang sakit seperti rasanya ia merasakan apa yang di rasakan oleh Evelyne.

__ADS_1


Bahkan perasaannya yang tenang kini kembali mencemaskan wanita yang ada di depannya ini. Tubuhnya yang tadinya terdiam kini bergerak dengan sontak bangun dari duduknya untuk memeluk Evelyne yang sedang menangis kejar.


Melihat wanita itu kembali menangis, William benar-benar tidak bisa berkutik dengan kejadian ini. Bahkan sisi lemah Evelyne kini ia melihatnya untuk pertama kalinya. “Sudah, jangan menangis! Semua yang terjadi hari ini, aku pastikan tidak terulang kembali nanti.” Ucap William seraya mengelus kepala Evelyne dengan lembut.


Setelah tangisan Evelyne sudah mereda sedikit, William pun melepaskan pelukan itu agar ia dapat melihat bagaimana wajah yang biasanya tampak tenang dan datar kini telah menjadi kacau karna menangis. “Apa sudah merasa lebih baik?” tanya William saat menatap wajah Evelyne yang penuh dengan bekas air mata.


Evelyne mengangguk pelan, William yang melihat respon dari wanita itu pun hanya terdiam seraya kembali duduk di kursi sebelumnya ia bawa untuk duduk di depan Evelyne. “Jika sudah tenang, apa tidak keberatan jika kita mengobati luka di bibirmu itu?” tanya William yang meminta suatu perizinan kepada Evelyne.


Mendengar pertanyaan itu, Evelyne kembali menganggukkan kepalanya sebagai respon ia tanpa bersuara. William tersenyum saat melihat anggukan itu dari wanita yang ada di depannya ini, “Baiklah, mari kita obati ini secara perlahan. Jangan ragu untuk berkata sakit jika itu menyakitkan, oke?”


Evelyne menjawab sekilas, dan membiarkan lelaki itu dengan hati-hati mengoleskan beberapa obat pada luka yang ada di bibirnya ini. Bahkan ia juga melakukan hal itu dengan lembut, karna ia takut akan menyakiti Evelyne nantinya. “Oke, sudah selesai. Sekarang kamu tidurlah, ini sudah malam!” ucap William seraya membereskan barang-barangnya ke dalam kotak.


William beranjak dari duduknya untuk pergi ke ruang sebelah dimana tempat itu selalu menjadi tempat menyimpanan barang-barang yang bermanfaat jika ada suatu masalah yang terjadi. “Liam?” panggil Evelyne dengan suara pelan namun lelaki itu masih bisa mendengar dengan jelas.


“Ya, ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya William seraya meletakkan kotak itu di atas meja rias, dan lelaki itu dengan cepat berjalan menghampiri Evelyne yang kini tengah menatapnya dengan ragu-ragu. Evelyne yang melihat William tidak jadi pergi keruangan itu pun membuat dirinya dengan sontak menarik kembali pandangannya dan beralih kearah lain.


“T-tidak, tidak jadi! Maaf...” ucap Evelyne.


William tersenyum, lalu dengan tenang lelaki itu berdiri di depan Evelyne yang kini tengah membuang wajahnya seperti tidak ingin ia melihat wajahnya. “Ada apa? Kenapa kau menarik kembali perkataanmu?” tanya William seraya memegang kepala Evelyne dengan tangan besarnya.

__ADS_1


“Tidak ada, aku hanya ingin bilang “Maaf dan terimakasih untuk semuanya” ucap Evelyne dengan senyuman kecil di wajahnya.


William mengangguk, lalu menurunkan sedikit badannya untuk mengecup sekilas tepat di kening Evelyne. “Selamat malam”


“Hn...selamat malam” Evelyne merespon kecupan itu dengan senyuman yang sedikit mengembang di wajahnya yang cantik.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun berjalan keluar dari kamar untuk pergi ke ruangan kerjanya. Sementara Evelyne, ia menyuruhnya untuk tidur terlebih dahulu, dan ia juga meminta maaf karna tidak bisa menemaninya malam ini. Karna mengerti dengan kondisi William, evelyne sama sekali tidak keberatan jika di tinggal oleh William untuk malam ini.


Karna di kehidupannya yang sekarang, masih banyak waktu untuknya menyembuhkan penyakit dari hati lelaki itu. “Suatu hati nanti, hati itu akan terbuka dengan lebar hingga kau tahu bahwa selama ini kau telah melakukan kesalahan besar dalam hidupmu. Kau boleh berbuat sesukamu, tapi jangan pernah menyesal jika semua tidak sesuai dengan faktanya”


...--🥀🕊—...


Disisi lain, William yang tengah berjalan melewati lorong yang gelap, tiba-tiba ia mendengar sebuah langkah kaki yang tengah berjalan menghampirinya. William bisa menyadari itu, namun ia lebih memilih untuk diam sampai seseorang itu datang dan memanggilnya.


“T-tuan besar!”  panggil seseorang dari belakang.


Mendengar panggilan itu, William menolehkan kepalanya. Melihat seorang lelaki tengah berlutut di depannya dengan kepala yang menunduk. “Maafkan kesalahanku ini master, aku telah gagal menjaga Nona disaat kau tidak ada di sampingnya. Aku benar-benar menyesalinya” ucap lelaki itu dengan suara yang lantang.


“Jika kau tahu itu kesalahanmu, maka aku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya kembali kepadamu tentang hukuman yang akan kau dapat nantinya” kata William dengan suara dinginnya.

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk dengan cepat, “Iya master, saya tahu itu”


__ADS_2