
“Dia andra, adik sepupu jauhku. Dia baru saja pulang dari luar negeri Karena beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan disana. Jadi saat ia sampai, ia meluangkan waktunya untuk bertemu dan berbincang denganku sejenak. Awalnya Aku menyuruhnya pulang untuk pulang sebelum Aku pergi meeting di jam 13.53 tapi dia menolak. Katanya ingin menungguku, karna banyak obrolan yang ingin ia katakan padaku. Jadi Aku tidak bisa melarangnya” jelas William dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku! Kau terluka lagi, karna kesalahanku. Maafkan aku, Yoona!”
Evelyne terdiam, melihat raut wajah William yang benar-benar merasa bersalah atas kesalahannya. Tapi Evelyne sendiri masih belum menerimanya dengan baik, Karna bagaimanapun lelaki itu tidak bisa seenaknya memainkan tenaga kepada seorang wanita. Terlebih lagi, dengan seseorang yang belum ia kenali.
“kau tidak bersalah, tidak perlu meminta maaf!” ucap Evelyne dengan memalingkan wajahnya kearah lain.
William menggeleng, lalu dengan pasrah ia menjatuhkan kepalanya di atas bahu Evelyne seperti biasanya. “Tidak!! Semua kejadian hari ini adalah kesalahanku. Jadi biarkan Aku meminta maaf kepadamu, yoona!”
“Tapi kau tidak salah di mataku! Untuk apa kau meminta maaf?” Tanya Evelyne dengan melirikkan matanya saat melihat kepala William yang masih terus berada di salah satu bahunya. “Adikmu yang salah, dan kau tidak! Jadi berhentilah meminta maaf, Karna Aku tidak membutuhkannya.”
William mengerutkan keningnya, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap leher putih milik Evelyne. “Jadi, kau ingin andra yang secara pribadi, meminta maaf kepadamu?”
“Tidak, Aku tidak mengatakan hal itu!” Evelyne menurunkan pandangannya “Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Aku bertanya siapa dia, itu Karna Aku tidak mengenalinya. Bukan untuk memperpanjang masalah tadi”
William tertegun “Iya kah? Tapi...bukankah kau sangat marah dengan sikapnya yang seperti itu?”
“Ya, Aku sangat marah! Aku bahkan berpikir bahwa dia sangat tidak cocok menjadi CEO di perusahaan ini!” jawab Evelyne yang langsung di tertawakan oleh William di depannya. Evelyne terbingung saat melihat William tertawa tanpa alasan. “Hey bodoh! Apa yang kau tertawakan?! Apa kau pikir dari pembicaraan kita ada yang lucu?”
William menggeleng, tawanya yang masih ada pun ia terpaksa untuk menghentikannya Karna takut membuat Evelyne tersinggung karenanya. “Tidak ada, Aku hanya berpikir bahwa pernikahan kita yang sudah berjalan 2 tahun ini sia-sia.”
“Hah? Apa maksudmu?” Tanya Evelyne yang tidak mengerti.
William tersenyum, lalu dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Evelyne. “Ya, Aku anggap itu sia-sia. Karna kau tidak mengetahui bahwa suami yang ada di depanmu ini adalah orang yang terkenal di negara. Bahkan Aku satu-satunya yang bisa merubah sesuatu yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi buruk”
“....” Evelyne terdiam, wajahnya yang kini memerah Karna merasakan nafas yang hangat saat lelaki itu berbicara di telinganya, membuat ia tidak fokus saat mendengar apa yang dikatakan oleh William kepadanya. “Kau bilang, kau ingin berterima kasih dan memberikan sebuah hadiah kepada CEO. Tapi kenapa Aku tidak melihat mu membawa sesuatu? Apa mau berpikir ucapan terimakasih akan cukup dengan keputusan sebesar ini?”
Evelyne tertegun saat mendengar perkataan yang sebelumnya andra ucapkan padanya, kembali di lontarkan oleh William disaat ia masih merasakan dendam pada lelaki itu. “Menjauhkan dariku! Aku tidak akan berkata apapun lagi buat orang yang tidak tahu kata terimakasih!”
“Eeehhh...kenapa? Apa Aku melakukan kesalahan?” protes William saat Evelyne hendak menjauhkan kepalanya dari bahu wanita itu. “Yoona, kau tidak bisa melakukan hal kejam seperti itu padaku! Memangnya Aku salah apa? Apa aku mengatakan atau melakukan yang hal tidak baik kepadamu?”
Evelyne menggeleng “Tidak tahu! Kau pikirkan saja sendiri, dimana letak kesalahanmu!”
“Yoonaa.... Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa salahku? Apa aku salah meminta hadiah kepada dirimu yang telah masuk kesini Karna keputusanku?” kata William yang membuat Evelyne dengan sontak terkejut.
Bahkan Wanita itu sampai menatap William dengan tatapan tidak percaya saat mendengarnya. “k-kau bilang apa tadi? Aku masuk kesini Karna keputusanmu?”
“Eum... Ya” angguk William seperti anak kecil yang sedang duduk saat di tanya. “Aku yang memilihmu untuk pindah kesini, Karna aku percaya bahwa kau bisa melakukan sesuatu yang baru di tempat yang baru. Apa kau marah denganku karna itu?”
__ADS_1
Evelyne mengerutkan bibirnya, menahan semua umpatan yang ia tahan di tenggorokannya agar ia tidak keluar karna emosi. “Jadi...selama ini, CEO di perusahaan seluruh kota Seoul adalah milikmu?”
“Ya, tentu saja. Apa kau tidak mengetahui itu?” William menatap wajah Evelyne yang penuh rasa ketidakpercayaan saat mendengar perkataannya. “Aku kan sudah hilang, kau sangat beruntung memiliki suami yang luar biasa sepertiku! Apa dengan Kata-kata itu, kau tidak bisa menebaknya secara langsung?”
Bukk!!
Evelyne yang tidak bisa menahannya lagi pun mendaratkan sebuah pukulan kencang diatas kepala William yang kini tengah memandangnya dengan tatapan tanpa rasa bersalah. “Jadi selama ini, CEO yang Aku cari-cari itu kamu? Bukan lelaki tadi?!!”
“Aduhh!!” rintih William dengan mengusap kepalanya Karna sakit “Tentu saja Aku, kenapa mau bisa berpikir bahwa dialah CEO yang kau cari?”
Evelyne terdiam, melihat lelaki ini masih mengusap kepalanya karna sakit. Membuat Evelyne menarik kepala William untuk bersandar di salah satu bahunya, sementara tangannya terus mengelus kepala William dengan lembut. “Kenapa kau tidak mengatakan hal itu sejak awal padaku?”
“Sengaja! Karna Aku ingin tahu, seberapa banyak kamu tahu tentang Aku. Tapi...tentang masalah pekerjaan saja, kau tidak mengenalku dengan baik. Apalagi dengan urusan yang lain?” jawab William tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun dari atas bahu evelyne.
Evelyne menghela nafasnya “Tapi...kau juga tidak harus melakukan hal seperti itu padaku. Karna jika kau ingin kami saling mengerti, maka gunakanlah cara lain yang bisa membuat kita saling menguntungkan”
“Saling menguntungkan? Apa kau akan menerima itu, jika aku tidak melakukan suatu kebohongan lagi padamu?” Tanya William dengan mengangkat kepalanya. Mendekatkan wajahnya kepada wajah Evelyne dengan jarak yang cukup dekat. “Selagi tidak ada kebohongan diantara hubungan ini, maka Aku akan menerimanya!” Ujar Evelyne tanpa pikir panjang.
Mendengar persetujuan Evelyne, William pun langsung menjauhkan wajahnya dengan cepat. “Baiklah kalau begitu! Bisakah Aku meminta hadiah dari mu, karena kamu tidak membawakanku hadiah?”
“Bisa! Selagi permintaan itu masuk akal, maka aku akan memenuhinya!” ucap Evelyne yang semakin membuat William berpikir yang tidak-tidak.
“Apa itu? Kau sama belum memberitahuku, kenapa langsung menyimpulkannya seperti itu?” Tanya Evelyne pada William yang sudah terlihat kecewa tanpa alasan
William terdiam sejenak, lalu dengan ragu ia membuka mulutnya untuk berkata “Mari memulai semuanya dari awal, apa kau mau?” .
“Hah?” Evelyne kebingungan “Memulai dari awal, seperti apa yang kau maksud?”
William tersenyum misterius, lalu dengan suara pelan ia mengatakan. “Mari pergi ke sesuatu tempat terlebih dahulu!?”
Di dalam mobil.
Evelyne dan William kabur secara diam-diam untuk pergi meninggalkan perusahaan. Dan ini adalah pertama kalinya Evelyne meninggalkan pekerjaannya bersama William yang kini dikenal sebagai CEO di seluruh perusahaan. “Liam, apakah tidak apa-apa jika kita pergi meninggalkan jam kerja seperti ini? Apa kau tidak takut, Nathan mengetahui bahwa kau telah keluar dari perusahaan secara diam-diam” Tanya Evelyne di sela-sela keheningan mereka.
“Tidak! Pekerjaanku sudah selesai untuk hari ini, Karena besok akan pergi keluar kota untuk beberapa hari” jawab William dengan raut wajah dinginnya.
Evelyne terdiam sejenak, menatap William yang seperti tidak rela untuk pergi keluar kota. “Berapa lama kau akan berada disana?”
__ADS_1
“Sekitar 2 sampai 3 hari! Itu juga sudah kehitung waktu berangkat dan pulang” William menjawab itu dengan menghela nafasnya.
Evelyne mengangguk paham “sebelum kau pergi keluar kota, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu untuk bersenang-senang? Aku juga tidak keberatan kok untuk menemanimu hari ini?”
“B-benarkah? Apa kau serius?” Tanya William dengan menolehkan kepalanya secara sontak.
Evelyne terkekeh lembut “Ya, anggap saja semua yang kita lakukan hari ini adalah hadiah yang kuberikan padamu!”
Mendengar perkataan itu, William pun merasakan kesenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat mendapatkan hadiah dari banyaknya orang. Karna sebagian dari mereka selalu memberikannya hadiah berupa barang-barang yang mewah, tapi yang sebenarnya ia inginkan adalah waktu untuk dirinya.
Seperti Evelyne lakukan saat ini. Dia tidak memberikannya hadiah berupa barang mewah, tapi is memberikan waktunya yang paling berharga hanya untuk menemaninya bersenang-senang. Padahal dulu Evelyne sangat membenci waktu yang di buang-buang dalam hal yang tidak berguna. Tapi Karna ini untuk William , Evelyne tidak akan pernah mempermasalahkan semuanya.
...--🥀🕊—
...
Di kediaman JIN
Ruangan kamar yang sepi dan gelap, kini terlihat seorang wanita dan pria sedang duduk di kursi yang saling berhadapan. Mereka tampak sedang membicarakan hal yang penting hingga membuat suasana di dalam kamar terhadap begitu canggung. “Ada keperluan apa, tuan putri dari keluarga WU datang kesini untuk berbicara denganku? Seingatku, kita tidak memiliki urusan ataupun hubungan yang membuat suatu topik menjadi seserius ini” ucap Edgar dengan nada datarnya.
“Aku juga berpikir seperti itu, kakak kedua. Tapi... Aku kesini hanya ingin bertanya sedikit padamu. Apakah kau tidak keberatan untuk menjawabnya dengan jujur?” Clara mengatakan hal itu dengan menyerahkan sebuah selembar kertas kepada Edgar.
Melihat kertas itu diserahkan, Edgar pun langsung mengambilnya tanpa pikir panjang. Dan ia juga menyimpan kertas itu di dalam saku jas coklatnya. “Katakan, apa yang ingin kau tanyakan!”
“Tidak banyak, hanya tentang Yoona” jawab Clara yang membuat kerutan di dahi Edgar secara perlahan terlihat begitu jelas. “Untuk apa kau menanyakan wanita itu kepadaku? Apa kau ingin menyakitinya lagi setelah kau gagal dari semua rencanamu itu?’” Edgar memandang dingin Clara yang tengah duduk di depannya.
Clara menggeleng “Tidak, Aku kesini hanya bertanya. Bukannya ingin Mencelakainya”
“Lalu apa yang kau inginkan? Bisakah kau jelaskan itu lebih dulu padaku?” kata Edgar yang memuat Clara langsung menceritakan semuanya kepada lelaki itu. Bahkan penjelasan yang diberikan oleh William tentangnya, juga Clara ceritakan pada Edgar tanpa terkecuali. Disisi yang sama, Edgar yang mendengar semua cerita Clara pun mengerti dengan apa yang dimaksud oleh wanita ini.
“Jadi kau ingin Aku membuat Yoona dan William bertengkar, dan kau akan mengambil kesempatan untuk menjadi teman curhatnya lagi seperti dulu?” Tanya Edgar yang menyimpulkan itu semua dengan cepat.
Clara mengangguk “Ya, Aku ingin William kembali ke duniaku! Apa kau juga berpikir seperti itu kepada Yoona? Kau sangat mencintainya, bahkan saat dia sudah menikah pun kau masih menunggumu. Apa kau tidak pernah berpikir bahwa kau harus mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu?”
“Aku pernah berpikir seperti itu, tapi aku juga tidak pernah berpikir akan melakukan yang seperti itu! Karna kebahagiaan Yoona adalah kebahagiaanku. Jadi...selagi ia bahagia, maka untuk apa aku mengambil kebahagiaan itu??” Edgar berkata dengan hatinya yang terluka.
Clara terkejut saat mendengar itu, bahkan ia juga tidak menyangka akan mendengar Edgar secara terang-terangan berkata seperti itu kepadanya. “A-apa maksudmu? Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau sangat mencintainya bukan? Tapi kenapa kau tidak mau menjadi orang yang bisa membahagiakan orang yang kau cintai? Kenapa kau malah menyerahkannya kepada orang lain, dan itu pun kepada saudara tirinya sendiri”
__ADS_1
“....” Edgar terdiam. Sementara Clara terus menghasut Edgar untuk mau bekerja sama dengannya dalam menghancurkan hubungan William dengan Yoona. Karna salah satu orang yang mereka cintai terjebak dalam pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. “Tolong katakan setuju, jika kau mau orang yang kau cintai kembali kedalam pelukanmu!”
Edgar mengangguk ragu, lalu mulutnya yang gemetar pun mengeluarkan suara dimana ia ingin melakukan sesuatu yang bisa mencapai keinginan yang selalu hilang dari genggaman tangannya. “Ya, Aku setuju! Aku ingin membuat Yoona kembali ke tanganku!”