Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 94 : Berterimakasih pada diri sendiri


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah menerangi kamar Evelyne serta udara yang segar masuk ke dalamnya membuat suasana di kamar jauh lebih menenangkan dari biasanya. William memang sengaja membuka jendela tersebut karna ia ingin mengganti udara yang ada di dalam kamar dengan udara yang lebih segar.


Namun siapa yang akan menyangka bahwa udara di pagi hari membuat suasana hati dan pikiran jauh lebih tenang.


Terlihat dari luar jendela kamar rumah sakit, William yang sedang duduk di kursi samping ranjang rumah sakit dengan salah satu tangan yang memegangi mangkuk kecil dan tangan satunya memegang sendok untuk menyuapi Evelyne sedikit bubur hangat di pagi hari. “Liam, kenapa kau masih disini? Apa kau tidak pergi ke kantor hari ini?”


Evelyne menatap William dengan kemeja putihnya yang tampak berantakan serta rambut yang kini sudah tidak teratur lagi membuat Evelyne mengira bahwa William tidak akan perhubungan bekerja hari ini. “Tidak, aku mengambil cuti untuk beberapa hari di kantor dan menyerahkan sebagian pekerjaanku pada Nathan.”


“K-kenapa? Bukankah kau orang yang penting dalam perusahaan? Kenapa kau bisa meninggalkan pekerjaanmu dan menyerahkannya pada orang lain?” Evelyne terheran saat melihat William cukup bersantai walau posisinya sekarang adalah raja dunia perbisnisan.


William terdiam sejenak, lalu menurunkan mangkuknya diatas pangkuannya serta meletakkan sendoknya di dalam mangkuk tersebut. “Memangnya kenapa jika aku meninggalkan pekerjaanku? Lagipula aku mengambil cuti juga Karna aku ingin menjagamu walau hanya sebentar. Kau tahu kan, beberapa belakang ini aku sering sibuk keluar Karna mengurusi urusanku di luar kantor. Jadi setelah aku sedikit menyelesaikannya, maka aku akan meluangkan waktuku untuk menerimamu disini”


“Ya, tapi...apakah tidak apa-apa, jika kau tidak masuk ke kantor untuk beberapa hari?” Evelyne mencemaskan William.


William mengangguk, karna semua pekerjaannya sesuai dengan apa yang dia inginkan. William tidak perlu khawatir lagi saat ia pergi meninggalkan kantor, karna karyawan yang kini membantunya adalah orang-orang kepercayaan kakek. “Tidak masalah, lagipula kenapa kau begitu memikirkan perusahaan disaat kondisimu masih seperti ini? Apa kau sama sekali tidak memikirkan kondisimu saat ini?”

__ADS_1


“Tidak, Aku tidak pernah memikirkannya.” Jawab Evelyne dengan spontan. William yang mendengar hal itu juga sedikit tertegun Karna mendengar Evelyne tidak pernah sedikitpun memikirkan tentangnya, padahal ia selalu memikirkan orang lain tapi untuk dirinya sendiri kenapa tidak?. “Kau tidak boleh seperti itu! Sebelum kau mengkhawatirkan orang lain, maka kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri”


Evelyne menggeleng “Tidak! Di dunia ini kita harus lebih mementingkan orang lain dibandingkan diri kita sendiri, Karna jika kita terlalu egois dan selalu memikirkan diri kita sendiri...maka kita akan kehilangan orang yang kita sayangi”


“Kenapa bisa begitu?” William terheran, sementara Evelyne hanya terkekeh lembut sebelum ia kembali membuka suaranya untuk melanjutkan perkataannya lagi. “Egois itu membuat kita kehilangan semuanya. Kita terlalu peduli dengan diri kita sendiri, sampai-sampai kita melupakan seseorang yang selalu ada buat diri kita. Kita tidak pernah peduli bagaimana seseorang itu akan selalu berusaha membuat kita tetap berdiri, namun disaat ia terjatuh....kita hanya diam dan terus memikirkan diri kita untuk tetap berdiri tanpa memikirkan bagaimana nasib yang diharapkan oleh seseorang yang selalu membantu kita untuk terus berdiri.”


William terdiam ditempat, ia tidak tahu kenapa Evelyne tiba-tiba mengatakan hal sebanyak itu. Dan dari perkataannya, dia seperti mengatakan bahwa dialah orang yang di maksud dalam perkataannya itu. “Menurutku seperti itu, tidak egois. Kita hidup di dunia yang keras, walau banyak orang yang membantu tetap berdiri tetapi yang kau harus tahu! Dirimulah yang paling banyak membuatmu berdiri dari awal hingga akhir. Mereka hanya mendukung bagaimana kau harus tetap berdiri dengan tegak, tetapi yang menemani dan melakukannya bersamamu adalah diri kamu sendiri. Mau mereka ada atau tidak, kau akan tetap berdiri bersama dengannya”


“.....” kini Evelyne terdiam saat mendengar William mengatakan bahwa dirinya yang paling berarti daripada orang lain. “Kau boleh mengkhawatirkan orang lain, tapi kau juga harus mengkhawatirkan dirimu sendiri. Karna mau sebanyak apapun dukungan orang lain kepadamu, kau tidak akan pernah bangkit jika dirimu sendiri sudah lelah untuk menjalaninya lagi. Dia memang tidak terlihat saat membantumu, tapi asal kau tahu...dialah orang yang paling setia di dalam hidupmu. Dialah yang membuatmu masih bisa bertahan sampai sekarang, walau kau tahu bahwa tidak lagi harapan dalam hidupmu. Tapi Karna dia selalu menemani dan menuntunmu untuk terus bangkit, maka itu yang membuatmu bisa bertahan hingga akhir.”


“Sssttt....Tidak ada tapi, kau mungkin tidak akan pernah menyadarinya. Tapi suatu saat nanti, kau akan berterimakasih padanya setelah kau menyadari itu semua. Karna sekarang, bukanlah untuknya mendengar Terimakasihmu jika kamu masih dalam keadaan yang terpuruk” William mengelus pipi Evelyne dengan lembut seraya mengatakan hal itu dengan nada pelannya.


Evelyne terdiam, rasa hangat yang kini menyelimuti hatinya pun membuat dirinya kembali mengingat bagaimana ia bisa berjuang seorang diri setelah semua orang yang ia sayangi telah tiada. Evelyne menjadi wanita yang kesepian hingga membunuh menjadi hobinya karna ia tidak menyukai seseorang memiliki keluarga yang bahagia terbangun tepat di depannya.


“Kenapa? Kenapa harus berterimakasih pada diri sendiri?!” Evelyne menundukkan kepalanya, ia benar-benar menahan emosinya sekarang.

__ADS_1


William yang melihat Evelyne masih memiliki sesuatu yang menganjal di hatinya pun membuat lelaki itu bangun dari duduknya, lalu meletakkan mangkuk yang berisi bubur hangat di atas lemari kecil di sampingnya. William berpindah duduk di tepi ranjang seraya memeluk Evelyne dengan kehangatan yang di berikan olehnya.


William tahu bahwa evelyne memiliki sesuatu yang terus mengganggu di dalam dirinya, tapi....untuk saat ini William akan lebih memilih untuk diam sampai wanita ini bercerita sendiri kepadanya. “Sudahlah, lupakan pembicaraan kita sebelumnya. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, bisakah kau menjawabnya dengan jujur?”


“Y-ya, kenapa kau berbicara seperti itu? Bukankah setiap pertanyaanmu selalu Aku Jawab dengan jujur?” Evelyne mengerutkan keningnya saat ia melepaskan pelukan itu untuk melihat wajah William yang tengah menatapnya dengan tatapan lembutnya. “Ya, tapi kali ini berbeda.”


Evelyne terdiam, lalu mengangguk “Katakan, apa yang ingin kau katakan padaku!”


“Beberapa hari yang lalu, aku mendengar kabar bahwa kau tidak datang ke kantor untuk waktu yang lama. Bisakah kau beritahu aku apa alasan serta penyebab kau tidak datang ke kantor saat itu?” William bertanya hingga membuat Evelyne terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Ia juga sempat mengira bahwa William sama sekali tidak mengetahui konflik yang terhadap di kantornya saat ia pergi ke luar kota, jadi Evelyne akan memanfaatkan situasi itu untuk tidak membiarkan William mengetahuinya. “Aku sakit waktu itu, dan menginap untuk beberapa hari di tempat ibu. Awalnya aku kita sakitnya hanya sebentar, tapi aku tidak akan pernah membayangkan bahwa sakitku akan berlangsung selama 3 hari dan aku juga lupa memberikan surat izin pada ketua bahwa aku sedang sakit”


William menyipitkan matanya, ia tidak menyangka Evelyne akan menjawabnya diluar dugaan. Karna yang selalu ia inginkan adalah Evelyne memiliki sikap yang terbuka untuknya, tapi kenapa dengan permasalahan ini...dia masih berusaha menyembunyikannya. “Oh benarkah? Kenapa kau tidak menghubungiku saat itu? Apa sakitmu terlalu parah hingga tidak bisa membuatmu mengangkat telpon dariku?”


“A-ah...kau menelponku? Sejak kapan? Kenapa aku tidak mengetahui hal itu?” Evelyne dengan sontak mencari hp nya untuk melihat, apakah benar William menelponnya atau tidak.


William menahan tangan Evelyne yang bergerak merasa kasur untuk mencari Hp nya yang hilang entah kemana. “Tidak perlu mencarinya! Aku hanya bertanya kenapa kau tidak menjawab telponku, bukan mengecek seberapa banyak Aku menghubungimu saat itu”

__ADS_1


-Kupikir kau akan bercerita, tapi kenapa kau malah mengarang cerita?-


__ADS_2