
Disaat semua bodyguard sedang mencari keberadaan Evelyne di tengah-tengah kota, Evelyne yang kini di carinya sedang berada di perjalanan menggunakan mobil sport putihnya. Mobil ini milik William, namun karna Evelyne sedang terburu-buru, jadi ia langsung membawanya tanpa seizin William terlebih dahulu. Karna menggunakan mobil ini tidak membutuhkan remote ataupun kunci, melainkan dengan sebuah kata sandi yang terdapat di pintu mobil.
Jika ia mengetahui sandi itu, maka ia bukan hanya bisa membukanya. Ia juga bisa menggunakannya secara otomatis, namun secanggih-canggihnya mobil William. Evelyne tetap tidak mengetahui bahwa di setiap mobil William memiliki alat pendeteksi, yang dimana alat itu tersambung di laptop serta tablet William.
Sesampainya di suatu tempat, Evelyne langsung menuruni mobilnya saat ia depan sebuah bar yang cukup terkenal akan minumannya yang sangat mahal. Evelyne bukannya tidak pernah datang ke tempat seperti, melainkan ia yang tidak bisa meminum minuman keras membuatnya harus menghindari tempat-tempat itu. “Eugh...kenapa harus disini?” Gumamnya dengan kesal.
Evelyne tidak pilihan jika seseorang itu memintanya untuk datang kesini, jadi Evelyne hanya bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar tersebut seorang diri. Baru saja memasuki tempat itu, Evelyne langsung disambut oleh beberapa lelaki sambuk dengan bau alkohol yang begitu menyengat dari tubuhnya. “Hay manis, apa yang kau lakukan disini? Disini bukan tempat untuk gadis sepertimu. Sebaiknya kau pulang ke rumahmu, atau hal buruk akan terjadi padamu nantinya”
“Cckk...Jika hal buruk itu terjadi karnamu, maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu disini” ucapnya dengan memegang sesuatu di balik jas hitamnya.
Sebelum Evelyne mengeluarkannya, seorang penjaga dari bar tersebut pun menghampiri mereka untuk menanyakan hal apa yang mereka sedang peributkan ini. “Maaf Nona, selamat sore. Apa anda bernama Yoona Jiang?” tanya penjaga itu dengan suara pelan.
“Siapa lagi kamu?” Evelyne menatap lelaki yang baru saja datang dengan tatapan tajamnya.
Lelaki itu tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya yang sebagai staf penjaga di bar ini untuk menghindari perkelahian saat orang sedang dalam keadaan mabuk. Ia juga bertugas sebagai penerima tamu saat mereka memasuki bar ini, Evelyne yang mendengar itu hanya terdiam secara menatap lelaki itu dengan tatapan yang menilai. “Jika anda benar Nona Yoona, bisakah ikuti saya menuju ruang xxx?”
“Bisa, kau tunjukan saja jalannya!” ucap Evelyne dengan nada datarnya.
Evelyne dan lelaki itu langsung pergi meninggalkan aula utama menuju ruangan VIP yang terdapat di bar tersebut. Walaupun bar itu terlihat cukup sederhana, mereka memiliki ruang VIP yang cukup bagus untuk orang-orang kaya yang memesannya. Mereka juga memiliki pelayanan yang baik sehingga banyak orang yang datang ke bar tersebut tanpa memandang fasilitas yang ada, karna di bar ini mereka hanya mengandalkan minuman keras yang berlevel tinggi dan itu banyak di senangi oleh banyak orang.
Sepanjang jalan Evelyne melihat sekeliling untuk menghafal jalan dari luar menuju ke dalam, karna Evelyne sedikit merasa aneh dengan tempat pertemuan ini. “Nona, ini ruangan xxx yang dipesan oleh seseorang untuk Nona jiang menunggu. Anda bisa masuk terlebih dahulu, dan jika anda memiliki sesuatu maka anda bisa memanggil saya dengan menekan lonceng yang ada di atas meja makan.” Lelaki itu menjelaskan secara detail nya kepada Evelyne.
__ADS_1
Sementara Evelyne yang mendengar itu hanya mengangguk seraya berbalik badan untuk masuk ke dalam ruangan VIP itu. Evelyne yang baru saja melihat kearah depan, manik matanya yang datar pun seketika mengecil karna terkejut saat melihat seorang lelaki yang sedang duduk di tempat makan dengan memegang sebuah cangkir berisi minuman keras di salah satu tangannya.
“Maaf sudah mengganggu waktumu, Yoona. Aku pikir kau tidak akan datang setelah membaca pesan dariku.” Ucap Lelaki itu dengan menggoyangkan gelasnya secara memandang Evelyne dengan wajahnya yang misterius.
Evelyne terdiam sejenak “Jika kau ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah! Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu disini!”
“Eum...kau sekarang sudah menjadi orang yang sibuk ya. Padahal dulu kau selalu mengandalkan aku jika ingin membeli sesuatu, tapi sekarang sepertinya kau terlihat lebih mandiri ya” Lelaki itu tersenyum kepada Evelyne seraya meletakkan gelasnya di atas meja. “Duduklah dulu, aku tidak akan berbicara jika kau terus berdiri di depan pintu seperti itu. Apa kau benar-benar tidak menghargaiku disini?”
Evelyne memutarkan bola matanya, lalu dengan malas ia berjalan menghampiri lelaki itu dan kemudian ia duduk di kursi yang kosong. “jadi...Katakanlah sekarang!”
“Baiklah....jadi, aku disini mau memperjelas kepada kamu tentang hubungan kita di belakang William. Kau dulu sangat mencintaiku, bahkan membuat janji padaku untuk hidup denganku seumur hidup setelah kau menceraikan William. Lalu kenapa terakhir kali kau malah bertingkah aneh? Bukankah kau bilang akan berpura-pura tidak memiliki hubungan denganku jika ada William saja?” Lelaki itu mulai membuka pembicaraannya dengan langsung ke intinya.
Evelyne melirikkan matanya kearah lelaki itu. “Aku tidak berpura-pura dengan sikapku yang terakhir kali, aku memang mengatakannya sesuai dengan keinginan hatiku. Dan aku juga tidak merasa melakukan suatu ikatan janji denganmu. Aku sudah menikah dan bahkan aku dengan tuan sudah menjalankannya selama 2 tahun, jadi apa kau masih menganggap bahwa aku melakukan ikatan janji denganmu?”
Evelyne terkejut, ia langsung mengangkat tangannya untuk melihat. Dan benar saja, cincin yang selama ini ia kira cincin pernikahannya dengan William ternyata adalah cincin ikatan janji yang terlarang dari Edgar selama ini. Pantas, William terlalu merasa terganggu saat ia memperlihatkan cincinnya. Sial!! Kenapa ia tidak mengetahui itu sejak awal?!
“Huh...kau bisa mengambilnya kembali jika kau mau, dan aku harap semua yang terjadi di masa lalu kamu anggap tidak pernah terjadi!” Evelyne melepaskan cincin indah itu dari jari manisnya, lalu ia meletakkannya di atas meja makan yang panjang serta memiliki banyak kursi yang berjejer.
Lelaki itu tertegun saat melihat cincin yang mereka jadikan sebagai ikatan janji, di lepas begitu saja oleh Evelyne dengan mudah. “K-kau?! Kenapa kau melepaskan cincin itu?!!”
“Aku sudah tidak membutuhkannya lagi! Kau bisa mengambilnya dan memberikan kepada wanita lain nantinya” Evelyne menjawab dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
Lelaki itu membentak “Kau bilang apa?!! Kau tidur membutuhkannya setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan?!! Yoona, ingatlah! Disaat kau tidak pernah di pandang oleh William, hanya aku....hanya aku yang memandangmu saat semua orang membencimu! Tapi...kenapa setelah kau berhasil memanipulasi William, kau jadi membuangku begitu saja?!! Apa begini caramu berterimakasih padaku?!!”
“Ya, aku mengingat itu. Tapi sekarang, aku rasa sudah waktunya aku menembus dosaku setelah aku melakukan semua pengkhianatan di dalam pernikahanku sendiri denganmu yang kini berstatus sebagai saudara tiri William sendiri!” ucapnya dengan senyuman menyeringai. “Aku rasa...pembicaraan ini sudah berakhir. Jadi aku akan pergi sekarang!”
Evelyne yang hendak pergi meninggalkan lelaki itu pun seketika merasa bahwa tubuhnya telah terlempar keatas meja makan dengan tahanan kuat yang di berikan oleh lelaki itu kepadanya. “H-hey! Apa yang kau lakukan?!!” Evelyne terkejut dengan sikap lelaki ini yang secara tiba-tiba.
“kau tidak bisa seenaknya meninggalkanku seperti ini Yoona! Kau yang sudah membuatku jatuh cinta terlalu dalam, lalu kenapa kau membuat rasa sakit yang begitu perih tanpa memberikan sedikitpun harapan untuk hatiku ini!!!” lelaki dengan wajahnya yang kini di selimut oleh rona merah pun membuat Evelyne berpikir bahwa lelaki. Ini sedang dalam keadaan mabuk.
Evelyne memberontak “Edgar!! Apa yang kau inginkan sih?!! Bukankah kau bilang kita disini hanya membicarakan tentang hubungan kita dan mengakhirinya secara baik-baik, lalu kenapa kau melakukan ini kepadaku?!!”
“Heh? Mengakhiri hubungan kita? Kau pikir mencintai seseorang terlalu dalam akan mudah untuk mengikhlaskannya setelah ia melakukan hal buruk pada hati ini?!” Edgar berbisik di dekat telinga Evelyne “Yoona, aku kan pernah bilang padamu kalau aku bukanlah lelaki yang baik jika mendapatkan penolakan dari seseorang. Dan aku yakin, kau pasti mengingat itu kan?”
Tidak!! Evelyne tidak mengingat apapun tentang hubungan Yoona dengan Edgar di pikiran wanita itu, ia juga tidak memiliki ingatan mengenai permasalahan yang terjadi di antara mereka. Dan hal itu membuat Evelyne berpikir untuk menjauhkan dirinya dari Edgar karna lelaki ini terlalu berbahaya bagi tubuhnya yang lemah. “Edgar, aku sedang tidak bercanda ya?!! Lepaskan aku!! Atau aku akan melaporkanmu pada William setelah aku bebas dari lelaki gila sepertimu!!”
Edgar tertawa “Bebas? Apa kau yakin, kali ini kau akan bebas dan melaporkanku pada William? Apa kau yakin dengan semua itu?” Edgar dengan tangannya salah satu tangannya pun mulai mengelus kulit lembut Evelyne di bagian lengan atasnya.
“E-Edgar?! Apa yang kau lakukan?” ucapnya dengan nada yang keras saat Edgar mulai mengendus-endus lehernya dengan mesum.
Aroma alkohol yang datang dari tubuh Edgar pun seketika memenuhi pernafasan Evelyne hingga membuatnya sedikit sulit untuk bernafas dengan baik. Bahkan kepalanya juga terasa pulang dengan di sertai pandangannya yang mulai kabur. Evelyne memang memiliki toleransi yang rendah terhadap minuman dan bau alkohol, ia selalu mudah merasa masuk walau tidak meminum hanya karna mencium baunya saja.
Alkohol berlevel rendah saja bisa membuatnya merasa pusing, apalagi alkohol yang sekarang di minum oleh Edgar berlevel tinggi. Itu pasti akan mengganggu pernafasan Evelyne serta mengganggu kinerja pada otaknya. “Edgar, berhenti!” ucapnya dengan nada yang terengah-engah seraya menggerakkan kakinya untuk mencoba menendang Edgar ke belakang.
__ADS_1
“Berhenti? Kita baru saja memulainya, apa kau ingin kita menghentikannya di tengah jalan seperti ini?!” Edgar yang benar-benar tidak tahu malu pun mulai membuka kancing kemeja Evelyne secara perlahan dengan salah satu tangannya. Sementara tangan yang lain menahan kedua tangan Evelyne di atas kepalanya. “Aku mencintaimu, Yoona!!”