
Di Hotel XXXX bintang 5.
William membawa Evelyne yang berada di gendongannya masuk ke dalam sebuah hotel yang sangat besar. Di dalam hotel itu, Evelyne bisa menyimpulkan bahwa fasilitas serta keamanan yang ada disana benar-benar sangat di jangkau. karna dari gerbang masuknya saja sudah terdapat beberapa penjaga yang bertugas untuk mengecek identitas setiap pengunjung.
Hal itu tentu saja dilakukan untuk mencegah pencemaran hotel tersebut akibat datang pengunjung dengan niatan yang buruk. Selain keamanan yang begitu ketat, hotel XXXX itu juga memiliki fasilitas yang tidak bisa di ragukan lagi. Dari halaman bagian hotel yang cukup luas dan indah karna terdapat beberapa tanaman serta pohon yang besar untuk menyejukkan suasana.
Bagian dalam hotel juga tidak kalah mewahnya dengan corak naga yang terukir di gerbang masuk hotel tersebut, Evelyne sempat terdiam saat melihat banyaknya patung dan ukiran-ukiran naga di setiap tempat-tempat tertentu. Hotel XXXX juga memiliki kolam renang yang cukup besar di aula bagian tengah hotel. .
“Liam, kenapa kita tidak pulang saja? Bibi pasti akan khawatir, jika kita tidak pulang tepat waktu.” Evelyne berkata dengan memandang wajah tampan William dari bawah.
William menurunkan pandangannya sekilas “Aku akan memberitahu bibi setelah kita sampai di kamar nanti, kau tidak perlu khawatir bibi tidak akan marah pada kita.”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Evelyne dengan terheran
William terdiam sejenak saat ia telah sampai di depan pintu kamar XXX yang mereka pesan sebelumnya. “Sayang, Kartunya ada di saku jas bagian dalamku. Bisakah kamu mengambilnya dan tempelkan itu disana?”
“O-ohh..Baiklah” Evelyne yang mendengar itu pun langsung memasukkan tangannya ke dalam jas William untuk mengambil kartu yang di maksud olehnya tadi.
Walau sedikit kesulitan untuk meraihnya, Evelyne terus menggerakkan tangannya disana hingga membuat William menggigit bibir bagian bawahnya serta memejamkan matanya. William tidak tahu kenapa tubuhnya begitu mudah bereaksi jika mendapatkan sentuhan seksual dari Evelyne yang terkadang wanita itu sendiri tidak menyadari perbuatannya.
“Sayang, aku menyuruhmu untuk mengambil kartu. Kenapa kau malah menyentuh yang lain?” Tanya William dengan suara yang sedikit berbeda.
Evelyne mengerutkan keningnya, menatap kesal William yang tampak tidak memiliki kesabaran sedikitpun. “Aaiisshh...Bisakah kau sabar sedikit? Aku sedang mencoba mengambilnya..”
“Huh...Baiklah, cepatlah!” ucap William.
Evelyne yang sedikit memasukkan tangannya lebih dalam lagi ke saku William pun akhirnya dapat meraih sebuah kartu yang ada disana, setelah itu Evelyne langsung menariknya keluar dan menempelkannya di tempat yang sudah di sediakan disana.
Pintu kamar terbuka secara otomatis, dan William juga langsung melangkahkan kakinya untuk berjalan masuk kedalam kamar dengan membawa Evelyne yang masih singgah di atas gendongannya. Evelyne juga langsung menyimpan kartu itu di dalam saku jas William kembali setelah ia menggunakannya.
Saat di dalam kamar, Evelyne langsung di letakkan dengan perlahan oleh William di atas kasur yang cukup besar, karna lebar yang dimilikinya sekitar 4-5 meter. “Padahal kita hanya beristirahat sejenak, tapi kenapa kau sampai memesan kamar sebesar ini?” Evelyne melihat sekeliling kamar yang tampak terlihat begitu luas.
__ADS_1
Barang-barang yang ada disana juga sangat mewah hingga Evelyne merasa bahwa William selalu merasakan kekayaan sejak ia kecil, hingga sebesar apapun uang yang ia keluarkan dalam sehari tidak akan membuat William berpikir bahwa ia telah mengeluarkan uang sebanyak itu. “Aku melakukan semua ini karnamu, selagi kau nyaman di tempat ini maka aku tidak akan mempermasalahkannya.”
“.....” Evelyne terdiam saat merasakan kecupan hangat dari William mendarat di keningnya.
William tersenyum saat melihat pipi Evelyne yang kini memerah akibat kecupan ringan yang ia berikan di kening wanita itu “Aku akan pergi membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Apa kau juga ingin melakukannya setelah aku selesai?”
“Ya, aku akan melakukannya setelah kau selesai nanti.” Angguk Evelyne dengan senyuman diwajahnya.
Mendengar bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang sama, William yang langsung mengangkat tubuh Evelyne masuk ke dalam gendongannya membuat Evelyne sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan oleh lelaki ini secara tiba-tiba. “E-eh...Liam, apa yang kau lakukan?”
“Kau bilang akan mandi setelahku kan?” tanya william yang diangguki oleh Evelyne “Kenapa tidak mandi bersama saja? Kita kan belum pernah melakukan ini sebelumnya”
Evelyne tertegun. Ia memang sudah melakukan banyak hal yang pernah ia benci sebelumnya bersama William hingga hal itu menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan olehnya saat bersama dengan William di waktu yang senggang. Tapi untuk mandi bersama...Evelyne masih memiliki rasa malu untuk melakukan hal itu bersama orang yang sama sekali ia tidak pernah melakukannya.
“Liam, aku rasa kita mandi berpisah saja. Ini cukup melakukan bagiku..” Tolak Evelyne dengan menundukkan kepalanya.
Sementara William yang sudah terbiasa akan penolakkan itu pun hanya tersenyum seraya mengelus kepala Evelyne dengan lembut “Kenapa? Apa kau malu untuk melakukannya bersamaku? Atau memang kamu belum sedikit terbiasa dengan hal yang seperti?”
“....” Evelyne terdiam, ia bukannya berniat untuk menolak hal yang biasanya umum dilakukan oleh sepasang kekasih. Tetapi Evelyne merasa canggung untuk melakukan bersama orang asing seperti William, karna Evelyne sendiri tidak pernah melakukannya bersama dengan Dion saat mereka masih bersama dulu.
“Tidak perlu merasa khawatir dengan itu, aku juga tidak akan memaksamu untuk melakukan apa yang kuinginkan” Ucap William dengan lembut.
Kringg!!
Suara hp Evelyne yang berbunyi di tengah-tengah rasa kecanggungan, membuat pemilik Hp itu dengan sontak turun dari gendongan William untuk mengambil hpnya yang berada di atas kasur. Sedangkan William hanya terdiam saat melihat Evelyne yang tengah memandang layar Hp nya dalam waktu yang cukup lama. “Ada apa? siapa yang mencoba menghubungimu disaat-saat seperti?”
“Sstt..bibi menghubungiku” Ucap Evelyne dengan mengayunkan tangannya kepada William untuk menghampirinya, sementara Evelyne mengangkat telpon itu dengan perlahan.
William yang melihat ayunan tangan itu pun membuatnya langsung datang menghampiri Evelyne yang tengah menempelkan hpnya di dekat telinganya, bahkan ia juga sedikit menurunkan kepalanya untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dessy di dalam telpon. “Hallo”
“Nyonya? Hari sudah mau gelap, dimana anda? Kenapa anda dan tuan besar belum sampai di kediaman? Apa terjadi sesuatu di jalan?” tanya Dessy yang terdengar cemas.
__ADS_1
Evelyne terdiam sejenak “Maafkan aku, bi. Aku kelelahan saat berjalan dengan liam, jadi beristirahat sejenak di hotel. Aku...baru saja ingin memberitahumu, tapi siapa yang menyangka bhawa kau akan menghubungiku terlebih dahulu.”
“Huh...Maafkan aku, aku hanya khawatir dengan kalian. Awalnya aku mencoba untuk menghubungi Tuan besar, tapi nomornya tidak aktif, jadi aku menghubungimu karena takut terjadi apa-apa dengan kalian di jalan.” Jelas Dessy yang membuat Evelyne sedikit merasa bersalah akan terlambarnya memberi kabar “Maafkan aku, bi. Nomor liam tidak bisa kau hubungi karena hp nya mengalami kerusakan, jadi kita keluar untuk mencarinya yang baru. Maaf, jika kamu menghubunginya namun tidak ada respon sedikitpun.”
Dessy menggeleng “Hp nya rusak? Sejak kapan? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Sekarang dimana dia? Apa dia bersamamu sekarang?”
“Eum...Y-ya, dia ada disampingku. Apa bibi ingin bicara sesuatu kepadanya?” Evelyne sekilas melirikkan matanya pada William yang masih terdiam tenang di sebelahnya.
Dessy mengangguki itu “Ya, tolong berikan hp mu kepadanya sebentar. Aku ingin bicara dengannya..”
“Baiklah, tunggu sebentar” Evelyne memberikan hp itu kepada William dengan isyarat bahwa Dessy ingin berbicara dengannya. William sedikit merasa aneh dengan perlakukan ini, karena Dessy jika membicarakan sesuatu kepadanya maka ia tidak mempermasalahkan Evelyne untuk mendengar.
Tapi...untuk kali ini, Dessy secara terang-terang menunjukkan bahwa urusan penting yang ingin ia bicarakan kepada William memiliki kaitannya dengan orang yang tidak di biarkan mengetahuinya. “Liam, ngobrollah dengan santai! Aku akan pergi mandi terlebih dahulu..” ucap Evelyne dengan mencium sekilas pipi William sebelum ia beranjak pergi meninggalkannya.
William tersenyum lembut saat melihat Evelyne melakukan hal itu kepadanya, dan ia juga tidak sadar membuat suara tawaan kecil hingga membuat Dessy yang mendengarnya sedikit merasa heran. “William, sepertinya hubunganmu dengan yoona semakin baik ya.” Kata Dessy yang menghilangkan senyuman di wajah hangat William.
“Tidak juga” sahutnya dengan nada dingin “Jadi...Apa yang kau ingin bicarakan? Tidak biasanya kau bertindak seperti ini”
Dessy terkekeh, lalu menghela nafasnya dengan perlahan. “Sebelum aku masuk ke intinya, biarkan aku bertanya sedikit padamu. Menurutmu bagaimana pandangan antara Clara dengan Yoona?”
“Hah? kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu kepadaku? Bukankah kau bisa menilai sendiri?” William merasa heran. Sementara Dessy hanya menggeleng dan terus meminta William untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya tadi. “Jawab saja pertanyaanku tadi, aku benar-benar butuh kepastian darimu sebelum aku memberitahu hal ini kepadamu.”
William terdiam sejenak “Kepastian? Tumben sekali kau membutuhkan itu.”
“Huh...Ya, tentu saja. Keluarga Wu datang ke kediaman tadi siang saat kamu pergi bersama Yoona di luar kota. Dia datang dengan tidak ramah, menghajar semua penjaga yang ada di depan gerbang serta menerobos masuk pintu keamanan secara paksa. Dia ingin bertemu denganmu, dan membicarakan soal pernikahanmu dengan Clara, sesuai dengan kesepakatannya.” Jelas Dessy.
William mengangguk “Bukankah dia sudah membatalkan kesepakatan itu dulu? Kenapa tiba-tiba dia datang untuk memintanya kembali?”
“Aku tidak tahu, yang pasti...dia ingin kau datang ke kediamannya dengan memakai pakaian pernikahan berwarna hitam, dan jika kau tidak datang ke tempat itu...tuan WU mengancam akan mengaitkan permasalahan ini dengan membawa nama Yoona.” Dessy memjiat keningnya sendiri “Makanya...aku sedikit khawatir saat menyadari kalian belum kembali, hingga hari sudah mau gelap seperti ini”
William terdiam seraya mengerutkan keningnya “Menyertakan permasalahan ini dengan membawa nama Yoona?”
__ADS_1
“Hm...ya, jadi..pendapatmu bagaimana? Apa kau akan melakukan pernikahan itu dengan Clara?” tanya Dessy dengan suara yang serius.
William mengangguk “Ya, aku akan melakukannya.."