
“Kau marah kepada mereka yang meninggalkanmu sendirian, lalu bagaimana dengan diriku yang telah kau ubah menjadi seperti ini?” Evelyne memutarkan tubuhnya, melihat sosok yang sangat mirip dengannya tengah berdiri didepannya. Evelyne terkejut, amarah yang tadinya memuncak, kini telah mereda secara perlahan. “Kamu?!! Siapa kamu?” Evelyne yang ketakutan pun mundur untuk beberapa langkah kebelakang.
Wanita yang sangat mirip dengan Evelyne pun tertawa, menampilkan wajah kecewanya dibalik senyuman. “Kau yang membuatku sebagai penutup, tapi kenapa kau sendiri yang tidak mengenalku?” Evelyne menggeleng cepat “A-aku, aku tidak mengenalmu. Siapa kamu?”
Wanita itu tersenyum, “Apakah kau benar-benar tidak mengenali jiwa palsumu?”
--//--
Evelyne mengusap rambutnya kebelakang, mencoba menenangkan dirinya dari rasa kebingungan itu. Ia sebenarnya tahu, tapi untuk saat ini biarkan dia hidup tenang sambil membalaskan dendam yang belum terbalaskan.
Krik!
Pintu kamar terbuka, menampilkan seorang lelaki tengah berjalan masuk. Evelyne yang melihat lelaki itu masuk ke dalam kamar dengan ekspresi dingin serta aura yang mengerikan pun langsung turun dari ranjang. Berniat pergi dari sana, karna ia benar-benar membenci lelaki.
“Mau kemana kamu?!!”
William dengan suara serak dan dinginnya seketika membuat langkah Evelyne yang tadi berjalan kabur dari kamar pun terhenti tepat di sampingnya. “Eh..aku ingin..keluar! Tuan, kau sudah kembali. Dan sepertinya kau juga harus beristirahat. Jadi aku tidak ingin mengganggumu” Evelyne dengan senyuman menjawab pertanyaan dari lelaki itu.
__ADS_1
“Bereskan!!”
William berkata sekilas dengan suara yang dingin namun menekan seluruh udara yang berada di kamar, hingga Evelyne sendiri kesulitan untuk bernafas. “Baik-baik, aku akan bereskan!” Ucap Evelyne dengan raut wajah yang cemberut. Ia berbalik arah, berjalan kembali kearah ranjang lalu membereskan selimut dan sprei yang sedikit berantakan.
“Padalah hanya berantakan sedikit, kenapa dia begitu terlihat marah? Dia juga akan menggunakan kasur ini untuk istirahat kok”
Evelyne menggerutu dengan suara pelan, namun William yang mendengar itu langsung memfokuskan manik matanya yang tajam kearah Evelyne. “Bicara apa kau?!!” Evelyne yang terciduk pun langsung berbalik badan dengan cepat, menggaruk kepalanya yang tidak gatal serta menunjukan senyuman konyolnya. “Hehehe...tidak ada kok, tuan.”
William terdiam menatap Evelyne dengan tajam, dan tidak sedikitpun ia mengurangi aura dan ketajaman pada matanya. “Tuan, kenapa kau melihatku dengan tatapan tajammu itu? Apakah aku seperti musuh yang sedang berhadapanmu sekarang?” tanya Evelyne sambil memiringkan kepalanya kesamping. Dia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang polos.
“Tidak ada!” William memalingkan wajahnya kesamping lalu berjalan melewati Evelyne dan masuk kedalam kamar mandi. Tak lama suara percikan air dari dalam kamar mandi pun terdengar, sepertinya lelaki itu sedang membersihkan tubuhnya. “Dia lelaki yang aneh!”
Karena ingatannya berkata bahwa adik tiri William yang bernama Jessica selalu memandang rendah dirinya, bahkan wanita itu selalu membuatnya menjadi buruk Dimata William. “Hey, Yoona!! Tidak sopan sekali ya kamu.” Jessica berteriak sambil menunjuk kearah Evelyne yang tengah berjalan melewati mereka tanpa rasa peduli.
Evelyne yang berada ditubuh wanita bernama Yoona pun menolehkan kepalanya dengan santai. “Ouh..adik ipar, kapan kau sampai? Maaf aku tadi tidak melihatmu” Evelyne menjawab perkataan Jessica dengan senyuman masih diwajahnya. Sementara lelaki yang bersama Jessica itu terkejut saat melihat senyuman diwajah Yoona terukir. ‘Dia tersenyum?’
“Tidak perlu sok baik!! Kau pikir aku tidak tahu, jika kau sengaja’ melewati kami! Apakah istri dari kakak tertuaku begitu tidak memiliki adab?” Jessica terus menatap Evelyne dengan merendah, apalagi sekarang Evelyne tengah berpakaian sederhana. Berbeda seperti Jessica yang berdandan cantik serta pakaian yang membuat orang merasa iri. “Yoona, kenapa pakaianmu juga tidak pernah berubah ya? Apakah seleramu terlalu rendah? Sampai-sampai harus memakai pakaian yang seperti itu?”
__ADS_1
Evelyne terdiam lalu berkata, “Aku memang memiliki selera yang paling sederhana dibandingkan dirimu, tapi hal itu yang selalu membuatku puas walaupun Dimatamu itu sangat rendah. Apakah kau sendiri tidak pernah merasa puas, hingga kau terus meningkatkan seleramu?”
Jessica yang mendengar itu pun tertawa remeh, “Bilang saja iri, tidak perlu berkata bahwa aku tidak pernah puas. Karna selagi keluargaku memiliki banyak uang, maka aku akan mendapatkan apa yang aku mau!” Evelyne mengangkat salah satu alisnya, tatapan yang santai kini berganti menjadi tatapan yang sangat merendahkan harga diri Jessica. “Hidup itu tidak bisa bergantung dengan orang lain, karna jika kau selalu bergantung kepada orang. Disaat orang lain terjatuh, maka kau akan ikut terjatuh. Sama seperti sekarang ini, mungkin kau menganggap keluargamu adalah orang terkaya disini. Tapi ingat, di kehidupan ini...semua akan berputar, terkadang diatas dan terkadang bisa terjatuh kebawah!!”
Evelyne mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang menekan hingga membuat kedua orang tersebut terdiam ditempat. Dessy yang berada disana pun juga sedikit menyetujui apa yang dikatakan oleh Evelyne ini.
Tidak menunggu mereka membuka mulutnya lagi, Evelyne langsung berbalik arah dan berjalan menaiki tangga yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari dirinya. Saat sampai di lantai 2, Evelyne dikejutkan oleh seorang lelaki yang tengah berdiri sambil menyadarkan tubuhnya di Railing tangga. Evelyne yang merasa malu karena tahu bahwa lelaki ini pasti mendengar apa yang ia bicarakan dibawah pun langsung menunduk kepalanya.
“Tuan, sedang apa kau disini?”
William melirikkan matanya yang tajam hingga membuat Evelyne bergidik ngeri, “Bukan urusanmu” kata William sembari berjalan melewati Evelyne dengan raut wajah yang dingin. Evelyne yang melihat William sama sekali tidak pernah memandangnya pun merasa bahwa pemilik tubuh ini memiliki hubungan yang tidak baik dengan William.
Perasaan sakit seketika terasa di hati Evelyne, namun ia tidak tahu apa yang membuat hatinya merasa sakit. Karna sebelumnya, Evelyne tidak pernah merasakan apa itu perasaan.
Disisi lain William yang baru saja tiba dilantai bawah langsung disambut oleh Jessica dengan sikap manjanya. “Sore kak William, ihh...aku kangen banget lho sama kakak.” Kata Jessica dengan nada yang manja serta tangan langsung melingkarkan salah satu lengan panjang William. “Kakak tertua” sapa azka dengan sekilas namun William hanya meresponnya dengan anggukan kepala.
“Ada apa perlu apa kalian kesini?”
__ADS_1
William bertanya dengan nada dinginnya, dan hal itu membuat Jessica yang tadinya menggelayut manja dilengan William seketika menjauhkan wajahnya. Menatap lelaki itu dengan tatapan kebingungan. “Kami kesini hanya ingin bertemu dengan Kakak, dan beberapa hari yang lalu kakak juga tidak memiliki kabar”