Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 102 : Wanita polos menjadi liar saat ia mabuk.


__ADS_3

Di kediaman Maxime.


Surya yang sedang memeriksa kondisi Evelyne pun sedikit terkejut akan stamina yang ada di dan tubuh Evelyne, dan ia juga tidak tahu kenapa Evelyne bisa seperti ini. Surya juga dapat merasakan bagaimana kemarahan yang dikeluarkan oleh William melalui aura gelapnya membuat Surya langsung menolehkan kepalanya kearah lelaki itu.


“Kakak pertama, kupikir sebaiknya kau keluar sebentar untuk menenangkan dirimu! Karna jika kau terus disini dan mengeluarkan auramu yang seperti itu akan membuat kakak ipar merasa terganggu.” Ucapnya dengan nada pelan namun menekan.


William terdiam dan terus terdiam tanpa melakukan apapun disana, seperti layaknya patung yang sedang menjaga Evelyne selama pemeriksaan ini. “Huh...kakak ipar tidak apa-apa, kondisinya memang belum stabil karna pengaruh minuman yang begitu tinggi. Jadi aku sarankan padamu kakak pertama, Kakak ipar ini memiliki toleransi yang rendah terhadap minuman yang seperti itu. Jika kau mau mengajak seseorang untuk meminumnya bersamamu, maka kau ajak saja aku leon. Jangan ajak Kakak ipar, atau kau akan terus membuatnya merasa sakit walau itu hanya aroma saja.”


“Minum minuman yang seperti itu? Apa maksudmu?” William membuka mulutnya saat menyadari sesuatu yang tidak benar disana.


Surya menggelengkan kepalanya, memposisikan tubuhnya menghadap William yang tengah berdiri di depannya. “Apa perkataanku tidak jelas? Aku menyuruhmu untuk tidak mengajak kakak ipar untuk minum lagi, karena itu bisa membahayakan tubuhnya yang lemah”


“Tapi aku tidak mengajaknya minum. Mengajarinya saja, aku tidak pernah!” ucap William yang membuat suasana disana seketika menjadi hening.


Surya terkejut dengan perkataan William, namun ia lebih terkejut saat kepalanya secara sontak menoleh kearah Evelyne atau lebih tepatnya lagi di tangan wanita itu. “Jika bukan kau yang mengajaknya, lalu siapa yang melakukan ini pada kakak ipar?”


“Huh...aku tidak tahu, aku menemukannya saat ia keluar dari bar yang cukup terkenal kota. Aku tidak tahu dia kesana bersama siapa, tapi aku hanya melihat kondisinya yang buruk sera ketakutan saat berlari keluar dari bar itu. Dan yang lebih membuatku gila adalah ...” William menghentikan perkataan saat ia mengusap rambutnya ke belakang karena kesal “Dia keluar dari bar itu tanpa menggunakan kemejanya. Dia hanya menggunakan jas kantornya sebagai penutup bagian tubuh atasnya!!?”


Surya lagi-lagi di buat terkejut setengah mati oleh perkataan William saat ini, ia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Evelyne. Bahkan jika semua orang tahu identitasnya, mereka semua tidak akan berani melakukan hal keji seperti. “Lalu, apa kau sudah menemukan siapa yang orang melakukan ini kepada kakak ipar?”


“Untuk saat ini, aku belum menemukannya. Tapi aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam bar itu sebelum aku datang. Aku harap hasil pemeriksaan itu bisa keluar esok pagi, karna aku akan membuat perhitungan padanya sesuai dengan hukum!” William meyakinkan itu dalam hatinya.


Surya mengangguk, namun ia dengan ragu ingin menanyakan sesuatu kepada William. Namun karna keberaniannya setipis kapas, membuatnya hanya memendam pertanyaan itu di dalam hatinya. “Jika kau memiliki sesuatu yang ingin ditanyakan, maka tanyakanlah! Tidak perlu memendamnya seperti itu.” Ucap William yang melihat gerak-gerik Surya yang tampak begitu gelisah.

__ADS_1


“Eum...kakak pertama, apakah dia...” surya yang baru saja membuka mulutnya dengan perlahan pun langsung di hentikan oleh William karna ia tidak ingin mendengar perkataan itu hingga akhir. “Aku tidak tahu dan aku tidak peduli itu. Karna selagi dia bersamaku dan kesetiaannya bisa diletakkan padaku, maka hal yang seperti ini tidak akan pernah aku ungkit di masa depan.”


Surya terdiam sejenak, lalu dengan pandangannya yang kembali terangkat untuk melihat William yang sedang menahan emosinya pun membuat ia berpikir bahwa setiap masalah yang datang di rumah tangga pasti tidak akan ada yang mudah. Karna dari setiap masalah itu, akan menguji salah satunya. “Hm...baiklah, aku akan pergi! Kau beristirahatlah dulu dan tenangkan dirimu. Aku tidak ingin kau sakit karna terlalu banyak memikirkan masalah ini”


“.....” William terdiam.


Sementara Surya hanya berjalan melewati lelaki itu untuk pergi keluar dari kamarnya, dan ia juga menarik nafasnya yang dalam lalu menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya.


William yang masih terdiam di tempat yang sama seraya memandang Evelyne dalam waktu yang cukup lama, karna disaat-saat yang seperti ini William terus berpikir kenapa ia tidak bisa meluapkan emosinya kepada Evelyne sama seperti yang ia lakukan dulu. Entah rasa berbeda, dulu ia begitu membenci wanita ini bahkan berpikir bahwa hidupnya akan terus menjadi kesengsaraan tanpa memiliki kebahagiaan sedikitpun.


Namun untuk sekarang, William selalu memaksakan dirinya agar tidak melukai Evelyne hanya karna emosinya yang terkadang ia tidak bisa kontrol. Mulai dari tangan serta mulut yang sering menyakiti hati Evelyne, membuat William harus menjaga perkataan itu dengan baik-baik. Semua keinginan untuk tidak menyakiti Evelyne datang secara tiba-tiba.


Padahal orang yang kini ia jaga perasaannya adalah orang yang dulu pernah ia sakiti secara terang-terangan, bahkan perasaannya yang tidak pernah melihat Clara harus terpaksa berpura-pura agar ia bisa menyakiti hati Yoona dan membuatnya meminta mereka agar bercerai. Sungguh hati kejam, namun itulah hatinya! William tidak bisa menyangkal kenapa hatinya bisa berubah seperti ini.


Evelyne terbangun dari tidurnya dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher William. William terkejut dengan tindakan Evelyne yang secara tiba-tiba ini, namun ia bisa melihat bagaimana efek mabuk itu masih tersisa di wajah Evelyne yang memerah. “Yoona...apa yang kau lakukan?” William menahan tubuh Evelyne yang ini berada di gendongannya seperti koala.


Evelyne tidak dengan apa yang ia lakukan sekarang, dan hal itu membuatnya tidak ragu untuk mengendus-ngendus leher William untuk mencari aroma yang ia rindukan saat ini. “Y-yoona, a-apa yang kau lakukan? B-berhenti mengendusnya!” ucap William saat merasakan sengatan panas menjalar di dalam tubuhnya.


“Y-yoona..” William benar-benar dibuat merinding dengan sikap Evelyne yang tampak aneh saat ia dalam keadaan mabuk.


Melihat reaksi penolakan William pun membuat Evelyne menjauhkan wajahnya dari leher lelaki itu, bahkan sekarang Evelyne tengah mendekatkan wajah miliknya dengan wajah William dalam jarak yang dekat. “Liam...kau tidak menyukainya?” Ucapnya dengan wajah yang memelas.


****! William benar-benar seperti di jebak oleh wajah polos wanita ini yang kini di penuhi oleh rona memenuhi yang menyelimuti pipinya, William sebenarnya ingin membalasnya. Namun akan percuma jika ia melakukannya dengan orang yang sedang mabuk, pasti mereka akan menganggap bahwa kejadian semalam tidak pernah terjadi.

__ADS_1


“Yoona...kamu mabuk!” ucap William yang mencoba menahan dirinya. “Aku akan turun memanggil bibi untuk siapkan kamu sup pereda mabuk, kamu tunggulah disini dan jangan kemana-mana!”


William menurunkan tubuhnya untuk meletakkan Evelyne diatas ranjang, tetapi saat tubuh Evelyne sudah sebagian besar menyentuh kasur, wanita itu malah tidak mau melepaskannya. Melainkan ia malah memeluk William dengan erat. Evelyne memang wanita yang manis, ia memiliki tubuh yang pendek, wajah yang polos serta memiliki body yang ideal.


Hal itu tentu saja mengganggu kefokusan William selalu terganggu karna ia merasakan sebuah bantalan yang empuk dan besar di dekat dadanya. “Sial!!...Yoona, tolong lepaskan aku!?” William memohon dengan suara yang pelan. Ia sudah tidak menahan dirinya lagi, karna William juga sama seperti lelaki pada umumnya yang tidak akan kuat saat di goda seperti ini.


Apalagi dengan wanita polos yang menjadi liar karna mabuk. “Liam...tubuhku sangat panas, biarkan aku memelukmu lebih lama lagi!” Ucapnya dengan mengeratkan pelukannya.


“Astaga...Yoona, apa kau tidak sadar sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya kau tidak bangunkan?!!” tekan William dengan kesal, namun saat melihat wajah imut Evelyne membuat dirinya sekali lagi harus emosinya. “Sial! Dasar kau wanita licik....kau selalu saja mengandalkan wajah polosnya itu untuk mengalahkanku!!”


Evelyne tertawa lembut, lalu dengan sontak wanita langsung menempelkan bibirnya dengan bibi r William secara sekilas. “Hehehe...Liam, sepertinya kau berjuang keras menahan sesuatu yang berdiri di bawah”


“Aaahhhkkk...tidaaakk!!” William terciduk akan sesuatu yang memalukan, dan membuat lelaki itu dengan sontak bangun dari atas Evelyne ke posisi duduk. “Yoona, kau benar-benar wanita kejam! Kau menggodaku seperti ini, dan jika aku melakukan sesuatu yang salah padamu. Kau pasti akan memukulku saat kau bangun”


Evelyne bangun dari tidurnya, menahan William yang tampak malu saat ia menciduknya membuat Evelyne mengukirkan senyuman menyeringai di wajahnya yang memerah. “Aku tidak akan memukulmu, kau tidak perlu takut akan hal itu!” Ucapnya seraya mengangkat mendekati William lalu dengan sensasi panas ia membisikkan sesuatu pada William dengan nada lembutnya. “Tolong bantu aku sebentar! Tubuhku terasa sangat panas..”


Sialan! Bajingan! Keparat!...


William yang tidak bisa menahan dirinya lagi pun langsung meraup bibir Evelyne dengan ganas, menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas kasur dan dirinya menempatkan tubuhnya di atas Evelyne untuk menahan suatu pergerakan yang di lakukan oleh Evelyne.


Ciuman yang awalnya mesra, jika menjadi ganas saat William memasukkan lidahnya kedalam mulut Evelyne. Mengajak lidah evelyne yang tampak kaku untuk bermain dengannya. Evelyne merengek saat merasakan William yang terus menghisap lidahnya seperti mengeluarkan rasa manis. Tangan Evelyne yang kini di tahan pelan oleh William di samping telinganya membuat wanita itu tidak bisa melakukan suatu dorongan.


William yang sudah cukup puas dengan bibir Evelyne pun langsung turun ke leher jenjang wanita ini, dengan aroma yang manis serta panas yang datang dari tubuhnya membuat William bersemangat untuk mengisap di setiap inci leher milik Evelyne. “Eugh...l-liam itu terlalu kuat!”

__ADS_1


Evelyne selalu mengomentari setiap tindakan yang di lakukan oleh William kepada tubuhnya, dan William sendiri yang sudah kehilangan kontrol tubuhnya langsung meniduri Evelyne layaknya singa yang sedang memakan seekor kelinci. “Aku harap kau bisa membuka matamu setelah kita melakukannya!”


__ADS_2