
Di kantor.
Evelyne yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaannya pun merasa sedikit tidak fokus Karna pikirannya yang selalu memikirkan perkataan William mengenai Clara. Ia tidak percaya dengan lelaki itu, Karna bagaimanapun itu sangat mustahil! Berhubungan selama 20 tahun tanpa adanya cinta, apa itu bisa di percaya?
Lalu sikap yang selama ini William berikan kepada Clara itu apa? Kalau dia tidak mencintainya, untuk apa dia memperlakukan Clara seolah-olah wanita itu sangat istimewa dimatanya. Bahkan dalam rumor yang selalu beredar, William hanya terdiam saat dirinya di anggap sebagai pasangannya Clara.
Padahal, kalau dia tidak menyukai wanita itu. Pasti dia kan membantah setiap orang yang mengatakan hal itu. William benar-benar lelaki aneh, lelaki yang tidak bisa ia mengerti tentang pola pikirnya. Ia bilang, kalau menikah akan membuatnya bisa menjelaskan pada Clara bahwa ia tidak mencintainya. Tapi apa menikah dengannya hanya sebuah alasan untuk William menghindari hubungannya dengan Clara?
Tapi kenapa? Kenapa harus pernikahan yang dijadikan tameng untuk dirinya bisa lepas dari hubungan Clara dengannya. Apa ia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya apa wanita itu? Apa ia takut menyakiti wanita itu, hingga ia membuat sesuatu yang lebih menyakitkan dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
“Ahh...aku benar-benar tidak mengerti dengannya! Tidak peduli seberapa keras aku memikirkannya, Karna kita tidak akan pernah saling mengerti.”
Evelyne yang tengah termenung di meja kerjanya pun seketika dikejutkan oleh temen seruangannya Karna ia terlalu banyak melamun daripada fokus dengan pekerjaannya. “Hey, Yoona! Berhentilah melamun. Kita sedang dalam jam kerja, kalau kau tidak fokus dengan pekerjaanmu maka boss bisa memarahimu nanti!” Tegur salah seorang lelaki yang duduk di sebelah Evelyne.
“Ya, baiklah! Maafkan aku, senior” ucapnya seraya memfokuskan dirinya kembali pada layar laptop di depannya.
Ahh...Evelyne tidak bisa fokus jika pikirannya terus memikirkan hal itu, jadi ia memilih untuk pergi keluar ruangan sejenak untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang dalam kebingungan. Evelyne berjalan seorang diri di tengah-tengah lorong kantor yang terlihat begitu sepi, ia berpikir berpikir mungkin Karna ini masih jam kerja jadi tidak ada orang yang keluar dari ruangannya sebelum mereka menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah dirasa ia sudah cukup tenang, Evelyne kembali ke dalam ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. “Hey! Kau darimana tadi?” Tanya seorang wanita dengan suara pelan ia bertanya pada Evelyne.
“Aku habis dari toilet, ada apa?” ucapnya dengan suara yang pelan. Karna takut mengganggu teman-temannya yang lain.
Wanita itu mengayun tangannya, menyuruh Evelyne untuk lebih mendekat kearahnya agar ia bisa lebih mudah membisikkan sesuatu di telinga. Evelyne yang mengerti isyarat tangan itu pun langsung menggeser sedikit kursinya menjadi lebih dekat dengan wanita itu. “Tadi ada sekretaris CEO datang kesini, dia mencarimu dan mengatakan bahwa kau disuruh di ruangan pribadinya. Aku bertanya-tanya, apa kau memiliki hubungan dengan CEO di perusahaan ini?”
“CEO?” Evelyne menggeleng “Aku tidak memiliki hubungan apapun, bahkan Aku juga tidak mengenali wajah ataupun nama dari CEO itu”
Wanita itu terkejut dan dengan sontak ia hampir berteriak kencang. “Kau bercanda? Apa kau benar-benar tidak mengenali siapa CEO di perusahaan ini?”
“Tidak!” geleng evelyne sekali lagi. “Memangnya kenapa dengan CEO? Apa ada yang salah, jika ada seseorang yang tidak mengenalnya?”
Wanita itu menggeleng, lalu dengan kasar ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau bekerja dimana sebelumnya? Apa kau baru pindah ke kota ini, hingga membuat kau benar-benar tidak mengenali siapa CEO di seluruh perusahaan kota ini?”
“Aku sudah lama tinggal disini, tapi aku tidak begitu mengenal banyak tentang kota ini. Jadi maaf, Aku tidak mengenali CEO yang kau maksud itu” kata Evelyne dengan nada pelannya di menjauhkan dirinya dari wanita itu.
Wanita itu menghela nafasnya, lalu mengayunkan tangannya seraya berkata “Kau pergilah temui CEO itu terlebih dahulu! Soal pekerjaanmu, biarkan Aku yang mengurusnya. Karna jika karyawan sudah di panggil secara pribadi untuk datang ke ruangan CEO, pasti ia memiliki suatu masalah yang menyinggung CEO itu”
“Hah? Bekerja saja, Aku baru beberapa hari ini. Dan Aku juga tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa aku memiliki masalah dengannya. Apalagi sampai menyinggungnya” gumam Evelyne seraya beranjak dari duduknya untuk pergi keluar.
Karna jam sudah hampir memasuki jam istirahat, Evelyne sudah melihat beberapa orang yang tengah berlalu lalang untuk pergi ke kantin yang ada di dalam kantor. Evelyne tidak pernah pergi ke kantin itu, Karna ia tahu pasti kantin itu akan selalu ramai dengan banyak orang.
__ADS_1
“Nona Yoona!!”
Evelyne yang merasa terpanggil pun menolehkan kepalanya kearah sumber suara itu terdengar. Dan ia dapat melihat seorang lelaki dengan jas hitam yang rapih tengah berjalan menghampirinya, ia juga di ikuti oleh beberapa orang yang ada dibelakangnya. Mereka tampak menyeramkan, tapi Evelyne disana berusaha untuk menjaga sikapnya saat berada di kantor.
“Tuan Nathan” kata Evelyne seraya menundukkan kepalanya sekilas, Karna itu adalah sikap bagaimana orang menghormati orang lain yang lebih tinggi diatasnya.
Melihat Evelyne menundukkan kepalanya, membuat nathan mereka tidak enak dengan silapnya. Karna bagaimanapun posisi Evelyne adalah istri dari bos nya. “Nona Yoona, senang bisa bertemu denganmu disini.” Kata Nathan yang ikut bersikap formal dengan Evelyne di depan orang-orang yang ada di belakang Nathan.
“Tuan Nathan, anda memanggilku Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Tanya Evelyne yang membuat Nathan menyuruh beberapa orang di belakangnya untuk pergi lebih dulu. Nathan yang hanya menggunakan isyarat tangan pun membuat beberapa orang di belakangnya langsung mengangguk dengan bersamaan, lalu berjalan pergi sesuai dengan permintaan Nathan sebelumnya.
Melihat orang-orang itu telah pergi, Nathan pun langsung menundukkan kepalanya seraya meminta maaf atas ketidaksopanannya terhadap Evelyne. “Nona Yoona, maaf atas tindakanku sebelumnya. Kau seharusnya tidak melakukan itu kepadaku”
“Kenapa? Bukankah seharusnya kita sedikit memainkan sebuah peran di tempat umum? Aku sih tidak masalah tentang hal itu, Karna Aku tidak ingin disangka yang aneh-aneh jika aku memiliki hubungan denganmu.” Ucap Evelyne yang membuat Nathan dengan menyetujuinya. “Jadi...Apa yang ingin kau katakan?”
Nathan menunduk, lalu menyerahkan sebuah kertas kepada Evelyne yang membuat wanita itu sedikit mengerutkan keningnya saat menerima kertas tersebut dari tangan Nathan. “Apa ini?” Tanya Evelyne.
“Ini adalah ruang CEO. Tuan besar bilang, Nona Yoona ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Jadi tuan besar memberikan kertas ini untuk Nona, agar Nona bisa pergi keruangan itu sendiri Karna untuk sekarang tuan besar sedang dalam kondisi sibuk” jelas Nathan.
Evelyne membuka kertas tersebut, di dalamnya sudah tertulis lantai dan nomor keberapa ruangan itu berada. Namun Evelyne sedikit merasa kebingungan, kenapa lantai dan nomor ruangan itu seperti tidak asing baginya. “Apakah ini benar-benar ruangan CEO?” Tanya Evelyne yang kembali memastikan kepada Nathan.
Nathan mengangguk “Ya, benar Nona. Anda bisa pergi kesana kapanpun anda senggang.”
Nathan terdiam, lalu dengan senyuman ia menggelengkan kepalanya Karna tidak tahan melihat sikap polos yang dimiliki oleh Evelyne. “Sikapnya memang berubah, tapi pengetahuannya juga berubah! Entah Aku harus mengatakan tuan itu beruntung atau tidak.” Gumam Nathan yang sedikit memandang Evelyne tidak terlalu buruk dari apa yang ia kira.
Disisi yang lain, Evelyne yang tengah menaiki lift untuk pergi ke lantai paling atas membuatnya sedikit terkagum dengan bagian ruangan yang ada disana. Bukan hanya itu, fasilitas serta beberapa figuran yang ada disana membuat Evelyne sedikit merasa bahwa lantai teratas ini cukup privasi bagi setiap karyawan yang bekerja disana.
“Sudah, merasa kagumnya dengan ruangan ini hingga kau melupakan tujuanmu datang kesini untuk apa?!!” Seseorang yang berada di kursi besar dengan posisi membelakanginya membuat Evelyne sedikit terkejut saat ia tidak dapat merasakan keberadaan dari seseorang itu. Padahal dulu ia sangat mudah untuk mengetahuinya, tapi kenapa akhir-akhir ini sejak ia memiliki kedekatan dengan william. Ia selalu sulit untuk mengetahui keberadaan orang lain di sekitarnya.
Evelyne menundukkan kepalanya “Maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan di ruanganmu, saya menyesalinya. Maafkan saya”
“Lupakan masalah itu! Sekarang, ada urusan apa kau datang kesini? Dan siapa yang memberitahumu letak dimana ruanganku berada?” Tanya Seseorang itu dengan nada dinginnya.
Evelyne terdiam sejenak, ia tidak tahu ingin menyebutkan nama William yang telah memberitahunya. Tapi, ia juga tidak tahu kenapa perusahaan ini memiliki CEO yang begitu terlihat kejam. Bahkan ia tidak membalikkan kursinya saat berbicara dengannya.
“Kenapa diam? Apa kau tidak ingin memberitahuku, siapa yang telah memberitahumu tempat yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh karyawan rendah sepertimu?!” ujarnya dengan merendahkan Evelyne.
Mendengar setiap perkataan yang di lontarkan oleh seseorang itu, sama sekali tidak menggoncangkan emosi Evelyne yang kini ia tahan dalam genggaman tangannya. “Aku menyesal bisa datang kesini. Tapi sepertinya Aku tidak bisa membuang-buang waktu ku untuk berbicaramu, jadi lebih baik kita langsung ke intinya saja.” Ucap Evelyne dengan nada dinginnya ia membalas perkataan Seseorang itu “Aku kesini untuk mengucapkan terimakasih, Karna keputusanmu Aku bisa merasakan bagaimana bekerja di perusahaan yang hebat di kota ini.”
“Ohh ya kah? Kau mengucapkan terimakasih hanya Karna itu?” Tanya seseorang itu dengan akhiran tertawa. “Apa dengan keputusanku, aku bisa membawa kehidupanmu menjadi lebih baik? Apa menurutmu, cukup hanya dengan kata terimakasih itu bisa membalas semua perubahan yang Aku lakukan padamu?”
__ADS_1
Evelyne mengerutkan keningnya “Jika ucapan itu tidak membuatmu puas, maka...apa yang kau inginkan hingga itu bisa membuatmu lebih puas?”
“Kau mengatakan itu, apa kau tidak takut jika aku menginginkan lebih dari apa yang kau sanggupi?” Tanya seseorang itu dengan remehannya.
Evelyne terdiam sejenak, sesuatu yang tidak ingin ia keluarkan kini sudah berada di tangannya. Bayang-bayang untuk membunuh lelaki ini, adalah nafsunya sekarang. Tapi karna Evelyne tidak ingin membuat suatu kesalahan yang akan berakibat fatal pun hanya bisa terdiam seraya menyimpan kembali benda itu di dalam lengan bajunya.
“Tidak, kau bisa mengatakannya jika kau mau. Aku akan pergi lebih dulu, kau bisa memberitahuku nanti jika kau sudah menemukan apa yang kau inginkan” ucap Evelyne dengan membalikan tubuhnya untuk berjalan keluar dari ruangan itu menuju lift.
Tapi baru saja, evelyne hendak memasuki lift itu. Ia langsung membalikkan tubuhnya saat ia mendengar langkah kaki seseorang telah berada di dekatnya.
Bruk!!.
Evelyne yang tidak sempat menghindar pun langsung mendapatkan tekanan dari tubuh besar seorang lelaki di depannya ini. Tubuhnya tertahan di dinding, bahkan ia juga sedikit terangkat hingga kakinya tidak bisa merasakan permukaannya lantainya lagi.
Rasanya sesak saat tubuhnya ditahan begitu kuat oleh lelaki ini. ‘Sial! Seharusnya Aku membunuhnya sejak tadi, jika Aku tahu kalau ini akan terjadi!’ Batin Evelyne yang terus mencoba untuk membebaskan dirinya dari tahanan lelaki gila ini.
“Sialan!! Apa yang kau lakukan?!!”
Suara teriakan seseorang dari dalam lift membuat Evelyne sedikit memiringkan kepala untuk melihat siapa yang datang ke tempat ini. Dan disaat itu juga, tubuh Evelyne terlepas dari tahanan lelaki gila itu. Tubuh yang lemas kini tertarik dalam pelukan hangat, yang membuat Evelyne mengangkat kepalanya saat mengenali siapa orang yang sedang memeluknya seperti ini.
“Kau gila?!! Aku menyuruhmu untuk berjaga disini? Tapi kenapa kau malah melukai seseorang yang tidak bersalah?” bentak lelaki itu dengan emosi yang meluap.
Lelaki yang baru saja melukai Evelyne pun hanya mengangkat kedua bahunya seakan-akan ia tidak merasa bersalah dengan tindakannya yang sebelumnya. “Ini Aku menjaga. Dianya saja yang datang keruangan ini tanpa surat izin, jadi apa salahnya jika aku melukainya?”
“Ckk...Dasar tidak berguna!! Dia datang kesini dan mengetahui tempat ini, Karna Aku yang memberitahunya sendiri. Bahkan Aku juga yang menyuruhnya datang! Apa kau memiliki masalah dengan itu?!” kata lelaki itu dengan nada kerasnya ia menutup telinga Evelyne agar tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka.
Lelaki itu terkejut, lalu dengan rasa tidak percaya ia melihat tangan lelaki itu dengan lembut menahan kepala Evelyne agar ia tidak dapat melihat ataupun mendengar apa yang mereka sedang bicarakan. “Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau?!”
“Cukup dengan ocehanmu itu!! Sekarang keluar dari sini!!” bentak lelaki itu seraya mengusir lelaki tadi dari ruangannya.
Karna merasa kesal dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, lelaki tadi pun pergi berjalan keluar dari ruangan CEO. Meninggalkan lelaki itu yang masih setia memeluk Evelyne dalam dekapannya. “Hey! Apa kau baik-baik saja?” Tanya lelaki itu dengan suara lembutnya.
“....” Evelyne terdiam.
Membuat lelaki ini menghela nafasnya sebelum ia mengangkat tubuh Evelyne dalam gendongan. Evelyne disana hanya terdiam saat mendapati tubuhnya yang terangkat Karna lelaki ini, dan ia juga tahu bahwa lelaki ini sedang membawanya pergi menjauh dari pintu lift.
Sesampainya di depan kursi besarnya, lelaki ini dengan perlahan menduduki kursi tersebut dengan posisi Evelyne yang kini duduk di atas pangkuan lelaki itu. “Apa tubuhmu masih terasa sakit? Katakan padaku, jika itu membuatmu tidak nyaman!” Lelaki itu mengusap wajah Evelyne dengan lembut. Membuat suatu sentuhan yang hangat untuk menghilangkan rasa ketegangan dalam diri Evelyne.
“Siapa lelaki tadi?!” Tanya Evelyne dengan nada datarnya.
__ADS_1