Dermaga Senja

Dermaga Senja
Sedih


__ADS_3

Senja pun melakukan panggilan video Dengan Dina dan Dino...


"Hay, Kak Senja maaf yaa kita tidak bisa menjaga di sana, karena Kak Dino sedang sibuk, kalau Ibu di kampung jaga nenek dan ayah mengurusi perusahaan kakak," ucap Dina menjelaskan.


"Iyaa Dina, tidak apa-apa kok, kakak paham itu yang penting kalian sehat saja dulu nanti kita liburan sama-sama ya," ucap Senja kepada Dina.


"Kak Senja, maafin Dino yaa nggak bisa menemani kakak disana, nggak tahu nie tubuh Dino tiba-tiba drop saja, jadi Dino istirahat di rumah, padahal Dina sudah aku suruh ke sana tapi dia lebih mementingkan kakaknya yang bawel ini," ucap Dino.


"Heheh, Dina itu sayang banget sama kamu Dino, buktinya dia lebih mementingkan kakaknya kan," ucap Senja tersenyum kecil.


"Iya nie kak, nanti kalau aku sembuh pasti maunya berantem mulu' dengan aku, adikku memang sesuatu deh," ucap Dino melihat ke arah Dina.


Dina hanya masem-masem melihat pembicaraan mereka. Jeni dan Tara yang mendengarnya saja tersenyum


"Yaa sudah Kak Senja, nanti kita kembali lagi yaa, kita istirahat dulu, see you Kak Senja," ucap Dina.


"Oke Dina, kalian jaga kesehatan yaa," ucap Senja.


Panggilan telpon pun dimatikan...


"Jeni dan Tara, terima kasih yaa kalian selalu menjaga ku, Jeni makan yang banyak yaa lihat muka kamu sudah kucel, biasanya kamu paling benci mukamu yang kucel," ucap Senja menggoda Jeni.


"Iih biarin muka ku kucel lagian Tara sudah melihat semua rupa ku,dia mencintaiku bukan karena wajahku yang cantik, iya kan sayang," ucap Jeni mencari pembelaan.


"Yeeey, aku mah lihat cantik dulu sayang, lah iyaaa lah, kan aku normal mencintai yang cantik bukan yang ganteng," ucap Tara mencairkan suasana.


"Heheh, kalian ini ada-ada saja bercandanya," ucap Senja.


"Senja, kamu sudah sadar sekarang apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Ucap Jeni bertanya.


"Aku ingin mandi sekarang," ucap Senja menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.


"Oke baiklah kalau begitu, sayang kamu keluar dulu sana yaa," ucap Jeni.


Senja pun berusaha bangun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi dengan bantuan Jeni. Senja pun mandi dalam keadaan duduk di atas kursi yang sudah disediakan.


"Senja, apakah kamu bisa mandi sendiri?" Ucap Jeni khawatir.


"Hehe, aku bisa sendiri kok tenang saja," ucap Senja sambil terkekeh.

__ADS_1


Senja pun mandi dengan perlahan, meskipun sedikit sulit baginya tapi dia harus berusaha bisa melewati hal ini. Hingga tetesan air matanya jatuh di wajah cantiknya. Setelah di rasa selesai mandi dan memakai handuk.


Senja pun keluar untuk mengganti pakaian. Jeni pun membantu Senja, sebenarnya Senja bisa berjalan namun ada saatnya lututnya sakit.


Senja pun memakai pakaiannya di balik selimut tersebut. Setelah selesai dia pun kembali rebahan di atas kasur tersebut. Jeni pun mendekati sahabatnya.


"Jeni, apa kata dokter? Kapan aku bisa pulang? Aku ingin pulang ke rumahku ke dermaga Senja," ucap Senja menangis.


Jeni pun memeluk sahabatnya dengan sangat erat. Jeni berusaha menenangkan sahabatnya tersebut, Tara yang melihat dari luar merasa sedih dengan kehidupan yang terjadi pada Senja.


"Senja, kata dokter kita perlu pemulihan untuk semua tubuhmu, sebenarnya kamu sehat hanya psikologi mu yang belum sehat semuanya, jadi Senja aku meminta tolong kuatkan dari hati dan bathinmu, aku tahu senja bukan hal gampang, tapi ingat di luar sana banyak yang menyayangimu," ucap Jeni menjelaskan.


"Terima kasih Jeni atas semua kebaikanmu, dan bantuanmu selama aku di sini, tak akan pernah ku lupakan semua kebaikanmu," ucap Senja sambil menangis.


" Senja kamu sudah banyak melakukan kebaikan, saatnya orang melakukan kebaikannya pada mu, maka hiduplah demi kami yang menyayangimu Senja, kami berharap kamu sehat, si kembar Dina dan Dino, Pak Leri dan Istrinya serta sahabat dan para karyawanmu," ucap Jeni memberikan dorongan semangat kepada Senja.


"Baik Jeni, aku akan berusaha bangkit demi kalian semua, aku akan kembali menjadi Senja seperti dulu, dan aku yakin bisa melewati ini semua," ucap Senja.


"Nah gitu dong, baru sahabat ku yang sebenarnya, aku menyayangi mu Senja, kami menyayangimu semua, saatnya kita istirahat yaa ini sudah malam, badan kamu sehatkan habis mandi malam begini," ucap Jeni bercanda.


"Hihi, tadi gemetaran sih, tapi sudah lama tidak bertemu air jadi segar saja rasanya," ucap Senja sambil tertawa.


Ceklek... ceklek (bunyi kamera)


"Buat apa Jeni?" Ucap Senja bertanya.


"Buat status dong," ucap Jeni langsung memasang status.


"Yaa udah sekarang kita tidur yaa Senja, besok kata dokter kita bisa mencari udara segar, akhirnya aku bisa mengajakmu keluar juga," ucap Jeni.


Pagi pun menjelang, Tara membuka jendela kamar rumah sakit. Terasa udara segar berada di dalam jiwa. Senja begitu menikmati udara tersebut di bantu oleh Jeni.


"Senja, ini sarapan untuk pagi ini tadi perawat memberikan kepada saya," ucap Tara.


"Terima kasih Tara atas bantuannya, ohya jadwal perkuliahan mu jam berapa?" Ucap Senja bertanya pada Tara.


"Jam 09.00 nanti, sekarang kan masih jam 06.30 Senja," ucap Tara menjawab.


"Kalau begitu kamu pulang lah dulu terus ajak Jeni pulang ke rumah untuk kuliah," ucap Senja.

__ADS_1


"Tapi Senja..." ucap Jeni.


"Jeni kamu sudah 3 hari 2 malam di sini, kamu tidak kuliah selama 2 hari dan aku tahu itu, maka sekarang masuklah perkuliahan jika selesai kalian bisa menemui ku lagi," ucap Senja tersenyum pada keduanya.


"Tapi Senja... " ucap Jeni.


"Please turuti aku yaa Jeni ku sayang," ucap Senja.


"Baiklah Senja, jika selesai aku dan Tara akan kembali ke sini lagi," ucap Jeni.


"Baiklah, aku terima kalau begitu," ucap Senja.


Jeni dan Tara pun berpamitan dengan Senja. Keduanya sebenarnya berat meninggalkan Senja. Namun, sepertinya Senja menginginkan kesendirian.


Di kala keduanya sudah pergi lumayan jauh, Andara masuk ke dalam ruangan tersebut


"Senja, maafkan atas semua salahku, dan izinkan aku menjengukmu untuk kedua kalinya, tolong jangan usir aku," ucap Andara memohon.


Senja pun menoleh, benar saja dugaan nya ada Andara di belakangnya.


"Untuk apa kamu disini? Beberapa hari kemudian kita akan melakukan persidangan perceraian kita dan kamu sudah bertunangan jadi tidak perlu datang melihat mantan istrimu," ucap Senja mendengus kesal.


"Tapi aku hanya mencintaimu Senja, hanya mencintai saja, aku tidak menginginkan wanita mana pun Senja," ucap Andara sambil mengusap air matanya.


"Andara ini sudah jalan takdir kita, turuti saja kemauan mama mu, karena kebahagiaan mama mu di atas kebahagiaan kita sebagai anak," ucap Senja.


"Apa kita tidak boleh bahagia? Apa aku juga tidak boleh menentukan kebahagiaan ku sendiri? Aku berhak bahagia Senja, aku juga ingin bahagia dengan orang yang ku sayangi," ucap Andara.


"Andara aku tidak menyalahkanmu, ini semua sudah takdir kita, bahagiakan Lia, jangan sakiti dia dan silahkan kamu pergi dari hadapan ku karena aku ingin istirahat," ucap Senja.


"Aku tanya kepadamu Senja, Apakah ketika bersama ku kamu selalu bahagia?" Ucap Andara menunggu jawaban Senja.


"Setiap waktu yang kita lalui aku selalu bahagia Andara," ucap Senja menahan air matanya.


" Baik kalau begitu Senja, setidaknya aku masih mempunyai kenangan di dalam kehidupan mu meskipun luka dan bahagiamu pada kehidupan kita berdua ada, aku juga berharap kamu bahagia Senja," ucap Andara pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Andara dan Senja setelah pertemuan itu menangis satu sama lain. Senja menangis di ruangan tersebut sedangkan Andara menangis tanpa dilihat orang lain karena dia mengenakan topi, masker dan kacamata sehingga tidak ada yang melihatnya dalam keadaan menangis.


🍁💐💐💐🍁

__ADS_1


__ADS_2