Dermaga Senja

Dermaga Senja
Bab 107- Perceraian Orang tua Jeni


__ADS_3

Tara memeluk erat Jeni, dia membersihkan wajah cantik Jeni dengan tisu.


"Jeni, hapus lah air matamu, nanti orang berpikir aku laki-laki jahat yang melukai mu," ucap Tara memberikan tisu pada Jeni.


"Kalau begitu hibur aku dong, biar aku bisa tertawa," ucap Jeni sambil membersihkan wajahnya dari tisu.


"Oke, siap yaa sayang, aku mau pantun nie, pantun ini aku buat sendiri hanya buat Jeni tersayang," ucap Tara.


"Oke, aku akan mendengarnya," ucap Jeni dengan tersenyum.


"Ke kota membeli pakaian.


Pakaian yang di beli berwarna merah manggis.


Wajahmu begitu cantik dan menawan.


Sayang kalau menangis." ucap Tara sambil tersenyum.


"Hahaha, iih lucu banget sayang, tapi kok jauh kali ke kota, kan dekat rumah ada," ucap Jeni sambil tertawa.


"Iiih sayang apaan sih? namanya juga aku buat pantun, suka-suka yang buat dong, protes saja, emang kamu bisa lawan aku," ucap Tara sambil menjulurkan lidahnya.


"Bisa lah mau bukti," ucap Jeni mulai berpikir.


"Oke, aku mau denger ni," ucap Tara sambil tersenyum.


"Jalan-jalan ke Kota Malang


Melihat mobil berbaris di tepi jalan.


Kekasihku hanya Tara seorang.


Tak akan berpaling dengan yang lain." ucap Jeni tersenyum.


"Hahaha, wah kamu jago juga Jeni sayang, aku bahagia deh lihat kamu bisa tersenyum lagi, bahagia terus yaa, jika ada apa-apa ingat aku dan para sahabat mu, janji tidak akan memendamnya yaa sayang," ucap Tara menghibur.


"Okey," ucap Jeni.


Keduanya pun memutuskan makan dengan segera, agar pulang tidak terlalu lama.


...*****...


Senja masih di sibukkan dengan perusahaan dia tidak sempat berkomunikasi dengan siapapun. Akan tetapi ada hal yang mengusik pikiran nya, yaitu perceraian orang tua Jeni. Karena ini Senja meminta bertemu langsung dengan Jeni hari ini.


Jeni dan Tara pun sampai di perusahaan Senja.

__ADS_1


"Sayang, kira-kira kenapa yaa Senja mau bertemu dengan kita? dan cafe nya sudah ditentukan juga," ucap Jeni bertanya pada Tara.


"Aku juga penasaran deh, orang sibuk seperti dia, masih ada waktu buat kita," ucap Tara.


Keduanya pun naik lift yang sudah di arahkan oleh suruhan Senja. Tara dan Jeni bingung dengan semua perlakuan itu, karena lift itu hanya untuk dewan direksi atau Senja sebagai direktur perusahaan.


Sesampainya di cafe yang sudah disediakan oleh Senja.


"Nona Jeni dan tuan Tara, kalian tunggu di sini yaa, Nona Senja akan datang dalam waktu 30 menit, kalian silahkan makan yang sudah kami sajikan," ucap Pelayan tersebut.


"Baik, terima kasih," ucap Jeni.


Orang sekitar melihat keduanya, hingga keduanya berbisik satu sama lain.


"Tara, kenapa Senja memperlakukan kita kayak klien yang memberikan tender besar padanya? bingung dengan sikap Senja kali ini," ucap Jeni sambil memakan steak yang sudah disediakan.


"Sudahlah kita makan saja, lagian kan ini dari Senja, jadi kita harus menikmatinya," ucap Tara memakan steak juga.


Keduanya pun melahap makanan yang sudah di santap, Senja pun tiba tepat waktu.


"Maaf yaa Senja dan Jeni membuat kalian menunggu, bagaimana sudah kenyang dengan makanan yang di buat oleh karyawan kami, atau kalian mau menambah lagi?" ucap Senja sambil duduk dekat mereka.


"Senja kita malu tahu, kamu memperlakukan kita begitu istimewa, sampai dilihat orang segala," ucap Jeni berbisik.


"Apa itu?" ucap Jeni.


"Ehm, bolehkah saya pindah tempat duduk," ucap Tara.


"Boleh tempat duduk mu sudah saya sediakan," ucap Senja pada Tara.


"Pelayan tolong berikan tempat duduk dan tanyakan pada Tara mau makanan apa? " ucap Senja.


Tara pun duduk ditempat yang sudah disediakan, walau tidak jauh dari keduanya.


"Jeni jujur sama aku, benarkah mama dan papa mu besok akan mengadakan sidang perceraian dan kamu di suruh memilih di antara keduanya," ucap Senja bertanya serius.


"Kamu tahu dari mana Senja, aku saja baru kemarin malam bercerita dengan Tara, apakah Tara memberi tahumu?" ucap Jeni terkejut.


"Tidak, bukan dia, saya menyuruh orang lain mencari tentang kondisimu sekarang, jadi apakah itu benar? terus kenapa kamu tidak cerita padaku? malah sibuk menghiburku," ucap Senja bertanya pada Jeni.


Jeni pun langsung memeluk Senja dan menangis begitu saja, Senja memeluk erat sahabat terdekatnya.


"Ceritakan Jeni pada ku, apakah Tara sudah tau cerita tentang perceraian orang tuamu," ucap Senja bertanya.


"Iya kemarin sore aku cerita padanya, bahkan dia meminta kepadaku untuk menikahi ku, agar aku menjadi tanggung jawabnya," ucap Jeni menjawab sambil terisak menangis.

__ADS_1


"Apakah kamu siap tentang pernikahan?" ucap Senja bertanya pada Jeni.


"Awalnya aku ragu Senja, akan tetapi Tara dan orang tuanya menyetujui pertunangan kami, dan Kak Siska sudah merestui kami, Kak Siska pun berkata jika kita menikah lebih dulu, maka dia pun mengambil tindakan yang sama setelah beberapa bulan atau satu tahun ke depannya," ucap Jeni menceritakan.


"Baiklah, jika orang tua dan keluarga Tara mendukung mu, ke depannya libatkan aku dalam urusan mu, meskipun nanti aku berada di jauh denganmu, kan ada Pak Leri dan si kembar sebagai perwakilan membantu pernikahan kalian nantinya," ucap Senja tersenyum.


"Terima kasih Senja, sudah mendukung ku, iya kamu benar aku lupa dengan si kembar, besok mau kah kamu mendampingiku, karena besok Tara persentase di kampus, aku kasian lihat dia lebih fokus ke aku akhir-akhir ini, bisakah kamu memberi nasehat padanya Senja," ucap Jeni meminta pertolongan.


"Oke itu gampang, besok jam berapa sidangnya di mulai?" ucap Senja bertanya.


"Jam 09.00 Senja," ucap Jeni menjawab.


"Oke besok aku agenda ku untukmu, Jeni panggil Tata ke sini, aku permisi sebentar menelpon," ucap Senja pergi menjauh sejenak.


Tara pun mendekat karena di beri kode oleh Jeni.


"Jen, Senja menyuruh ku di sini ngapain?" ucap Tara bertanya.


"Tunggu saja, oke sayang," ucap Jeni.


Telpon pun di angkat oleh Pak Leri.


πŸ“ž"Oh jadi besok saya tidak ada agenda Pak Leri" ucap Senja bertanya.


πŸ“ž"Tidak ada nona Senja, saya sudah lama mengosongkan sejak tahu sidang perceraian orang tua sahabat anda," ucap Pak Leri dalam telpon tersebut.


πŸ“ž"Baik, terima kasih Pak Leri," ucap Senja.


Panggilan pun terputus.


Senja pun mendekat ke meja tempat mereka berada tadi.


"Jeni, besok aku langsung ke ruang sidang yaa, atau nanti kita chattan saja," ucap Senja.


"Sayang, kamu ditemani Senja, kalau gitu aku menemani kamu juga ya kalau boleh," ucap Tara memohon.


"Tapi kan kamu ada presentasi, lagian itu penting sayang," ucap Jeni.


"Tara, besok kamu fokus presentasi nya yaa, aku janji nanti merekamnya dan mengirim padamu," ucap Senja tersenyum.


"Baiklah, terima kasih Senja," ucap Tara.


Karena sudah sore, Jeni dan Tara berpamitan. Mereka pun melambaikan tangan ke Senja.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2