Dermaga Senja

Dermaga Senja
Termangu


__ADS_3

"Saayang... aku mau meminta sesuatu padamu,, boleh nggak" ucap Siska.


"mau minta apa sayang?, selama tidak aneh-aneh boleh saja" ucap Heri sambil meminum air teh di depan meja.


"aku ingin kamu menikahi ku" ucap Siska dengan nada manja.


Heri pun tanpa sengaja menyemburkan air teh yang sudah ditelannya, malah kena Siska dan pakaiannya bersimbah air teh.


"iiih kenapa nyemburnya ke aku sih" ucap Siska kesal dan cemberut.


"maaf sayang...bukan begitu maksudku" ucap Heri sambil mengenakan jacketnya ke Siska.


"terus alasan kamu apa?" ucap Siska bertanya.


"aku belum bisa menafkahi kamu, uang saku ku saja masih dari orangtuaku, bagaimana kita berumah tangga" ucap Heri berpikir.


"hanya masalah penghasilan saja benar bukan hal lain kan" ucap Siska.


"iyaa sayang... aku juga ingin menikahi mu tapi bukan sekarang" ucap Heri.


"apa kamu masih memikirkan Jeni sekarang dan masih mencintainya?" ucap Siska kesal.


"Jeni itu hanyalah masa lalu ku, kamu sekarang adalah pacarku. Bagaimana mungkin aku fokus dengan wanita lain?" ucap Heri menjelaskan.


Keduanya pun berdebat karena Heri belum bisa menikahi Siska. siska pun kesal dengan sikap Heri. Siska pun membuat keputusan dengan tegas.


"Heri... kita introfeksi diri dan tidak perlu berkabar satu sama lain selama satu Minggu, setelah itu kita pikirkan bagaimana ke depannya" ucap Siska mulai kesal dan pergi.


Heri pun memegang tangan Siska, berharap Siska tidak pergi begitu saja.


"Sayang jangan begitu... aku nggak bisa tidak ada kabar darimu.. jangan hukum aku untuk tidak berbicara apapun denganmu" ucap Heri.


"cukuup Heri... aku lelah seolah-olah hubungan ini keterpaksaan ku saja, aku merasa hubungan ini berat sebelah. seminggu cukup bagi kita sama-sama berpikir tentang hubungan ini ke depannya" ucap Siska pergi meninggalkan Heri begitu saja.


Heri hanya kesal pada dirinya sendiri...


"aaargh... yang dikatakan Siska memang benar.. meskipun aku bersama dengan Siska.. tapi masih ada sedikit kecemburuan antara Jeni dan Tara..." gumam Heri kesal dengan dirinya.

__ADS_1


Siska menangis tersedu-sedu seolah-olah dunia sedang menertawakannya. Namun, bukan Siska namanya kalau tidak bisa tampil seperti biasanya.


Saat Heri mengejar Siska, secepat kilat Siska tidak ada lagi. Heri pun terus mencari namun tidak ditemukannya juga. Padahal Siska berada disamping tembok itu, Siska pun sudah mematikan ponselnya sejak tadi sehingga Heri tidak bisa berusaha menghubungi nya kembali.


"Siska... kembali lah... jangan menyiksaku begini... aku belum menikahi mu karena tidak ada yang bisa dibanggakan dihadapan orang tua mu, aku ingin memperlihatkan pada papa mu kalau aku menantu yang bisa diandalkan, tapi jika pikiran begitu aku tidak bisa menahannya, mungkin lebih baik kita introfeksi diri" ucap Heri terisak menangis dan air matanya disapu nya kembali agar tidak dilihat oleh orang lain.


Heri pun pergi dari resto tersebut dengan kepala ditutupi topi dan memakai masker agar orang-orang tidak memandang nya terlalu lekat.


Sesampai di rumah dering ponsel Heri berbunyi...


"Yes Sir,,, whatts? baiklah sore ini saya akan langsung ke bendara" ucap seseorang dari telpon tersebut.


"akhirnya impianku ke Paris terwujud... waah bisa silaturahmi ke Andara dan Senja dong kalau begitu" ucap Heri sambil menghitung waktu keberangkatan.


Heri pun pergi ke mini market untuk membeli sesuatu selain keperluannya juga oleh-oleh untuk kedua sahabatnya.


Setelah selesai malamnya Heri pun beristirahat karena besok, harus bersiap berangkat.


Pagi pun tiba...


"tidak ada notifikasi dari Siska... apakah dia beneran marah atas sikapku? yaa sudahlah mungkin lebih baik seperti ini, karena dia tidak membaca pesan di WhatsApp baiknya aku kirim di Gmail saja" gumam Heri dalam hati.


"Ohya Deri.. kalau pacar gue kesini, titip surat ke dia yaa" ucap Heri sambil memberikan buah-buahan yang tidak pernah dimakannya.


"Ini buat gue semua yaa" ucap Deri.


" ini kunci gue kasihkan sama pacar gue saja ya, thanks Deri bantuannya.. iya buah itu bagus semua kok" ucap Heri.


"nah loe mau kemana emang.. " ucap Deri kepo.


"gue mau ke Paris ada panggilan, ehm paling sebentar satu Minggu sih lama bisa jadi sebulan.. gue pergi dulu Deri" ucap Heri pergi meninggalkan temannya.


Beberapa jam kemudian...


"ehm asyik juga bisa bersantai di rumah, uh udah jam 4 sore" gumam Siska.


Siska pun membuka Gmail dan ponselnya, betapa terkejut dirinya ada pesan dari Heri.

__ADS_1


"nggak mungkin kan kalau Heri pergi begitu saja meninggalkan aku" gumam Siska segera cuci muka berpakaian dan memanggil taxi menuju apartemen Heri..


Saat tiba teman Heri memberikan amplop dan kunci kamar Heri. Siska pun ingin memasuki kamar tersebut tapi dia berkeinginan bertanya pada temannya Heri.


"maaf kamu temannya Heri... sebelum berangkat Heri bilang apa saja dengan kamu" ucap Siska penasaran.


"Heri bilang dia mendapat panggilan belajar fotografer karena ada yang tertarik dengan fotografinya dan sekalian di mata kuliah nya dosen memberikan tugas yang sama sehingga Heri mendapatkan tiket gratis dan tinggal di Paris paling sebentar seminggu kalau lama satu bulan begitulah kata Heri" ucap Deri menjelaskan..


"baik terima kasih kak Deri.." ucap Siska.


"sama-sama" ucap Deri.


Siska pun meninggalkan Deri dan memasuki apartemen Heri. Siska hanya termangu di apartemen Heri, dan dia melihat isi kamar dan semuanya.


"Dia tipekal laki-laki yang rapi, dan foto dikamarnya hanya ada dua, foto keluarganya dan foto kami berdua pertama kali di Malaysia, apakah aku begitu berharga bagimu Heri" gumam Siska dalam hati.


Siska termangu dalam diam di apartemen tersebut. Tanpa ucapan kata apapun dia hanya diam saja akan kepergian Heri tanpa pamit padanya yang hanya meninggalkan secarik kertas.


"ini juga bukan salahnya, kalau tidak bertengkar kemarin bagaimana bisa aku sedih saat ditinggalkan nya padahal dia sudah memberikan pesan padaku yang aku saja yang telat membacanya" ucap Siska yang terus menyalahkan dirinya.


Di tempat berbeda...


"tidaaak mungkin kalau aku putus dengan Jeni, ini tidak nyata" ucap Tara kesal dengan dirinya dan terus saja melempar barang dikamarnya.


Mama dan papa Tara mendiamkan saja memang begitu tempramen Tara ketika kesal dengan sesuatu.


Setelah semua berantakan Tara pun menangis tersedu-sedu. Dia ingin menelpon Jeni namun malu dan takut dengan kondisi keduanya masih keadaan emosi. Hal itu kan yang memberatkan Tara menghubungi Jeni.


"sayang.. kami baik-baik saja, pasca putua dari Tara" ucap Mama Jeni.


"belum baik ma, hanya menguatkan saja.. doain yaa ma" ucap Jeni pada mama nya.


Jeni pun pergi ke kamarn menjalankan agenda yang sudah dibuatnya. Meskipun hanya dikamar banyak hal yang dilakukan Jeni. Meskipun terkadang Jeni meneteskan air mata karena keputusan nya lebih memilih meninggalkan Tara.


🍁💐💐💐💐


Penasaran nggak hehe

__ADS_1


Tunggu saja kelanjutannya☺️


Like and comment ya


__ADS_2