Dermaga Senja

Dermaga Senja
Bab 21-Kabur dari Rumah (2)


__ADS_3

Heri pun berlari ke kamar tamu, karena Andara tidak mau satu kamar dengan Heri. Karena dia ingin menyendiri. Ketika Heri melihat Andara betapa terkejutnya Andara jatuh dari tempat tidur. Untungnya tidak terjadi apa-apa pada tubuh Andara.


Heri pun mengajak bicara Andara dan mencoba mengobati luka memar di bagian dahi nya.


"Luka yang berada diluar bisa diobati dengan obat, namun luka yang ada didalam sulit diobat," gumam Andara.


Setelah Andara bicara hal itu, dia ingin kembali ke kamarnya. Namun, bukan Heri kalau tidak ingin ikut campur. Heri pun memberanikan diri memukul meja di hadapan Andara. Sontak saja Andara terkejut dengan Heri.


"Kenapa kamu memukul meja dengan keras Heri? kalau tanganmu terluka bagaimana?" ucap Andara menjawab.


"Lebih baik gue ikut terluka melihat keadaaan loe sekarang, loe masih ingat kan ketika dulu gue kabur dari rumah dan masalah yang sama yang dialami oleh loe juga, loe juga berantem dengan gue agar gue sadar. Meskipun muka-muka kita lebam, tapi semuanya beres terselesaikan dengan mudah karena kita tidak lari dari masalah," ucap Heri berbicara tegas.


Andara hanya mematung dan diam mendengar semua ucapan Heri.


"Kenapa loe diam Andara? atau loe mau lihat gelas ini pecah dan melihat rumah gue berantakan, harusnya loe sadar bangun dong. Loe bisa hadapi ini semua, please jangan siksa badan loe. Mana Andara yang selalu gue banggakan??," teriak Heri dengan keras ke telinga nya Andara.


"aaaaaaaaaarrrrrrghhhh," teriak Andara dengan keras.


Dia pun menangis dengan sesunggukan, air mata nya menetes begitu saja. Andara pun meluapkan semua isi hatinya. Betapa meringisnya melihat keadaan Andara sekarang. Heri pun memeluk Andara dengan kuat. Andara pun sadar dan segera mandi untuk membersihkan badannya. Heri pun harap-harap cemas dengan kondisi Andara. Waktu belum terlalu malam menunjukkan pukul 22.00.


Andara pun keluar dari kamar mandi dan segera berganti pakaian. Ketika mau keluar dari kamarnya dering ponsel Andara berbunyi. Dia pun mengangkat telpon tersebut dan berbicara di dekat jendela.


"Hai Andara, ada waktu nggak sebentar 30 menit saja," ucap Senja.


"Boleh, mau bicara apa Senja? kamu mau menyatakan cinta kepadaku ya, aku terima kok?" gelak tawa terdengar dari Andara.


Heri yang mendengar hal itu berucap syukur Andara sudah kembali ke dirinya semula.


"idiiih, geer banget jadi cowok, ini Senja mau tanya tugas matematika halaman 56 gimana yaa?" ucap Senja bertanya tentang mata pelajaran.

__ADS_1


Andara pun bingung mau menjawab apa, karena dia belum mengerjakan tugas apapun. Andara pun menjawab seadanya.


"Senja, nanti gue telpon lagi ya, gue cari buku nya dulu karena tadi ada sedikit kesibukan," ucap Andara memberi kode pada Heri.


"Okey, gue matikan dulu. Nanti, telpon balik ya, karena gue nggak paham dengan penyelesaian soalnya," ucap Senja.


Panggilan pun terputus, Andara langsung menemui Heri.


"Heri, loe dimana tugas besok mana bukunya kita kan sudah kerjai thu kemarin," teriak Andara pada Heri.


Heri pun menyodorkan buku pelajaran dan buku tulisnya. Sebenarnya yang mengerjakan Andara sih, Heri sekedar bertanya saat itu.


"Ohya gue lupa Andara, kemarin loe nitip buku tugas loe sama gue, nah bisa loe kerjakan sebelum menghubungi Senja," ucap Heri.


Heri pun mencari buku Andara di tas nya dan menemukan buku tulis bernama Andara. Heri pun menyodorkan buku tersebut.


Langsung saja Andara menelpon balik Senja.


"Baik, gue akan mendengar dengan seksama, asal jangan cepat yang Andara karena gue mau memahaminya dulu," ujar Senja dengan penuh semangat.


Andara pun menjelaskan dengan perlahan kepada Senja, karena Senja tipekal orang yang cepat tanggap dengan waktu singkat menjelaskan semuanya pada Senja.


Setelah selesai mereka pum berbicara, masih dalam keadaan telponan.


"Emang Senja, kemana saja kok tugas belum dikerjakan padahal kan itu dah lama tugasnya," ucap Andara.


"Gue kan sakit terus juga tugas perusahaan harus di selesaikan jadi lupa mengerjakan tugas heheh, maka jalan pintas minta ajarin sama kamu Andara, heheeh," ucap Senja sambil tersenyum.


"Ohw gitu, maaf ya Senja gue nggak sempat jenguk karena ada kesibukan, dan bolehkah gue nanya satu pertanyaan," ucap Andara sambil duduk bersandar di kursi.

__ADS_1


"Yaa gak apa-apa, gue juga nggak nerima tamu siapapun karena harus istirahat full, boleh Andara mau nanya apa?" ucap Senja.


"Apakah Senja senang menjalankan perusahaan? " ucap Andara bertanya.


"Awalnya Senja nggak suka sih, tapi karena papa dan mama mengajarkan sejak dini dan Senja tidak terkejut dengan amanah yang sekarang meskipun berat, karena ada para 3000 karyawan yang harus Senja kasih rejeki. Itu semua amanah dari Tuhan melalui Senja," ucap Senja dengan panjang lebar menceritakan kepada Andara.


Andara hanya menjawab seadanya dari penjelasan Senja.


"Andara sudah larut malam nie, terima kasih ya atas bantuannya. Semangat ya buat besok dan seterusnya, bye-bye," ucap Senja.


Jaringan telpon pun terputus, Andara kembali ke kamar tamu. Bukan mau tidur tapi mengambil bantal dari kamar tersebut dan tidur di kamar Heri. Heri pun senang dengan kehadiran, meskipun hanya senyuman yang tampak di wajahnya setelah telponan dengan Senja.


"Aduhai, cinta memang membuat orang buta. Yang tadi jadi mendung seisi dunia menjadi terang karena kehadiran cinta, ohw Senja kehadiran mu membuka jendela Andara," gumam Heri dalam hati.


Andara pun tersenyum kembali atas kehadiran Senja di kala hatinya di selimuti duka, Andara tidak berhenti tersenyum kala itu. Bahkan Heri yang melihat nya, hanya menggelengkan kepala atas Andara.


"Duuh Senja, setelah tangisanku malam ini, suara mu membawa kebahagiaan buat ku, entah kenapa hadirnya suaramu malam ini membangkitkan semangat hidupku kembali," gumam Andara dalam hati.


Andara terus saja bergumam dalam hati atas kebahagiaan yang tiada tara malam itu, bahkan tidurnya pun diselimuti kebahagiaan.


Andara dan Heri pun terlelap dalam tidurnya.


Di tempat yang berbeda waktu bersamaan.


"Argh, akhirnya selesai juga tugas ku besok bisa kembali sekolah seperti biasanya, terima kasih Andara atas kebaikannya, tapi sepertinya suara Andara tadi berbeda deh, apakah dia memiliki sebuah masalah? jika bener adanya, akan tetapi kenapa dia mengangkat telpon kalau begitu," gumam Senja dalam hati.


Senja pun bergelut dalam pikirannya atas kejadian malam itu, dia bisa membedakan sifat Andara malam itu, akan tetapi terus digubrisnya dan Senja pun terlelap dalam tidurnya.


Senja pun larut dalam mimpi yang tenang, nyenyak dan nyaman.

__ADS_1


Pagi pun menjelang, bagi hati yang menginginkan matahari datang padanya.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2