
Senja berkumpul dengan teman-temannya, datanglah Lia yang mengacaukan suasana tersebut yang membuat semuanya makin jengkel dengan istri Andara tersebut.
"Selamat ya atas pertunangan kalian, luar biasa ya pertunangan nya di langsungkan bersamaan," ucap Lia pada pasangan yang bertunangan pada hari itu.
Jeni tak menghiraukan sama sekali perkataan itu, akan tetapi beda hal nya dengan Siska yang paling benci pada orang berkomentar tentang perhelatan pertunangan mereka.
"Hey, kamu siapa ya? berani sekali membicarakan tentang perhelatan pertunangan kita, memang nya ada masalah jika di langsungkan bersamaan," ucap Siska kesal.
"Kan gue cuma bilang hebat bukan merendahkan," jawab Lia yang tidak mau kalah.
"Enak saja, cara komentar dengan ekspresi elu itu tidak mencerminkan lebih tepatnya mengejek," ucap Siska kesal.
"Ih dasar sensitif, siapa juga ya komentar nggak baik?" ucap Lia mendengus kesal.
"Argh menyebalkan, satpam mana satpam nya," teriak Siska.
Satpam pun langsung datang tepat waktu dan memegang tangan Lia.
"Hey, gue kesini ada undangan, dan disini ada suami gue," ucap Lia menelpon suaminya.
Andara pun mengangkat telpon tersebut dan langsung menuju tempat yang dikatakan oleh istri nya, Andara bingung dengan kerumunan orang yang mengelilingi istrinya.
"Kamu kenapa?" ucap Andara bertanya pada istrinya.
"Aku mau di usir sama wanita ini, padahal aku berniat baik mengucapkan selamat tapi malah aku di usir oleh dia," ucap Lia cemberut.
"Oh ternyata kamu seorang pelakor ya, yang mengambil suami orang, wajar saja sih kalau ucapan kamu tidak beradab," ucap Siska.
"Kamu bilang apa tadi?" ucap Lia mendekati Siska dan menjambak rambut Siska.
Siska pun membalas, Andara yang berada di sana mencoba melerai tapi tidak bisa begitu pun dengan Heri yang membantu juga tidak bisa.
Akhirnya Senja datang dan langsung menampar keduanya. Keduanya langsung terdiam dan menatapi pipi nya masing-masing.
__ADS_1
Siska pun mundur demikian juga dengan Lia yang pergi karena di tarik oleh Andara suaminya. Begitupun Heri yang menarik tangan Siska untuk memeriksa wajah istrinya.
Senja pun di pegang oleh Jeni dan Dara karena wajah Senja pucat ketika menampar keduanya. Jeni dan Dara memberikan makanan pada Senja, Senja pun menerimanya dengan perlahan.
Jeni dan Dara salut pada keberanian Senja yang menyelesaikan dengan tamparan, padahal waktu itu yang ingin maju menampar adalah Jeni, akan tetapi kalah cepat sehingga Senja lebih dulu.
Sky yang mendengarnya hal itu langsung mendekati Senja dan memberikan air es untuk menangkan pikiran Senja. Jeni dan Dara langsung melihat sosok pria yang ada di depan mereka.
"Kamu siapanya Senja?" ucap keduanya penasaran.
"Aku teman masa kecilnya Senja," ucap Sky menjawab.
"Wah ternyata kamu yang sering dibicarakan oleh Senja pada kita," ucap keduanya dengan anggukan.
"Emang Senja bilang apa?" ucap Sky bertanya.
Saat keduanya ingin bicara, Senja langsung menutup mulut keduanya. Keduanya hanya tersenyum dengan tingkah Senja yang begitu malu kalau mereka menceritakan tentang Sky.
Sky pun berpamitan kepada Senja nya, karena Sky memahami bahwa Senja tengah ingin bersama dengan teman-temannya.
"Iya dia kah pria yang selalu kamu ceritakan bahwa Sky merasa kamu cinta pertama nya," ucap Jeni penasaran.
"Argh, kalian ini kita hanya berteman saja tidak ada niatan sama sekali ke arah sana, lagian mana mungkin aku pantas dengan pria seperti Sky," ucap Sky tersenyum.
"Lah kenapa? kamu pantas kok mendapatkan nya, hanya saja Andara saja kita yang kasihan mendapatkan orang tua yang menjadi Andara ladang bisnis," ucap Dara dengan sinis.
Ternyata saat mereka bicara ada mama Andara yang mendengar nya dan langsung menampar wajah Dara. Dara terkejut dengan yang menamparnya. Semua orang pun langsung melihat peristiwa tersebut.
"Oh kalian teman nya Senja, wajar saja tidak beradab sibuk mengurus rumah tangga orang lain," ucap mama Andara penuh emosi.
"Terus kenapa Tante? Tante panas gitu kita membela Senja, kita tahu Andara itu anak Tante, tapi Tante sendiri tidak bertanya dengan Andara apakah bahagia dengan pernikahan keduanya yang dipaksa oleh mama nya," ucap Jeni menjawab.
"Saya emosi bukan dengan kamu Jeni akan tetapi dengan Dara, tapi wajar saja sih kalian berdua kan di tinggalkan oleh orang tua yang bercerai jadi wajar saja kalau adab kalian sama orang tua kurang," ucap mama Andara.
__ADS_1
"Cukup Tante !!! jangan mencoba membongkar aib semua teman-teman ku, apa untungnya buat Tante mengatakan itu semua," ucap Senja mendengus kesal.
"Hei Senja mandul !!! aku ingatkan ya, yang duluan itu kalian yang mengatakan sesuatu tidak baik tentang saya, pernikahan kedua Andara itu urusan saya dengan keluarga, terus kalian orang luar punya urusan apa?" ucap mama Andara kesal.
Mama Sky yang mendengar Senja di katakan hal tidak baik ingin menampar akan tetapi malah Siska yang menampar mama Andara, semuanya pun terkejut dengan sikap Siska.
"Satpam, siapapun Ibu ini suruh dia keluar, aku tidak ingin di hari pertunangan kami hancur karena perkara sepele," ucap Siska mendengus kesal.
Mama Andara pun pergi meninggalkan tempat tersebut dengan penuh kekesalan, Andara yang hampir saja di tempat malu dengan sikap mama nya dan istrinya.
Senja dan Dara terdiam saja saat wajah mereka memerah seketika, Siska pun meminta Jeni untuk membawa keduanya ke kamarnya, kebetulan ada temannya dokter yang datang ke pertunangan mereka.
"Jeni, tolong bawa kedua teman mu ke kamar ku saja, nanti aku suruh teman ku ke kamar ku," ucap Siska menyuruh Jeni.
"Oke Siska, makasih ya," ucap Jeni kepada Siska.
"Tidak masalah Jeni, kamu sudah keluarga bagi ku, dan teman mu juga teman ku," ucap Siska pergi memanggil temannya.
Heri dan Tara yang melihat itu tak dapat berkutik, bahkan orang tua Tara pun terkejut dengan sikap anaknya yang Siska begitu tegas menghadapi orang yang membuat onar, hingga papa nya kepo kepada Heri.
"Heri, kamu kasih cinta apa kepada anakku, hingga dia sungguh berani membentak ibu tersebut, saya salut dengan dia," ucap papa Tara.
"Siska sudah banyak perubahan nya pa, dan itu dengan sendirinya, bahkan dia selalu meminta ku untuk selalu mengontrol emosinya ketika tidak tertolong lagi," ucap Heri sambil memandang Siska yang begitu tegas terhadap orang lain.
Padahal sikap Siska selama ini begitu lembut pada siapapun, entah karena apa sikapnya perlahan sudah berubah walaupun tidak semuanya.
Ketika dia selesai menyuruh temannya ke kamar untuk mengobati Senja dan Dara, datanglah Heri menghampiri nya.
"Sayang, terima kasih ya sudah membela sahabat ku," ucap Heri tersenyum pada Siska.
"Aku bahkan bahagia sayang, bisa meluapkan emosi karena hal ini," ucap Siska tertawa.
Siska dan Heri kembali ke tempat semula, meminta kepada semua orang atas kekacauan tersebut dan meminta mereka melanjutkan makannya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Like dan comment ya🤭