Dermaga Senja

Dermaga Senja
Bab 113 - Keputusan


__ADS_3

Kebahagiaan keluarga Sky bertambah karena kehadiran Saga. Mama Sky bahagia banget melihat Senja yang begitu perhatian.


Pagi pun menjelang.


"Ayoo semuanya kita makan, saya sudah menyiapkan buat semuanya," ucap mama si kembar.


"Wah Tante, keren makan sebanyak ini buat kita, makasih Tante," ucap Sky.


"Hihi, mama kami muda ya bang, makanya di panggil Tante," ucap si kembar.


Senja pun tertawa dengan sikap si kembar, mama Sky pun hanya tersenyum melihat kebersamaan mereka di sini. Mama Sky sungguh bahagia berada di lingkungan ini seolah-olah dia memiliki keluarga yang membuatnya nyaman berada di dekatnya.


"Tante, kenapa menangis?" ucap Senja menanyakan.


"Tante merasa bahagia saja Senja dengan kebersamaan kalian ini, kita tinggal beberapa hari lagi saja disini, karena Sky dan tante gak bisa lama-lama meninggalkan perusahaan," ucap mama Sky menyeka air mata nya.


"Baik Tante, nanti Senja juga akan kembali kerja kok, akan tetapi masa ada urusan di perusahaan, kuliah juga saya meminta online, jadi Alhamdulillah semua nya tidak dipersulit," ucap Senja.


Senja dan keluarga Sky pun berpelukan serta mereka menikmati kebersamaan mereka. Begitu pun dengan si kembar yang merasa senang atas kebahagiaan yang terjadi kepada Senja.


Di tempat berbeda.


Tara terus saja mengajak Jeni jalan-jalan sekedar menghibur kekasihnya, karena dia selalu bermuram durja atas kejadian yang menimpa nya. Bahkan Tara menyimpan sesuatu hal yang selalu di pertanyakan papa nya.


"Tara, kamu seperti menyimpan sesuatu, coba katakan pada ku sekarang," ucap Jeni bertanya.


"Ehm, papa memberi ku sebuah pilihan Jeni, dan aku harus memilih pilihan tersebut, dan semuanya terasa berat bagi ku Jeni," ucap Tara menjelaskan.


"Katakan saja dengan terus terang," ucap Jeni sambil meneruskan makanannya.


"Papa bilang kalau Kak Siska dengan aku masih pacaran di suruh menikah secepatnya, karena Kak Siska sudah memilih jurusan hukum, dan aku bisnis, aku di suruh pindah ke luar negeri untuk pindah kampus, jadi pilihannya pertama menikah lalu pindah kampus, kedua putus dan pindah kampus," ucap Tara bicara pelan.


"Apa? papa mu memberi keputusan itu pasti ada alasannya," ucap Jeni menjelaskan.


"Papa dan mama bilang, agar kami tidak melakukan maksiat yang terlalu jauh dan mempermalukan keluarga," ucap Tara menjelaskan.


"Jadi Siska dan Heri juga begitu di sirihnya, terus Tara kalau kita pindah kampus bagaimana dengan biaya ku?" ucap Jeni bertanya dengan meringis.

__ADS_1


"Papa dan mama ku akan membantu biaya mu, sedangkan masalah hidup kita di sana, orang tua kita akan tetapi membantu, akan tetapi tidak banyak jadi kita harus sambil kerja di sana," ucap Tara menjelaskan.


"Baik aku setuju menikah, aku setuju dengan papa mu, kalau demikian papa mu minta kapan dan apakah orang tua ku sudah setuju," ucap Jeni bertanya.


"Mereka semua sudah tahu dan hanya menunggu persetujuan dari mu," ucap Tara mengatakan.


"Apa? terus kapan rencananya?" ucap Jeni makin penasaran.


"Minggu ini sayang," ucap Tara mengatakan.


"Apa? kenapa cepat banget mau di selenggarakan," ucap Jeni terkejut.


"Aku lebih terkejut dari kamu sayang, ternyata orang tua kita sudah mempersiapkan semuanya, nggak tahu kalau hubungan Kaka siska dengan Heri, jadi kamu gimana sayang?" ucap Tara bertanya.


"Baiklah aku ikut saja Tara, selama dengan mu aku siap dengan semuanya," ucap Jeni mengatakan.


"Terima kasih ya sayang, sudah mempercayai ku," ucap Tara memeluk Jeni.


"Eh bukannya bukan muhrim," ucap Jeni mendorong Tara.


"Baiklah calon istriku," ucap Tara dengan malu-malu.


Keduanya pun meneruskan makanan mereka yang tertunda akibat percakapan mereka., keduanya sama-sama merona karena mereka akan segera menjadi pengantin walaupun keduanya terlihat bingung harus bicara apa.


Hal yang sama terjadi pada Siska dan Heri, bahkan Heri bingung harus menjawab apa karena dia pun sangat mencintai Siska, bahkan dia tidak mau menjalin hubungan dengan lainnya.


Heri terus saja berpikir tentang permintaan orang tua dari Siska, dia berpikir bagaimana bisa menghidupi Siska, meskipun Siska siap dengan kondisi apapun, akan tetapi dia tidak mau membuat Siska ikut menderita hingga suatu hari Siska tahu kerisauan dari Heri.


"Tok...tok..."


Pintu kos Heri pun berbunyi, Heri pun segera datang menuju pintu. Ketika dia membuka pintu tersebut, Siska memeluk Heri tanpa melepasnya, Heri bingung dengan sikap Siska yang tak biasa.


"Siska kenapa kamu menangis? coba katakan saja," ucap Heri khawatir.


"Hayoo bicara jangan menangis lagi," ucap Heri bertanya dengan khawatir.


"Kamu lihat ke arah luar kosan kamu, ada seseorang yang mengikuti ku sejak dari apartemen ku, aku merasa tidak tenang berada di sana, sebenarnya sudah 3 hari aku merasa di ikuti, entah sejak kapan orang itu makin penasaran dengan ku, aku takut Heri kesucian ku direnggut orang lain," ucap Siska menangis.

__ADS_1


"Jadi mau kamu apa Siska? aku juga takut terjadi apa-apa dengan mu?" ucap Heri bertanya.


"Tinggal satu apartemen ku dengan ku," ucap Siska menjawab dengan lancar.


"Yaa nggak mungkin lah Siska, kita belum menikah, aku tidak mau menyentuhmu," ucap Heri menjawab.


"Kenapa kamu tidak mau menikahi ku? apakah sudah ada wanita lain di sampingmu?" ucap Siska mendorong tubuh Heri.


"Bukan begitu Siska, aku sangat sayang dan peduli dengan mu, maka aku harus berpikir bagaimana kita ke depannya, aku tidak mau kamu mengalami kesulitan sepertiku sekarang," ucap Heri menjelaskan.


Dering ponsel Siska berbunyi.


📱"Oke aku akan ke sana, tunggu di bawah ya Rina," ucap Siska.


📱"Oke aku tunggu Siska," ucap Rina langsung menutup ponselnya.


"Aku mau pergi, ke depannya kamu tidak perlu pedulikan aku, dan lebih baik kita putus saja," ucap Siska melangkahkan kakinya.


Heri menahan dan memeluk Siska dari belakang.


"Aku mohon Siska, kamu jangan berkata begitu, aku mencintaimu bahkan aku memikirkan masa depan kita, akan tetapi aku tidak mau kamu mengalami kesulitan, apakah tidak boleh aku berpikir begitu," ucap Heri menjelaskan dengan menangis.


Tanpa Heri sadari Siska sudah berbalik arah dan berkata ;


"Baik kita tidak putus, aku menunggu perkataaan serius tentang kita menikah dari papa, atau kamu tinggal dengan aku di apartemen dengan status pacaran, silahkan pilih yang mana, aku mau pergi dulu sama teman, " ucap Siska berpamitan.


Siska pun pergi bersama dengan temannya untuk mengerjakan tugas bersama. Akan tetapi Siska masih takut dengan pria yang dibelakangnya yang masih mengekornya.


"Rina, elo lihat kan pria saat elo parkir disini tadi," ucap Siska bertanya.


"Iyalah gue lihat tadi, sepertinya ada yang di tunggu nya," ucap Rina menjawab.


"Yaa mungkin saja hanya feeling ku saja," jawab Siska.


Keduanya pun pergi meninggalkan kosan nya Heri.


Penasaran lanjutkan episode selanjutnya ya.

__ADS_1


💜💜


like dan comment ya


__ADS_2