
"Elka," teriak Senja dari ruang UKS.
"Terima kasih sudah membantuku, apa yang kamu pikirkan belum tentu benar tentangku," ucap Senja.
Terang saja hal ini membuat hati Elka serasa bersemi di taman bunga yang bermekaran. Dan Elka pun mendatangi kembali Senja.
"Senja, kamu ingat dengan aku kan. Aku Elka teman masa kecilmu," ucap Elka dengan menampilkan wajah bucinnya (author nggak tahu yaa wajah bucin kayak mana 😂, bayangin sendiri deh bagi yang pernah ngalami hehe).
Elka dan Senja pun banyak membicarakan sesuatu, dan tampak dari wajah Elka serius mendengarnya. Karena waktu istirahat masih panjang, mereka berdua pun berbicara di taman. Bukan tanpa alasan sih, tubuh Senja harus terpapar matahari agar tubuhnya bisa relax.
Senja pun menceritakan semua kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian tersebut membuat Senja seakan-akan ingin bunuh diri. Namun, Pak Leri dan pembantu lainnya selalu ada disaat Senja sedih. Hingga hari bangkit untuk semangat pun timbul dari diri Senja. Karena wajah-wajah yang menyayangi itu, sangat berharap dengan keluarganya atas peninggalan harta yang dimiliki oleh ayahnya Senja. Sejak saat itu Senja menjadi kepribadian yang jarang bicara.
Elka menatap lekat wajah Senja yang dulu memiliki kepribadian yang ramah pada semua orang bahkan berteman dengan siapa saja. Karena kepribadiannya dulu yang membuat Elka menjadi pribadi ramah, yaa saking ramahnya hampir semua wanita menempel padanya. Meskipun Elka tidak menyukai mereka sama sekalu.
"Senja, apakah Elka di izinkan berteman dengan mu kembali? " ucap Elka.
"Boleh, tapi dengan satu syarat," ucap Senja.
" Apa itu Senja, aku akan menuruti semua syaratnya?" ucap Elka.
"Pertemukan aku dengan kedua orang tua mu karena ada hal penting yang mau disampaikan," ucap Senja.
Dengan muka merah pipinya seperti apel yang sudah masak, dengn sigap Elka menjawab dengan sesukanya.
"Kamu mau melamar aku Senja, No... No.. Kan yang harus melamar itu laki-laki bukan wanita," ucap Elka.
"Haahah, dasar Elka, tidak ada berubah sedikitpun dari mu," ucap Senja sambil tersenyum.
Senja pun tertawa dengan candaan yang ditorehkan kepada Elka, tanpa menjawab pernyataan Elka.
" Yaa aku juga cinta kamu dari dulu Senja," ucap Elka spontan saja.
"Aduh, ada-ada saja, bukan begitu. Ada pesan dari ayahku untuk papamu, makanya aku ingin dipertemukan orangtuamu, bukan karena hal lain," ucap Senja bicara serius.
"Baiklah, aku akan menyampaikannya," ucap Elka
Mereka pun tertawa bersamanaan, di ujung koridor tampak Dara Anjana memperhatikan keduanya. Dan dia meninggalkan tempat itu, kembali ke ruang OSIS untuk merapat. Ketika rapat belum dimulai, Dara Anjana sengaja berbicara dengan temannya, agar Andara mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Siska, kamu tahu nggak gosip terbaru" ucap Dara Anjana.
"Wah gosip apa thu, jadi penasaran" ucap Siska.
"Tadi, ketika gue melewati koridor gue lihat anak baru itu siapa namanya?" ucap Dara.
"Elka dipanggil, laki-laki ganteng tinggi putih itu kan. Kenapa, kenapa?" ucap Siska.
"Ternyata Elka sama Senja itu teman masa kecil, malah kata Elka, Senja itu cinta monyetnya. Dan tahu nggak tadi banyak yang mereka bicarakan, sampai-sampai bawa nama orang tua Elka," ucap Dara (berbicara sambil melihat andara bagaimana ekspresinya).
"Waah, kalau saingannya Senja kita semua kalah Dara. Siapa nggak tahu Dengan Senja Prahara. Dia thu wanita remaja yang hebat menurut saya, Papa saya ketika ke Perusahaannya. Yang memimpin rapat dia, bahkan keputusan yang diambil pun dari dia. Tapi Senja kepribadiannya baik sama seperti ayahnya. Kalau Elka buat Senja gue ikhlas-ikhlas saja deh," ucap Siska.
" Wait, maksudmu Senja yang baru berumur 15 tahun sudah memimpin perusahaan almarhum ayahnyaz" ucap Dara dengan wajah yang masih penuh tanda tanya.
Dara terheran dengan ucapan Siska, yang menyatakan bahwa Senja remaja yang memimpin perusahaan besar.
"Argh, aku tidak percaya dengan semua ini, mana mungkin seorang Senja bisa memimpin perusahaan yang dinyatakan oleh Siska," gumam Dara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Mereka tidak sadar ruangan OSIS sudah dipenuhi oleh panitia rapat. Rapat dimulai tanpa kehadiran Andara, lagi-lagi Andara menghilang.
"Uuh, kenapa juga si doi nggak datang rapat? jadi sepi kan, ehm males deh datang kalau Andara nggak ada," ucap Dara dalam hati.
"Senja..." panggil Andara.
"Yaa, Andara ada apa?" ucap Senja bertanya.
"Bolehkan saya duduk disini" ucap Andara.
"Boleh, wait kenapa dengan wajahmu yang ditekuk sepuluh?" ucap Senja dengan senyumanan atas tampilan Andara sekarang.
"Sebenarnya Elka itu siapa Senja?" ucap Andara dengan muka penuh tanda tanya.
"Elka itu teman masa kecilku, dia menyukaiku sejak kami masih kecil, karena suatu hal Elka dan keluarganya harus pergi," ucap Senja menjawab seadanya.
"Apakah Senja menyukainya?" ucap Andara spontan.
Senja pun tertawa dan tersenyum mendengar ucapan Andara.
__ADS_1
"Jawablah, aku penasaran," ucap Andara dengan mimik serius.
"Nothing special with me and Elka, just friends," ucap Senja menjelaskan dengan logat English.
Andara pun bernafas lega dengan jawaban Senja.
Senja terheran dengan sikap Andara, namun tidak di hiraukannya.
"Senja, ini minuman buat kamu. Kalau ada apa-apa hubungi Andara ya, selalu ada untukmu 24 jam," teriak Andara sambil berlari karena Andara harus masuk ke ruang rapat.
"Yaa laki-laki bernama Elka itu akan menjadi saingan berat gue mendekati Senja. Tidak akan ku biarkan Elka menyatakan cinta pada Senja. Sambil mengepak tangan sendiri seakan-akan ingin memukul seseorang," gumam Andara dalam hati ketika berlari ke ruang OSIS.
Cinta hadir karena biasa, biasa selalu hadir disetiap kesepianmu maka bahagialah.
Senja masih bingung dengan sikap Andara. Senja pun memasuki kelas, karena mata pelajaran terakhir akan dimulai.
Setelah selesai pelajaran tersebut, Elka menemui Senja ke ruang kelasnya.
"Hai Senja, bolehkan kita barengan menunju parkiran," ucap Elka bertanya.
"Boleh dong, hayoo," ucap Senja menjawab.
Elka dan Senja pun berbicara bersama. Dengan canda dan tawa bersamaan. Andara yang tidak sengaja melihat pun, ingin menuju kesana, namun di tahan oleh Heri karena ada pertemuan dengan kepala sekolah.
Andara pun mengikuti Heri, namun Andara lebih memilih ke arah Senja. Heri pun melepaskan saja sahabatnya.
"Hei Senja," ucap Andara memanggil.
"Eeh Andara, bukankah kamu tadi ada rapat OSIS ya," ucap Senja bertanya.
"Iya tapi sudah kelar kok, dan mau mengantar kamu pulang," ucap Andara menjawab.
"Tidak perlu Andara, sepertinya kamu ada rapat kembali, Heri dari tadi melihat ke arah sini, sepertinya menunggu kamu selesai bicara itu," ucap Senja menunjuk ke arah Heri.
"Baiklah aku pergi rapat, hati-hati kalau begitu," ucap Andara dengan muka cemberut.
Senja memahami maksud Andara, lagian juga dia di jemput dengan Pak Leri.
__ADS_1
💐💐💐💐💐
🌷🌷🌷🌷🌷