Dermaga Senja

Dermaga Senja
Bangkit


__ADS_3

Senja dan Andara menangis di tempat yang berbeda. Untung saja Jeni dan Tara sudah pergi sebelum kedatangan Andara. Bahkan, Andara merasa hidupnya sudah hancur sejak perceraian itu. Entah kenapa hidupnya seperti tidak ada gairah?. Karena Senja belum mengikhlaskan dirinya, apalagi dirinya belum mengikhlaskan Senja.


Andara sudah menjalani kehidupan cinta pertama kali dengan Senja, sehingga baginya sulit melupakan Senja begitu saja. Baginya Senja Sudah bagian dari hidupnya..


Andara sudah terbiasa dengan hadirnya Senja. Mereka baru saja menikah selama setahun lebih, dan kemarin mereka masih menyalin cinta. Tiba di Indonesia mereka harus bercerai bukannya bahagia.


Justru hal itu membuat syok Andara. Bahkan, di hari pertunangan kala itu dia tidak banyak bicara bahkan orangtuanya mengatakan bahwa Andara sedang tidak sehat.


Bukan itu saja, orang tua Lia membantu investasi kepada keluarganya Andara sehingga kedua orangtuanya sangat menyayangi Lia terutama mama nya.


Andara tidak bisa berkutik apa-apa. Bagi orang tua nya sepertinya Andara pion bagi keluarga nya. Begitu sakit jika di ingat tapi bagaimana pun mereka adalah orang tua nya.


Senja masih menangis di ruang itu. Seolah-olah ruangan itu semakin menghimpit nya. Dia hanya menangis dalam diam.


Hingga Senja kembali pingsan...


Brukkk.... Brukkk....


Suster yang hendak memasuki ruangan tersebut pun panik dengan kondisi pasien yang tiba-tiba pingsan.


Pak Leri yang hendak ke ruangan tersebut ikut panik ketika dokter berlari ke ruangan Senja. Pak Leri pun hanya menunggu di luar ruangan itu saja.


Dokter pun memeriksa Senja dengan intensif. Setelah selesai dokter pun keluar ruangan.


"Bagaimana dokter dengan kondisi Senja?" Ucap Pak Leri bertanya.


"Senja hanya syok saja, dia butuh istirahat saja kalau begitu," ucap dokter berlalu meninggalkan Pak Leri.


Pak Leri menatap lekat Senja, anak majikan yang dilihatnya pertumbuhan dari bayi hingga sekarang. Begitu banyak lika-liku kehidupan Senja bahkan banyak hal yang harus dia lalui tanpa orang tua.


Pak Leri merasa sedih dengan kehidupan Senja. Namun, dia harus memberikan semangat dorongan kepada Senja agar bangkit dari keterpurukannya.


[Semoga Nona Senja, segera sembuh dan kembali ceria kembali] gumam Pak Leri.


Senja pun belum sadarkan diri sejak pingsan hingga sore ini. Hingga temannya berdatangan dari si kembar dan Jeni.

__ADS_1


Jeni pun memeluk Senja kembali, dia kembali menangis melihat keadaan Senja yang kembi terbaring lemah. Padahal mereka berjanji hari ini akan berjalan jauh.


"Pak Leri, bagaimana ini bisa terjadi?" Ucap Jeni bertanya.


"Tidak ada yang tahu Nona Jeni, tapi pagi tadi saya terlihat Andara menangis, seperti nya dia sengaja menemui Senja untuk minta maaf, tapi mungkin saja saya salah melihat Nona Jeni," ucap Pak Leri.


"Baik Terima kasih Pak Leri, ayoo sayang kita temui Andara," ucap Jeni menarik tangan Tara.


"Pak Leri dan si kembar Kakak nemani Kak Jeni dulu yaa, nanti kabari kami ya," ucap Tara.


"Oke Kak siap," ucap Dino.


Tara dan Jeni pun keluar dari ruangan tersebut. Tara menarik tangan Jeni.


"Sayang, kamu mau melabrak Andara gitu, cukup sayang, mereka berdua sama-sama terpuruk sekarang, jangan memperkeruh suasana ya sayang, jika Senja tahu kamu bertindak tanpa izin darinya, bukankah dia akan marah padamu," ucap Tara.


Jeni pun memeluk Tara dengan erat dan kembali menangis.


"Sayang, tadi pagi kamu libatkan Senja bisa tersenyum dengan kita, dia baru sembuh kemarin malam sayang, kenapa sekarang pingsan lagi, aku sedih melihat kondisi Senja seperti itu sayang," ucap Jeni sambil menangis.


"Iyaa sayang, maaf dan terima kasih sudah mencegah ku," ucap Jeni terisak menangis.


"Yaa Sudah sekarang kamu cuci muka yaa, bersihi muka kamu kita beli buah dulu ke bawah untuk keluarga Pak Leri di kamar Senja," ucap Tara kepada Jeni.


"Baik sayang," ucap Jeni.


Mereka berdua pun melangkah ke kamar mandi terlebih dahulu setelah itu baru ke mini market.


Setelah selesai dari mini market dan Jeni sudah merasa lebih baik, keduanya pun menuju ruangan pasien dimana Senja di rawat.


Si kembar terlihat bercakap-cakap dengan Senja begitu pun Pak Leri. Bahkan, dering ponsel Senja pun tak terdengar.


Jeni yang melihat Senja sudah bangun langsung memeluknya dengan erat. Senja pun memeluk sahabatnya itu dengan erat dan penuh kasih sayang.


"Duuuh, si cantik Jeni kenapa matanya sembab gitu, aku sudah sadar nie," ucap Senja tersenyum kecil.

__ADS_1


" Iyaa nie Senja, sejak dia tahu kabar kamu pingsan lagi, nangis itu lah bahkan mau melabrak Andara," ucap Tara menjelaskan.


Senja pun memeluk sahabatnya yang masih dalam pelukannya.


"Untung ada Tara yaa, yang bisa menenangkan dirimu, jangan bertindak gegabah yaa sayang, nanti tambah sulit urusannya, aku dengan Andara sudah berbaikan kok," ucap Senja tersenyum kecil.


"Maksudnya berbaikan bagaimana sih?" Ucap Jeni bingung.


"Kita sudah mengikhlaskan satu sama lain dan memang kondisi tadi pagi saya hanya syok saja, makanya pingsan begitu," ucap Senja tersenyum kecil.


"Oke sudah sedih-sedihnya, Dina dan Dino ini makanan buat kalian semua yaa, mari kita makan bersama," ucap Tara.


Dina dengan gercep sudah mengulas buah-buahan. Melihat hal itu Dino ribut.


"Iiih buka buah-buahan tanpa izin nie anak," ucap Dino kesal dengan Dina.


"Iiih aku bukanya buat bersama kok," ucap Dina menjulurkan lidahnya.


Dina dan Dino pun kembali beradu mulut. Jeni, Tara dan Senja yang melihat hal itu hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Sedangkan Pak Leri harus mengangkat telpon karena urusan perusahaan.


Setelah selesai mengangkat telpon Pak Leri pun memohon izin kepada Senja.


"Nona Senja, saya izin ke perusahaan karena di telpon ada hal yang mendesak," ucap Pak Leri.


"Oke Pak, setelah lusa saya akan ke Perusahaan, setelah itu saya akan kembali kuliah," ucap Senja sambil menyandarkan tubuhnya.


"Ohw baik Nona Senja," ucap Pak Leri.


Pak Leri pun melangkah kan kakinya meninggalkan ruang rawat inap Senja.


"Bantu saya bangkit kembali yaa, saya memiliki kekuatan untuk bangkit karena kalian yang mencintaiku," ucap Senja mengatakan dengan senyuman termanisnya.


Jeni dan Dina pun memeluk erat Senja. Dino dan Tara melihat hal itu hanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Senja. Bagaimana tidak, sejak Senja sakit, Jeni pun ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Hal itu pun berdampak pada dirinya. Karena itu lah Tara selalu mendampingi nya dan kedua orang tua Mereka sangat mendukung Jeni dan Tara selalu berada di samping Senja. Karena Senja sudah sangat baik kepada keluarga sahabat nya.


🍁💐💐💐🍁

__ADS_1


__ADS_2