
"Sayang.. Aku mau bicara dengan kamu" ucap Jeni.
"apa sayang?" ucap Tara menatap Jeni.
"aku mau tunangan dengan kamu" ucap Jeni bicara serius.
"Beneran sayang, intinya aku hanya untukmu kan" ucap Tara sambil melihat wajah Jeni.
"Iyaa lah, kamu tidak diizinkan berpaling dengan siapapun, aku juga tidak mau mengganti dengan pria lain, aku hanya mencintai satu orang, itu sudah cukup bagiku" ucap Jeni.
"Baiklah kalau begitu selesai dari perkuliahan nanti malam aku mau bicara dengan orangtua dan Kak Siska" ucap Tara.
"Apaaa?? Kamu mau bicara dengan Siska" ucap Jeni terkejut.
"kenapa sayang? Kamu belum bisa move on dari Heri, aku cukup sabar menunggu cinta kamu" ucap Tara kecewa.
"Bukan begitu sayang..." ucap Jeni menjelaskan.
"sayang aku izin ke kelas dulu ya nanti kita bicarakan hal tadi" ucap Tara masih ekspresi datar.
"sayang... aku ingin bicara, bukan begitu maksudku" ucap Jeni seolah-olah tidak rela kepergian Tara begitu saja..
Tara pun pergi begitu saja meninggalkan Jeni yang terus mengejarnya. Hingga Jeni lelah dan beristirahat di taman kampus. Dan memikirkan hal yang diucapkannya sehingga membuat Tara marah seperti itu.
"Apa yang sudah aku lakukan? Semua laki-laki yang mencintaiku akan meninggalkan ku karena keegoisan ku" ucap Jeni berteriak dan segera pergi dengan membawa tas serta mengendarai mobilnya.
Jeni mengendarai mobil dengan santai, dia pun menuju ke sebuah apartemen tempat biasa yang menjadi perenungannya. Yang mengetahui tempat ini hanya orangtuanya saja Tara pun tidak mengetahui tempat itu.
Setelah Tara menyelesaikan tugasnya. Dia pun berusaha menghubungi Jeni. Namun, tidak ada jawaban malah nonaktif. Tara khawatir dengan Jeni, saat Tara sibuk mencari Jeni.
"Tara, ini surat yang diberikan oleh Jeni untukmu" ucap Kevin.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini Kevin, terus keadaan dia saat memberikan ini bagaimana kondisi, terus dia dimana sekarang" ucap Tara khawatir.
"kalau menurut pengamatanku sih, Jeni lagi merenungi diri. Meskipun aku hanya temannya tapi aku tahu perubahan sikap dia, coba ingat kembali tempat perenungannya dimana" ucap Kevin menjelaskan.
"Baik... Terima kasih kevin atas informasinya" ucap Tara.
Setelah di dalam mobil, Tara membaca surat yang ditulis tangan oleh Jeni.
"Tara sayang... Maaf jika aku berlaku egois.. Jangan cari aku dulu, aku sedang merenungkan diri" ucap Jeni dalam tulisan itu.
__ADS_1
"ini benar tulisan tangannya, ada juga tanda tangan yang asli dari tangannya" gumam Tara.
Sepanjang perjalanan mencari Jeni, Tara terus berpikir tempat-tempat tersebut. Namun, jalannya pun buntu entah kenapa semua serba rumit ketika Tara memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
Tara pun kembali ke rumah di sore hari... Dia pun menenangkan dirinya di dalam kamar dan menuliskan pesan ke ponselnya. Namun, sedari tadi siang tidak ada tanggapan apapun dari Jeni. Tara benar-benar khawatir dengan Jeni karena dia tidak pernah melihat ngambek Jeni sampai seperti ini.
"kalau bukan aku berlari dari pembicaraan ini, nggak mungkin aku kehilangan Jeni dalam sehari" ucap Tara sambil tidur.
Jeni di apartemennya....
"Nyaman juga tanpa ponsel, hidupku berkutat disini saja bisa menonton dan melakukan sesuka hati" gumam Jeni dalam hati tertidur di atas kasur depan televisi.
Kedua insan tersebut pun terlelap dalam tidurnya. Pikiran keduanya sama, sama-sama merindukan satu sama lain. Namun, untuk sementara rindu itu hanya terbatas pada ucapan saja.
Di tempat berbeda...
"sayang, aku menyiapkan sarapan buat kita jadi sebelum ke kampus sarapan dulu ya" ucap Andara kepada istrinya.
"oke sayang..." ucap Senja makan sambil menatap layat ponsel.
Andara tahu kalau istrinya seperti itu berarti sedang rapat mendesak terhadapa para pegawainya. Senja pun pergi sejenak.
"sayang terima kasih yaa sarapannya, aku mau duduk di balkon semuanya sudah aku persiapkan untuk rapat, pagi ini aku nggak kuliah dipindahkan jadi sore, jadi sayang kalau mau pergi ke kampus cukup melambaikan saja ya sayang" ucap Senja mencium bibir suaminya.
"sayang nanti saja ciuman ganas kita lanjutkan ya, pegawai ku sudah nunggu thu" ucap Senja melambaikan tangannya.
Andara pun menuruti saja kemauan istrinya.
"Dia tidak ingin kehilangan Senja, wanita masa depan yang diinginkan, dia hanya perlu bersabar atas sikap Senja" begitulah gumam hati Andara.
Andara pun menatap istrinya dari ruang makan. Setelah selesai dia pun melambaikan tangan ke Senja. Senja pun hanya melambaikan tangan balik.
"Ehm terasa sepi banget kalau keluar apartemen tanpanya, Ya ampun tanpa terasa hidupku tidak bisa jauh dari istriku" gumam andara dalam hati.
Andara pun segera naik ke bis yang biasa menuju ke kampus. Senja kembali ke rutinitas nya masih dilayar ponselnya.
Di tempat lain....
"Yaa ampun dasar suamiku tidak kenal pagi, sore dan malam langsung saja aku diterkamnya" ucap Dara.
"kenapa sayangku?" ucap Elka memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
"aku sudah telat datang bulan sayang, biasanya tepat waktu atau karena efek stress ya sayang" ucap Dara mulai berpikir
"kalau kami ragu kita langsung ke rumah sakit saja ya sayang, kamu jangan sampai stress, bahkan aku tidak menyuruhmu menyelesaikan pekerjaan rumah" ucap Elka mulai khawatir dengan kondisi Dara.
" hehe... Jangan terlalu panik sayangku, begini saja, kamu pergi keluar belikan saja tespek agar tahu aku dalam kondisi hamil apa tidak agar kita bisa periksa ke dokter" ucap Dara menjelaskan.
Dara pun bergegas berganti pakaiannya dan membeli hal tersebut.
"btw sayang apa saja yang mau dibeli selain itu" ucap Elka.
"itu saja sayang, kan dibawah apartemen ada apotik" ucap Dara
"baik sayang" ucap Elka.
Elka pun bergegas menuju apotik membeli tespek. Setelah beberapa menit, Elka pun membeli tespek tersebut dan langsung menyerahkan ke istrinya.
Elka pun dari luar kamar mandi bolak-balik untuk menunggu Dara.
"benarkah aku akan menjadi seorang Ibu, menjadi mama dari anakku" ucap Dara dengan wajah bahagia.
Dara pun keluar dari kamar mandi. Dan dia langsung menyerahkan ke suaminya. Tanpa sengaja Elka berjingkrak bahagia.
"sayang apakah kamu paham dengan tanda merah 2 di tespek" ucap Dara..
"tahulah sayang dari internet, tapi lebih pasti lagi hayoo kita ke klinik saja" ucap Elka kepada istrinya.
"Oke sayang, aku ganti pakaian dulu" ucap Dara.
Setelah selesai keduanya pun segera ke klinik kandungan untuk memerikasa keadaan Dara. Setelah sampai mereka menunggu beberapa menit untuk antrian.
"Selamat ya bu atas kehamilannya 14 minggu" ucap dokter kepada Dara.
"baik dokter, kira-kira bagaimana kondisi fisik istri saya" ucap Elka.
"semuanya baik-baik saja, ini resep untuk vitamin, selama si Ibu tidak stress maka semuanya baik-baik saja" ucap dokter.
"baik.. Terima kasih Pak Dokter" ucap Elka pamitan.
Setelah obat ditebus mereka pun kembali ke Apartemen.
Keduanya pun bahagia atas berita tersebut. Meskipun keduanya masih muda, entah kenapa keduanya sangat menikmati kebahagiaan tersebut.
__ADS_1
🍂🌷🌷🌷🍂