
Terlihat jelas wajah-wajah bahagia dari orang terdekat Senja, dia dinyatakan sembuh total oleh dokter meskipun tidak boleh banyak memikirkan hal-hal yang memberatkan.
Waktu pun terus berlalu....
Sidang perceraian pun harus dihadiri oleh kedua pihak..
Senja dan Andara datang ke sudah tersebut. Mereka tampak enggan melepaskan satu sama lain. Tapi takdir sudah tidak berpihak pada mereka, jadi hanya keikhlasan pada diri masing-masing.
Setelah selesai sidang perceraian. Senja sudah di sambut oleh keluarga Pak Leri serta Tara dan Jeni.
Namun, dering ponsel membuyarkan pembicaraan mereka.
Drrrrrrtttt..... drrrrtttt...
Senja pun mengangkat ponselnya dan menjauh dari sahabat dan keluarga Pak Leri.
"Ya Hallo Andara, ada Apakah gerangan?" Ucap Senja santun.
"Bisakah kita bertemu sejenak, aku akan mengirim tempatnya," ucap Andara memohon.
"Baik kita akan bertemu tapi setelah aku menyelesaikan kebersamaan dengan sahabat ku dan Pak Leri yaa, mungkin malam aku memiliki waktu buat kita bertemu," ucap Senja.
"Oke kita akan bertemu malam, saya akan men-share tempat pertemuan kita," ucap Andara.
Andara sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Senja. Dia ingin mengatakan beberapa hal yang belum sempat diucapkannya sebelum menyesal dan bertemu lagi dia harus mengatakan hal tersebut agar tidak menjadi beban dalam hidupnya.
Senja pun demikian dia ingin berbicara dengan Andara selagi mereka tidak bertemu kembali. Selain itu keduanya pun harus fokus dengan study mereka. Meskipun beda kampus keduanya selalu menyempatkan waktu berdua, walau takdir tidak berpihak pada Keduanya.
Senja pun bersama dengan Jeni dan Tara serta keluarga Pak Leri untuk berjalan-jalan.
Senja sangat bahagia kebersamaan itu meskipun sebenarnya dalam benaknya masih terasa sedih yang membuatnya hampir meneteskan air matanya. Melihat hal itu Jeni langsung memeluk sahabatnya tanpa ucapan satu katapun.
"Senja jika ingin menangis sekarang maka menangislah, kita akan mencari tempat yang menyepi," ucap Jeni masih posisi memeluk Senja.
"Tidak apa-apa Jeni, aku yakin bisa melewati semuanya, tugasmu memastikan aku masih tetap tersenyum," ucap Senja kembali memeluk sahabatnya.
Dina dan Dino pun menarik tangan Senja dan Jeni untuk menikmati kebersamaan mereka di pantai sore hari itu, Senja dan Jeni pun mengikuti si kembar dengan hati yang riang. Tampak wajah bahagia terpancar dari Senja.
Namun, ada moment dimana tiba-tiba Dina teriak dengan sekeras-kerasnya..
__ADS_1
"Kami sayaaaang Kak Senja...," ucap Dina teriak dengan sekeras-kerasnya.
Melihat hal itu Senja merasa bahagia dengan sikap Dina yang mengungkapkan perasaan kasih sayang padanya.
Hal itu pun dilakukan oleh Dino dengan sekeras-kerasnya berteriak, hal yang sama dilakukan oleh Jeni. Mereka berteriak dengan sekeras-kerasnya.
Melihat semua itu Senja menangis begitu saja, air mata nya mengalir cukup deras bahkan tidak terbendung lagi.
Senja pun berteriak membalas pernyataan mereka terhadap dirinya.
"Senja juga menyayangi kalian semua," teriak Senja dengan sekeras-kerasnya.
Mereka berempat pun tertawa bersama dan menikmati hingga matahari sudah tenggelam. Mereka pun kembali ke rumahnya masing-masing. Meskipun Jeni berat meninggalkan Senja, namun Senja meminta dirinya untuk menyendiri. Karena hal itu permintaan Senja, maka Jeninhanya mengabulkan permohonan sahabatnya itu.
Malam pun tiba...
Pesan masuk dari ponselnya Senja....
[Senja kita janjian di tempat yang sudah ditentukan yaa] pesan Andara kepada Senja.
Senja pun menjawab pesan tersebut....
Beberapa jam kemudian keduanya pun bertemu di tempat yang di tentukan.
Mereka berbicara dengan lugas pembicaraan yang tidak mereka selesaikan di saat mereka bersama. Saat keduanya tengah asyik berbicara datanglah Lia tanpa di duga.
Plaaak... (tamparan mendarat ke pipi nya Senja)
Senja pun membalas tamparan kepada Lia.
"Hei Senja! , apa yang sedang kamu lakukan bertemu dengan tunangan orang lain di belakangnya?, kamu sungguh tidak ada malu yaa," ucap Lia sangat marah kepada Senja.
"Hahaha, aku sungguh lega sudah menamparmu Lia sudah sangat lama rasanya tanganku ini ingin menampar wajahmu yang tidak ada malu," ucap Senja geram dalam tawanya.
"Hey, kamu jadi wanita berkaca diri dong, bagaimana bisa kalian bercerai di usia pernikaha kalian 1 tahun, harusnya kamus mawas diri dan sadar diri, dan kenapa kalian sampai bertemu secara diam-diam begini, dasar tidak tahu malu!" Ucap Lia kembali geram.
"Ingat yaa Lia, jangan suka mengambil kesempatan orang di saat lengah, harusnya kamu katakan dengan lugas jika mencintai suamiku, bukan malah bermain belakang, kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu yang mengirim semua foto saat kamu bersama suamiku," ucap Senja mengatakan dengan jujur.
"Hahahah, dasar tidak tahu malu!" Ucap Lia geram.
__ADS_1
Andara sudah melerai keduanya tapi masih saja berdebat. Bahkan, Andara di bentak oleh keduanya.
Hingga Jeni pun datang dan menghampiri pertengkaran itu.
Jeni pun menarik tangan Senja...
Senja ingin melepaskan tangan Jeni, namun Jeni lebih kuat dari Senja. Sehingga Senja di bawa paksa oleh Jeni.
Andara pun menarik tangan Lia karena dia malu dengan sikap tunangan nya.
"Kamu keterlaluan Lia, aku dengan Andara hanya sekedar berbicara saja, kami tidak melakukan apapun, bukankah aku sudah menjadi tunanganmu dan menjadi milikmu, tapi sikap mu hari ini membuat ku memikirkan hal itu," ucap Andara melepas pegangan tangan Lia.
"Andara tunggu aku, aku ingin pulang bersama mu, mana mungkin kamu meninggalkan aku disini kan," ucap Lia mengejar Andara menuju parkiran.
Senja terdiam dalam tangisannya, Senja pun menangis dalam pelukan Jeni. Jeni pun mengajak Senja ke tempat yang tidak banyak orang, agar Senja bisa meluapkan tangisannya.
Benar saja, di kala Jeni mengatakan tempat ini aman dari orang-orang Senja menangis dengan sekuat-kuatnya, bahkan lebih kepada meluapkan emosinya melalui tangisannya.
"Senja, jika kamu ingin menangis maka menangislah dengan sesuka hatimu, karena tangisanmu itu sekarang akan jadi kebahagiaan tersendiri ke depannya," ucap Jeni memberikan dorongan semangat kepada Senja.
Di kala Senja menangis dering ponsel Jeni berbunyi.
[Aduh aku lupa ngabari dengan Tara, angkat saja lah]
Drrrrtttt.... drrrrtttt....
"Ya Hallo sayang," ucap Jeni dengan suara terbata-bata.
"Hayoo kamu sekarang lagi apa?, Kok suara kamu berat banget, habis beradu mulut dengan siapa?" Ucap Tara menarik curiga dengan Jeni.
"Ehm tadi kan selesai makan malam dengan teman kuliah, aku melihat Senja ditampar oleh Lia sayang, jadi aku ikutan marah juga tapi sebentar kok, setelah itu aku menarik tangan Senja untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Jeni berkata jujur.
"Ohw begitu, kamu masih ditempat itu kan sayang," ucap Tara bertanya.
"Masih sayang, kamu jemput setengah jam lagi saja ya sayang, karena Senja belum reda," ucap Jeni.
"Oke kalau begitu aku siap-siap sajalah," ucap Tara langsung mematikan panggilannya.
Panggilan telpon pun terputus.
__ADS_1
🍁💐💐💐🍁